You're My Antidote

You're My Antidote
Balon Lepas



Pernikahan memang bukan sesuatu yang Raja harapkan akan terjadi dalam hidupnya.


Pernikahan hanya ikatan yang ia anggap merepotkan untuk dirinya bertanggung jawab atas hidup orang lain.


Terutama yang membuatnya enggan untuk menikah adalah kegagalan orang tuanya dalam membina rumahtangga.


Tapi selama pernikahannya mampu membuat mama bahagia, maka ia akan melakukannya.


"Jaga Rani ya Raja." mama memasangkan dasi kupu-kupu untuknya seraya mengingatkan lagi padanya apa yang semalam wanita itu nasehatkan. "Mama yakin kalian akan bahagia bersama."


"Mama bahagia?"


"Dengan pernikahan kalian?" mama balik tanya memastikan dan ia jawab dengan dehaman.


"Hmm."


"Tentu saja mama bahagia. Bahkan lebih bahagia dari saat melihat om Raffi menikah."


Raja tersenyum tipis dan membawa tubuh mama kedalam pelukan. "Itu sudah cukup untuk Raja." ujarnya lirih. Tapi mama mendorong dan menjauhkan tubuhnya seketika.


"Kamu menikah bukan untuk menyenangkan mama, nak!" ekspresi mama terlihat menyendu. Gurat-gurat penuaan semakin dalam ketika wajah itu sedih. "Kamu menikah untuk kebahagiaan kamu sendiri. Bukan untuk mama maupun orang lain."


Mama menghela napas ketika ia hanya diam.


"Jangan membuat mama terlihat seperti orang tua yang jahat untuk kamu, Raja. Atau papimu diatas sana akan marah ketika kami bertemu nanti." bulir bening siap jatuh dari mata mama, membuatnya tak tega dan kembali membawa wanita itu dalam pelukan. "Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Dan mama yakin, Rani bisa mengembalikan Raja yang penuh dengan senyuman."


Raja tak yakin dirinya yang dulu akan kembali. Karena luka itu terlalu dalam. Tapi ia juga tak ingin melihat mama bersedih dan kecewa. "Raja akan berusaha, mah."


***


Acara dimulai tepat pukul sepuluh pagi.


Raja sudah duduk didepan penghulu dan para saksi. Termasuk papa dan Om Rafi yang turut menjadi saksi dari pihaknya. Sedangkan saksi lainnya adalah seorang mantan gubernur dan petinggi komisi penyiaran. Keduanya jelas kenalan papa.


Ia menatap pintu yang nantinya akan menjadi jalan keluar untuk Rani.


Apakah gadis itu melihat prosesi ijab kabul ini?


Apakah gadis itu merasa sedih karena tidak ada orang tua terutama ayah yang seharusnya menjadi wali nikahnya?


Entah kenapa ia mengkhawatirkan perasaan gadis itu saat ini.


Menikah karena terpaksa. Tanpa orang tua. Seperti apa perasaan Rani?


Meskipun ia juga tidak memiliki orang tua kandung yang mendampingi dan melihatnya menikah. Setidaknya ia masih memiliki kakek dan nenek yang menjadi orang tua pengganti untuknya selama ini.


Tapi bagaimana dengan Rani? hanya ibu panti dan adik-adik pantinya saja yang menjadi alasan gadis itu tetap berdiri tegak. Lalu apakah saat ini ada seseorang disamping gadis itu untuk menghiburnya?


Seharusnya Maira dan Maina yang menemani Rani saat ini sesuai apa yang sudah ia atur. Karena Raja percaya kedua sespupu kembarnya itu tidak akan membiarkan Rani untuk bersedih.


Raja kembali fokus pada penghulu yang tengah menjelaskan beberapa hal termasuk kewajibannya setelah sah menyandang status sebagai seorang suami.


Hingga tibalah saatnya inti acara dilaksanakan.


Pada dasarnya Raja orang yang mudah belajar dan menghafal. Semalam ia sudah menghafalkan apa yang harus ia ucapkan dengan satu kali tarikan napas.


Ia masih merasa biasa saja semalam. Begitu juga pagi ini bahkan hingga ia duduk dihadapan penghulu.


Selama ini ia bahkan tidak pernah gugup dalam menangani masalah perusahaan dibawah kekuasaannya. Tidak pernah gugup memegang proyek milyaran. Tak pernah gugup ketika harus presentasi didepan orang-orang penting dalam dunia bisnis. Ia juga tak merasa gugup ketika pertama kali menyentuh wanita.


Tapi hari ini, jantungnya berdebar kuat. Rasa gugup mulai menyelimuti. Bahkan bulir keringat mulai bermunculan ditelapak tangan dan dahinya. Pertama kalinya ia gugup ketika ia akan meminang Rani sebagai istrinya.


Ah istri. Benarkah gadis berisik itu akan menjadi istrinya?


"Saya terima nikah dan kawinnya Rani Ayudia Damayanti binti Abdillah dengan maskawain tersebut dibayar tunai." dengan sekali tarikan napas Raja berhasil mengucapkan kabul dengan lantang. Binti Abdillah digunakan sebagai pengganti karena mereka tidak mengetahui ayah kandung dari Rani. Abdillah yang berarti anak hamba Allah.


Penghulu bertanya pada para saksi yang menjawab "SAH". Satu kata yang membuat Raja menghembuskan napas yang tak sadar ia tahan. Satu kata yang membawa kelegaan dalam hatinya.


Doa dipanjatkan dan para tamu undangan turut mengaminkan doa untuk keberkahan dan kebahagiaan pernikahannya dengan Rani.


Semakin banyak yang mendoakan, semakin baik bukan? Karena banyak tamu yang hadir pagi itu.


Mengingat orang tuanya yang tak lagi muda, Raja menggabungkan akad dan resepsi. Hingga acara akan berlangsung dari jam 10 pagi hingga jam 2 siang. Menghindari orang tuanya untuk merasa kelelahan.


Mama adalah orang pertama yang memeluknya dan mengucapkan selamat dengan menangis haru. Mama juga mendoakan kebahagiaannya dan Rani. Doa yang sudah beberapa hari ini ia selalu dengar dari mama setiap mereka bertemu.


Suara pembawa acara yang meminta Rani untuk masuk pun menarik perhatian Raja untuk menatap lurus kearah dua pintu besar yang terayun perlahan.


Setiap detiknya terasa amat lama. Dan detik berikutnya jantungnya serasa berhenti berdetak ketika melihat sosok cantik berhijab mengenakan gaun putih panjang.


Raja tidak ikut ketika mama mengajak Rani untuk fitting. Dan penampilan Rani saat ini membuatnya terpana.


Rani benar-benar terlihat cantik.


Jika ada malaikat yang dapat terlihat, mungkin itu Rani. Malaikat tak bersayap.


Dengan reflek Raja menarik kursi disebelahnya mundur untuk gadis yang terus menatap kearah bawah itu duduk. Mungkin Rani merasa gugup seperti dirinya tadi.


Setelah selesai dengan proses penandatanganan, penghulu meminta Rani untuk mencium tangannya dan ia membalas dengan mencium dahi gadis itu.


Dan kembali mulutnya mengikuti kata hati. Mengabaikan otaknya yang menjerit ketika ia berbisik. " Assalamu'alaikum istriku."


Raja merutuki dirinya ketika melihat wajah kaget Rani. Entah kerasukan apa sehingga ia bisa mengucapkan kata seperti itu. Bahkan ia sudah berani memanggil gadis berisik itu dengan istri.


"Cieee kak Raja sudah punya istri."


Raja menoleh kebelakang yang ternyata Maira dan Maina masih berdiri disana dan mendengar apa yang ia katakan.


Ia menatap Rani yang menunduk dengan wajah merona. Lagi-lagi terlihat cantik.


Raja menggeleng. Sepertinya ada yang salah dengan dirinya hari ini. Ia seakan tidak bisa mengendalikan diri dan tak mengenali dirinya sendiri. Perasaannya seperti balon yang lepas dari genggaman. Terbang bebas tak terkendali.


Terkutuklah Raja dengan reputasi dan harga dirinya dihadapan Rani.


Gadis itu pasti menertawakannya yang biasa bersikap acuh tapi kini bahkan langsung memanggilnya istri beberapa saat setelah sah.


*


*


*