
Rani merasa baru beberapa saat ia jatuh tertidur-tanpa sadar-ketika sapuan jemari hangat terasa di kulit wajahnya dan berakhir di pipi.
Matanya yang sudah semalaman menangis terasa amat berat ketika ia paksa terbuka. Rani yakin ia butuh usaha keras untuk mengompres matanya yang sembab, nanti.
Tatapannya langsung jatuh pada langit yang sudah tampak gelap di luar dinding kaca kamarnya. Menandakan bahwa tidurnya tidaklah sebentar.
Ah Rani ingat jemari yang menyentuhnya. Kepalanya langsung mendongak cepat. Air matanya kembali mengalir. Kali ini dengan perasaan bahagia bercampur lega.
Disana, Raja menatapnya dengan senyum hangat yang sudah Rani tunggu sejak semalam. Sejak Raja tak sadarkan diri dari demam. Sejak Raja lebih memilih bermimpi buruk dari pada menatapnya. Dan kini pria itu sudah membuka mata dan menatapnya dengan senyum yang ia harapkan. Senyum yang ia tunggu-tunggu dan ia rindukan.
"Kak Raja jahat! kenapa lama tidurnya." satu kepalan tangannya mendarat didada sang suami pelan.
"Maaf." lirih Raja dengan suaranya yang terdengar serak.
Rani tak lagi mengatakan apa pun kecuali rasa syukur dan memeluk suaminya erat. Setelah tangisnya mereda, Rani beranjak duduk dan menghapus sisa air matanya dengan malu. Penampilannya pasti terlihat amat kacau sekarang.
"Kak Raja baru bangun?" tanyanya dengan membersihkan hidungnya dengan tisu.
"Dari jam 3 sore saat suster datang untuk mengganti infus."
"Kenapa kak Raja tidak membangunkan Rani?"
Ada rasa kesal yang Rani rasakan. Dia yang menangis, dia yang menunggu Raja semalaman tanpa tidur, tapi dia bahkan bukan orang pertama yang tahu Raja sudah bangun.
"Aku sudah akan membangunkanmu. Tapi melihat wajahmu yang lelah membuatku tidak tega. Aku tebak, kamu tidak tidur semalaman dan hanya menangis."
Rani mencebik mendengar alasan Raja. "Siapa pun yang berada di posisi Rani pasti tidak bisa tidur dan hanya bisa menangis. Kak Raja demam tinggi dan terus mengigau. Bahkan Rani bangunkan untuk minum obat saja kak Raja tidak bangun. Makanya Rani menghubungi dokter untuk pasang infus."
Raja yang juga beranjak duduk, meraih tangan Rani dan mengecupnya. "Maaf sudah membuatmu khawatir."
"Rani akan maafin kak Raja kalau kak Raja sehat."
"Aku akan sehat untukmu." Raja mengangguk setuju. "Kata si mbak, kamu tidak makan malam, hanya sarapan dua suap, dan melewatkan makan siang, bahkan sekarang sudah mendekati waktu makan malam."
"Siapa Mmph.." Raja memotong ucapnya dengan menyatukan bibir mereka. Benar-benar hanya menempel untuk memberi peringatan.
"Jangan lagi mengatakan siapa pun yang berada disposisimu pasti tidak nafsu untuk makan!"
"Tapi memang kenyataannya seperti itu kak."
"Tapi kamu baru sembuh Rani... Mas tidak ingin kamu sakit lagi."
Telinga Rani memerah malu mendengar sebutan Raja untuk dirinya sendiri. Jantungnya juga ikut berdetak dua kali lebih cepat.
Rani berdeham. Pura-pura tidak menyadarinya. "Rani sudah sehat kok kak.. Mungkin karena kebanyakan menangis makanya sedikit pusing."
"Kamu pusing karena kamu memang belum benar-benar sehat. Dan berhenti panggil mas, kakak."
"Lebih baik kak Raja-" belum selesai Rani menyelesaikan kalimatnya yang akan meminta Raja fokus pada kesehatannya sendiri dan tidak perlu mengkhawatirkannya yang sudah sehat, Tapi Raja kembali menyambar bibirnya. "Iih kak-" lagi-lagi Raja menyambarnya ketika ia akan melayangkan protes atas apa yang Raja lakukan padanya.
"Tadi kan mas sudah bilang. Berhenti panggil kakak... Atau kamu suka, mas cium terus?" tanya Raja dengan kerlingan nakal.
"Apa sih ka-mas. Mana ada begitu." ucapnya gugup. Meski 'mas' hanya sebuah kata sederhana. Tapi jika mengucapkannya dengan maksud dan perasaan yang spesial, akan terasa mendebarkan hanya untuk mengucapkannya. Itulah yang saat ini Rani rasakan.
"Mas pasti tahu bukan itu maksud Rani."
"Jadi kamu suka?" kejar Raja.
"Iih tahu lah. Rani mau mandi dulu. Nanti Rani bantu kak Raja ganti baju sebelum kita makan malam."
Raja mengangguk dan membiarkannya pergi. Tapi begitu pintu kamar mandi tertutup dibelakang tubuhnya, Rani bisa mendengar Raja yang tertawa. Membawa rasa lega menelusup hatinya.
Sebelumnya Rani sudah khawatir dan takut disalahkan karena membawa Raja ke makam dan membuat suaminya itu sakit.
Rani sudah khawatir kalau Raja akan kembali berubah menjadi pendiam ketika sadar.
Rani takut ia akan melihat tatapan hampa lagi dikedua mata Raja yang beberapa bulan terakhir sudah kembali menunjukan binarnya.
Rani takut Raja yang sudah mulai bisa mengekspresikan perasaannya akan kembali sedingin es.
Rani amat takut disalahkan oleh keluarga Raja. Meskipun Rani yakin, para pengawal yang menemaninya dan Raja ke makam pasti sudah melaporkan apa yang terjadi dengan Raja kepada pak Rasya. Dan sepertinya Pak Rasya merahasiakan dari Ibu Lintang hingga kedua wali Raja itu tidak ada yang berkunjung kerumah.
Jadi bolehkan jika kini Rani merasa lega. Mengubur rasa bersalahnya karena mengusulkan untuk mengunjungi makam. Karena ia masih melihat tatap mata Raja yang akhir-akhir ini selalu lembut menatapnya. Raja masih bisa menggoda dan mengusilinya. Dan bahkan Rani masih bisa mendengar tawa suaminya.
Rani mandi secepat kilat. Kini perutnya baru merasakan lapar seiring rasa lega yang ia rasakan. Rani khawatir Raja juga merasa lapar seperti yang ia rasakan. Ia bahkan lupa bertanya apa Raja sudah sempat makan atau belum sejak bangun sore tadi.
Rani mendapati dokter Vindra yang tengah melepas jarum infus pada tangan Raja, ketika ia kembali ke kamar. Untung dia sudah langsung mengenakan kerudung instan ketika diruang ganti tadi.
"Hallo Rani.. Kata Raja kamu juga perlu diperiksa?" dokter Vindra menatapnya seletelah selesai dengan urusan infus.
"Hallo dokter." sapa Rani balik. Tapi tatapannya tertuju pada sang suami yang tersenyum dan mengulurkan tangan untuk ia mendekat. "Saya baik-baik saja dok. Hanya kelelahan. Nanti juga sembuh. Lagi pula obat dari dokter Kaina kemarin belum habis."
"Oke. Tapi kalau kamu merasa tidak nyaman dengan tubuhmu. Jangan lupa untuk ke dokter."
Rani mengangguk dan mengantar dokter Vindra hingga pintu kamar, karena dokter Vindra menyuruhnya menemani Raja dan merasa tidak perlu diantar hingga kebawah.
"Yakin tidak perlu dokter, sayang?" Raja menatapnya khawatir.
"Rani baik-baik saja." Ia balas dengan gelengan. Dan beralih pada air hangat yang ia bawa dari kamar mandi untuk membersihkan tubuh Raja dan mengganti pakaiannya dengan yang baru.
"Celananya juga, sayang." pinta Raja ketika ia sudah akan menyimpan peralatan. Membuat wajahnya memerah seketika.
"Mas kan sudah bangun. Sudah bisa menggantinya sendiri."
Semalam bahkan pagi tadi mungkin Rani bisa mengganti celana Raja. Meski malu, ia tetap bisa melakukannya karena Raja dalam kondisi tidak sadar. Tapi setelah Raja sadar seperti saat ini, Rani tidak akan mungkin bisa menahan rasa malunya.
"Kenapa? malu?" kejar Raja. "Bukannya kamu sudah melihat semua dan menyukainya?" bisik Raja pada telinganya. Membuat tubuhnya berdesir tak karuan.
*
*
*