
"APA?! RANI?!"
Raja sudah menebak jika Adit akan sekaget itu. Bahkan ia sendiri kaget begitu tahu kemungkinan Raisa yang Adit cari adalah istrinya.
Siapa yang menyangka jika takdir mereka saling berhubungan. Dan siapa yang mengira jika orang yang selama ini Adit dan keuarganya cari justru perempuan yang Adit cintai sejak remaja.
Dan siapa sangka, keluarga yang selama ini Rani cari adalah keluarga dari sahabat suaminya sendiri.
"Itu baru kemungkinan. Lebih jelasnya nanti langsung tes DNA saja agar semuanya lebih jelas."
Adit mengangguk semangat. "Pantas selama ini gue lihat Rani tuh kaya lihat bunda. Ternyata dia mirip tante Shan."
Raja mengabaikan ucapan Adit tadi. Ia kembali pada tujuan awalnya mengundang sahabatnya itu ke rumah. "Yang lebih penting, aku ingin tahu dulu siapa ayah dari Raisa."
Raja sudah memastikan Rani tidak mendengar apa yang ia dan Adit bicarakan. Mereka berada di ruang kerja. Sedangkan Ia meminta istrinya untuk menyiapkan sarapan yang ia pesan online. Karena saat ia turun untuk membuka pintu saat bell terus berbunyi, ternyata Rani tengah melamun di meja makan. Meskipun di depannya sudah banyak bahan masakan yang sama sekali belum tersentuh.
"Kenapa?" Adit terlihat enggan atau ragu di mata Raja.
"Aku perlu memastikan apa aku perlu memberi perlindungan ekstra untuk istriku dari keluarga ayahnya sendiri?"
Helaan napas panjang Adit terdengar hingga telinga Raja. Lelaki itu berujar. "Lo nggak akan nyangka kalau dunia kita semakin sempit."
"Sesempit apa?" tanya Raja mulai waspada.
"Gue udah kasih tahu kalian nama lengkap Raisa?"
Raja jawab dengan gelengan. Ia sudah tahu lama tentang Raisa. Tapi Raja hanya tahu sebatas Adit tengah mencari sepupunya yang hilang itu. Tanpa tahu lebih dalam.
"Namanya Raisa Alana Darmawan."
"Darmawan?" ujar Raja memastikan dan langsung Adit balas anggukan.
Raja tahu keluarga Darmawan. Keluarga besar pemilik perusahaan jalan tol terbesar yang tersebar di seluruh negeri. Ada dua anak laki-laki yang Raja perkirakan dari usia yang merupakan ayah dari Rani.
"Darmawan yang mana ayah Raisa?"
"Rio Darmawan." jawab Adit dengan helaan napas panjang.
Jantung Raja bahkan berdegub kencang. Benar apa yang di katakan Adit. Dunia mereka ternyata sangat sempit. Mereka saling berhubungan satu sama lain.
"Kamu tahu itu sejak awal?"
Adit mengangguk. "Sejak gue sering lihat bunda nangis dan gue tanya alasannya."
"Apa itu alasanmu membenci Rere saat pertama kali dia bergabung?"
Tawa Adit terdengar getir. "Siapa yang nggak benci sama orang-orang yang berhungan sama keluarga Darmawan kalau ada di posisi gue." ujar Adit. "Tapi semakin kita bergaul bersama. Gue sadar, kalau Rere juga bukan anak yang di perlakukan selayaknya princess. Sebaliknya, dia justru harus mengemis perhatian papinya. Dan apa yang terjadi dengan tante dan sepupu gue, bukan salah Rere. Dan gue nggak bisa lagi membenci dia sejak saat itu."
Rere adalah putri tunggal Rio Darmawan. Atau seperti itu yang publik tahu, termasuk Raja. Hidup Rere sama dengan Raja semasa kecil. Rumah yang seharusnya seperti surga terasa neraka bagi mereka.
Raja juga pernah mendengar saat Rere mabuk, perempuan itu memaki perempuan yang Rere sebut j*lang yang membuat keluarganya hancur. Tanpa pernah menarik perhatian Raja yang selalu menganggapnya angin lalu tanpa pernah menanyakan lebih dalam.
"Rere tahu?"
Raja memijat dahinya. Jika yang harus ia hadapi adalah keluarga Darmawan, berarti Raja tidak bisa bertindak sendiri. Kekuatannya belum sekuat itu untuk melindungi istrinya dari keluarga itu. Terutama keluarga maminya Rere. Karena pasti justru keluarga itu yang paling menentang keberadaan Raisa.
"Bisa tidak, jika kita menyembunyikan Rani dari ayah dan keluarganya kalau nanti hasil tes kalian positif."
Adit menggeleng dengan sesal. "Bahkan pergerakan keluarga gue selalu di awasi sama orang-orang suruhan Rio Darmawan sejak kakek gue meninggal."
Yang artinya, cepat atau lambat, jika Rani benar Raisa, Rio Darmawan akan mengetahui kabar itu dan akan menjemput putri yang selama ini di carinya.
"Kalau memang Rio Darmawan mencari Rani selama ini. Bagaimana bisa beliau belum menemukan jejak putrinya sendiri?" Dari gelengan Adit, Raja tahu sahabatnya itu sama tak tahunya.
"Gue bahkan nggak tahu kakek sembunyiin Raisa di panti tempat beliau menjadi pendonor tetap."
Fakta itu semakin mencengangkan Raja. Itu artinya kakek Adit tidak benar-benar membuang Raisa. Beliau menempatkan Raisa di tempat yang aman dan beliau percaya. Tempat yang bisa beliau pantau setiap saat.
Tapi jika itu tujuan Kakek Adit menyembunyikan Raisa. Bukankah berarti ada hal berbahaya yang membuat beliau tega menjauh dan menyembunyikan cucunya di sebuah panti asuhan?
Bukannya tenang, Raja justru semakin khawatir. Sayang kakek Adit sudah meninggal dunia. Hingga ia tidak bisa mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.
"Kita sembunyikan dulu fakta bahwa Rani dan Rere merupakan saudara tiri. Dan kita tunda dulu proses tes DNA-nya. Atau kalau perlu, biar aku yang melakukan tes. Karena pergerakan kalian di awasi."
Adit setuju dengan idenya. Jika Raja tidak ingin Rio Darmawan tahu dalam waktu dekat tentang keberadaan putrinya, itu artinya Raja tidak bisa melakukan tes di Indonesia. Atau setidaknya di rumah sakit yang tidak keluarga Darmawan awasi.
Karena bisa jadi, bukan Rio Darmawan yang tahu lebih dulu. Justru istri atau bahkan keluarga kakak Rio yang Raja tahu mereka masih berselisih memperebutkan kursi kepemimpinan. Bisa saja Rani di jadikan sebuah ancaman.
"Mau pakai apa? Rambut? Darah?"
Raja memilih keduanya. Tapi bukan milik Adit. Melainkan milik bunda Adit. Karena semakin dekat hubungan mereka, semakin jelas hasil yang mereka dapat.
"Aku juga butuh rambut atau darah Rere. Kamu bisa mengusahakannya?"
Rere masih di rumah sakit, seharusnya Adit bisa mendapatkannya dengan mudah. "Gue langsung ke rumah sakit abis ini. Tolong segera lo proses biar bunda juga tenang."
Raja mengangguk paham. Tapi ia juga harus membicarakan masalah ini dengan keluarganya secepat mungkin. Ia harus bisa ke kediaman Shandika tanpa Rani.
"Anak-anak ada yang bisa di percaya untuk menjaga Rani?"
"Jangan! Lo tahu sendiri mereka lebih suka lo sama Rere dari pada sama Rani."
"Aku butuh orang yang bisa di percaya. Pengawal yang keluargaku miliki masih kalah banyak jika harus melawan keluarga Darmawan dan besannya."
"Nanti gue ngomong bokap. Bokap gue pasti bisa bantu."
Setelah pembicaraan serius mereka, Adit langsung pamit tanpa ikut sarapan bersama. Adit harus langsung mengajak bundanya kerumah sakit untuk mengambil sample darah. Dengan alibi mengunjungi Rere agar mereka tidak di curigai.
*
*
*