
Keesokan harinya, Adit baru memberi kabar jika rambut dan darah yang Raja butuhkan sudah ada. Hanya tinggal ambil di rumah sakit tempat Rere di rawat. Tapi adalah syarat lain yang harus Raja lakukan.
"Sory.. Rere curiga saat dokter ambil sample darah. Dia nggak mau ngasih darahnya kalau alasannya nggak jelas, jadi gue cerita yang sebenarnya."
Raja yang sudah duduk di kursi kerjanya di kantor, memijat dahinya ketika Adit mengatakan Rere ingin bertemu Rani. Jika tidak, Rere tidak akan memberikan apa yang Raja butuhkan. Dan sebaliknya, Rere justru akan melaporkan hal itu pada keluarga maminya.
Raja tahu seperti apa Rere. Sikap keras kepala dan sulit menguasai emosi. Raja tidak bisa membiarkan dua wanita itu bertemu. Dia tidak ingin Rere melampiaskan luka masa lalunya pada Rani. Selain perasaan Rani yang Raja lindungi, ia juga harus melindungi anak mereka dalam kandungan Rani.
"Gue tahu apa yang lo khawatirkan." ucap Adir di ujung telepon. "Mempertemukan Rani dan Rere memang bukan hal baik. Tapi membiarkan Rere memberitahu keluarganya, akan menjadi lebih buruk. Dan kita nggak punya banyak waktu buat mikir."
Raja menghela napas. Belum bisa memutuskan. "Aku akan bicarakan ini dengan keluargaku dulu. Nanti aku kabari jika sudah membuat keputusan."
"Oke. Tapi jangan lama-lama. Gue juga akan ikut jaga Rani. Lo nggak perlu khawatir."
Raja mengangguk meski Adit tak melihatnya. Memutuskan panggilan dan beralih menghubungi Musa untuk datang keruangannya.
Musa baru mendarat subuh tadi dari Korea. Tapi asistennya itu harus langsung masuk kerja karena banyak hal penting yang harus Musa lakukan untuk menjaga keselamatan Rani.
"Siapkan semua dokumen yang perlu aku tanda tangani hari ini. Dan kosongkan jadwal setelahnya. Buatkan juga janji temu dengan presdir. Atau katakan pada sekretarisnya ada hal penting yang ingin aku sampaikan kalau memang beliau tidak ada waktu."
"Baik pak." jawab Musa.
"Kamu sudah pastikan istriku aman, kan?"
"Sudah, pak. Beberapa orang menjaga di gerbang dan beberapa lagi mengintai tak jauh dari rumah bapak."
Raja mengangguk puas. "Awasi dan laporkan terus keadaan rumahku. Jangan sampai mereka lalai dengan sesuatu yang mencurigakan."
"Baik pak."
Ternyata pekerjaan Raja tidak selesai di jam makan siang. Banyak dokumen penting yang harus ia tanda tangani. Dan seharian Om Rafi tidak di kantor, hingga ia memutuskan untuk datang ke kediaman Shandikan bertemu langsung dengan papanya.
Raja yang memang sudah memberi kabar akan datang untuk urusan penting, sudah di tunggu papanya di ruang kerja.
"Tidak biasanya kau membutuhkan bantuan papa." sindiri papanya-Rasya.
"Karena ini menyangkut menantu kesayangan mama."
Raja langsung pada inti kedatangannya. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi. Papa juga mendengarkannya dengan serius. Wajah yang awalnya terkejut itu berangsur paham tentang apa yang ia khawatirkan.
"Keluarga istri Rio Darmawan memang licik. Kemungkinan yang kamu takutkan bisa saja terjadi. Apa lagi istri dari Rio pasti takut harta warisan suaminya jatuh ke tangan anak simpanan yang selama ini di cari. Tapi untuk kakak dari Rio, meskipun mereka masih berselisih tentang jabatan, papa rasa dia bukan orang yang bermain kotor dengan menculik atau menjadikan orang sebagai ancaman. Rio dan kakaknya orang yang terdidik dengan baik. Meskipun kepemimpinan terpaksa jatuh pada Rio karena kakaknya yang kurang kompeten. Papa kenal orang tua mereka. Dan keduanya orang yang baik."
"Jadi Raja harus bagaimana, pah?"
"Lakukan saja sesuai rencanamu tadi. Tapi memang kalau bisa, sembunyikan masalah ini hingga Rani melahirkan. Biarkan dia melahirkan dengan tenang tanpa memikirkan hal-hal tidak berguna ini."
Raja memang berniat menyembunyikan masalah ini dari Rio dan keluarganya. Tapi masalahnya adalah Rere yang mengancamnya.
Raja akhirnya menceritakan masalah Rere yang awalanya ingin ia simpan sendiri. Tapi mungkin memang lebih baik ia menceritakan semuanya. Agar ia bisa mendapatkan dukungan penuh.
Entah kapan Raja bisa setenang sang papa dalam menghadapi masalah. Mungkin seiring masalah yang menimpanya, ia bisa setegar dan sepercaya diri papa saat ini.
Karena saat ini, ia hanya bisa tenang jika yang ia hadapi masalah perusahaan. Tapi jika itu menyangkut keluarganya, rasanya Raja tidak bisa tenang sedikitpun meskipun ia sudah berusaha keras.
Raja menghubungi Adit dan memberitahu jika ia setuju Rani menemui Rere sore itu juga. Ia tengah dalam perjalanan menjemput Rani di rumah dan akan langsung menuju rumah sakit setelahnya.
"Oke. Gue kebetulan lagi meeting di luar. Setelah kelar, gue langsung ke rumah sakit juga." kata Adit sebelum panggilan berakhir.
Raja merenung dalam perjalanan. Harus bagaimana ia menjelaskan pada sang istri bahwa mereka tidak hanya akan menjenguk Rere yang besok sudah diperbolehkan untuk pulang. Tapi ada hal lain yang lebih besar yang akan Rani ketahui.
Setidaknya ia harus menjelaskan ketika sampai di rumah nanti. Agar Rani bisa mempersiapkan diri dan tidak kaget jika nanti mereka di sambut sebuah makian ketika memasuki ruang rawat Rere.
Tapi bisakah Rani menerima kenyataan lain? kenyataan bahwa Rere adalah saudari tirinya?
Raja tahu mobil yang membawanya sudah berhenti di halaman rumah besar miliknya. Musa bahkan sudah mengingatkannya. Tapi Raja masih bergeming. Merangkai kata untuk menjelaskan tanpa membuat istrinya tidak nyaman.
Hingga sosok yang ia khawatirkan muncul di pintu dengan mengusap perut besarnya. Seulas senyum mengembang di wajah cantiknya. Melambai dan meminta Raja turun mendekat.
Berdeham. Raja mengulas senyumnya sebelum melangkahkan kakinya turun dari mobil. Menerima sambutan istrinya yang merentangkan tangan dan memeluknya.
"Kenapa malah diam di mobil? mas mau langsung berangkat?"
Raja mengecup ujung kepala istrinya dan menggeleng. "Kita masuk dulu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Kenapa sih, mas? kayaknya serius banget." Rani masih sempat tertawa renyah. Mengajaknya masuk dan meminta izin untuk membuatkan minum untuknya dan meminta palayan untuk membuatkan minum untuk Musa yang menunggu di ruang tamu.
"Jadi.. Kenapa? apa yang membuat wajah suamiku ini tegang?"
Raja reflek menyentuh wajahnya. Apa sejelas itu wajah tegangnya? padahal ia sudah berusaha menampilkan ekspresi tenang. Ia tidak ingin kekhawatirannya membuat Rani takut.
Hingga Rani di sebelahnya tergelak. "Serius banget sih, mas? padahal Rani cuma bercanda lho."
Raja berdecak dan mencubit pipi istrinya dengan gemas. "Aku serius.. sayaaang..."
"Iya.. Iya... Mas. Maaf." ucap Rani mencoba menghentikan tawanya.
Hati Raja seperti di remas. Jangan sampai tawa ceria itu berubah menjadi tangis. Karena sudah cukup ia melihat istrinya murung seharian kemarin. Rani sudah kembali ceria semalam setelah Raja ajak jalan-jalan ke pasar malam yang mereka lewati saat kembali dari rumah Adit waktu itu.
Jangan lagi Rani bersedih. Rani harus bahagia menyambut buah hati yang amat mereka nantikan kehadirannya sejak lama.
*
*
*