
Padahal Rani tidak masalah untuk pergi sendiri menggunakan kendaraan umum. Tapi Raja bersikeras dan kini ia berakhir didalam mobil kantor menuju panti asuhan.
Ketika sampai dan mencari ibu kepala panti sebagai orang pertama yang ia temui, Rani disambut dengan pelukan.
Tak berapa lama, tubuh wanita paruh baya yang memeluknya erat itu bergetar dan suara tangisnya terdengar.
"Ibu kenapa?" tanya Rani terkejut.
Rani sangat jarang melihat ibu panti menangis. Beliau pernah menangisinya ketika ia jatuh dari pohon mangga yang berada dibelakang panti dan hampir mematahkan tangannya ketika berusia tujuh tahun.
Dengan panik dan berurai air mata, beliau menggendongnya dan meminta staf lain untuk menghubungi ambulans. Padahal ia sebagai orang yang terluka ketika itu, tidak menangis dan justru menghibur ibu panti dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
"Ibu. Ibu kenapa?" tanyanya sekali lagi ketika beliau masih terus menangis tanpa menanggapinya.
"Kenapa nasibmu malang sekali, nak?" ibu panti bergumam dengan amat lirih. Mungkin hanya kepada dirinya sendiri. Tapi karena posisi mereka yang masih saling berpelukan, Rani dapat mendengarnya dengan cukup jelas.
"Kenapa, bu?" tanya sekali lagi dengan lebih lembut. Tangisan ibu panti sangat terdengar pilu. Tidak mungkin tidak terjadi sesuatu yang bisa membuat beliau seperti ini.
Ibu panti melepas pelukan mereka dan membimbingnya untuk duduk di sofa.
"Ibu sudah mendengar dan melihat beritanya." ucap ibu panti ketika sudah mulai tenang. Tapi justru Rani yang merasa gelisah. Ia semakin bingung karena tidak tahu berita apa yang ibu panti maksud.
"Kamu pasti sangat sedih hingga membatalkan bulan madu kalian." ibu panti menatapnya dengan iba tanpa Rani tahu alasan pastinya apa.
"Jangan diambil hati apa yang orang katakan. Karena mereka tidak mengenalmu, nak."
"Bu.."
"Mereka tidak tahu seperti apa kamu, hingga mereka bisa menghujat kamu seperti itu." ibu panti tak memberinya kesempatan untuk menyela. "Anggap saja orang-orang yang menjahati kamu itu sebagai cobaan. Ujian untuk kamu sebagai bukti Tuhan menyayangimu dan tak membuatmu terlena dengan dunia. Agar kamu semakin bergantung pada-Nya dan mengingat-Nya."
"Tunggu, bu!" selanya kali ini. "Maksud ibu ujian apa? orang jahat apa, bu? berita apa? Rani tidak paham."
Kali ini ibu panti yang terlihat kaget. "Apa kamu tidak melihat berita?"
Rani menggeleng. Dari menghilangnya Raja pagi kemarin, ia tak bisa menggunakan internet maupun menyalakan televisi. Jadi ia tidak tahu berita apa yang ibu panti maksud.
Tak menjawab pertanyaannya, ibu panti memilih menyalakan televisi tabung yang sudah tua. Saluran yang mereka tonton tengah meberitakan pernikahannya dengan Raja.
Awalnya Rani pikir itu wajar. Mengingat status Raja dan keluarganya. Tapi semakin lama berita itu membuat hatinya terasa getir.
"Berita ini tengah heboh di banyak saluran televisi sejak pagi kemarin. Bahkan di internet. Bagaimana bisa kamu tidak tahu?"
Kini yang menjadi fokus pikiran Rani bukan berita yang tengah heboh itu maupun tanggapan netizen. Karena ia sudah terbiasa mendengar orang-orang menghinanya-seperti apa yang saat ini tengah heboh-sejak ia dan Raja bertunangan. Baik orang-orang kantor maupun teman-teman Raja.
Kini fokusnya pada Raja.
Alasan pria itu pergi tanpa membangunkannya dan tak sempat pulang. Apa karena Raja tengah mengurus berita-berita itu?
Akses internetnya yang mati dan melarangnya menaiki kendaraan umun. Apa karena Raja mengkhawatirkannya dan melindunginya dari sakit hati mendengar segala hujatan?
Apakah kini pria itu peduli padanya?
Atau menyesal telah membuatnya terkenal?
Dulu saat kecil, dengan suara cemprengnya, Rani sering bernyanyi didekat Raja hingga membuat anak laki-laki itu kesal dan memarahinya yang sudah merusak pendengaran.
Tapi Rani tak pantang menyerah dan terus bernyanyi. Ia ingin selalu dekat dengan Raja. Tapi anak lelaki yang pendiam itu terasa membosankan. Tak sekalipun menanggapinya yang sudah bercerita hingga mulutnya berbusa. Dan setelah kehabisan cerita, Rani lebih memilih bernyanyi untuk mengisi kekosongan diantara mereka hingga Raja pulang.
"Suara Rani kan bagus! nanti kak Raja jangan menyesal saat Rani sudah besar, masuk televisi dimana-mana dan terkenal!"
Ekspresi Raja saat itu telihat mengejek dan tak percaya. "Kalau pun kamu masuk televisi dan terkenal. Itu karena kamu masuk berita dan berita itu berita buruk."
Sekarang apa yang Raja katakan saat itu terbukti. Rani terkenal dimana-mana karena berita yang kurang baik.
Orang-orang membiacarakan identitasnya. Mencoba mencari tahu asal-usulnya dan mencari tahu tujuannya menikah dengan salah satu keluarga konglomerat itu.
"Saya berdiri disini untuk mengklarifikasi berita yang tengah beredar tentang istri saya."
Suara yang sangat Rani kenal dan berasal dari televisi itu menarik Rani dari ingatan masa lalunya.
"Nak Raja." beo ibu panti yang sepertinya juga tak menyangka.
Dilayar televisi ada Raja dengan setelan kerjanya. Terlihat rapi dan tampan seperti biasa. Bahkan semakin terlihat tampan jika melihatnya dari layar televisi seperti ini.
Kata istri yang hanya pernah terucap sesaat setelah mereka sah sebagai suami-istri, kini kembali Rani dengar. Dan masih membawa efek yang sama bagi jantungnya.
Semakin mendengar Raja berbicara, semakin Rani tidak yakin dengan penglihatan dan pendengarannya sendiri.
Mungkin orang yang ia lihat dilayar dan suara yang ia dengar berasal dari orang yang berbeda. Karena ia yakin Raja tidak mungkin mengatakan hal-hal seperti itu.
Rani bahkan seratus persen yakin, jika Raja tidak pernah menganggapnya lebih dari gadis berisik dan pengganggu. Jadi tidak mungkin Raja membanggakan ia didepan seluruh negeri.
Tapi Raja memang perlu melakukan itu demi menyelamatkannya, bukan?
Meskipun Raja harus berakting. Raja tetap harus mengatakan itu semua demi menyelamatkan nama baik Rani.
Lagi pula apa yang Raja katakan itu semua benar. Ia memang tak pernah mengharapkan orang lain untuk mengasihaninya. Dan tak mengharapkan harta milik Raja satu sen pun.
Tapi Raja terlihat sangat natural ketika mengucapkannya. Seakan apa yang Raja katakan tulus dari hatinya.
Mereka memang saling mengenal sejak kecil. Tapi Rani tidak tahu jika Raja begitu mengenalnya.
Apa dari ceritanya yang selalu menganggap Raja bak diary berjalan selama ini?
Entahlah. Rani bingung dengan pria dingin tapi baik itu.
Dan satu yang pasti. Terlepas dari tulus atau tidak Raja mengatakan itu semua. Rani cukup tersentuh dengan semua yang Raja lakukan untuknya. Mulai dari melindunginya secara diam-diam dan konferensi pers ini.
*
*
*