You're My Antidote

You're My Antidote
Simpati



Tidak ada yang tahu nasib seseorang di masa depan. Bahkan orang yang berdiri di puncak piramida pun bisa jatuh ke level terbawah jika takdir sudah berkata.


Kini tidak ada lagi wajah angkuh dan tatapan sinis yang biasa Rani lihat. Tidak ada dandanan cantik yang selalu membuatnya insecure.


Yang Rani lihat hanya wajah pucat dengan tatapan kosong milik Rere. Tubuhnya yang bisanya segar kini terlihat semakin kurus hanya dalam beberapa hari. Dari yang ia dengar, Rere mengalami baby blues dan rasa bersalah yang tinggi pada bayi yang dilahirkan secara prematur.


Sehari setelah Rere sadar, perempuan itu menyayat pergelangan tangannya sendiri. Mencoba mengakhiri hidup yang beruntung Malvin datang di waktu yang tepat hingga bisa menyelamatkan nyawa Rere tepat waktu.


Hari ini, hari terakhir Rani bekerja. Setelah pamit dengan teman-teman kantornya, Rani meminta Raja untuk mengantarnya datang menjenguk Rere yang sadar dua hari lalu.


Sebagai sesama perempuan dan seorang ibu, Rani menaruh banyak simpati pada perempuan yang sempat menjadi rivalnya itu.


Terlebih melihat putri kecil Rere yang harus menggunakan berbagai alat di tubuhnya untuk menopang hidup, hati Rani ikut sakit melihatnya. Karena alasan itu pula ia memutuskan tidak lagi keras kepala dan terus bekerja. Ia tidak ingin anak dalam kandungannya bernasib sama dengan putri kecil Rere.


"Maaf, Renata sulit di ajak komunikasi. Dia masih terus menyalahkan dirinya atas kondisi putri kami."


Malvin yang ada di hadapannya dan Raja tak kalah berantakannya. Bulu-bulu halus yang belum di cukur. Kantung mata yang menggantung hitam. Pakaian yang tak terlihat rapi seperti biasanya.


Rani yakin, berada di posisi Malvin juga tidak mudah. Selain menghadapi kondisi Rere yang tidak stabil, dia juga harus mengkhawatirkan kondisi putri mereka yang belum pasti apa bisa bertahan. Selain itu semua, Malvin juga pasti harus menghadapi keluarga dan istrinya di rumah. Karena setahu Rani, orang yang sudah mencelakai Rere adalah mertua dari Malvin sendiri.


"Kami mengerti. Kami hanya ingin melihat kondisinya." Raja yang menjawab ucapan Malvin. Sedangkan Rani sibuk memperhatikan Rere dari kaca kecil di pintu.


Melihat bagaimana Rere menggigit kukunya dengan tatapan kosong. Sedetik kemudian berganti memukul kepalanya dengan air mata mengalir. Hingga puncaknya, wanita itu menangis menjerit yang membuat Malvin melejit masuk kedalam sana dan merengkuh tubuh ringkih itu dalam pelukan. Menenangkan dengan segala macam cara hingga sesenggukan itu tenggelam seiring Rere yang tertidur setelah di beri obat penenang oleh dokter.


"Apa orang yang mencelakai Rere sudah di laporkan polisi, mas?" tanya Rani di perjalanan pulang mereka.


Setelah memberi semangat pada Malvin, mereka langsung pamit pulang. Dan berkata Adit akan datang seperti biasa untuk menjaga Rere kalau-kalau Malvin ingin pulang.


"Tidak." Rani sudah akan melayangkan protes ketika Raja melanjutkan. "Bagaimana pun hubungan Rere dan Malvin adalah skandal besar. Jika kita nekat melaporkan masalah ini, akan ada banyak masalah yang terjadi. Entah dengan keluarga dan perusahaan Malvin, atau agensi yang susah payah Rere bangun sendiri."


Rani sudah mendengar bagaimana kerasnya usaha Rere untuk memiliki agensi yang kini Rere miliki. Dari sana pula, pandangan Rani pada wanita itu sedikit melunak. Terlebih mendengar kisah keluarga di baliknya. Keluarga yang tidak lebih baik dari keluarga Raja ketika kecil.


Kadang orang-orang yang memiliki rasa sakit yang sama memang sering berkumpul di satu tempat. Termasuk Rere dan Raja. Kumpulan orang yang memiliki luka masa lalu. Melupakan dan melampiaskan dengan hal yang tak jauh berbeda.


"Tapi orang itu bisa saja melakukan hal yang sama dengan anak Rere. Karena bagaimana pun rencananya tidak berhasil."


"Itu urusan Malvin, sayang." Raja mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Dengan sebelah tangan yang merengkuhnya. "Malvin sudah berjanji akan memberi pelajaran yang setimpal pada ibu mertuanya tanpa membawa masalah itu ke polisi."


Rani mengangguk dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Menikmati kemacetan sepulang kerja yang entah kapan lagi ia rasakan.


"Rere sudah ada yang menjaga. Sekarang waktunya kamu memikirkanku."


Dengan dahi mengerut, Rani menjauhkan kepalanya untuk dapat menatap sang suami dengan bingung. Matanya melebar begitu merasakan tangan Raja menjalari pahanya dan meremanya.


"Mas!" pekiknya tertahan. Menatap sopir dengan panik. Bisa-bisanya Raja berbuat tanpa memikirkan sekitar seperti itu.


"Aku kangen." bisik Raja menggoda telinganya.


Memang. Setelah kejadian Rere, mereka belum sekalipun melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri di atas ranjang.


Rani cukup syok dan tidak bisa fokus ketika Raja meminta haknya. Berujung gagal karena Rani yang tiba-tiba menangis.


Mengingat bagaimana Raja candu terhadapnya, pasti berat harus berpuasa selama hampir satu minggu.


"It's okey." Raja mengecup tangannya yang masih mengusap rahang suaminya itu. "Asal nanti malam boleh."


Dengan malu-malu, Rani mengangguk dan mengecup bibir suaminya. Hal yang jarang ia lakukan lebih dulu. Atau bahkan tidak pernah? Entahlah Rani lupa.


Raja yang tidak bisa membiarkan kesempatan langka itu berlalu begitu saja, menarik mendekat pinggang sang istri. Merapatkan tubuh mereka dan memiringkan kepala. Sebelah tangannya menahan tengkuk sang istri yang siap memberontak.


Raja menyatukan bibir mereka. Memagut dengan lapar. Tak perduli dengan sopir mereka yang salah tingkah hanya dengan mendengar suara kecapan mereka.


Tangan Raja merambat dari pinggul ke punggung. Mengelusnya lembut membawa sensani menggeleyar bagi Rani.


"Mas." lenguh Rani. Mengumpulkan kembali akal sehatnya sebelum Raja lepas kendali. "Jangan di sini." bisiknya setelah berhasil membebaskan bibirnya.


Memeluk suaminya erat dan menenggelamkan wajahnya di dada Raja yang masih kembang kempis setelah kegiatan nekat mereka.


Raja mengerang dan menenggelamkan wajahnya di atas kepala Rani. "Cepat ke rumah pondok indah. Pak." pinta Raja pada sang supir.


"Lho. Kita pulang kerumah mas? bukan ke rumah mama?"


Pasalnya satu bulan terakhir mereka tinggal di kediaman keluarga Shandika. Karena rumah mereka sendiri tengah di renovasi untuk menambah kamar tamu dan juga kamar untuk anak mereka.


Kamar tamu sesuai rencana lama mereka yang akan merubah ruang tamu. Sedangkan kamar anak, mereka membongkar kamar mereka sendiri. Yang bahakan ukurannya masih lebih luas dari kamar Raja di kediaman Shandika sekalipun sudah di bagi dua.


"Rumah kita sudah jadi. Dan rencananya memang mau mengajakmu melihat hasilnya. Jadi, kalau masih ada yang ingin kamu tambah atau kamu tidak suka, kita masih memiliki waktu untuk merubahnya lagi."


Rani mengangguk antusias. Tidak sabar untuk melihat kamar barunya, juga kamar untuk calon anak mereka.


"Warnanya dindingnya sesuai kan, mas?"


Raja mengangguk dan membungkuk untuk mengecup perutnya yang membuncit. "Sesuai seperti yang kamu mau."


Rani menghela napas di balik euforianya. Harusnya Rere juga bisa merasakan kebahagiaan yang ia rasakan.


*


*


*


Hallo gaes... Lamanya tidak menyapa. Semoga kalian semua dalam keadaan sehat dan bahagia.


Sayang banyak-banyak pokoknya buat kalian semua yang setia menunggu. Lempar hadiah, like, komen yang meskipun nggak di balas.hehehe


Maaf kemarin liburnya kelamaan. Dua hari rasanya nggak body yang pengennya tarik selimut terus merem lagi.Wkwkwk


Semoga mulai bisa rutin up lagi biar nggak mengecewakan kalian semua.


Peluk online untuk kalian 🤗🤗🤗🤗