
Raja benar-benar pulang dengan tumpukan pekerjaan yang menggunung. Semenjak tahu istrinya hamil, Raja ingin selalu pulang tepat waktu. Mengizinkan istrinya tetap bekerja saja sudah membuat Raja khawatir. Apa lagi jika harus mengajak istrinya kerja lembur. Belum lagi nanti omelan keluarganya yang tidak akan ada habisnya untuk ia dengar. Karena yang membuatnya frustasi adalah Rani yang tidak ingin pulang jika ia masih di kantor.
Anaknya adalah cicit pertama untuk keluarga Rasya Jovan Shandika. Cucu pertama untuk Om Rafi dan tante Selina. Juga keponakan pertama untuk Maira, Maina dan Bintang. Jadi keluarga besarnya menyambut antusias kabar kehamilan Rani.
Bahkan ketika Raja mengabarkan kabar gembira itu di chat grup keluarga, mereka semua heboh. Ada yang menebak jenis kelamin calon bayinya. Ada yang menebak akan lebih mirip siapa. Dan dengan baik hatinya Maira, Maina dan Bintang menawarkan diri menjadi sukarelawan bagi Raja untuk memenuhi ngidam sang istri yang konon katanya sering aneh-aneh pada umumnya.
Beruntung ia memiliki keluarga yang harmonis. Hingga Rani yang tumbuh tanpa keluarga, kini bisa merasakan kehangatan keluarga.
"Kita makan malam di rumah mama papa ya, sayang?" ujar Raja ketika mereka berada di lift. Tatapan Raja masih fokus pada ponsel di tangannya. Ponsel yang sedari tadi berisik dipenuhi chat di grup keluarga.
"Nggak jadi pulang mas?"
Raja menarik sudut bibirnya ketika istrinya tak lagi menggunakan bahasa formal. Ia membebaskan Rani untuk senyamannya saja. Tidak perlu mengikuti gaya bicaranya yang memang sulit untuk di ubah. Dan istrinya adalah orang yang paling tidak bisa konsisten. Kadang formal kadang tidak.
Tak menjawab pertanyaan Rani, Raja menunjukan layar ponselnya yang berisi pesan di grup keluarga yang tengah menanggapi undangan makan bersama dari mamanya. Pesta kecil-kecilan menyambut kabar gembira kehamilan Rani, juga untuk membahas acara ulang tahun mamanya yang akan di gelar secara mewah bulan depan.
Raja memang belum sempat menambahkan Rani kedalam grup itu. Begitu juga keluarganya yang lain yang mungkin juga lupa-sama seperti dirinya. Hingga Rani hanya mengetahui kabar terbaru tentang keluarga Raja dari mulut Raja sendiri.
"Kamu tidak keberatan kan sayang?" tanya Raja ketika Rani diam saja dan hanya mengadukan ujung heels-nya. "Dan kenapa masih pakai heels?" suara Raja sedikit meninggi begitu mengetahui kecerobohan sang istri padahal tahu jenis sepatu itu tidak baik untuk wanita hamil.
Rani yang sebelumnya menunduk menatap ujung sepatunya, kini menatap Raja dengan mata berkaca-kaca. "Kok mas marah?" suara istrinya bergetar.
Raja menarik napasnya dalam dan berusaha tersenyum. "Maaf sayang.. Mas hanya kaget lihat kamu masih menggunakan heels. Nanti kita beli flat shoes ya? sepertinya kamu hanya memiliki beberapa flat shoes."
Rani terlihat mengedipkan matanya untuk mengahalau cairan bening di pelupuk matanya untuk menetes. Raja lupa jika wanita hamil bisa sesensitif itu. Dan semua gejala aneh kehamilan itu baru terjadi hari ini.
"Mas kan tinggi." bibir Rani mencebik keras. "Kalau aku pakai flat shoes nanti di kira adeknya lagi." Raja tersenyum gemas melihat sang istri mengerucutkan bibirnya.
"Siapa yang peduli. Yang penting kan kamu dan anak kita aman." sahut Raja enteng.
"Rani peduli!" tekan Rani membuat Raja mengedip bingung. "Banyak yang timpang dalam hubungan kita. Entah dari segi keluarga atau ekonomi. Jadi setidaknya segi penampilan, Rani nggak mau terlalu jauh."
Raja malah terkekeh dan menyentil dahi istrinya. "Kamu cantik, sayang." bela Raja berusaha menaikan rasa kepercayaan diri istrinya. "Cantikmu itu dari hati. Mau kamu tinggi atau pendek, bagiku kamu tetap yang paling cantik."
"Jadi maksudnya hanya hati Rani yang cantik? paras Rani enggak?!"
"Bukan begitu sayang.."_____"Kamu lupa mama sering mengatakan bahwa kita pasangan yang serasi."
Rani mencebik dan tersenyum malu-malu.
"Lagi pula untuk sekarang, yang terpenting kamu nyaman dan aman. Jangan terlalu memikirkan penampilan apa lagi omongan orang lain yang tidak penting."
Rani mengangguk setuju dan merangkul lengan suaminya. Melangkah bersama ketika pintu lift terbuka di lobi. Dimana di area drop off, mobil Raja sudah menunggu.
"Tapi gurame asam manisnyaaaa?" wajah Rani terlihat tidak ikhlas. "Rani sudah membayangkan akan makan itu dari siang."
"Nanti tetap mas masakan."
"Mas serius?" mata yang meredup itu kembali berbinar. Membuat Raja tak tahan untuk tak mengecup bibir istrinya sekilas.
***
Disaat Rani tengah dimanjakan para orang tua di ruang keluarga. Raja tengah dikerubuti gadis-gadis di dapur.
Maira, Maina dan Bintang berdiri tercengang di dapur. Menatap kakak laki-laki mereka satu-satunya berada disana.
Raja masuk ke dapur adalah hal yang tabu. Dan yang lebih horornya lagi, kakak mereka itu tengah memakai celemek dan memotong ikan gurame besar. Terlihat fokus sama seperti Raja ketika tengah bekerja.
"Kak Raja yakin bisa memasak?"
Raja menatap adik terkecilnya-Bintang-dengan tatapan tajam.
"Maksud Bintang.. Kak Raja yakin tidak ingin Bintang bantu?" Bintang tersenyum takut melihat kakaknya yang jarang berbicara tapi selalu sangat baik pada mereka itu. Menawarkan keahliannya sebagai seorang koki. Ragu dengan kemampuan memasak Raja dan khawatir masakan kakaknya akan membahayakan Rani dan kandungannya.
Karena yang Bintang dan seluruh keluarganya tahu, Rani tengah mengidam masakan Raja. Tanpa tahu jika anggota keluarga mereka itu memang bisa memasak.
"Lebih baik kalian pergi dari pada mengganggu." ketus Raja. Mengusir ketiga gadis itu dari jangkauan matanya. "Temani kakak ipar kalian. Dan tanyakan apa yang dia inginkan." imbuhnya dengan tetap fokus pada ikan di tangannya yang tengah ia lumuri bumbu.
"Kak Raja kok makin keren sih?" Maina mencondongkan tubuhnya dan menopang dagu di ujung konter tempat Raja memasak. Menatap kakaknya dengan tatapan kagum.
"Ternyata begini kalau manusia kutub sedang bucin." Maira ikut menimpali. Gadis itu menopangkan kedua tangannya di konter. Tak kalah kagum. Tak menyangka kakaknya yang apatis bisa memperlakukan seorang wanita dengan baik.
Mereka sudah mendengar perubahan Raja yang lebih manis. Tapi mereka tidak percaya karena tidak melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Dan sekarang....
Ketiga gadis itu menggeleng kompak. Raja dan kegiatan memasaknya adalah pemandangan langka dan menakjubkan. Lebih dari cukup untuk membuktikan betapa Raja mencintai istrinya. Bagi mereka yang mengenal seperti apa Raja.
Rasanya ketiga gadis itu ingin memeluk Raja erat dan mengucapkan selamat. Selamat telah menemukan semangat hidupnya. Menemukan seseorang yang membuat hidup Raja lebih berarti. Lebih memiliki tujuan dan prioritas.
Rasanya Maira, Maina dan Bintang ikut merasa bahagia melihat kakak mereka bahagia.
*
*
*