
"Jadi, kenapa kak Raja pulang cepat?" tanya Rani ketika mereka sudah duduk diatas Ranjang setelah suaminya berganti pakaian dan memutuskan untuk tidak kembali ke kantor.
"Tadinya aku ingin mengajakmu ke makam. Setelah meeting di luar tadi, aku tidak ada jadwal bertemu siapapun lagi. Dan pekerjaan yang lain sudah aku bawa pulang untukku kerjakan nanti malam. Tapi ternyata dijalan hujan."
"Yaaah gimana dong kak? atau nanti nunggu hujan reda terus kita langsung berangkat?"
Rani sangat antusias. Berarti niat Raja untuk sembuh dari trauma tidak main-main. Suaminya memiliki keinginan yang cukup besar untuk sembuh. Karena kalau tidak, tidak mungkin Raja mau mrngambil resiko kemungkinan traumanya akan semakin parah ketika mereka datang kemakam.
"Tidak usah. Kita atur lain waktu lagi saja. Kamu baru sembuh. Dan udara sehabis hujan cukup dingin. Aku tidak ingin kamu kembali sakit." Tapi ternyata Raja menggeleng dan masih mengkhawatirkan kondisinya.
"Tapi Rani tidak apa-apa, kak. Atau biar kak Raja percaya, Rani mau kok pakai baju berlapirs ditambah jaket."
Raja terlihat ragu. "Kita lihat nanti." ucap Raja pada akhirnya. "Tapi tepati kata-katamu untuk memakai baju berlapis juga jaket."
Rani merenges dan mengangguk.
"Good girl. Kamu semakin cantik kalau menurut seperti ini."
Rani masih tidak terbiasa dengan kata-kata lembut dan manis yang Raja ucapkan akhir-akhir ini. Membuatnya tak tahan untuk bertanya. "Kak Raja kok jadi manis gini kalau ngomong? mana sering panggil Rani, sayang, lagi."
Raja tersenyum dan mengusap dahinya yang tertutup poni yang mulai memanjang. "Kenapa? apa kamu tidak suka?" tanya suaminya yang langsung membuat tangan Rani bergerak menyangkal.
"Mana mungkin." bantahnya. "Rani suka. Rani suka kak Raja panggil Rani dengan sayang."
"Aku bukan pria romantis. Aku tidak bisa mengungkapkan rasa cintaku. Tapi aku juga tidak ingin kamu merasa tidak nyaman dengan sikap dinginku."
"Meskipun sedikit aneh kalau kak Raja tetap dingin ke Rani, tapi Rani tidak akan merasa seperti itu kak. Karena Rani kenal kak Raja dari kecil. Dan kak Raja memang seperti ini. Kaku." cibirnya setengah bercanda.
"Kalau begitu, boleh kalau aku yang menunggu kamu memanggilku dengan hal serupa?"
"Ma-manggil apa?"
"Kamu pasti tahu maksudku." cibir Raja. "Adit bahkan Rere kamu panggil dengan 'Kak'. Jadi apa bedanya aku dengan mereka."
"Emm sebentar ya, kak. Aku ada yang lupa dibawah. Kak Raja mandi aja dulu." Rani memilih kabur sebelum Rani semakin mendesaknya.
Jujur saja, tak pernah terpikirkan untuk memanggil Raja dengan sebutan lain sekalipun pria itu sudah menjadi suaminya. Meskipun ia tahu, antara suami istri pasti akan memanggil dengan panggilan mesra pada umumnya. Tapi Rani belum menyiapkan hal tersebut. Jadi dari pada Raja kecewa, lebih baik ia melarikan diri dulu sejenak.
***
Seperti janji Raja pada sang istri, ketika sore dan hujan berhenti, ia mengajak sang istri ke makam dimana kedua orang tuanya beristirahat dengan tenang.
Beruntung hujan tak turun terlalu lama, mereka bisa sampai di Bogor sebelum gelap.
Rumput basah dan lembab menyambut mereka diarea pemakaman. Pemakaman pribadi keluarga besar Shandika. Dimana buyut, kakak-kakak papa dan sanak saudara-berdarah Shandika yang sudah lebih dulu berpulang-dimakamkan disana.
Raja turun dan berdiri disisi mobil yang sore itu ia memilih menggunakan sopir. Jika seandainya ia dalam kondisi buruk, Rani tak perlu repot mengurusnya.
Bahkan papa mengirim beberapa orang untuk mengawal mereka ketika Raja mengutarakan niatnya mengunjungi makam yang sudah belasan tahun tidak ia sambangi.
Genggaman kecil di jemarinya menyadarkan Raja akan kehadiran sang istri yang sudah berpindah disisinya.
"Kak Raja kuat?" Rani bertanya khawatir padanya. Entah wajahnya yang terlihat pucat, atau tubuhnya yang bersandar di bodi mobil untuk menopang agar tidak limbung.
Sekali lagi Raja menatap hamparan rumput hijau yang membentang dihadapannya yang terbagi menjadi beberapa bidang. Tanah seluas satu hektar yang tertata rapi untuk pemakaman keluarga. Sebenarnya jalur mobil bisa sampai area terdalam. Agar ketika mereka berziarah, tidak perlu berjalan terlalu jauh. Tapi kini Raja justru turun di area terluar makam. Menyakinkan diri sekali lagi bahwa ia mampu.
"Kamu kuat kalau kita jalan kaki dari sini?" tanya Raja balik pada sang istri yang masih mengamati ekspresinya.
Tak menjawab, Rani justru mengamit lengannya dan mengajaknya berjalan.
Beberapa orang dibelakang mereka membawa beberapa keranjang berisi bunga mawar dan beberapa bunga Lilly yang akan mereka bagi tiap satu kuntum mawar di tiap makam. Seuai permintaan papanya-Rasya. Dan bunga Lilly khusus untuk nenek buyutnya-ibu Rasya- dan kedua kakak kembar papanya itu. Yang konon lebih menyukai Lilly dari pada mawar.
Raja menggenggam semakin erat tangan sang istri ketika mereka semakin dekat dengan tujuan mereka. Jantungnya berdebar cepat. Keringat dingin mulai bermunculan. Kakinya bahkan terasa lemas.
Tidak. Ia tidak ingin pingsan dan membuat sang istri khawatir. Hingga Raja memutuskan untuk berhenti.
"Kak Raja mau sampai sini saja?" tanya Rani yang sejak mereka memasuki makam tak lepas menatap wajahnya.
Raja mengangguk. Ia tidak ingin menutupinya. Ia memang belum sekuat itu untuk bisa sampai makam orang tuanya.
Bayang-bayang malam mengenaskan itu semakin berseliweran dalam kepalanya. Jerit Bibi, suara sirine dan kilat petir membuat telinganya terasa berdenging sakit.
Ia tidak bisa berbohong. Ia sakit. Ia tak kuat lagi.
"Kak Raja tunggu disini tidak apa? Rani kasih salam dan kirim doa dulu untuk mereka."
Sekali lagi Raja mengangguk. Tenggorokannya bahkan terasa tercekat hanya untuk bersuara.
"Kak Raja minum dulu." Rani mengambil botol mineral yang memang sengaja mereka bawa didalam tas wanita itu. "Kursinya pak." pinta Rani pada orang yang membawakan kursi lipat untuk mereka.
Raja menurut. Duduk diatas kursi dan minum hingga tandas. Mencoba menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Menyakinkan diri jika kini ia berada didekat Rani. Bukan dimalam mengerikan itu terjadi. Didekat Rani yang mengusap dan memberikan tepukan lembut pada punggungnya.
"Disana." Raja menjukan arah ketika dirasa ia mulai tenang. "Makam ketiga dari kanan. Cari saja Ratu dan Rafa."
Rani mengikuti arah yang ia tunjuk dan mengangguk ketika pandangan wanitanya itu kembali padanya.
"Kak Raja yakin tidak apa?"
Raja mengangguk. Berusaha semeyakinkan mungkin. "Ada yang menemaniku kalau sampai terjadi sesuatu. Biar pak sopir yang menemani kamu kesana."
Rani tersenyum dan mengecup keningnya sebelum kabur dengan langkah cepat kearah yang ia tunjuk.
Kecupan yang singkat itu, membawa sedikit rasa tenang dihatinya. Sedikit mengurangi ketakutan yang ia landa. Karena kecupan itu cukup langka Rani berikan jika tidak ia yang meminta.
*
*
*