
Raja kaget begitu memasuki kamar dan mendapati sang istri duduk bersandar di atas ranjang. "Belum tidur, sayang?" tanyanya mendekat.
Rani mengikuti gerakannya yang melepas jaket dan menaruhnya di sandaran sofa pada kaki ranjang. "Rani tidak bisa tidur lagi." balas sang istri kemudian ketika ia mengecup dahi istrinya yang tak lagi panas.
"Maaf ya, lama?" ia meminta maaf. Meskipun ia keluar hanya tiga jam yang menurutnya sebentar dibanding malam-malamnya sebelum menikah. Tapi membayangkan Rani duduk sendiri menunggunya yang tak jelas kapan pulang, membuatnya merasa bersalah.
"Dengan siapa saja kak Raja di bar?"
Raja tersenyum. Ternyata istrinya tak bisa kembali tidur karena mengkhawatirkan ia yang mungkin bersama dengan wanita lain di luar sana.
"Hanya dengan Adit, sayang." jawabnya gemas. "Adit sedang galau dan butuh teman. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya orangnya langsung dibawah."
"Dibawah?" tanya Rani bingung. "Maksud kak Raja, kak Adit ikut pulang kesini?"
Raja mengiyakan dengan anggukan. "Aah mungkin kamu bisa bertanya padanya besok. Itupun kalau dia ingat." ucap Raja seolah ingat sesuatu, dan menambahkan. "Dia mabuk berat. Tidak mungkin aku mengantarnya pulang. Bisa-bisa aku ikut dimarahi bunda."
"Wajar aja. Kalian bandel." cibir Rani.
Raja hanya tertawa kecil tak menanggapi. "Aku ganti pakaiamku dulu, lalu kita tidur ya? kamu memang sudah tidak demam. Tapi bukan berarti sudah sehat. Jadi jangan coba-coba untuk begadang seperti ini."
Rani tak membantah dan mengangguk. Membiarkan Raja berlalu keruang ganti dan berbaring bersama setelahnya.
"Ceritakan sesuatu agar Rani bisa tidur kak." pinta Rani. "Rani benar-benar tidak mengantuk setelah tadi kak Raja pergi."
Raja yang matanya sudah memberat kembali membuka mata dan menatap wanita dalam dekapannya. Pengaruh alkohol cukup untuk membuatnya mengantuk.
"Kamu mau dengar cerita apa?"
Rani mengedik dan menjawab. "Apa saja tentang kak Raja." jemari lentik istrinya bermain didada. Mendesirkan darah. Membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya, ketika kondisi sang istri masih lemah pasca sakit.
"Tidak banyak yang bisa aku ceritakan. Kamu hampir menemaniku sepanjang hidup." Raja mulai memilah dalam kepala, cerita mana yang istrinya belum tahu tentang dirinya. "Aku sekolah disekolah International sejak umur lima tahun. Hanya papi yang selalu datang kesekolah. Dan meskipun dimatamu aku bandel, tapi aku selalu menjadi juara umum dulu saat diluar negeri. Beberapa kali menang olimpiade dan kejuaraan basket junior."
"Oh ya?" Rani bergerak heboh dan merenggangkan pelukan untuk dapat menatap wajahnya. Terlihat kaget dan tidak percaya. "Ternyata suamiku cerdas?" senyum Rani setengah kagum dan setengah mengejek.
Gemas. Raja menyentil dahi sang istri. "Aku memang selalu cerdas. Kamu saja yang tidak tahu."
"Baiklah. Cukup acara menyombongkan dirinya."
Raja kembali memilah. Cerita apa yang bisa mengantar istrinya untuk tidur. "Apa kita perlu olah raga malam, agar kamu bisa tidur?" tanyanya ketika tak tahu harus bercerita apa. Lagi pula ia bukan pencerita yang baik. Kecuali cerita sedihnya tadi dengan tujuan membuka diri pada Rani.
"Kak Raja apaan sih! aku masih sakit, kalau kak Raja lupa!" wanitanya itu memukul dadanya dengan manja. Ada rona merah di pipi Rani yang Raja tangkap dari cahaya temaram lampu tidur. Membuatnya tergelak melihat Rani salah tingkah.
"Sedang sakit saja, cantiknya tidak berkurang." pujinya yang sangat jarang ia lakukan. Karena ia memang tak pandai memuji orang apa lagi merayu wanita.
"Kayaknya kak Raja mabuk deh." Rani menangkup kedua sisi wajahnya dan menggerakan kekanan dan kekiri untuk meneliti setiap sisi wajahnya. Mencari bukti kalau memang ia masih dalam pengaruh alkohol.
"Aku memang minum, tapi tidak sampai mabuk." meraih kedua tangan sang istri dan menguncinya ditengah tubuh mereka dan memeluk istrinya erat. Agar tangan Rani tidak semakin kemana-mana yang terlalu beresiko untuknya melupakan kondisi sang istri yang masih sakit.
Dibawah pengaruh alkohol dan sudah beberapa hari tak menyentuh istrinya, membuat hasratnya gampang terpancing.
"Kamu mau dengar, bagaimana kamu dimataku sejak pertemuan pertama kita?"
"Kita lihat saja." ucap Raja dan memulai ceritanya.
"Dulu aku masih diambang kesadaran. Masih tak memiliki semangat untuk melanjutkan hidup saat pertama datang ke panti."
"Aku yang selalu melamun mulai tertarik saat kalian-anak panti-menyambut mama dengan suka cita. Melompat-lompat bahagia menunggu mama membagikan hadiah. Saat itu aku berpikir, kenapa hanya dengan hadiah mainan seperti itu kalian sudah begitu bahagia? aku bahkan yakin, mainan yang mama bagikan tidak sebanding harganya dengan mainan yang selalu papi berikan padaku. Apa bahagia semudah itu? apa aku juga pernah merasa sebahagia kalian dalam hidupku? karena aku selalu merasa biasa saja saat papi pulang membawa hadiah sebagus apa pun itu."
"Meski aku terkesan acuh, tapi aku selalu tertarik mengamati kalian yang begitu mudah untuk tertawa lepas. Terlebih kamu." Raja mencolek hidung istrinya yang menatapnya dengan senyuman. "Gadis berisik tapi selalu meninggalkan kerinduan saat lama kita tidak bertemu."
"Serius?" kedua mata Rani berbinar bahagia. "Kak raja serius berpikir seperti itu?"
Meski malu, Raja mengangguk mengakui. "Awalnya memang aku terpaksa ikut ke panti. Tapi lama kelamaan, malah aku yang sering mengajak mama datang kepanti dengan cara tidak langsung hanya untuk bisa bertemu kamu."
"Cara tidak langsung?"
"Hmm.. Aku sering bertanya pada mama kapan mama akan ke panti. Saat mama bertanya kenapa, aku hanya akan menjawab bosan saja dirumah. Dan itu selalu membuat mama paham kalau aku butuh teman. Dan keramaian di panti, cukup untuk mengisi kekosonganku."
"Cieee yang naksir dari kecil." goda Rani membuatnya tertawa. Ia akui, ia memang tertarik dengan bocah cerewet dan cengeng dalam dekapan sejak ia belum tahu apa itu sayang dan cinta. Ia hanya tertarik dan menyukai berada didekat gadis kecil itu.
"Aku selalu acuh saat kamu berusaha mendekatiku. Karena dengan cara itu aku bisa melihat tingkah-tingkah konyomu yang cukup menghibur."
"Tingkah konyol apa?"
"Suara cempreng kamu saat menyanyi salah satunya."
Raja mengenang saat mereka masih kecil dulu. Meski Raja bersikap dingin, tapi Rani tidak pernah berhenti untuk mendekatinya. Mengajaknya berbicara, menari dan menyanyi sendiri dengan suaranya yang menurut Raja lebih mirip tikus terjepit.
"Kehadiran kamu, cukup memberi warna di hidupku yang kelam." suara Raja melirih. Masih ada sendu ketika mengingat cerita kelamnya. Sesekali hening sebelum Raja melanjutkan. "Keceriaanmu yang tak pernah aku miliki. Senyum lebarmu yang tak membutuhkan alasan kuat. Seakan senyum bagimu seperti bernapas. Bisa kamu lakukan kapan saja. Hal yang begitu sulit aku lakukan. Karena sejak kecil, rasanya sulit untukku bahagia."
"Sampai saat aku SMP, aku sadar, perasaanku lebih dari yang aku bayangkan. Aku menyikaimu lebih dalam dan mungkin aku bisa menyebutnya cinta." Raja tak sadar wanita dalam dekapannya sudah tak lagi merespon ceritanya.
"Saat itu, aku tidak mungkin menyatakan perasaanku dan mengajakmu berkencan. Karena kamu masih terlalu kecil." tatapan Raja masih jauh menyelami masa remajanya. "Jadi aku memutuskan untuk menjagamu dari jauh. Memberi balasan pada siapa pun yang mengganggumu. Memberimu hadiah tanpa kamu tahu." Raja tertawa geli sendiri membayangkan sikapnya yang terasa norak jika dikenang saat ini.
"Mungkin aku selalu dingin dan terkesan membencimu. Tapi itu caraku menutupi cinta monyetku dulu. Kalau sikap dinginku, sepertinya sudah bawaan sih. Hasil tumbuh ditengah pertengkaran orang tua. Karena sepertinya aku hanya tertawa lepas saat berlibur ke Jakarta bertemu para sepupu dan keluarga papi yang selalu melimpahiku kasih sayang. Sebelum tragedi itu terjadi."
"Sampai saat aku masuk SMA, disaat aku mulai memberanikan diri untuk mengajakmu berkencan, aku justru didera ketakutan luar biasa."
"Bagaimana kalau aku tidak bisa membahagiakan kamu seperti papi dan mami. Bagaimana kalau hubungan kita justru semakin merenggang saat kita bersama. Dan banyak keputusan lain yang membuatku memilih untuk menjauh. Termasuk keputusanku untuk tidak menikah."
"Kamu lihat? aku sudah secinta itu sejak kecil. Semakin besar cintaku, semakin besar aku takut tidak bisa membuatmu bahagia dan hanya menyakitimu."
Raja menoleh kebawah dan terkekeh mendapati Rani yang sudah terlelap dengan napas teratur. "Jadi dari tadi aku merancau sendiri, hm?" ia menyatukan dahinya dan dahi Rani dan menggesekkannya. "Gadis nakal."
Raja membenahi posisi Rani agar lebih nyaman. Menarik selimut hingga menutupi dada sang istri. Tak lupa Raja tinggalkan sebuah kecupan di dahi dan bibir istrinya itu. "Mimpi indah sayang." bisiknya dan ikut memejamkam mata.
*
*
*