You're My Antidote

You're My Antidote
Hari Pertemuan



Entah sudah keberapa Rani menerima paket tanpa nama pengirim. Paket yang berisi mainan, pakaian dan kali ini vitamin untuk anak-anak.


Dari vitamin yang ia pegang, Rani tahu jika vitamin itu diresepkan oleh dokter anak. Bukan asal vitamin yang di beli di pasaran.


Rani sangat penasaran dengan orang di balik itu semua. Karena paket-paket itu rutin ia terima sejak ia menanti hari melahirkan. Sejak itu, setiap bulan rutin datang paket tanpa nama yang di tujukan padanya.


Raja sudah menanyakan seluruh keluarganya hingga sepupu terjauh. Tapi tak ada satupun yang merasa melakukannya.


Jika masalah mainan dan pakaian, Raja memberi izin untuk menggunakannya. Tapi jika kiriman berupa makanan atau obat seperti saat ini, Raja selalu menolak keras. Meski masih tersegel rapi, Raja tetap takut ada yang berniat mencelakai anak-anak mereka.


Ditengah rasa penasarannya, ponselnya berdering. Nama Rere terlihat sebagai pemanggil.


"Gue udah kabarin bokap. Besok sore di restoran hotel XX. Gue udah pesan private room." ucap Rere begitu panggilannya di angkat.


Rani menghela napas. Rasen sudah membaik dan ia menyanggupi untuk bertemu Rio Darmawan. Lagi pula ia tidak bisa mengulur-ulur waktu lagi, dengan Rere yang terus merongrongnya. Menghantuinya setiap hari. Rani rasa Rere lebih antusias dengan pertemuan itu di banding dirinya yang justru merasa biasa saja bahkan kadang ragu.


"Anak-anak nggak perlu ikut kan, kak?" tanyanya sembari menyimpan botol susu anak-anak.


"Ikut lah! gue udah bilang ke bokap kalau gue udah ketemu sama anaknya yang hilang bonus dua cucu yang cantik dan ganteng."


"Terus bagaimana tanggapan beliau?" tanya Rani takut. Takut dengan reaksi semua orang dengan identitas aslinya.


"Gue nggak tau." jika Rere di depannya, pasti Rani bisa melihat kakak tirinya itu mengedikan bahu acuh. "Gue cuma ngomong sama bokap lewat telepon. Nggak ketemu langsung."


"Kenapa?" memastikan.


Hening cukup lama di seberang. Membuat Rani merasa tidak enak hati. Takut ada yang salah dengan pertanyaannya.


"Bokap mau angkat telepon gue aja, gue udah bersyukur banget."


Rani menghela napas. Entah hubungan seperti apa yang selama ini terjalin antara Rere dan Rio. Rani bisa mendengar kesedihan dalam suara Rere.


Jika Rere yang sudah bersama Rio sejak lahir saja tidak bisa akrab. Bagaimana ia yang bahkan baru akan bertemu setelah sebesar ini?


"Itu hal biasa buat gue. Jadi lo nggak perlu ngerasa nggak enak. Dan gue sama lo itu beda. Bokap pasti menyambut baik lo." ujar Rere seakan tahu apa yang Rani rasakan. "Pokoknya persiapin diri lo aja. Jangan sampai di undur lagi."


***


Seharian Rani gelisah tak bisa tenang meskipun berkali-kali Raja meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa Rani akan diterima dengan baik oleh semua. Tapi apa yang Raja katakan seakan tak berpengaruh sedikitpun dengan kegelisahannya.


Bagaimana bisa ia percaya jika rumah mereka dijaga ketat para pengawal. Jika kemanapun ia dan anak-anak pergi, akan selalu ada orang-orang yang menjaga. Bahkan Rani yakin Raja sendiri lebih khawatir dari apa yang ia rasakan.


Sore hari, Rani sendiri yang memandikan dan mempersiapkan anak-anaknya sebaik mungkin untuk bertemu sang kakek.


Rani juga mandi dan bersiap karena Raja sudah mengabarinya jika suaminya itu dalam perjalanan pulang dan sudah siap dari kantor tanpa perlu mandi di rumah. Jadi begitu Raja sampai, mereka bisa langsung berangkat.


"Nanti bersikap baik ya Ransen, Raisa." ucapnya pada dua balita yang tengah bermain di atas ranjang keduanya. Ia pandangi wajah-wajah ceria kedua kembarnya. Mencari ketenangan dari perasaan yang campur aduk dalam benaknya.


"Sudah siap, sayang?" Raja muncul di celah pintu dan langsung menghampirinya. Mencium pelipisnya dan beralih mencium kedua anak mereka. Raisa langsung merengek dan merentangkan tangan ke arah Raja yang langsung di sambut dengan senang hati.


Toh selama ini ia menganggap kedua orang tuanya telah tiada. Jadi seharusnya bukan hal yang menyakitkan jika nanti ia tak mendapat pengakuan yang semestinya.


"Sudah siap?" tanya Raja lembut sembari merangkul pinggangnya.


Rani menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Selama ada kamu." balas Rani dengan senyumnya yang terasa kaku.


"Selalu sayang." Raja merengkuh dan memberinya kecupan. "Aku akan selalu ada di sampingmu. Jadi jangan pernah takut menghadapi apapun."


Rani mengangguk dalam sekapan sang suami. Ransen yang bermain seorang diri diatas ranjang, merengek melihat orang tua dan adiknya berpelukan. Membuat Raja dan Rani terkekeh dan mendekati putra mereka.


"Maaf sayang... Ransen juga mau di peluk ya?"


***


Sepanjang perjalanan Raja tak melepaskan tangan Rani dari genggamannya. Menyakinkan Rani jika ia akan selalu ada disana. Disamping istrinya.


Lagi pula, Raja merasa selama ini keadaan cukup aman. Dan ia ragu jika seorang Rio Darmawan masih belum tahu siapa orang yang Rere maksud dengan Raisa yang hilang itu.


Dengan begitu mudahnya Rio menerima ajakan makan malam dari Rere, Raja yakin sebenarnya Rio sudah tahu siapa putri yang selama ini pria itu cari. Meskipun Raja belum tahu alasan dibalik seoranc Rio masih belum muncul di depan pintu rumahnya selama berbulan-bulan berlalu sejak siapa Rani sebenarnya terungkap.


Apa pun itu, Raja yakin alasannya dibaliknya bukan sesuatu yang buruk untuk Rani. Karena seperti yang bunda Adit ceritakan, Rio amat mencintai mantan istri simpanannya alias ibu dari Rani. Dan dari usaha Rio mencari Rani selama ini, sudah menunjukan jika pria itu juga mencintai Rani sebagai putrinya.


Ketika mereka turun di depan loby hotel, Rere sudah menyambut mereka bersama Malvin dan putri kecilnya-Bia.


"Kayaknya bokap udah dateng deh." ucap Rere begitu selesai melepas cium pipi untuk Rani. "Tadi gue lihat sopirnya."


Rani berdeham terlihat kurang nyaman. "Mami.. Kak Rere.. Ikut?"


Rere menggeleng dan mengedik. "Gue nggak yakin sih, bokap bakal ngajakin mami. Apa lagi ini menyangkut elo.. Anak dari.. Yaaa lo tahu sendiri lah."


Rani mengangguk dan tersenyum. Tak merasa tersinggung sama sekali. Karena toh kenyataannya memang seperti itu. Mau bagaimana pun penyangkalan yang coba Rani lakukan.


Raja dan Malvin mengikuti dua wanita yang di cintai masing-masing memasuki lift. Tujuan mereka adalah restoran dimana-mungkin-Rio Darmawan sudah menunggu.


Raja hanya berharap semua akan berjalan lancar sesuai harapannya.


*


*


*


Holllaaaaa... Maaf gaes butuh waktu lamaaaaaa banget buat bisa nulis lagi.hehehe


Ternyata meskipun bukan hamil anak pertama, tetep aja gak gampang buat di jalani.


Semoga kalian gak kecewa ya gaes...