
Karena mall sepagi itu belum ada yang buka, mereka akhirnya menemukan toko mainan yang cukup lengkap.
Raja membeli semua yang Rani tunjuk tanpa terkecuali. Rani bahkan mengabsen masing-masing mainan maupun buku dongeng yang dipilih untuk tiap nama anak panti.
Beruntung toko mau mengantar belanjaan mereka ke panti yang memang jaraknya tidak terlalu jauh. Tapi istrinya tidak henti menggerutu ketika mereka dalam perjalanan menuju panti.
"Tuh kan! harusnya bawa mobil mas! kan semalam kita sudah bahas akan membeli hadiah dulu. Kenapa malah bawa motor."
"Maaf sayang. Mas lupa." Raja meringis dalam hati. Apa bedanya, toh yang penting hadiah yang mereka bawa sampai juga di tempat tujuan. Tapi lebih baik ia mengalah dan meminta maaf dari pada berdebat.
Kedatangan mereka di sambut musik yang cukup keras. Anak-anak dari usia tiga hingga yang paling besar mungkin tujuh atau delapan tahun, pagi itu tengah melakukan senam. Mengisi akhir pekan dengan olah raga.
Lucu rasanya melihat anak-anak sekecil itu bergerak mengikuti gerakan salah satu staf panti sesuai irama lagu.
Dulu saat Rani kecil, Raja ingat ada beberapa anak yang usianya lebih dari sepuluh tahun. Dan saat Raja menanyakan itu beberapa bulan lalu, Rani mengatakan kalau sekarang sudah ada panti khusus usia delapan tahun ke atas. Dan rata-rata adik-adik panti juga sudah ada yang mengadopsi sebelum usia itu.
Kurir yang mengantar hadiah yang mereka beli juga datang selang beberapa menit dan membantu mereka membawa hadiah-hadiah itu ke taman.
"Ikutan yuk, mas." Rani dengan mata berbinarnya menarik Raja mendekati kerumunan yang seketika heboh ketika menyadari kedatangan mereka.
Posisi mereka senam memang di taman samping panti. Jadi mereka tidak melihat kedatangan raja dan Rani.
"Mas tunggu disana saja." tunjuk Raja pada bangku dimana ibu kepala panti tengah duduk dan tersenyum ke arah mereka.
"Eh jangan dong. Mas perlu senam biar sehat." Rani yang sudah dikerumuni anak-anak tetap menarik tangannya.
Raja mendengus dalam hati. Perkataan Rani seolah ia tak pernah olah raga saja. Padahal ia rutin jogging setiap pagi atau berenang dan olah raga lain yang tersedia di rumah mereka.
"Ayo... nanti yang pinter senamnya, kakak kasih hadiah." ujar Rani agar anak-anak mau kembali ke barisan untuk senam.
"Sayang... Please.." Raja memohon. Ayolah, ia malu harus senam dengan anak-anak balita seperti itu. Senam bukan olah raga yang akan Raja pilih untuk menyehatkan tubuhnya.
Meski mencebik, Rani mengizinkannya untuk menyingkir dari lapangan. Pakaiannya juga tidak cocok untuk olah raga. Jeans yang melekat di kakinya bisa-bisa membuatnya kram.
"Terimakasih ya, nak Raja, untuk oleh-olehnya." ucap ibu panti ketika mereka sudah saling sapa dan menanyakan kabar.
Oleh-oleh bulan madu memang mereka menyuruh orang rumah untuk mengirimnya. Karena mereka yang baru sempat datang sekarang.
"Maaf baru sempat datang bu." ucap Raja dengan sopan.
"Tidak apa. Ibu tahu kalian pasti lelah setelah bulan madu." ibu panti mungkin bukan orang tua kandung Rani, tapi Raja menghormati beliau sebagai satu-satunya orang tua Rani. "Oh iya. Bagaimana keadaan ibu Lintang?"
"Mama sudah lebih baik, bu. Sudah pulang dari rumah sakit juga, beberapa hari yang lalu."
Ibu panti mengucap syukur dan mengalihkan ke obrolan yang lain. Bersamaan dengan itu salah satu staf menghampiri mereka.
"Maaf bu, di depan ada tamu."
"Oh iya. Semalam sudah telepon." sahut ibu panti yang menatap padanya setelahnya. "Ibu tinggal dulu ya, nak Raja."
Raja mengiyakan dan kembali menatap istrinya yang tengah melakukan gerakan senam dengan tawa. Sepertinya menertawakan anak perempuan berusia tiga tahun yang gerakannya terlihat menggemaskan.
Melihat tawa istrinya. Melihat anak menggemaskan itu, membuat Raja kembali merindukan sosok buah hati dalam rumah tangganya dan Rani.
Suara musik berhenti menandakan senam telah usai. Tapi suara anak-anak semakin riuh. Terlebih ketika Rani mengajak mereka bercanda. Menggelitik dan berkejaran. Seakan tidak ada lelah bagi Rani dan anak-anak.
Raja mendekat. Hanya ingin menyaksikan kebahagiaan istrinya dari dekat. Tak sangka Rani justru melibatkannya dalam permainan.
"Sekarang, ayo kita tangkap monster itu." seru Rani menunjuk ke arahnya dengan jahil. "Nanti yang berhasil menangkap moster, kakak beri hadiah."
Anak-anak bersorak dan mulai berlari ke arahnya. Ia yang belum siap ketika anak-anak itu menubruknya pun terjatuh kebelakang dengan anak-anak yang masih mengerubutinya. Bahkan ada beberapa anak yang duduk diatas perutnya.
"Aku berhasil!"
"Aku berhasil!"
Rani berdiri menjulang di ujung kakinya dengan memegangi perut dan terbahak. Sedangkan tatapan Raja sudah memelas meminta pertolongan.
"Karena kalian sudah berhasil menangkap monster, sekarang berbaris yang rapi untuk mendapat hadiah.
"Yey!!"
"Yey!!"
Semuanya kembali berseru dengan semangat dan membubarkan diri dari atas tubuh Raja. Tanpa di komando, anak-anak berbaris dengan rapi.
Raja beranjak duduk. Menekuk lututnya dan menumpukan tangannya disana. Menatap sang istri yang selalu terlihat ceria setiap mereka datang ke panti.
"Yuk." tangan Rani-yang baru selesai membagikan hadiah-terulur padanya.
"Kemana?" tanyanya menyambut uluran tangan sang istri dan beranjak berdiri.
"Rani capek. Kita istirahat sebentar di kamar. Rani ingin rebahan."
Raja tergelak dan mengusap puncak kepala istrinya. "Makanya rajin olah raga! masa senam sebentar sudah lelah dan ingin tidur."
Rani melirik dan mencebik. "Iya deh, yang rajin oleh raga." sindir Rani yang kembali membuatnya tertawa.
"Memang tidak apa, kalau kita ke kamar?" tanya Raja ragu ketika langkah mereka sudah mendekati kamar yang masih menjadi milik Rani.
"Kita kan cuma mau istirahat. Jadi tidak apa."
"Kalo yang lain bisa?" bisik Raja. Sebenarnya Raja hanya bercanda. Tapi setelah mengatakannya dia malah ingin. Mengingat sejak pulang bulan madu, ia belum memiliki kesempatan untuk menyentuh istrinya.
"Jangan macam-macam! kamar Rani tidak ada peredamnya." ancam Rani lewat tatapan. "Area anak-anak ini. Jangan mencemari kepolosan mereka."
Tapi Raja tak peduli dan justru menggendong sang istri seperti koala setelah memastikan pintu tertutup. Menhatuhkan diri dan duduk ditepi kasur dengan Rani yang berada di atas pangkuannya. Ia labuhkan bibirnya di atas bibir Rani dan memulai ciuman yang dalam.
Tak ketinggalan tangannya mulai bergerilya ke tempat-tempat yang ia sukai. Membuat Rani sudah payah menahan lenguhan.
Karena Raja masih cukup waras untuk sadar mereka dimana, Raja melepaskan tautan mereka setelah pasokan udara mulai menipis.
"Kamu yakin tidak sedang hamil, sayang?" tanyanya dengan tangan yang masih bermain di dada sang istri.
"Kenapa?"
"Dada kamu sepertinya semakin besar."
"Eh?" Rani yang kaget langsung menutupi dadanya dengan kedua tangan.
*
*
*
Yang tidak suka visualnya, boleh pake visual sendiri ya gaes..