You're My Antidote

You're My Antidote
Kembali



Apa perasaan Raja lebih baik setelah bangun dari mimpi panjangnya?


Mungkin. Dia merasa ada kelegaan tersendiri setelah melawan rasa takutnya. Setelah berusaha berdamai dan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Merelakan takdir Tuhan yang tidak mungkin bisa ia rubah seperti kata Rani.


Raja merasa beban di hatinya sedikit terangkat. Tidak lagi seberat sebelumnya. Tak lagi sesakit sebelumnya ketika ia mengingat orang tuanya.


Meluapkan tangis yang tak pernah ia lakukan ketika kematian orang tuanya, ternyata meluruhkan rasa sakit dan rasa bersalahnya selama ini.


Dia yang sempat berpikir karir maminya hancur karena kesalahannya yang hadir dirahim beliau.


Dia yang merasa bersalah karena papi harus pergi jauh dan terpisah dari keluarga bahkan cinta pertamanya hanya karena kehadirannya yang tak diharapkan.


Dia yang selalu merasa bersalah disetiap pertengkaran kedua orang tuanya yang Raja tahu semua berakar pada kehadirannya yang begitu hina.


Sejak kecil Raja sudah selalu menyalahkan diri sendiri dan menganggap dirinya pembawa sial.


Membawa sial untuk mami dan papinya dari segala segi. Baik pekerjaan, kehidupan asmara, bahkan membawa sial hingga kematian yang begitu tragis yang harus ditempuh kedua orang tuanya hanya karens kehadirannya.


Tapi rasa bersalah itu kini sedikit demi sedikit mulai luruh seiring tangisnya dimakam sore itu. Rasa sakitnya kini mulai pulih seiring dengan kerelaan hatinya menerima kepergian orang tuanya.


Benar kata Rani. Ia hanya harus berani. Berani menghadapi dan mengikhlaskan.


Meskipun menghadapi dan mengikhlaskan tidaklah semudah ia berucap, tapi setidaknya ketika ia mencoba, ia bisa melakukannya. Terlebih banyak pihak yang mendorongnya untuk sembuh. Banyak pihak yang akan menopangnya ketika ia tak lagi kuat dan kembali jatuh. Banyak pihak yang memberinya semangat dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Dan orang yang paling berperan penting dalam itu semua adalah istrinya. Rani.


Wanita yang menguatkannya. Menggugurkan rasa ragunya. Memeluknya di saat terlemahnya. Menangis dalam kondisi terburuknya. Dan merawatnya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, fisik maupun mental.


Entah harus bagaimana Raja membalas perjuangan istrinya yang begitu gigih mendampinginya untuk sembuh. Yang mencintainya tanpa syarat. Yang menerima pria berlumur dosa sepertinya tanpa pernah merendahkan. Menerima ia yang penuh luka.


Raja hanya bisa berusaha untuk menjaga sikapnya dan memperlakukan Rani dengan baik. Mengusahakan segala upaya untuk membahagiakan dia yang pantas bahagia.


"Mas! makan malam sama bunda!" Rani-yang sebelumnya sudah turun kebawah untuk memeriksa asisten rumah tangga mereka tidak lupa untuk memasak makan malam sebelum pulang-membukan pintu kamar dan berucap dengan panik.


"Tadi sore Adit sudah menghubungi mas untuk memastikan lagi rencana makan malam disana. Tapi mas minta diundur saja karena kamu masih sakit." terang Raja yang tahu kepanikan istrinya pasti berkaitan dengan rencana makan malam mereka yang seharusnya makan malam di kediaman Adit sesuai undangan dari bunda Adit.


Rani mendekat seraya mengelus dada dengan helaan napas lega. "Untunglah. Rani tadi sempat panik takut mereka nungguin."


"Tenang saja sayang. Kita bisa makan malam lain waktu dengan mereka."


Rani mengangguk dan ikut duduk disofa yang tengah ia duduki. "Iya, mas. Aku kangen Citra juga sebenarnya."


"Mas sudah minta dijadwalkan ulang. Nanti Adit kabarin kapan kita bisa kerumah." Raja mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Sebagai gantinya, besok kita ke panti sebelum kerumah mama."


Bola mata itu berbinar ceria. Seakan jutaan bintang menghiasi. Membuat Raja semakin terpesona pada gadis berisik kesayangannya itu.


"Bener, mas?"


Raja mengangguk dan meletakan tablet yang ia gunakan untuk mengecek beberapa pekerjaan yang dikirim sekretaris padanya sore tadi.


Raja ingat, mama selalu membawa hadiah untuk anak panti setiap berkunjung. Jadi Raja tidak akan meninggalkan kebiasaan mamanya itu. Ia juga akan selalu membawa sesuatu untuk menyenangkan anak-anak panti.


Rani mengangguk dengan antusias. "Rani juga sudah lama tidak membelikan hadian untuk adik-adik."


"Nanti kita beli yang banyak." dukung Raja seraya beranjak untuk turun makan malam.


Memang kesibukan mereka membuat Rani jarang mengunjungi panti. Hanya sesekali tanpa bisa Raja menemani.


Tapi Raja tahu, meskipun Rani mengatakan sudah lama tidak memberikan hadiah. Uang gajian Rani sebagai sekretarisnya sebagian besar dikirim kerekening panti setiap bulan. Jadi istrinya itu tidak pernah benar-benar meninggalkan panti meskipun sudah tidak lagi tinggal disana.


"Tapi... Memangnya mas sudah baik-baik saja?"


Raja tidak lagi demam. Untuk itu sore tadi Vindra-sepupu jauhnya yang sebenarnya berprofesi sebagai dokter spesialis-melepas infus ditangannya. Karena dia sudah baik-baik saja secara fisik.


Tapi jika Rani bertanya tentang mentalnya, Raja tidak bisa menjawab. Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya. Meskipun ia merasa perasaannya jauh lebih baik dan lebih ringan.


Raja juga bisa merasakan jiwanya kembali hidup. Tapi untuk yang satu ini, mungkin sudah Raja rasakan sejak hari dimana ia mengucap ijab kabul di hari pernikahannya dengan Rani. Raja merasa hatinya menghangat sejak saat itu.


Juga, ketika ia tidak sadar selama belasan jam, ketika mimpi buruk itu kembali hadir, Raja tak lagi setakut sebelumnya. Ia tak merasa begitu tersiksa. Tak ada lagi napas tersengal atau keringat dingin yang selalu ia dapat ketika bangun dari mimpi. Raja merasa tidurnya kali itu adalah tidur ternyenyaknya setelah belasan tahun. Dan bangun dengan kondisi yang segar.


Mungkin karena belasan tahun ia hanya tidur selama beberapa jam setiap malam, hingga ia bisa tidak sadar begitu lama dan membuat Rani khawatir.


Tapi untuk lebih jelasnya, bukankah ia masih perlu menemui dokter? Untuk tahu apa dia sudah benar-benar sembuh. Untuk memastikan jika kondisinya tidak perlu lagi untuk di khawatirkan.


"Kalau kamu khawatir mas akan pingsan lagi.. Mas bisa menjamin itu tidak akan terjadi."


"Apa mas yakin?" ekspresi wajah Rani masih terlihat ragu. "Kalau mas belum merasa sehat, kita dirumah saja istirahat. Ke panti bisa lain kali. Atau kita kerumah mama papa saja diantar sopir."


Raja yang sudah berdiri, mengurung istrinya didalam pelukan. "Cerewet sekali." ucapnya gemas. "Kita bisa mampir ke psikolog dulu besok, sebelum ke rumah mama. Biar kita yakin tentang kondisi mas."


Rani terlihat berpikir dan menatapnya dengan kepala di miringkan ke kiri. Setelah beberapa saat, Rani mengangguk dengan senyum yang tersungging lebar. "Selamat datang Raja Adhitama Shandika. Selamat datang suamiku."


Jantung Raja seakan berhenti berdetak. Lebih dari siapa pun, Raja tahu arti dari apa yang keluar dari mulut sang istri barusan.


Raja tahu, apa yang Rani berikan selamat lebih dalam dari yang terdengar. Rani menyambut jiwanya yang kembali. Sosok Raja yang sudah tertidur-atau lebih tepatnya dipaksa tertidur-selama belasan atau bahkan puluhan tahun sepanjang hidupnya, sejak ia mulai mengerti arti pertengkaran orang tuanya.


Rani satu-satunya orang yang menyadari bahwa jiwanya telah kembali dan memberinya selamat. Meski kesadaran istrinya itu cukup terlambat. Atau karena saat ini lebih jelas terlihat?


*


*


*