You're My Antidote

You're My Antidote
Bolehkah?



Rani tidak pernah menyangka tidur tanpa Raja disisinya akan terasa sehampa ini. Padahal ia biasa tidur sendiri selama dua puluh lima tahun hidupnya.


Sudah hampir satu minggu Raja pergi dan selama itu pula pria itu hanya memberinya kabar saat mendarat dengan selamat. Dan hari-hari berikutnya ponselnya sunyi tanpa pesan atau panggilan masuk dari pria yang menempati hatinya.


Ternyata meski ia dan Raja sudah saling mengungkapkan rasa, tidak serta merta membuat hubungan mereka seperti pasangan yang saling mencintai pada umumnya.


Entah karena Raja yang memang orangnya kaku atau apa. Hubungan mereka masih sama seperti sebelum menikah. Sebelum saling tahu perasaan masing-masing. Hanya sikap Raja terasa lebih lembut meski masih terkesan cuek. Juga pria itu yang sesekali mencium dan memeluknya yang menjadi pembeda kemajuan hubungan mereka. Selebihnya, semua masih terasa sama. Raja yang lebih fokus pada pekerjaan baik dikantor maupun dirumah.


"Kalau kak Raja mimpi buruk lagi, gimana ya?" gumam Rani yang tak kunjung bisa memejamkan mata. Memeluk guling yang biasa dipakai Raja agar bisa merasakan kehadiran pria itu dan berpindah posisi beberapa kali untuk mencari posisi yang nyaman. Tapi tak juga membuahkan hasil.


Meski tidurnya dan Raja tak saling berpelukan. Meski tidur mereka masih terpisahkan guling. Tapi bukan berarti setiap malam Rani tidak akan terbangun saat Raja terbangun dengan napas terengah. Mimpi buruk yang tak pernah Raja ceritakan apa isi mimpi yang bisa membuat seorang Raja yang biasa terlihat gagah bisa terlihat sangat lemah seperti itu.


Tapi semakin hari, Rani bisa melihat mimpi yang Raja alami tak begitu buruk. Ia bisa membedakan saat pertama kali melihat Raja bangun dari mimpi buruk, pria itu terlihat sangat kacau. Wajah pucat pasi dan keringat dingin membasahi wajah. Kini Raja hanya terlihat kaget jika bangun dari mimpi. Tetap dengan napas terengah.


Beberapa minggu tidur bersama, bisa membuat Rani paham. Raja hanya butuh pelukan alih-alih ditanya pria itu kenapa. Dan seperti sudah menjadi rutinitas. Raja akan langsung memeluknya begitu tersadar dari mimpi.


Mereka masih butuh waktu yang panjang untuk bisa terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Untuk terlihat seperti pasangan normal lainnya. Sebagai seorang wanita, Rani juga ingin diperlakukan dengan romantis dan mesra.


Rani menyentuh pipinya yang terasa panas hanya dengan membayangkan Raja memperlakukannya dengan mesra. Ia peluk guling dengan gemas dan berguling-guling salah tingkah. Hingga entah pukul berapa ia benar-benar terlelap.


***


Akhir pekan membuat Rani ingin lebih lama berada dialam mimpi. Lupa jika kini ia berada dirumah mertua.


Begitu ia akan menaikkan selimut untuk menutup telinganya begitu alarm berbunyi, ia merasakan ada sesuatu yang aneh melingkar diperutnya. Sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan setelah menikah. Ketika ia melirik kebawah dengan mata yang masih terasa berat, ia melihat sebuah lengan. Dan dari aroma maskulin yang ia hafal, ia tahu orang yang memeluknya dari belakang ini adalah suaminya.


Dengan gerakan perlahan, ia membalikan badan dan senyumnya terukir begitu mendapati wajah tampan Raja yang tertidur.


Masih dengan tidak percaya, Rani menusuk pipi sang suami dengan telunjuknya beberapa kali. Berpindah pada hidung bangir yang ia pencet menggunakan ibu jari dan jari telunjuk dengan menahan geli. Terakhir ia usah kelopak mata sang suami, dimana ia bisa tahu jika pria yang tengah menjadi obyeknya itu tidak tertidur, melihat bola mata dibaliknya yang bergerak-gerak.


"Apa sekarang sudah yakin kalau kamu tidak sedang bermimpi?"


Rani tertawa pelan begitu kelopak mata Raja terbuka. Tanpa sungkan ia peluk pria yang membuatnya rindu itu. "Selamat datang dirumah, suamiku." ucapnya dengan gugup saat mengucap kata suami.


Raja membalas pelukannya. Sebuah kecupan ia dapat di dahinya cukup lama.


"Jam berapa kak Raja pulang?" tanyanya menjauhkan kepala untuk dapat menatap mata tajam yang ia rindukan. "Kenapa Kak Raja tidak memberi kabar, biar Rani bisa jemput? Bukannya seharusnya penerbangan Kak Raja nanti siang? kok sudah dirumah?"


Rani tahu karena ia yang memesankan tiket pulang pergi untuk Raja dan asisten pribadi pria itu yang tak pernah ia tahu seperti apa rupanya. Raja hanya mengatakan pria bernama Musa itu hanya bekerja dibelakang layar saat Raja membutuhkan.


"Tidak seharusnya seorang wanita menjemput lelakinya. Karena itu seharusnya menjadi tugasku." Suaminya itu kembali membawa kepalanya untuk bersandar didada. "Dan apa kamu lebih senang aku pulang nanti siang? padahal aku sudah sangat merindukanmu."


Rani semakin yakin bahwa ia tengah bermimpi. Karena Raja yang ia kenal tidak mungkin akan berkata semanis itu.


"Aku mengambil penerbangan pertama hari ini. Karena kemarin kami tidak mendapatkan tiket. Semuanya penuh."


Rani menggesekan wajahnya didada bidang sang suami. Mengerutkan pelukan mereka dan berucap. "Rani juga sangat merindukan kak Raja."


"Sekarang kita mandi, lalu sarapan. Sebelum mama datang dan mengira kita masih tidur."


Rani mengangguk setuju. Mereka bergantian untuk mandi dan turun bersama untuk sarapan. Setelah sarapan, Raja tak mengizinkannya untuk membantu ibu Lintang menyiram taman. Pria itu bilang ada yang ingin disampaikan padanya.


"Kenapa, kak?" tanyanya begitu Raja mendudukannya di sofa yang ada dikamar. Sedangkan pria itu membongkar koper kecil yang dibawa ke Singapura dan mengambil map didalamnya.


"Rekanalisasi?" tanya Rani yang tak tahu laporan medis apa yang berada ditangannya. Ia justru berpikiran buruk bahwa suaminya tengah sakit keras yang ia tidak tahu.


"Aku melakukan operasi vasektomi beberapa tahun lalu."


Rani yang masih awam dengan istilah yang Raja sebutkan semakin melipat dahinya.


"Kontr*sepsi permanen." ucap Raja singkat yang membuat Rani ber'ooh ria. "Sebenarnya cara ini tidak baik untuk pria dibawah 30 tahun. Tapi karena saat itu aku tidak berpikir untuk menikah dan memiliki anak, aku tetap melakukannya. Aku tidak ingin dijebak wanita diluar sana untuk mengandung anakku."


"Lalu?"


"Operasi penyambungannya lagi berjalan lancar. Aku sudah membayar mahal untuk dokter urologi terbaik disana. Tapi kita hanya bisa melihat apa operasi ini berhasil setelah kamu hamil."


Mulut Rani menganga mendengarnya. Mendengar kata hamil, ia tak sanggup membayangkan prosesnya. Apa ini kode bahwa Raja menginginkannya?


Rani berdeham dan menormalkan ekspresinya. "Jadi kak Raja melakukan ini agar tidak perlu menggunakan protection saat berhubungan badan dengan wanita-wanita kak Raja?" ada rasa tidak nyaman saat ia mengucapkannya. Bagaimana pun membayangkan Raja berhubungan dengan wanita lain cukup menyakitkan.


"Aku tetap menggunakan pengaman. Ini hanya usahaku untuk mencegah mereka membohongiku. Dan ini..."


Lagi, Raja memberikan surat medis. Kali hasil pemeriksaan kesehatan. Tapi bukan Singapura, melainkan rumah sakit yang ada di Jakarta. Melihat dari tanggalnya, mengingatkan Rani pada saat Raja pergi tergesa dari kantor dan membiarkan ia untuk datang ke kediaman Shandika seorang diri.


"Aku tahu kebiasaan burukku tidur dengan wanita mungkin membuatmu risi atau bahkan jijik. Dan meskipun aku memakai pengaman, bukan berarti aku yakin aku bersih. Untuk itu aku tidak berani menyentuhmu."


Dada Rani menghangat. Benar apa yang Raja katakan padanya saat itu. Bahawa ia terlalu banyak berpikir. Lebih tepatnya ia merasa kurang percaya diri.


"Sungguh, Ran. Aku berani bersumpah. Tidur denganmu tanpa bisa menyentuhmu membuatku begitu tersiksa. Membuatku tak berani memelukmu saat tidur hanya agar tidak menambah siksaan untukku."


Kini tak hanya dadanya yang menghangat. Tapi kedua matanya juga memanas mendengar pengakuan dari suaminya itu. Ternyata Raja begitu peduli padanya.


"Aku hanya tidak ingin menularkan penyakit dari kebiasaan buruk yang sering aku lakukan, padamu. Bukan karena kamu tidak terlihat menarik. Kamu hanya tidak mengenal dirimu sendiri."


"Maksudnya?" tanyanya bersuara.


"Aku bahkan memiliki keinginan untuk mencongkel mata lelaki yang menatapmu penuh minat." Rani menelengkan kepalanya tak mengerti. "Ayolah Rani.. kamu begitu cantik dan pria manapun akan dengan mudah untuk jatuh hati."


Rani menangkup kedua pipinya sendiri dengan senyum malu-malu. "Bolehkah Rani merasa percaya diri sekarang?"


Raja terkekeh geli. Membawa Rani dalam pelukan. "Tentu saja. Kenapa harus tidak percaya diri. Kamu wanita tercantik setelah mama."


Rani mengangguk setuju alih-alih tersinggung. Karena Ibu Lintang bahkan masih terlihat cantik diusia senja.


"Jadi.. Bolehkah malam ini?" bisik Raja ditelinganya membuat ia merinding.


*


*


*


Wooaahh panjang nih...