
Rani memang menyukai kesederhanaan. Mungkin karena ia yang terlahir dan tumbuh dikalangan bawah. Merasa sayang jika harus menghamburkan banyak uang untuk hal yang tidak bermanfaat.
Tapi Rani tidak munafik untuk mengakui jika ia menyukai diperlakukan dengan mewah seperti itu. Merasa tersanjung dan spesial.
Resort yang Raja pesan tentu saja tipe luxury. Sepertinya kemewahan dan Raja tidak dapat dipisahkan. Memasuki resort lebih dalam, ternyata ada satu kamar selain bad yang tersedia dimana mereka bisa menatap laut lepas tepat di dekat kolam renang dengan dinding sleding otomatis yang bisa mereka buka dan tutup kapan saja. Kamar yang lebih tertutup lengkap dengan kamar mandi dan jacuzzi didalamnya. Jadi tak perlu khawatir mereka akan kelelahan untuk berkeliling disaat mereka dapat berendam dengan merasakan pijatan pada tubuh setelah kembali. Ada juga ruang ganti lengkap dengan meja rias cukup besar.
Ah Rani lupa. Ternyata pihak resort juga menyediakan minuman baik beralkohol maupun non alkohol. Ada juga camilan berupa biscuit dan makanan ringan dalam mini bar yang juga dilengkapi dengan teh, kopi berikut coffeemaker. Rani juga baru mengetahui bahwa dibeberapa resort tenyata sudah mulai tersedia bar. Ternyata artikel yang ia baca tentang Maldives sebelum mereka berangkat masih kurang uptodate.
Sepertinya tidak akan cukup untuk Rani menjabarkan kemewahan dan keindahan yang tersaji dihadapannya kini.
"KAK!" seru Rani yang tiba-tiba dicium ketika ia tengah berbaring digazebo sisi kolam renang menikmati indahnya laut maldives setelah menata barang-barang yang mereka bawa di ruang ganti.
Ia hampir kehabisan napas setelah Raja melepaskan bibirnya. Menatap kanan dan kiri khawatir akan ada yang melihat kegiatan mereka. Meski privasi mereka cukup terjaga dengan skat yang ada antar resort.
"Tidak ada yang lihat sayang." ucap Raja ikut berbaring disebelahnya. Memeluknya erat. "Kecuali ada yang berenang didepan kita."
"Kak Raja, iih!!" serunya lagi ketika tangan Raja tak mau diam dan berusaha melepas hijab yang ia kenakan.
"Disini kita aman sayang.." jelas Raja lagi. "Kamu juga aman untuk melepas hijab. Kecuali jika kamu mau turun dan berenang dibawah sana hingga beberapa puluh meter kedepan."
Rani tetap menggeleng enggan. "Nanti saja buka-bukaannya. Ayo kita keliling. Sekaligus cari makan siang. Perut Rani lapar." usulnya seraya mengelus perut yang memang sudah keroncongan.
Raja setuju. Rani langsung berlari kedalam kamar untuk mengambil dompet milik suaminya serta tas miliknya sendiri. Tak lupa kacamata dan topi karena hari yang cukup terik.
"Kita jalan kak?" tanyanya ketika alih-alih menaiki sepeda yang tersedia, Raja justru menggandengan tangannya untuk berjalan kaki.
"Biar romantis." suaminya menyahut dengan senyum tipis.
Awalnya Rani enjoy saja. Berjalan bergandeng tangan dengan orang terkasih ditengah pemandangan yang baginya menakjubkan memang terasa romantis.
Tapi ternyata realita tak seindah ekspektasi. Semakin lama berjalan dengan jarak dari resort yang mereka tempati hingga sampai ke daratan saja tidaklah dekat. Terlebih matahari diatas mereka yang masih semangat mengedarkan panasnya itu semakin membuat Rani menggerutu.
"Mending tadi pakai sepeda aja deh kak. Capek banget." Keluh Rani mengipasi-dengan tangan- wajahnya yang memerah karena lelah dan panas yang menyengat.
"Padahal sering olah raga ranjang. Tapi jalan sejauh ini saja sudah mengeluh."
Rani berdecak malas. Kenapa Raja menjadi hoby meledeknya sekarang?
Rani semakin kesal saat tahu mereka bisa menelepon layanan resort untuk menjemput mereka jika ingin bepergian. Dan Raja justru baru menghubungi pihak resort setelah mereka sampai di pantai dan berteduh disebuah gazebo yang ada disana.
Tawa Raja sangat puas setelah berhasil mengerjainya. Tanpa dosa, pria itu merangkul bahunya dan mendaratkan sebuah kecupan dipipinya.
"Jangan marah sayang.. Nanti aku belikan banyak makanan enak." bujuk Raja ketika ia memanyunkan bibir dan enggan menatap suaminya itu.
Perut lapar dan makanan enak. Sesuatu yang tak bisa ia tolak. Lagi pula ia tidak benar-benar marah. Sebenarnya jarak resort ke pantai tidak terlalu jauh. Tapi dasar Rani yang tidap pernah berolahraga dan hanya menghabiskan harinya di kantor, membuat perjalanan yang hanya beberapa menit itu terasa sangat melelahkan.
"Kalau begitu kamu mau apa? Mau pulaunya aku beli?"
Gaya tengil Raja yang menaik turunkan alis membuat Rani tertawa. "Sok kaya banget. Memangnya seberapa kaya kak Raja sampai mau beli Maldives?"
"Tentu saja tabunganku... tidak cukup." Rani semakin tertawa mendengar jawaban Raja.
Kakek nenek Raja boleh saja kaya raya. Tapi jangan kalian membayangkan tabungan Raja tak berseri. Karena bagaimana pun, suaminya itu hanya seorang pegawai. Meski jabatannya cukup tinggi. Tapi seberapa banyak yang bisa Raja kumpulkan selama sembilan tahun bekerja? terlebih sebelumnya Raja hanya menjabat sebagai seorang manager.
Belum lagi mengingat istana yang Raja bangun lengkap dengan segala perlengkapannya. Rani yakin itu saja cukup menguras tabungan suaminya di luar kebutuhan sehari-hari.
Almarhum papi Raja meninggalkan saham untuk pria itu. Tapi yang Rani dengar, Raja belum sekalipun menggunakan deviden dari hasil yang didapat dari saham suaminya.
Ibu Lintang mengatakan jika saham itu saham warisan maka Raja tidak akan menggunakannya. Pria itu baru akan memakai hasil dari saham yang sudah dipindah namakan dengan nama Raja sebagai ahli waris ketika usia almarhum cukup tua untuk meninggal. Dalam artian, meninggal karena tua dan sudah sewajarnya. Bukan meninggal di usia yang masih sangat muda.
Jadi penghasilan Raja saat ini murni dari gajinya sebagai direktur-yang bagi Rani cukup fantastis- dan beberapa investasi yang Raja pernah perlihatkan padanya tengah suaminya itu mainkan.
Raja mengajaknya makan siang di restoran bawah laut. Meski Rani cukup ngeri membayangkan dinding kaca yang bisa pecah kapan saja. Tapi pemadangan yang mereka dapat cukup menenangkan.
Rani yang mengeluh lapar. Tapi justru Raja yang paling banyak memesan dan lebih lahap.
"Pelan-pelan, kak. Tidak ada yang meminta makanan kak Raja juga." Rani mengingatkan seraya mengusap saus steak yang menempel disudut bibir suaminya.
"Persiapan nanti malam." sahutan dari Raja selalu saja berhasil membuatnya memutar bola mata.
"Ini saja masih siang. Nanti kan masih ada makan malam, jadi tidak perlu makan sebanyak itu." protesnya lagi.
Raja tak peduli dan hanya memberinya seulas senyum. Kembali menghabiskan semua yang dipesan. Dari makanan pembuka hingga penutup.
Rani hanya bisa menggeleng melihat kelakuan suaminya. Rani yakin setelah ini suaminya akan langsung berolah raga untuk membakar kalori yang sudah dikonsumsi. Olahraga dalam arti sesungguhnya. Bukan olahraga seperti yang kalian-para pembaca-bayangkan. Ingat! masih siang.
*
*
*
Aku mau nanya ini dari lama tapi lupa terus.
Kalian tuh binggung nggak sih gaes sama pergantian pov yang nggak aku kasih tulisan itu lagi pov siapa?
Takutnya tulisanku bikin kalian bingung dan nggak nyaman saat baca.