You're My Antidote

You're My Antidote
Hari Lamaran



Semua keluarga dekat Raja hadir. Tak ada yang terlihat tidak bahagia kecuali dua sahabat atasannya itu.


Adit masih mencoba tersenyum padanya meski terkesan kaku, tak seperti biasa. Berbeda dengan Rere yang secara terang-terangan menunjukan ketidak sukaannya pada Rani.


Sejak mereka kenal, Rere memang sudah tidak menyukainya.


Sahabat perempuan Raja itu sangat menjunjung tinggi status sosial. Jadi mana mau gadis dengan kasta tinggi seperti itu berteman dengannya yang hanya gadis panti. Terlebih ketika ia terus berada disekitar Raja dengan segala alasan yang ada. Tatapan Rere selalu tak bersahabat. Tatapan yang selama ini Rani abaikan.


Adapun Raja, apa yang bisa Rani harapkan dari pria yang selalu berperangai dingin itu. Tentu saja Raja akan tetap dengan ekapresi datarnya meski Rani berpenampilan beda saat ini.


Hari ini Rani memutuskan merubah penampilannya. Mencoba memperbaiki diri dengan dimulai dari penampilan. Alasannya simple, ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik, meski nasib baik seakan masih menjauh darinya.


Rani tidak terlalu mendengarkan apa yang orang-orang katakan. Ia seolah terjebak dalam pikirannya. Hingga tangan ibu panti yang senantiasa menggenggamnya selama acara terlepas, baru kesadaran Rani kembali. Menatap Ibu yang berdiri. Mungkin menanggapi lamaran dari pihak Raja.


"Saya memang bukan ibu yang mengandung dan melahirkan Rani. Tapi saya yang membesarkannya hingga kini." ibu menatapnya hangat sebelum kembali menatap tamu yang hadir. Tatapan ibu panti tidak pernah berubah lebih dari dua puluh tahun berlalu. Selalu hangat, selalu menenangkan. "Tapi saya tulus menyayangi Rani yang sudah saya anggap anak kandung sendiri."


Dari cerita yang Rani dengar, Ibu panti di fonis tidak dapat memiliki keturunan setelah mengalami keguguran dan kerusakan rahim di awal pernikahannya. Membuat wanita itu ditinggalkan dan diceraikan begitu saja bahkan disaat beliau masih dirawat dirumah sakit.


Kejadian itu meninggalkan luka mendalam dan rasa trauma. Membuat beliau memutuskan untuk tidak lagi menikah dan memilih mendirikan panti asuhan yang masih berdiri hingga kini.


"Anak ini sudah banyak berkorban untuk kami. Manjalani hidup yang tidak mudah, namun tak sekalipun dia mengeluh."


Rani tersenyum tipis. Bukan merasa jumawa dengan yang ibu panti katakan. Ia hanya tidak percaya dirinya sekuat itu.


Selama ini ia tidak mengeluh karena baginya tidak ada gunanya melakukan hal tersebut. Mengeluh tidak akan merubah keadaan. Dan yang harus ia lakukan hanyalah bertahan. Memperjuangkan segalanya demi kebahagiaan orang-orang yang ia sayangi.


"Dia memaksa menguatkan punggung di tubuhnya yang kecil hanya demi kami yang bisa dia sebut keluarga."


Rani sudah mencoba kuat. Tapi kata-kata ibu panti menyentuh hati dan membuat matanya memanas. Suara ibu panti juga bergetar menahan tangis, membuat Rani tak kuasa meneteskan air mata.


"Saya merasa tidak berhak untuk memutuskan jawaban untuk lamaran bapak. Semua saya serahkan kepada Rani." Rani menggeleng tidak setuju. Ibu panti berhak, karena beliau ibunya.


"Tapi saya hanya ingin berpesan pada nak Raja. Ibu titip Rani, kalau seandainya Rani menerima lamaran dari nak Raja. Tolong, bahagiakan putri ibu yang belum pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya."


Rani melirik Raja yang hanya duduk terdiam. Membuatnya penasaran apa isi kepala pria itu.


"Ibu harap, nak Raja bisa menjadi alasan Rani untuk bahagia. Dan seandainya pun tidak, ibu harap bukan nak Raja alasannya merasakan sakit."


***


Raja memang sudah berniat untuk menerima pernikahan ini. Atau setidaknya tidak lagi memberontak dan membuat mama sedih. Karena itu yang menjadi satu-satunya alasannya kini.


Tapi Raja tercekat mendengar apa yang ibu panti katakan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia tak tahu apa ia bisa membahagiakan Rani seperti apa yang ibu panti harapkan. Dan ia juga tidak yakin jika ia tidak akan menyakiti Rani.


Mama menyikut perutnya ketika ia hanya diam. Seluruh mata menatap dan sepertinya menunggu jawaban darinya.


Berdeham canggung, Raja memberi tanggapan. "Saya tidak dapat menjanjikan apa pun pada ibu, tapi saya akan berusaha."


Ia tatap sang mama, takut salah ucap. Namun mama justru menatapnya dengan senyum bangga dan mengangguk. Mengusap punggung tanganannya. Membuat ia lega karena jawabannya tidak mengecewakan wanita disampingnya.


"Jadi bagaimana Rani? apakah kamu menerima lamaran dari kami?"


"Saya.." gadis itu terlihat ragu. Menatap ibu panti yang mengangguk memberi dukungan. "Saya menerima niat baik dari pak Rasya dan keluarga. Dan saya bersedia untuk menjadi calon istri kak Raja."


Semua orang mengucap rasa syukur. Dan acara berlanjut dengan membicarakan rencana pernikahan yang akan berlangsung dalam sepuluh hari lagi.


Ditengah acara makan bersama, tamu yang tak diundang tiba-tiba hadir dengan ekspresi bingung yang langsung di hampiri Rani dan diajak pergi entah kemana.


Karena merasa penasaran, Raja memutuskan membuntuti keduanya.


"Aku ke toilet dulu." pamitnya pada Adit yang makan dengan tidak berselera.


Buru-buru Raja keluar dari aula. Takut kehilangan jejak dua orang itu.


Beruntung Raja masih dapat melihat punggung keduanya yang berbelok di ujung koridor.


Ketika Raja sampai di taman belakang panti, Raja berdiri di balik pohon pucuk merah yang banyak terdapat ditaman belakang. Dan yang bisa ia tangkap dari pembicaraan keduanya yang duduk disalah satu bangku yang ada adalah ucapan dari Haikal. Sahabat Rani.


"Kenapa harus Raja?!"


Sebagai sesama pria, dapat Raja rasakan ada nada kecewa juga marah yang Haikal coba tahan.


Apakah keduanya memiliki hubungan yang Raja tidak ketahui?


Kenapa Haikal begitu marah jika keduanya hanya bersahabat?


"Kamu tahu kan, dari kecil aku selalu mengidolakan Raja?"


Entah gadis itu bersungguh-sungguh atau hanya mencoba berkilah demi menutupi kelicilan keluarganya. Raja tidak tahu.


"Tapi kamu bilang Raja hanya seorang idola yang nggak pernah kamu harapkan cintanya."


Rani mengangguk dengan senyum palsunya. "Tapi siapa sih, Kal, yang akan menolak kalau seseorang yang kamu idolakan tiba-tiba datang melamar?"


Haikal sepertinya tidak percaya begitu saja dan masih berusaha mendebat, tapi Rani lebih dulu menyela.


"Jangankan Raja. Lee min ho yang datang melamar saja, pasti akan aku terima. Apa lagi Raja yang sudah aku kenal dari kecil."


Raja tak ingin lagi mendengarkan perdebatan kedua orang itu. Ia tidak ingin semakin merasa bersalah pada Rani.


Ia melangkah meninggalkan taman belakang. Bukan kembali ke aula, Raja lebih memilih taman depan panti dan menyulut sebatang rokok yang ada disaku celananya.


Sejujurnya ia sudah lama meninggalkan benda bernikotin itu. Raja hanya merokok sesekali disaat ia tengah stres seperti saat ini.


*


*


*