
Ponsel Raja berdering. Musa memberinya kabar bahwa pria itu tengah berada dirumah. Menunggu Raja karena ada berkas penting yang harus Raja tanda tangani.
"Kalian pulang aja. Nanti gue kirim lewat WA, foto sepupu gue." ujar Adit ketika melihat Raja bimbang.
Bunda Adit memang belum juga keluar dari kamarnya. Mungkin foto Raisa tersimpan dalam album kenangan yang sudah lama tidak di buka hingga tak mudah mencarinya.
"Kamu tidak keberatan kita pulang sekarang?" tanya Raja pada sang istri yang terlihat mulai akrab dengan Nadin.
"Ayo mas. Rani juga ingin istirahat."
Di ujung sofa, Maina mencebik. "Kak Raja masih sempat antar aku pulang kan?"
"Sorry Mai." sesal Raja. "Musa tidak bisa menunggu terlalu lama. Dia sudah harus berangkat ke Korea dua jam lagi."
Berkas yang harus Raja tanda tangani adalah berkas kerjasama dengan pihak animasi asal negeri gingseng. Untuk proyek serial animasi yang akan tayang di salah satu stasiun televisi milik Sand corp.
"Terus aku gimana, kak?"
"Kamu ikut pulang ke rumah saja. Menginap dan mencoba kamar tamu baru kami."
Maina menggeleng dengan cibiran. "Aku nggak mau jadi obat nyamuk kalian. Aku mau pulang aja."
"Minta sopir papi kamu jemput. Jangan sampai pulang sendiri. Sudah malam." pesan Raja.
"Biar gue aja yang antar." sela Adit. "Sekalian nganterin si boncel." tunjuk adit dengan dagunya ke arah Nadin. Yang langsung mencebik masih di panggil boncel padahal tubuhnya sudah lebih tinggi meski tak semampai.
"Nggak ngerepotin kan kak?" tanya Maina.
"Dia mah emang harus direpotin biar nggak mager." sahut Nadin langsung mendapat delikan dari Adit.
"Santai aja. Searah kok sama apartnya Nadin."
"Ya sudah kalau begitu. Aku titip Maina."
Raja dan Rani pulang tanpa sempat pamit pada kedua orang tua Adit. Karena Raja tidak memiliki banyak waktu. Belum lagi ia harus membaca berkas MoU dan memastikan tidak ada kesalahan sebelum ia tanda tangani.
"Tidur saja sayang. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai."
Tak banyak protes, Rani langsung menyamankan duduk dan memejamkan matanya. Bersandar pada dada bidang Raja.
Entah istrinya itu sempat istirahat atau tidak seharian ini. Tapi setidaknya, kegiatan yang Rani lakukan adalah spa.
***
Sebuah gerakan halus terasa di pipi Rani. Ia tidak tahu tidur di dalam mobil bisa senyaman itu. Hingga ia tidak sadar jika mereka sudah sampai di rumah.
"Bangun dulu sayang. Nanti di lanjut lagi tidurnya di kamar."
Rani yakin jika tubuhnya tidak sebesar saat ini, pasti Raja akan memilih menggendongnya hingga kamar dari pada harus membangunkannya.
Tak terbayang jika Raja memaksakan diri menggendong tubuh besarnya. Pasti setidaknya ada pinggang yang encok setelahnya.
Raja hanya membantu memapahnya dan menyapa Musa yang duduk di ruang tamu. Menyuruh asisten pribadi Raja untuk menunggu di ruang kerja.
Rani menggeleng setengah sadar. Rasa kantuknya masih melekat di kedua matanya.
Rani masih merasakan ketika Raja membaringkannya. Melepas sepatu dan hijab yang ia kenakan. Bahkan Raja dengan hati-hati membersihkan make up yang masih melekat di wajah Rani. Memakaikan bantal hamil agar ia tidur nyaman dan tak tidur terlentang. Senyumnya mengembang meski ia tak mengucapkan apa pun. Hingga tak ada lagi yang bisa Rani rasakan karena ia sudah menyelami alam mimpinya. Mimpi indah yang tak bisa Rani jelaskan. Hanya gambaran-gambaran warna terang dan bunga-bunga yang terasa menyejukan mata. Mimpi yang baru pertama kali Rani impikan. Dan membangunkannya dalam suasanya hati yang sangat baik keesokan paginya.
Pelukan dari sang suami yang masih terlelap di balik punggungnya-menggantikan bantal hamil-pun semakin menambah baik suasana hatinya.
"Apa kamu juga bahagia?" tanya Rani sembari mengusap perutnya ketika mendapat salam berupan tendangan-tendangan kecil. "Mama juga. Semoga ini menjadi awal baik untuk kita melewati hari ini."
Entah jam berapa Raja kembali ke kamar. Tidur Rani benar-benar nyenyak tanpa merasa terganggu ketika pria itu ikut bergabung.
Dengan hati-hati, Rani memindahkan tangan sang suami. Ia ingin mandi dan ganti baju. Karena ia belum sempat mengganti pakaian yang ia kenakan semalam. Setelahnya baru ia akan menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba dan di lanjut menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan membuatkan sarapan untuk Raja.
Selepas Sholat dan memakai hijab istan. Rani meraih ponsel yang masih tersimpan dalam tas tangannya semalam. Mengecek pesan masuk di sana.
Ada pesan dari ibu panti yang tak pernah lupa untuk mengingatkannya menjaga kesehatan dan makan makanan yang sehat.
Juga ada beberapa pesan dari teman-teman di kantor. Juga pesan dari Adit.
Rani mengingat bunda Adit dan permintaan beliau yang meminta tolong padanya untuk membantu menannyakan Raisa di panti tempat ia di rawat.
Tanpa ragu, Rani membuka pesan dari Adit. Foto pertama yang Rani lihat adalah bayi dalam ruang rawat bayi. Pengambilan gambar dari jarak jauh membuat wajah bayi itu tidak begitu jelas terlihat.
Tangannya yang menggulir foto berhenti di foto kedua yang membuat jantungnya berhenti beberapa saat sebelum kemudian berdetak cepat.
Wajah bayi mungkin sekilas mirip antara satu bayi dan bayi lainnya. Tapi tidak setiap bayi memiliki tanda lahir yang sama di tempat yang sama, bukan?
Dan selimut yang Raisa kenakan. Selimut berwarna merah muda dimana terdapat inisial R.A.D di bagian depan. Selimut yang sama dengan selimut saat hari pertama Rani di temukan. Rani bahkan masih menyimpan selimut itu. Karena baginya itu adalah peninggalan orang tua untuknya. Dan selimut itu menjadi barang berharga yang sangat ia jaga.
Rani juga memiliki tanda lahir yang sama dengan bayi Raisa. Tanda lahir sebesar biji kelengkeng di area tulang selangka dekat tenggorokan.
Jadi, apakah bayi yang bunda Adit cari adalah dirinya?
Apa namanya seharusnya Raisa dan bukan Rani?
Bukankah fakta yang lebih menyakitkan adalah fakta bahwa ibunya telah tiada? meninggal setelah mengalami pendarahan pasca melahirkannya.
Dan fakta lain yang harus ia terima adalah Raisa adalah anak hasil hubungan gelap. Istri simpanan yang tak mendapat restu dari dua keluarga. Dan ayahnya sudah memiliki istri dan anak lain?
Rani menelan ludahnya kelat. Menghapus air matanya cepat. Ia menggeleng. Tidak. Mungkin hanya ada kesamaan di sini. Belum tentu ia adalah Raisa. Sepupu yang Adit cari. Bisa jadi ibu panti salah memberinya selimut. Ya. Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Karena saat itu ia di temukan pada hari yang sama dengan Rose. Mereka bahkan di juluki si kembar panti dan selalu merayakan ulang tahun di hari yang sama.
Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas mendapatkan kabar yang merusak paginya. Membayangkan setiap kemungkinan yang hanya akan menoreh luka untuk hidupnya yang sudah memiliki banyak luka.
Sebelum tubuhnya benar-benar menyentuh lantai, tangan kekar Raja menangkap dan mendekapnya.
*
*
*