You're My Antidote

You're My Antidote
Niat Baik



Sepertinya terlalu banyak salah paham antara dirinya dan Rani.


Tidak heran jika itu tentang dirinya yang memang tertutup. Tapi Rani?


Bukankah gadis itu terbiasa mengatakan apa saja yang dirasakan?


Lalu kenapa Rani harus membuatnya salah paham dan kecewa dengan menyimpan perasaannya sendiri.


Raja mencoba mengalah. Mengingat tak semua salah gadis itu. Karena dirinya pun masih menutup diri. Mungkin jika mereka saling terbuka, hubungan mereka akan lebih baik. Dan ia bisa membawa rumah tangga ini menjadi seperti apa yang ia harapkan.


"Rani." panggilnya ketika gadis itu turun dari lantai atas. Raja menepuk sofa disisinya mengundang gadis itu duduk bersama di ruang keluarga.


"Kenapa, kak?" gadis itu bertanya dengan senyum cerah seperti biasa. Mudah sekali mood gadis didepannya ini berubah.


"Tidak apa. Saya hanya ingin tahu alasan kamu berpikir apa yang saya katakan didepan media dan apa yang saya rasakan itu berbanding terbalik?"


Setelah ragu beberapa saat, gadis didepannya menjawab. "Karena Rani sadar diri, kak."


"Sadar tentang?" cecarnya.


"Hiiihhh! kak Raja bisa tidak sih, jangan membuat Rani tegang?" Rani menatap kesal padanya. Tangan gadis itu bahkan mengepal.


Raja sudah tahu jika Rani termasuk gadis aneh dalam hidupnya. Tapi ia masih saja heran setiap melihat tingkah gadis itu. "Memangnya apa yang saya lakukan selain bertanya?"


"Tapi tatapan kak Raja bikin jantung Rani berdebar-debar, tahu!"


Raja menggeleng. Kenapa gadis didepannya ini selain berisik bisa bersikap konyol seperti ini?


"Oke kalau begitu, saya akan memunggungi kamu saat kamu menjawab." ia membalikan poisisi duduknya hingga membelakangi Rani. Tapi bukannya menjawab pertanyaannya, Rani justru memukul punggunnya dan tertawa.


"Kak Raja apaan, sih?"


Pukulan gadis itu cukup kencang. Meninggalkan rasa nyeri dipinggungnya. Raja menyentuh bahu kanannya dan berbalik menatap gadis yang masih tertawa itu.


"Tidak perlu sampai berlebihan seperti itu, kak. Rani hanya tidak terbiasa saja dengan kak Raja menatap kearah Rani."


Raja ingat. Selama ini ia memang jarang menatap lawan bicaranya termasuk Rani. Tapi entah kenapa kebiasaan itu berubah setelah mereka menikah. Raja justru merasa enggan untuk berpaling dari sorot jernih milik Rani.


Gadis itu berdeham sebelum kembali berusaha untuk serius. "Rani sadar kalau selama ini kak Raja tidak pernah suka dengan keberadaan Rani. Jadi mana mungkin kak Raja jatuh hati dengan Rani seperti yang kak Raja katakan di depan media."


Raja tak membenarkan maupun membantahnya. Ia ingin tahu seperti apa Rani menilainya.


"Rani tidak peduli meski kak Raja membenci Rani. Rani akan tetap disamping kak Raja seperti selama ini. Membuat kak Raja marah dengan keberisikan Rani dan segala cerita yang kak Raja anggap tidak penting."


"Apa kamu tidak menyesal menikah dengan saya? padahal kamu bisa menikah dengan orang yang bisa menyayangi kamu seperti Haikal."


Gadis itu menggeleng. "Dari kecil Rani sudah suka dengan kak Raja." gadis itu kemudian terkekeh. "Anehnya semakin kita beranjak dewasa, rasa itu semakin membesar padahal kak Raja semakin menyebalkan."


Raja pernah mendengar Rani mengatakan itu pada Haikal. Mengatakan Rani menyukainya bak seorang idola. Tapi mendengar pengakuan Rani secara langsung padanya membawa sensai berbeda dalam hatinya.


"Tapi Rani sadar dengan status kita yang bagai langit dan bumi. Sampai saat ini pun Rani tidak berani serakah untuk mengharapkan kak Raja membalas perasaan Rani."


"Apa kamu tidak masalah dengan cinta sepihak itu?"


Rani menggeleng dengan seulas senyum. Meski bukan senyum ceria saat gadis itu baru duduk disebelahnya tadi. "Selama kak Raja tidak melakukan kekerasan. Rani akan tetap disini."


Rani mengangguk.


Hening beberapa saat sebelum ia membuka diri. "Kamu tahu cerita tentang orang tua saya yang meninggal?"


Gadis itu menggeleng. "Rani hanya tahu sebatas mereka meninggal saat kak Raja mulai datang kepanti."


Raja mengangguk paham. Cerita tentang orang tua kandungnya bukan hanya cerita pahit untuk dirinya. Tapi juga untuk seluruh keluarganya. Jadi tidak heran mama tidak menceritakan kisah itu pada Rani. Karena itu sama saja membuka luka di hati mama. Dan ia juga belum sanggup menceritakan itu pada Rani saat ini.


"Saya memiliki pengalaman pahit tentang keluarga." ucapnya mengumpulkan keberanian untuk sedikit membuka luka. "Saya bahkan tidak yakin apa itu bisa disebut dengan keluarga jika isinya hanya teriakan dan makian." hatinya berdenyut sakit ketika kenangan kedua orang tuanya yang bertengkar tak kenal waktu setiap hari kembali terbayang.


Raja gertakan giginya untuk menahan matanya yang memanas. Ia tidak ingin Rani melihatnya disaat lemah. Setelah tenang ia menatap Rani dan kembali berucap. "Saya tidak ingin memiliki keluarga yang seperti itu lagi."


Tangannya terulur ragu. Menghapus air mata yang menetes pipi kiri Rani.


"Awalnya saya tidak ingin menikah karena saya trauma dengan itu semua."


"Kak Raja menyesal dong, menikah dengan Rani?"


Raja menggeleng. "Saya tidak pernah menyesali apa yang sudah menjadi keputusan saya. Meskipun itu hal terburuk sekalipun."


"Lalu?"


"Ayo kita bangun rumah tangga kita jadi sebuah keluarga yang bahagia." ajaknya setelah menyakinkan dirinya untuk keputusan yang sudah berulang kali ia pikirkan. "Keluarga seperti keluarga mama dan papa. Bukan mami dan papi."


"Ka-kak Raja serius?" gadis itu tergagap tak percaya.


Untuk pertama kalinya ia ulas senyum paling tulus untuk Rani. Mengangguk dengan mantap dan melanjutkan niatnya. "Saya juga ingin memiliki keluarga yang bahagia. Bukan hanya iri melihat keluarga orang lain. Bukankah kamu juga ingin memiliki keluarga?"


Raja yakin akan hal itu. Karena memiliki keluarga yang bahagia juga ada dalam daftar keinginan Rani dalam buku yang ia baca. Bukan keluarga adopsi dimana gadis itu akan tetap merasa menjadi orang asing. Tapi keluarga dalam ikatan yang Rani miliki sendiri seperti pernikahan.


Rani mengangguk-anggukan beberapa kali kepalanya dengan air mata yang semakin mengalir deras.


"Kalau begitu, kamu mau membangun keluarga bahagia dengan saya?"


Rani kembali mengangguk dan mulai sesenggukan.


"Jangan ada pertengkaran? makian? dan jangan ada Raja kecil yang lain?"


Rani selalu mengangguk disetiap pertanyaan yang ia ajukan. Membuat Raja semakin tersenyum. "Kenapa jadi patuh seperti ini?"


Ada perasaan lega setelah ia mengungkapkan segala niat baiknya untuk rumah tangga yang baru beberapa hari mereka bangun.


"Huaaa Mau peluk kak Raja boleh?"


Tanpa menjawab, Raja membawa gadis itu kedalam pelukan. "Ingatkan saya jika saya membuatmu terluka." Raja tak ingin sombong dengan percaya diri tidak akan menyakiti Rani. Karena ia masih belajar untuk memperlakukan orang lain dengan baik.


"Tapi kamu perlu tahu. Apa yang saya katakan didepan media bukan bohong. Itu semua tulus dari hati saya yang terdalam."


*


*


*