You're My Antidote

You're My Antidote
Kencan Pertama



Bukan hal mudah bagi Raja membuka luka masa lalu yang menghantuinya. Luka yang membuatnya trauma. Luka yang mengambil jiwanya hingga ia tak mengenali dirinya sendiri.


Raja menghargai usaha Rani menawarkan bantuan untuk membantunya dengan trauma yang ia miliki. Ia bahkan sangat berterima kasih. Tapi sepertinya ia masih butuh waktu untuk hal satu itu.


Meski Rani menjadi orang yang bertahta di hatinya. Bukan berarti ia bisa dengan muda membuka lukanya. Ia masih belum siap untuk merasakan luka itu lagi.


Selama ini Rani tak pernah bertanya apa pun setiap ia bermimpi buruk meskipun dapat Raja lihat bahwa istrinya amat penasaran.


Raja mengira Rani hanya penasaran dengan isi dalam mimpinya. Tak pernah menyangka jika Rani peka bahwa ia memiliki trauma dalam mimpi itu.


"Kak Raja mau kan, menyembuhkan trauma itu bersama Rani?" Rani yang masih berada dalam pelukannya itu bertanya menuntut kejelasan.


Raja menginyakan dengan bergumam. "Tapi beri aku waktu untuk menyiapkan diri." pintanya.


Setelah Rani menyetujui dengan senyum manisnya. Raja mulai menjalankan mobilnya untuk meninggalkan area rumah sakit.


"Mau jalan-jalan dulu?" tawar Raja ketika mereka terjebak di lampu merah pertama. Setelah di pikir-pikir Raja memang tidak pernah mengajak istrinya jalan ke luar.


Mereka hanya menghabiskan waktu untuk bekerja dan pulang kerumah. Rutinitas mereka setelah menikah hanya itu-itu saja. Hiburan mereka hanyalah kesenangan di atas ranjang. Jadi selagi mereka berada di luar di akhir pekan seperti ini, apa salahnya jika ia menyenangkan istrinya dengan jalan-jalan. Hari juga belum terlalu sore.


"Boleh." jawab Rani antusias. "Enaknya kemana ya, kak?" istrinya itu malah bertanya balik padanya, membuat ia mendengus karena niatnya menyenangkan sang istri. Menuruti kemana istrinya mau. Bukan yang ia mau.


"Kalau nonton gimana?" tawarnya. Hal yang banyak di lakukan pasangan di luar sana.


Jujur saja, Raja bingung harus membawa Rani kemana. Ia tidak pernah menjalin hubungan romantisme. Jadi tak tahu harus mengajak kencan istrinya kemana.


Meski bisa saja mereka menonton di rumah. Dengan langganan yang ia miliki untuk mengisi bioskop mini miliknya. Tapi jika mereka hanya berdua, ia tidak akan bisa berhenti untuk mengganggu Rani dengan kesenangannya sendiri dan berakhir sang istri yang kesal padanya. Jadi bioskop yang berada pada mall terdekat menjadi pilihannya. Agar mereka bisa mencari makan malam disana setelahnya.


"Boleh." sahut Rani masih dengan jawaban yang sama. "Ada serial ketiga yang tayang dan belum Rani tonton. Kita tonton itu ya kak!"


Tentu saja Raja tak keberatan. Lagi pula apa pun yang mereka tonton, Raja lebih suka memperhatikan sang istri dari pada isi dalam film. Bukan karena ia tidak suka menonton. Justru Raja suka menonton, terutama film barat bertema action atau fantasi. Tapi setelah beberapa kali menonton bersama Rani dirumah, Raja lebih tertarik mengamati ekspresi istrinya yang berubah-rubah saat menonton. Terlihat menggemaskan.


***


Agar tak mengantri saat membeli tiket, Raja lebih memilih memesan online melalui ponselnya saat mereka sampai di parkiran mall. Raja memesan tiket premier. Dimana mereka akan duduk berpasangan. Ia tidak suka Rani duduk di dekat orang lain. Apa lagi jika orang itu seorang lelaki. Ia tidak ingin ada kemungkinan ada lelaki yang mengambil kesempatan untuk menyentuh istrinya disaat film dimulai dan ruangan berubah gelap.


Mall terlihat ramai di akhir pekan, bioskop pun terlihat penuh. Bahkan Raja hampir saja tidak kebagian tiket jika satu detik saja ia terlambat.


Istrinya terlihat senang begitu mereka sudah duduk dengan nyaman didalam teater. Menunggu film diputar. Menyedot minuman yang sebelumnya mereka beli lengkap dengan popcorn.


"Kak Raja sudah nonton seri satu dan duanya belum?" Rani mencondongkan tubuh dan berbisik kearahnya.


"Udah." jawab Raja sekenanya. Menanggapi Rani tentang film fantasi petualangan yang akan mereka tonton yang merupakan serial ketiga itu. Film berkisah tentang penyihir itu cukup menarik perhatiannya sejak awal. Meski menurutnya masih belum mengalahkan seri Harry Potter untuknya.


Seperti yang Raja katakan, ia hanya menatap sang istri dari awal hingga berakhirnya film. Sesekali menanggapi istrinya saat Rani mulai mengomentari adegan dalam film. Tentu saja dengan berbisik karena tidak ingin mengganggu penonton lain.


Setelah film berakhir, Raja mengajak Rani untuk makan di beaf grill yang ada di mall. Rasanya sudah lama ia tidak memanggang daging dan memakannya langsung. Rani juga tidak keberatan dengan pilihan yang ia tawarkan.


"Setelah ini, kamu ingin kemana?" tanya Raja yang membalik irisan daging yang dirasa sudah cukup matang.


"Pulang aja deh, kak. Cape nggak sih?"


Raja tersenyum, membuat Rani penasaran. "Kenapa kak Raja senyum."


"Tidak. Suka saja kalau kamu lebih santai saat berbicara denganku."


Sebenarnya dulu Rani juga tidak pernah menggunakan bahasa formal ketika berbicara dengannya. Tapi setelah istrinya itu menjadi skretarisnya, entah dikantor maupun di luar kantor, Rani lebih sering menggunakan bahasa formal.


"Kak Raja aja ngomongnya kaku gitu. Lagi pula Rani takut pas di kantor kelepasan."


Raja diam mendengarnya. Jika Rani mengikutinya, maka ia tak bisa berkata apa-apa. Mungkin hingga akhir hayatnya pun, Raja akan tetap menggunakan gaya bahasanya ini.


Ketika kecil ia lebih banyak menggunakan bahasa inggris karena memang ia tinggal di luar negeri. Papinya sesekali mengajaknya berbicara bahasa Indonesia, papi bilang agar ia tidak lupa dengan bahasa ibu. Bahasa yang sudah Raja pelajari sejak kecil. Tapi bahasa Indonesia sang papi adalah bahasa formal. Mungkin juga sudah menjadi tradisi dalam keluarga Shandika. Bahkan sampai saat ini papa dan mamanya masih menggunakan bahasa formal, termasuk para om dan tantenya. Hanya generasi ketiga seperti Maira dan Maina serta Bintang saja yang sudah menggunakan bahasa yang lebih santai.


Tapi alasan Raja bukan karena tradisi yang masih ia jaga. Raja masih mempertahankan bahasanya agar ia tidak lupa pada sosok papi dalam hidupnya.


"Kalau begitu senyamannya kamu saja." sahut Raja kemudian. Entah bahasa apa yang mereka gunakan, asal hati mereka tidak berubah, apa salahnya.


"Kamu yakin tidak ingin ke tempat lain?" tanya Raja memastikan ketika mereka keluar dari restoran setelah membayar.


Rani menggeleng dan mengusap perutnya. "Kenyang. Cape dan ngantuk."


"Ya sudah, kita pulang saja."


Sebenarnya Raja khawatir perasaan istrinya masih buruk. Ia berharap kesedihan yang Rani rasakan bisa teralihkan dengan acara kencan ini. Semakin banyak mereka beraktifitas di luar, Raja semakin berharap istrinya semakin happy.


Tapi melihat wajah mengantuk Rani, membuat Raja tak tega dan memilih untuk menuruti saja apa maunya.


*


*


*