You're My Antidote

You're My Antidote
Mengakui



Raja duduk didekat kaki Rani yang tengah terlelap di sofa ruang rawat mama. Memandangi wajah istrinya yang sudah lelah seharian. Pulang bulan madu, istrinya malah harus tidur disofa bukan di ranjang yang nyaman. Itupun sofa hasil berdebat dengan papa yang memaksa tidur disana dan tak mau meninggalkan mama. Padahal pria senja itu sudah terlihat lelah setelah beberapa hari dirumah sakit.


Beruntung dengan bujukan mama, papa mau pulang sebelum besok pagi datang menjemput. Karena besok, mama sudah diperbolehkan pulang oleh papa. Karena dokter sudah memberi izin sejak hari pertama. Atau papa hanya takut ia akan kembali mengusir pria itu pulang untuk beristirahat dan menjauhkan dari mama. Karena Raja tahu papa sangat berlebihan jika menyangkut mama.


"Mama senang lihat hubungan kalian semakin harmonis." suara mama memutus aktifitasnya dari memandangi wajah sang istri yang tak pernah membuatnya bosan.


"Mama butuh sesuatu?" tanyanya melangkah mendekat. Hari masih tengah malam, dan mama sudah terbangun.


"Mama ingin ke toilet." ucap mama yang sudah duduk begitu ia sampai disamping brangkar.


"Raja bantu, mah." uluran tangannya ditolak mama yang merasa masih bisa melakukannya sendiri.


"Mama belum terlalu jompo untuk kamu bantu ke toilet, Raja." mama menggerutu dengan wajah meledek. "Padahal kamu yang bilang mama masih cantik. Tapi kamu memperlakukan mama seperti nenek-nenek."


Raja tertawa kecil dan hanya membantu memegangi lengan wanita itu ketika turun dari brangkar.


"Mama senang bisa lihat kamu tertawa."


Tawanya seketika surut ketika mendengar suara bergetar mama yang menahan tangis.


"Mama tidak salah memintamu untuk menikah dengan Rani." dan air mata itu berjatuhan tanpa bisa dicegah. "Akhirnya mama bisa melihat kamu tertawa sebelum mama meninggalkan dunia ini."


Raja membuang napasnya panjang. Memeluk wanita yang masih terus saja meneteskan air mata itu. "Mama ngomong apa? Mama akan selalu bisa melihat Raja tertawa. Bahkan tawa anak-anak Raja nanti."


Seharusnya kalau mama bahagia, cukup tersenyum. Kenapa mama malah menangis? Bahkan siang tadi Raja dan sang istri sampai bingung melihat mama tiba-tiba menangis sesenggukan tanpa sebab. Dan Raja baru tahu setelahnya. Bahwa mama menangis haru melihatnya tertawa melihat kekonyolan sang istri.


"Mama tidak berharap banyak. Selama ini mama berdoa pada Tuhan, meminta agar Tuhan memanjangkan umur mama, setidaknya sampai kamu bahagia." mama melepas pelukannya dan menempelkan telapak tangan yang terasa halus dirahangnya yang ditumbuhi bulu halus karena ia tak sempat bercukur. "Dan setelah melihat kamu bahagia, bahkan bisa tertawa. Mama merasa lega. Merasa bisa meninggalkan dunia ini dan menghadapi papimu diatas sana dengan tenang."


"MAH!" serunya tak suka. Kenapa mama suka sekali membahas kematian. Entah dulu sebelum ia menikah, atau saat ini ketika ia memiliki Rani disisnya. "Bagaimana Raja bisa bahagia kalau mama pergi? mama mau lihat Raja semakin kehilangan jiwa Raja?"


"Raja yang berdiri dihadapan mama bukan lagi Raja anak mama yang kehilangan jiwa. Raja yang berdiri didepan mama ini, anak mama yang sudah menemukan jiwanya."


Rasanya Raja semakin frustasi menghadapi mama yang begitu mudah membahas kematian.


Tidak tahukah mama, jika kehilangan itu masih menjadi momok menakutkan untuknya?


Tidak tahukah mama, jika ia masih berjuang untuk sembuh?


"Tapi Raja masih sakit, mah." lirihnya mengakui. "Raja masih trauma. Raja belum sembuh."


Mama tidak terlihat kaget. Wanita itu justru menangkup kedua pipinya dan mengusap lembut dengan ibu jari.


"Tadinya mama pikir kamu sudah tidak pernah lagi bermimpi buruk." suara mama terdengar menyesal. "Maafkan mama yang tidak bisa menenangkan kamu ketika kamu bermimpi buruk selama ini."


Raja diam dan hanya menatap mama dalam.


"Setidaknya sekarang kamu memiliki Rani yang bisa memberimu pelukan dan memberimu ketenangan."


Raja tak membantah. Ia mengakui kehadiran Rani cukup memberinya ketenangan.


Pelukan istrinya setiap ia bermimpi buruk, selalu berhasil menghilangkan ketakutan yang saat itu ia rasakan.


"Tapi Raja tetap butuh mama." lirihnya. Matanya mulai terasa perih meski tak sampai berkaca-kaca. "Akan sehancur apa lagi, Raja tanpa mama."


Mama kembali membawanya kedalam pelukan. Membuatnya membungkuk, menyamakan tinggi tubuh karena mama memeluk lehernya.


"Mama masih sehat sekarang. Selama kamu tidak membuat ulah dan membuat tekanan darah mama naik, mama rasa selama itu juga mama masih bisa menemani kamu."


"Iya sayang. Sekarang biarkan mama ke toilet. Mama sudah tidak tahan."


Raja terkekeh dan membiarkan mama pergi untuk memenuhi panggilan alam. Mengingatkan untuk berhati-hati.


***


Raja sudah selesai mengurus urusan administrasi kepulangan. Papa juga sudah ada diruang rawat untuk menjemput mama-sang istri tercinta.


Rani juga sudah selesai mengemas perlengkapan mama yang siap dibawa Bibi yang papa bawa dari rumah.


"Kalian langsung pulang saja. Mama sudah sehat. Tidak perlu diantar sampai rumah. Kecuali kalau kalian mau tinggal lagi di rumah."


Raja menatap Rani setelah mama selesai berbicara. Rani hanya mengedikan bahu seakan berkata 'Terserah kak Raja' seperti biasa. Menumpukan segala keputusan padanya. Jika itu menyangkut keluarganya.


"Kalau begitu Raja dan Rani pulang kerumah kami sendiri ya, mah. Nanti malam kami kerumah mama." izinnya.


Kalau langsung pulang kerumah orang tuanya, Rani pasti akan merasa tidak enak untuk beristirahat. Padahal Raja yakin, semalam tidur istrinya tidaklah nyaman. Selain Rani, ia juga butuh tidur. Karena sampai detik ini, ia belum sempat memejamkan mata. Ia hanya duduk memandangi wajah mama semalaman. Memikirkan mama yang terus membicarakan kematian membuatnya semakin takut kehilangan wanita itu.


"Tidak harus nanti malam. Besok-besok saja kalau kalian sudah tidak lelah."


Raja menggeleng. "Raja akan kembali tinggal di rumah besar. Kamu tidak keberatan kan sayang?" tanyanya beralih pada sang istri.


"Rani tidak masalah kok kak."


"Terimakasih ya, Rani."


"Sama-sama mah. Rani tahu pasti kak Raja tidak tenang kalau jauh dari mama."


Raja mendorong kursi roda mama hingga mama masuk kedalam mobil dan mereka berpisah untuk menuju tujuan masing-masing.


"Kamu pasti lelah." usapnya pada kepala berbalut hijab milik istrinya.


"Yang pasti tidak selelah kak Raja yang bahkan belum sempat tidur."


Mereka pulang diantar sopir. Sejak resmi sebagai suami istri, Raja memang lebih suka diantar sopir. agar ia bisa duduk di belakang bersama sang istri. Meski tak jarang ia masih membawa mobil sendiri.


"Iya, nganthukk buanget." akunya dengan menguap lebar.


Rani membawa kepalanya untuk bersandar dibahu kecil istrinya itu.


"Masih ada waktu satu jam kalau kak Raja ingin tidur. Nanti bisa lanjut lagi dirumah. Mata kak raja sudah merah begitu."


Pantas saja Rani tahu ia tidak tidur. Ternyata matanya memang sangat merah ketika ia mencoba melihat di layar ponsel.


"Kalau begitu, bangunkan aku kalau sudah sampai."


Rani mengangguk dan menepuk-nepuk tangan kanan miliknya. Dan entah hitungan keberapa dari tepukan itu, ia sudah terlelap.


*


*


*