
Raja mengerang ketika Rani membangunkannya pagi-pagi sekali. Padahal itu akhir pekan dan dia baru pulih. Tapi Rani tanpa belas kasihan memaksanya untuk membuka mata dan segera mandi.
"Mau kemana sih sayaang.. Ini masih pagi banget." rajuk Raja ketika tubuhnya didorong kedalam kamar mandi. Setelah dengan terpaksa melepaskan lilitannya pada tubuh sang istri yang sudah wangi dan cantik.
"Kan mas bilang mau ajak Rani ke panti." Rani menjawab sembari mengolesi sikat gigi miliknya dengan pasta gigi dan memberikan padanya. "Biar kita bisa sampai di panti siang, jadi kita berangkat lebih pagi saja ya mas. Sekalian nanti kita cari sarapan di jalan."
Raja menurut. Dengan gerakan malas, ia menggosok giginya dari sisi kanan ke kiri dan menjangkau semua area yang perlu dibersihkan.
"Teman mas baru buka cafe. Jual aneka toast juga. Sepertinya enak kalau kita sarapan disana. Satu arah juga dengan panti." Raja menawarkan pilihannya setelah berkumur. Membersihkan mulutnya dari busa-busa sisa gosok gigi.
Raja ingat mantan teman SMP yang mengirim email undangan pembukaan cafe. Mereka cukup dekat dulu. Sayangnya harus terpisah saat SMA. Dan Raja tidak sempat datang saat grand opening karena saat itu ia dan Rani tengah berada di Maldives.
Rani menggeleng tanda penolakan. "Rani bosan sarapan roti-rotian, mas. Kita cari sarapan di pinggir jalan saja."
"Sarapan pinggir jalan?" Raja menelan ludahnya horor. Dia memang cukup pemilih soal makanan. Dan selalu mengedepankan kebersihan. Jadi, makanan pinggir jalan tidak pernah masuk kedalam pilihan menu makan yang akan ia cobq.
"Iya. Ada bubur ayam, nasi uduk, nasi kuning, ketoprak, lontong sayur dan teman-temannya. Tenang aja, dijamin bersih. Enak pula." Rani mengabsen segala makanan yang biasa wanitanya itu makan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Raja. Bukan berarti ia menyetujui ajakan sang istri. Tapi ia memiliki pilihan lain sebagai penengah di antara mereka. "Nanti mas minta Bintang siapin di resto dia."
Ekspresi istrinya berubah. Raja sudah khawatir jika ekspresi Rani berubah seperti itu pasti tidak akan mudah ia hadapi kecuali menuruti apa mau wanitanya itu.
Cebikan yang terdengar nyaring semakin menguatkan firasatnya.
"Rani ingin sarapan bubur ayam." menatapnya tajam dengan kedua tangan terlipat di dada. "Tapi di langganan Rani! bukan di restorannya Bintang."
"Kan sama saja sarapan bubur ayam juga, sayang."
"Ya sudahlah terserah mas saja!" Raja berjengit mendengar istrinya yang mulai menaikan nada suaranya. Apalagi jika kata keramat terserah sudah keluar. Satu kata yang memiliki arti bercabang dan membuat para lelaki dianggap tidak peka kalau tidak memahami maksud yang sesungguhnya.
Tak ingin salah langkah hanya karena sarapan dan berakhir dimusihi sang istri seharian penuh. Raja mengulurkan tangan dan merengkuh istrinya kedalam pelukan. "Iya. Iya. Nanti kita sarapan di tempat yang kamu mau. Sekarang kamu keluar, biar mas mandi dulu. Oke." ia melabuhkan sebuah kecupan di puncak kepala sebelum melepaskan Rani yang sudah kembali tersenyum.
Benar, kan? beruntung ia tak memaksa untuk sarapan di tempat Bintang.
***
Raja memang sudah berencana hari itu akan membawa kuda besinya. Dia ingin mengajak istrinya jalan dengan motor dengan damai. Mengajak istrinya untuk satu pengalaman baru dalam pernikahan mereka.
Pertama dan terakhir kali ia membonceng Rani dengan motor hotam kesayangannya adalah sesaat setelah resepsi pernikahan mereka. Ketika pertama kalinya ia membawa Rani ke rumah mereka ini. Pertama kali Rani memeluknya. Meskipun ia yang membawa kedua tangan Rani untuk melingkar diatas perutnya, toh Rani menyerah tanpa perlawanan. Atau lebih tepatnya terpaksa karena takut dengan caranya membawa motor yang tak ada bedanya dengan diatas sirkuit. Meski sesekali ia memastikan gadisnya tetap aman.
Raja tersenyum memikirkan kenangan itu. Kesempatan yang ia ambil secara paksa. Kapan lagi ia bisa merasakan pelukan Rani tanpa gadis itu tahu kalau ia ingin di peluk.
"Tidak apa kan, sayang? kasihan motornya. Terlalu lama nganggur."
Rani mendesah dan menurunkan bahunya. "Ya sudah. Rani ganti baju dulu."
"Lho, tidak apa pakai itu. Bisa kan?" Raja menilai gamis tiga perempat yang istrinya kenakan cukup lebar. Jadi seharusnya bisa untuk naik keatas motornya.
"Motormu tinggi, mas. Lagian juga bahaya. Takut roknya keselip nanti."
Karena masuk akal, Raja membiarkan istrinya untuk berganti pakaian. Sembari menunggu, Raja memanaskan mesin motornya agar lebih nyaman ketika dipakai nanti.
"Ayo Rani siap." tepukan diatas bahu membuat Raja menoleh.
"Kali ini, jangan menolak!" ancam Raja ketika akan memakaikan helm ke kepala istrinya. Mengingat sebelumnya Rani menolak dan memilih memakainya sendiri.
Rani terkekeh tepat sebelum ia memakaikan helm. "Dulu kan mas galak gitu sama Rani. Jadi mana mau mas yang pakaikan helm. Kalau sekarang, dengan senang hati suamiku."
Raja ikut terkekeh gemas. Ia menurunkan kembali tangannya, ia kecup bibir yang dilapisi lipmate warna nude itu. Membuat istrinya melotot dan melirik kiri dan kanan. Memastikan tidak ada yang melihat.
"Kurang ih. Masa cuma begitu!"
Kali ini Raja yang dibuat terperangah dengan apa yang istrinya lakukan. Memang, tidak ada pagutan atau ciuman panas. Tapi inisiatif istinya untuk menciumnya lebih dulu sangat langka dan bahkan ini baru pertama kalinya Rani menciumnya di bibir atas kemauannya sendiri. Biasanya jika ia meminta, Rani terlihat malu-malu dan lebih sering menolak.
Karena Rani hanya diam menempelkan bibir mereka tanpa adanya pergerakan, Raja mulai mengambil alih dengan menyesap bibir bawah istrinya dan setelah beberapa saat berganti belahan atasnya yang ia pagut. Membuatnya mengerang karena tidak bisa melakulan lebih, mengingat mereka yang berada di teras. Besar peluang untuk satpam memergoki apa yang mereka lakukan.
"Ra-ni su-dah la-par." ucap Rani begitu kedua belah bibir masing-masing saling melepas. Raja masih menyatuhan dahi mereka dan mengatur napas agar kembali normal.
Membantu Rani memberihkan sisa ciuman mereka dengan sapu tangan miliknya dan melanjutkan niatnya memakaikan helm dan menguncinya hingga bunyi 'klik' terdengar.
"Are you ready baby?" Raja menoleh pada sang istri yang sudah duduk dibelakangnya dengan tangan melingkar diatas perut.
"READY!" jawab Rani semangat. Raja suka melihatnya. Melihat keceriaan dan semangat Rani, seolah ikut membangkitkan semangatnya juga.
Jalanan belum terlalu padat. Selain karena akhir pekan, hari juga masih cukup pagi untuk beraktifitas. Tapi Raja tidak berniat melajukan kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin menikmati perjalanan dengan tangan kirinya yang ikut menumpuk tangan Rani diatas perutnya.
*
*
*