
Raja berlari seperti orang kesetanan. Hal yang paling ia takutkan adalah kehilangan karena kematian. Apalagi ditinggal orang terkasih.
Ia sudah pernah mengalami bagaimana rasanya kehilangan kedua orang tua. Dan ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan mamanya.
Beberapa kali Raja pernah membayangkan bagaimana jika mama sakit dan meninggalkannya untuk selama-lamanya juga? Tapi sebanyak itu pula ia merasa hatinya seperti diremas kuat hingga hancur. Raja tidak pernah berharap hari ini akan tiba.
Bukankah ketika ia keluar tadi mamanya masih sehat?
Selepas mengantar Rani yang akan pulang, mama sempat menemuinya hanya untuk mengatakan jika ia harus memperlakukan Rani dengan baik setelah ia menikah nanti. Kemudian mama pamit untuk beristirahat karena sudah lelah.
Bagaimana bisa sekarang mama masuk rumah sakit?
Apakah selama ini mama memiliki penyakit jantung atau penyakit berbahaya lainnya yang ia tidak ketahui?
Raja menggeleng mengusir segala prasangka buruk yang hinggap di pikirannya. Sebagai gantinya, ia rapalkan doa agar mamanya sehat-sehat saja. Bukankah selama ini ia tidak pernah meminta apa pun pada Tuhan? bahkan untuk kebahagiaannya sendiri? Jadi seharusnya kali ini Tuhan berbaik hati mengabulkan doanya.
Jam yang sudah merangkak menuju tengah malam membuat Raja bisa lebih cepat sampai diruang rawat inap mama. Kamar VIP yang om Rafi sebutkan ketika menghubunginya tadi.
Ia membuka pintu dengan tergesa. Mengagetkan orang-orang didalam sana kecuali mama yang tertidur dengan dahi terbalut perban.
Raja semakin mempercepat langkah. Mendekati wanita yang tak ia ragukan lagi ketulusannya. Satu-satunya cinta nyata yang ia rasakan.
Selangkah mendekati brangkar, lengannya dicekal. Raja menoleh kesal. Tidak tahukah mereka jika ia mengkhawatirkan wanita yang tengah terbaring itu?
"Mamamu baru saja tertidur." ucap papa lirih. Seakan takut suaranya mengganggu tidur mama. "Jangan menimbulkan suara yang mengusik tidurnya."
Raja mengangguk paham dan duduk dengan hati-hati di kursi sebelah brangkar.
Jemarinya membelai kepala mama dipermukaan. "Kenapa mama bisa sampai seperti ini?" tanyanya lirih tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah senja sang mama.
"Mamamu terpeleset di kamar mandi. Kepalanya terbentur sudut wastafel."
Raja menoleh tak percaya. "BAGAIMANA BISA?!" seru Raja terlampau emosi. Teriakkannya sedikit mengusik tidur mama. Beruntung hanya mengerutkan dahi dan kembali tenang.
Raja berusaha mengontrol emosinya begitu papa menatapnya tajam dan panik. "Apakah pekerja dirumah papa tidak ada yang becus dalam bekerja?! kenapa bisa kamar mandi dibiarkan licin? kalau memang mereka tidak mampu, ganti saja mereka semua!"
Papa hanya diam menatapnya. Sepertinya kaget karena hari ini ia begitu sering berkata panjang lebar. Termasuk ketika tadi saat dirinya mencoba menentang pernikahan.
"Mamamu jatuh tersandung slippernya sendiri. Papa juga ada disana dan melihat. Jadi jangan menyalahkan orang lain."
Raja menghela napas dan kembali menatap mama. Menggenggam tangannya erat.
Ia lupa jika mama sudah berumur. Kemungkinan untuk terjadi hal seperti ini memang cukup besar.
"Bagaimana kata dokter?"
Raja mengaduh begitu kepala belakangnya di pukul. Om Rafi yang duduk disofa terkekeh melihatnya.
"Salah Raja apa?" ia tatap papa dengan bingung. Tapi papa malah mendengus.
"Dia istriku! kenapa aku harus meleporkannya padamu? dan kenapa seakan-akan kau yang paling khawatir dan mencintainya?!"
Raja berkedip bingung. Beginikah tampilan orang cemburu? posesif? atau bucin? Seperti yang Rere katakan ketika mengolok Adit yang senyum-senyum sendiri menatap foto Rani di ponsel.
Raja tak membalas dan hanya diam. Hingga akhirnya papa menjelaskan kondisi mama.
Raja mengucap syukur dalam hati. Dan sepanjang malam ia lalui hanya dengan duduk menatap wajah mama. Mengulang kilasan yang terjadi hari ini.
Papa tidur disofa meski om Rafi sudah berusaha membujuknya pulang. Namun laki-laki bucin itu tak ingin meninggalkan istrinya barang sedetikpun.
Om Rafi tidur dengan duduk di sofa single. Sedangkan yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing termasuk tante Shelin yang berjanji akan datang lagi besok pagi.
***
Rani cukup sibuk mengatur ulang jadwal Raja yang hari ini tidak masuk.
Baru saja ia sampai di kantor, Raja menghubunginya untuk membatalkan semua jadwal atasannya hari ini. Pria itu mengatakan padanya tidak akan hadir dikantor karena Ibu Lintang masuk rumah sakit.
Rani cukup kaget mendengarnya. Karena semalam ia masih melihat wanita itu baik-baik saja.
Rasa khawatir juga menelusup hatinya. Meski ia masih kecewa pada keluarga itu yang memaksanya menikah dengan Raja dan mengancamnya. Tapi Ibu Lintang sudah sangat baik padanya sejak ia kecil. Ibu Lintang sudah seperti ibu kedua setelah ibu panti.
Untuk itu, disaat jam kantor usai. Rani langsung membereskan mejanya untuk segera pergi ke rumah sakit
Dengan mengendarai motor kesayangannya, Rani hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai di rumah sakit.
Orang pertama yang mengetahui keberadaannya ketika pertama membuka pintu adalah Ibu Lintang yang duduk bersandar diatas brangkar. Wanita senja itu tersenyum hangat dan melambai menyuruhnya mendekat.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanyanya ketika sudah berdiri disamping brangkar. Mengabaikan keberadaan Raja yang duduk diseberangnya yang menatapnya datar.
"Baik, ibu sudah baik-baik saja. Bapak sedang mengurus administrasi kepulangan." meski masih lemah, suara Ibu Lintang tidak kehilangan kehangatannya. Begitu juga senyum yang selalu merekah hangat.
"Kenapa bukan yang muda yang mengurus administrasi, bu?" tanyanya menyindir Raja yang hanya duduk melipat tangan. Tapi orang yang disindir hanya diam tak peduli.
Ibu Lintang terkekeh, membelai kepala putra kesayangannya penuh kasih. Membuat Rani merasa iri. Kenapa orang yang menyebalkan seperti Raja bisa memiliki ibu yang begitu hangat dan penuh kasih.
"Tadi Raja sedang menyuapi ibu makan saat dokter datang dan memperbolehkan ibu untuk pulang. Makanya Bapak yang mengurus kepulangan."
Rani mengangguk dan kembali bertanya. "Ibu kenapa bisa sampai terluka seperti ini?" melihat keadaan Ibu Lintang yang diperban membuat Rani lebih khawatir dibanding sebelumnya. Ia kira ibu dari atasannya ini hanya sakit biasa.
"Sudah nenek-nenek, jadi kurang hati-hati saat berjalan." Ibu Lintang menepuk tangannya.
"Mama masih muda, bukan nenek-nenek! Masih cantik." Raja memprotes ucapan ibunya.
Rani mengerti. Mungkin itu sebuah penyangkalan dalam diri Raja. Mensugesti dirinya sendiri dan menekankan jika orang tuanya masih muda untuk menghilangkan ketakutannya sendiri. Karena Rani menyaksikan sendiri tatapan kosong Raja setelah ditinggal pergi kedua orang tuanya.
"Lebih cantik siapa sama Rani, kak?" Rani berseloroh. Rasa kecewa, sedih dan kesalnya semalam menguap begitu saja melihat sikap Raja pada Ibu Lintang yang terlihat menggemaskan untuknya.
Tapi orang yang diajak bercanda lagi-lagi tak menanggapi dan malah menatapnya tajam.
"Untuk saat ini masih mama yang paling cantik. Tapi nanti kalau kalian sudah menikah dan Raja sudah jatuh cinta sama kamu, matanya akan terbukan dan sadar betapa cantik istrinya."
Jawaban Ibu Lintang membuat Rani tidak dapat berkata-kata. Sepertinya Raja juga merasakan hal yang sama ketika kata pernikahan kembali diingatkan.
*
*
*