
Rani mendapati Raja lebih banyak diam setelah berada di kamar. Raja memang bukan orang yang banyak bicara. Tapi setidaknya jika mereka tengah berdua, Raja tidak sediam itu. Diamnya Raja terlihat seperti memikirkan banyak hal.
Tangan Raja tak henti mengelus perut ratanya ketika mereka sudah berbaring dan Raja membiarkan lengan kiri menjadi bantalan sang istri.
"Mas kenapa?" Sebelumnya Rani tak ingin ikut campur dengan apa yang tengah suaminya pikirkan. Karena ia yakin, apa pun itu pasti bersangkutan masalah hadiah tadi.
Lama Raja diam tak menjawab, hingga apa yang menjadi beban pikirannya tersampaikan pada Rani. "Aku harap, anak kita perempuan."
"Apa pun, mas." sahut Rani. "Apa pun jenis kelaminnya yang penting sehat dan lahir dengan selamat."
"Iya." nada suara Raja masih datar. "Tapi aku sangat berharap dia perempuan."
"Kenapa? biar secantik Rani?"
Raja terkekeh dan memeluknya erat. "Iya. Biar ada duplikan perempuan cerewet di rumah kita."
Rani mencebik. Tak mengatakan apa pun dan masuk semakin dalam di pelukan sang suami.
"Aku hanya tidak mau anak kita mengemban tampuk kepemimpinan di generasi selanjutnya."
Raja lalu menceritakan ketika Raja di panggil ke ruang kerja Pak Rasya. Ternyata Raja diminta untuk mengisi kekosongan kursi wakil direktur utama. Dan cepat atau lambat, Raja yang akan menjadi ujung tanduk Shand grup ketika Om Rafi pensiun nanti. Seperti yang selalu Pak Rasya tekankan sejak Raja kecil.
"Mas sebagai anak laki-laki satu-satunya sadar. Suatu hari nanti, mau tidak mau, mas harus menggantikan Om Rafi. Tapi mas tidak pernah berharap akan secepat ini melangkah semakin dekat."
Raja juga mengatakan keluh kesahnya tentang waktunya yang amat sedikit di rumah. Menikmati waktu kebersamaan dengan Rani.
"Sekarang saja, sulit untuk mas mencurahkan perhatian sepenuhnya selama kamu hamil. Dan aku tidak ingin kehilangan banyak momen berharga ketika anak kita sudah lahir. Karena disaat aku resmi menjadi wakil pimpinan nanti, waktu yang kita miliki pasti akan sangat sedikit."
Rani menghela napas. Ternyata itu yang membuat suaminya terlihat banyak diam dan enggan ketika papa mertuanya membicarakan hadiah untuk calon buah hati mereka. Bahkan Raja tak banyak komentar tentang rencana ulang tahun Pak Rasya yang akan di gelar dengan meriah. Merayakan usia papa mertuanya yang sudah genap 77 tahun.
"Memangnya kapan peresmian jabatan itu, mas?"
"Tadinya papa akan mengadakan rapat direksi dalam waktu dekat. Dan saat ulang tahun papa, papa akan mengumumkannya secara resmi di hadapan media."
"Dan mas menolak?" tebak Rani.
"Mas tidak menolak. Mas hanya meminta perpanjangan waktu hingga anak kita berusia satu tahun."____"Setidaknya mas bisa yakin akan menemanimu disaat melahirkan nanti. Juga mas tidak akan melewatkan setiap momen pertama anak kita. Terutama ketika dia memanggilku papa."
Tatapan mata Raja terlihat sangat memuja pada perut Rani yang masih belum terlihat jika dirinya tengah hamil. Mungkin jika di tanya siapa yang paling antusias dengan kehamilan Rani, maka Raja lah pemenangnya.
***
Pagi hari meja makan keluarga Shandika terlihat ramai. Masih dalam formasi lengkap seperti semalam.
Rani sudah mulai bergosip dengan para sepupu iparnya. Sedangkan sang suami sesekali menimpali obrolan tentang pekerjaan dengan Pak Rasya dan Om Rafi yang pagi-pagi sudah disibujan dengan pekerjaan di Ipadnya. Membuat istri Om Rafi beberapa kali memarahi sang suami yang tidak fokus makan karena sibuk.
Sampai di kantor, Rani di sambut senyum iri dari Dini. "Seneng banget sih punya suami seperti Pak Raja." ucap Dini yang memamerkan kursi baru untuk menggantikan kursi kerja Rani sebelumnya.
"Nanti, akan ada orang yang meratukan kamu." ujar Rani. "Ketika kamu berhasil menemukan orang yang tepat."
Ranu berjalan ke pantry untuk membuatkan sang suami segelas kopi dan membawakan beberapa keping biskuit di atas piring. Tak lupa Rani membawa ipad untuk melaporkan kegiatan Raja hari itu.
"Jam sepuluh nanti, bapak ada meeting dengan rumah produksi bersama Pak Agam untuk membahas sinetron baru yang akan menggantikan Luka Cinta." sekretaris Agam selaku direktur Ss.Tv sudah menghubungi Rani sejak pagi tadi. Mengingatkannya tentang jadwal meeting kali ini karena yang harus segera di lakukan. Sinetron Luka Cinta yang retingnya mulai menurun sejak pemeran utamanya memiliki skandal dengan seorang pejabat harus segera di ganti dengan sinetron baru agar mereka tidak kehilangan penonton mereka.
"Meetingnya dimana?" tanya Raja dengan sudah bersikap profesional. Meski tatapannya tetap lembut untuk istri tercintanya.
"Di kantor Pak Agam. Karena bapak ada undangan Lunch dengan Pak Menkom."
"Sendiri?"
"Dengan Pak Rafi, pak."
Raja menghela napasnya panjang. "Dua hari berangkat kerja, kita masih belum bisa makan siang bersama."
Rani tersenyum dan mendekat pada sang suami yang kini kembali merubah peran menjadi suaminya. Bersandar di meja kerja sang suami dan mengusap pipi Raja. "Tapi kan kita masih sempat sarapan dan makan malam bersama, mas."
"Hari ini mau makan siang diamana?" tanya Raja yang melingkarkan lengannya pada pinggang sang istri.
"Terserah yang lain saja, mas. Rani ikut saja."
"Makan apa pun yang kamu dan anak kita inginkan." ucap Raja dengan nada memerintah.
Rani mengangguk dan memberikan kecupan di pipi sang suami sebelum keluar ruangan untuk kembali bekerja. Dan ketika jam makan siang tiba, mejanya sudah ramai dengan anak-anak yang heboh bertanya ingin makan dimana. Termasuk Mega dan Adnan yang kemarin tidak ikut makan bersama.
"Lo mau makan dimana?" tanya Lura tepat jam 12 siang.
"Iya. Kak Rani mau makan dimana?" Dini menimpali sebelum yang lain ikut bergabung.
"Kalian kenapa sih?" Heboh. Pikir Rani. Padahal biasanya mereka paling anti keluar tepat waktu karena pasti antri di lift atau di cafetaria.
"Bos udah ngasih kita peringatan untuk mastiin lo makan siang tepat waktu dan nurutin semua permintaan lo. Jadi lo ingin makan siang dimana?"
"Bos udah kasih credit card buat kita menemani kak Rani makan siang." timpal Dini. "Baby-nya lagi pengen makan apa, Kak?"
Rani menautkan alisnya ketika suara Lura dan Dini saling menimpali. Kapan Raja mengatakan pada mereka? padahal selama ada Rani, hanya ia yang bisa keluar masuk ruangan suamunya itu.
"Pak Raja yang minta?" tanya Rani masih bingung.
"Lebih tepatnya mengancam akan memotong gaji kita-kita kalau sampai lo telat makan dan ngidamnya lo nggak keturutan. Jadi ayo kita keluar sebelum bos mantau kita dari CCTV."
Meski bingung, Rani tetap mengikuti langkah mereka untuk menuju lift dan turun. Karena mereka memaksa Rani untuk memutuskan, akhirnya Rani memilih rumah makan di belakang kantor yang menyediakan menu Rawon.
*
*
*