You're My Antidote

You're My Antidote
Pesta



Lelah. Raja lelah dengan mimpi buruk yang selalu menghantuinya. Mimpi yang tak sekalipun meninggalkan dan membiarkannya tidur dengan tenang. Rasa takut dan trauma selalu mencekiknya setiap tidur. Membuatnya tak pernah tidur nyenyak selama belasan tahun.


Bahkan gelap dan petir bisa membuat ia yang terlihat gagah menjadi lemah dan sulit bernapas.


Tak satu pun orang yang mengetahui keadaannya. Kecuali keluarganya di tahun pertama kejadian itu terjadi.


Setelah menjalani terapi, mimpi itu memang sempat tak mendatangi tidurnya. Tapi hanya beberapa saat dan semua kembali seperti semula. Seolah tak mengizinkannya bahagia dengan menyiksanya dalam mimpi.


Dan kini, Rani menjadi orang pertama yang mendapatinya ketakutan dalam tidur. Ia bahkan secara tak sadar memeluk gadis itu dengan erat. Berharap Rani tak meninggalkannya dalam ketakutan. Berharap gadis itu tak pergi seperti kedua orang tua kandungnya.


Ada rasa nyaman yang menelusup hati ketika ia merasakan hangatnya tubuh Rani. Tapi begitu kesadarannya pulih dan ketenangan merasukinya, Raja melepaskan pelukan mereka perlahan. Merasa malu juga bersalah pada gadis yang sudah resmi menjadi istrinya.


"Maaf." ucapnya dengan tenang. Berusaha membangun kembali wibawanya.


"Kak Raja baik-baik saja?" gadis itu bertanya dengan khawatir padanya. Apakah ia terlihat jelas kondisinya yang menyedihkan?


Rani pasti melihat semua keadaan terburuknya tadi.


"Hem." merasa ada yang aneh dengan penampilan gadis didepannya, Ia tatap Rani dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kamu?"


***


Raja tidak berteriak. Dia tidak menjerit. Tapi siapa pun dapat melihat ketakutan serta kesedihan dalam mimik wajahnya.


Bagimana air mata itu menetes. Bagaimana keringat dingin itu bermunculan. Rani melihatnya. Membuat hati Rani seperti teremas. Mimpi apakah hingga bisa membuat Raja terlihat lemah seperti itu?


Rani ingin kembali memeluk Raja, ketika pria itu melepas pelukannya. Ia ingin mengatakan "Semua baik-baik saja dan apapun yang terjadi tadi hanya mimpi... Ada aku disini." tapi bahkan lidahnya kelu untuk mengatakan itu. Ia juga tak bisa memeluk Raja begitu saja.


Rani mengikuti arah tatapan Raja yang menatap pada pakaian pria itu yang ia kenakan. Raja bertanya dengan ekspresi bingung dan aneh. "Kamu?"


"Ooh ini.." ia pegang ujung hoodie milik Raja yang kebesaran ditubuhnya. Bahkan ia harus menggunakan peniti untuk mengurangi ukuran pinggang piyama Raja agar bisa ia kenakan. Juga jilbab yang ia kenakan untuk pernikahan tadi.


Rani meringis ketika melihat Raja tetap tenang. Jika ia yang berada diposisi Raja, ia pasti sudah tertawa terbahak-bahak melihat seseorang berpenampilan sepertinya. "Koperku tidak ada, kak."


Rani sudah mencari kesetiap sudut kamar hotel tapi tak menemukan keberadaan kopernya. Dan ketika ia membuka lemari isinya justru membuat ia malu sendiri.


Maira menukar kopernya dengan dua buah lingerie yang amat seksi. Jangankan memakainya, melihatnya saja sudah membuatnya malu.


Rani berdiri dan menjauh dari tempat tidur ketika melihat Raja menghela napas dan beranjak bangun.


"Saya mandi dulu. Kita akan ke pesta yang teman-teman saya adakan."


"Tapi kak-" cegahnya sebelum Raja melangkah pergi. "Baju Rani?"


"Nanti saya minta orang untuk antarkan pakaian untuk kamu."


Orang yang Raja minta untuk mengantarkan pakaian ternyata Maira.


Maira datang setelah Raja selesai mandi dan sudah rapi dengan kaos dan jaket kulit berwarna hitam dengan celana jeans warna senada.


Maira menertawakan penampilaannya yang masih mengenakan baju milik Raja. "Kenapa kalian nggak ada yang bilang kalau kalian ada pesta?" Maira bertanya masih dengan cekikikan. "Tapi serius. Kakak ipar cute banget pakai baju kak Raja."


Ketika mengintip kedalamnya, Maira memberinya celana berwarna coklat pastel, kaos hitam dan outer lengkap dengan jilbab berwarna senada. Semua barang baru, dengan lebel harga yang masih tertera.


"Ini mau ke pemakanan atau gimana?" gumamnya melihat dresscode yang ia kenakan juga Raja. Kanapa datang kepesta bisa sesantai ini? dan kenapa pula harus mengenakan pakaian hitam-hitam.


"Kan partynya anak motor, kakak ipar.. Jangan bayangin pesta-pesta yang pernah kakak ipar datangi kalau kakak ipar nggak mau kecewa. Semoga aja kakak ipar nggak bosen disana." Maira mendorongnya kekamar mandi untuk segera ganti. "Aku tunggu disini. Biar aku yang dandanin."


Sepertinya ia harus terbiasa dengan keotoriteran semua keluarga Raja. Termasuk Maira. Beruntung keotoriteran mereka semata-mata demi kebaikannya.


***


Benar kata Maira. Pesta kali ini tak seperti pesta dalam bayangannya. Pesta yang jauh dunianya.


Pesta diadakan dirumah megah yang disulap bagai tempat hiburan malam dengan lampu-lampu dan suara ingar bingar yang memekakkan telinga.


Ia sempat terpaku dipintu masuk. Ingin berbalik dan pulang dari pada harus masuk dan mengikuti pesta seperti itu. Terlebih ketika ia melihat banyaknya botol minuman yang tersaji diatas meja yang Rani yakin itu merupakan minuman beralkohol.


Meski tidak pernah mencoba. Tapi Rani tidak bodoh untuk tahu apa reaksi minuman itu nantinya. Dan feelingnya mengatakan untuk menjauh dari sana.


"Ayo. Kita tidak akan lama disini."


Rani menatap ketelapak tangannya yang Raja genggam ketika pria itu berbicara. Entah pria itu sadar atau tidak ketika melakukannya.


Tangan Raja yang besar dan hangat sedikit mengurangi rasa takutnya. Memberinya sedikit keberanian dan rasa aman.


Raja menyapa satu persatu teman-temannya. Pria itu tak sedetikpun melepas tangannya. Bahkan sesekali merangkul bahunya secara tak ketara ketika ada orang yang berniat tidak sopan.


Candaan Raja dan teman-temannya semakin membuatnya tak nyaman. Mereka bertanya sudah berapa kali Raja menidurinya sebelum menikah. Apa pernikahan ini karena ia yang sudah hamil hingga Raja yang berniat melanjang seumur hidup tiba-tiba menikah. Hingga pertanyaan salah satu dari mereka, cukup membuatnya kaget.


"Bukannya teman tidur lo si Rere, Ja? kok bisa nikah sama ini cewek?"


Rani mengerjapkan matanya cepat. Apa yang mereka maksud itu Rere yang ia kenal? Rere sahabat Raja dan Adit?


Rani memang sudah tahu Raja memang hobi tidur dengan wanita. Tapi ia tak pernah menyangka kedekatan Raja dan Rere tak hanya sebatas sahabat. Tapi ada hubungan terselubung didalamnya.


"Toilet dimana kak?" bisiknya menarik lengan Raja lebih dekat. Ia butuh ruang dari keterkejutannya. Apa lagi suasanya pesta yang membuatnya sesak membuatnya ingin segera menyudahi pesta dan pulang.


"Saya antar." Rani tahu itu bukan pertanyaan. Tapi Raja tak perlu mengantarnya hanya untuk sekedar pergi ketoilet.


"Tidak usah. Kak Raja disini saja. Kakak tunjukin arahnya saja. Rani tidak akan tersesat, jangan khawatir." ucapnya dibumbui canda.


"Tidak hanya tersesat. Mungkin kamu tidak akan kembali." balas Raja berbisik. "Disini bukan tempat yang aman untuk kamu berkeliaran seorang diri."


Rani merinding membayangkan apa yang bisa terjadi padanya didalam rumah ini. Tak ada pilihan lain untuk membiarkan Raja mengantarnya hingga ke toilet.


*


*


*