
Rani tidak tahu harus berkata atau menanggapi cerita sang suami seperti apa. Ia tidak mengira, perjalanan hidup Raja sepelik itu.
Ia kira, hidup tanpa tahu orang tua yang membawanya lahir kedunia, sudah cukup menyedihkan.
Tapi ternyata, tahu siapa orang tua kita, tahu bahwa kita tidak diharapkan, lebih terasa menyakitkan.
Ia hanya bisa diam mendengarkan dan sesekali menggenggam tangan Raja untuk menyalurkan semangat. Memberi suaminya kekuatan.
Ia bisa melihat dengan jelas wajah kesakita Raja saat bercerita. Tapi ia juga ingin Raja terbuka padanya. Hingga tak ada lagi rahasia yang ia tidak ketahui tentang suaminya itu.
Ia juga berharap dengan bercerita, Raja bisa sedikit berdamai dengan kisah menyakitkan itu. Karena berdamai adalah obat terbaik untuk Raja yang ingin sembuh.
"Aku nggak tahu.. Apa mami pernah peluk dan cium aku." suara Raja semakin melirih. Lebih tersiksa dari cara pria itu menceritakan kisah yang pria itu hanya dengar dari orang lain. Karena kini Raja mulai menceritakan apa yang tersimpan dalam memori ingatannya.
"Aku bahkan ragu, mami pernah nyentuh atau natap aku saat aku masih bayi."
Hati Rani sangat teriris mendengarnya. Ketika ia mendambakan buah hati. Justru ada wanita yang menelantarkan anaknya. Termasuk ibu kandungnya yang entah dimana keberadaannya.
"Mami tidak pernah sekali pun membentakku. Tidak sekalipun marah denganku." Raja menatapnya dengan senyum getir. "Karena mami tidak pernah menganggapku ada. Aku tidak pernah melihat bola mata mami tertuju padaku, meski aku duduk dihadapannya setiap kali sarapan."
"Aku lebih suka mami membentakku. Memarahiku. Atau bahkan memakiku karena sudah hadir dalam hidupnya." lagi. Raja tersenyum yang membuat Rani sakit melihatnya. "Karena dengan mami memperlakukanku seperti itu, berarti mami masih menganggapku ada."
Tangan kanan Raja terulur dan mengusap lembut air mata yang jatuh dipipinya tanpa Rani sadari.
"Aku berusaha keras jadi anak baik. Jadi juara disekolah dan berharap sekaliiiiii saja mami melihatku." Raja terkekeh. Tawa itu mengandung luka yang semakin membuat air mata Rani mengalir semakin deras. "Tapi ternyata, sampai hari terakhir pertemuan kami, mami tetap tidak melihatku. Tidak pernah menganggapku ada. Mami tidak tahu seperti apa anak yang sudah menghancurkan hidupnya ini."
Rani menggeleng tidak setuju.
Tidak ada anak yang terlahir untuk menghancurkan hidup orang tuanya. Justru anak adalah sebuah berkah bagi mereka yang diberi kepercayaan.
Raja terdiam menenangkan diri. Menarik napasnya yang terlihat berat sebelum melanjutkan semua kisah. "Kehidupan papi setelah pindah keluar negeri kembali membaik. Karena kita tahu sendiri, sekandal seperti mami dan papi, cukup lumrah diluar sana. Jadi bukan hal sulit untuk papi membangun kembali karirnya." Pandangan Raja kembali menerawang.
"Aku lahir tepat dihari ulang tahun mami." Rani membekap mulutnya. Tak kuasa lagi menahan isak tangis yang semakin ia tahan, semakin terasa menyesakkan. "Tapi tidak membuat mami ingat kalau ditanggal itu juga, ia pernah melahirkan bayi laki-laki."
"Papi selalu berusaha menjadi ayah dan suami yang baik meski mami tidak pernah menganggap kami ada."
"Papi selalu menyiapkan dua kue ulang tahun disetiap ulang tahunku dan mami. Tapi disetiap tanggal itu, mami tidak pernah pulang dan memilih merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya diluar sana... Hingga diulang tahunku yang keenam, papi hanya membeli satu kue."
"Papi tidak pernah menutupi apa pun. Papi menceritakan semua padaku. Karena dulu aku selalu tantrum setiap kali mendekati mami tapi mami tidak merespon."
"Papi mengatakan segalanya kecuali kesalahan yang membuatku lahir. Yang justru aku tahu setelah mereka tiada."
Raja terkekeh geli melihatku sesenggukan menelan tangis yang tak kunjung usai. Suaminya itu membawanya dalam pelukan hangat dan menepuk punggungnya lembut mencoba menenangkan. Hal yang seharusnya ia lakukan pada suaminya itu. Kini justru terbalik.
"Aku ingin jadi seperti papi. Papi yang merawat aku seorang diri kecuali saat bekerja.... Aku ingin menjadi seperti papi dimata anak-anak kita."
Rani mengangguk dalam tangisnya. Mulutnya tak bisa mengucapkan apa pun. Kisah Raja terlalu menyakitkan untuk ia dengar. Tapi ia takan membiarkan Raja merawat anak mereka seorang diri. Karena mereka akan merawat anak-anak mereka bersama.
"Tapi aku tidak ingin anak-anak kita tumbuh dengabnmental yang rusak sepertiku. Mental yang setiap hari mendengar pertengkaran orang tuanya."
"Rumah, dulu sudah seperti neraka. Yang aku ingat, tidak ada hari tanpa teriakan mami papi, bahkan sejak aku masih amat kecil. Entah karena hal sepele, atau bahkan masalah besar yang membuat benda-benda dirumah melayang dan hancur berantakan memenuhi lantai."
"Saat mereka bertengkar, mereka tidak peduli aku merasa takut saat itu. Mereka hanya peduli dengan ego masing-masing. Bahkan papi yang sangat menyayangiku, baru meminta maaf ketika mami sudah membanting pintu dan pergi... Meski maaf itu hanya berlaku untuk hari itu dan esoknya akan terulang lagi."
Raja menjauhkan diri untuk bisa menatapnya. "Mau disudahi saja ceritanya?" bertanya lembut seraya kembali menyeka air mata dipipinya. "Sepertinya kamu belum siap."
Rani menggeleng. "Rani mau dengar semuanya. Tapi air mata Rani nggak mau berhenti." ucapnya tergugu.
Raja tertawa dan kembali membawanya dalam dekapan. Mencium puncak kepalanya dan membenamkan wajah cukup lama disana.
"Hari itu. Hari dimana orang tuaku meninggal, mereka bertengkar seperti biasa." suara Raja semakin terdengar berat.
"Aku kira hanya bertengkar seperti biasa. Aku yang belum selesai dengan makan malamku, memasang earbuds untuk meredam teriakan mereka. Meski samar, aku masih bisa mendengar apa yang mereka teriakan."
"Ha-hari kematian?" tanyanya tak bisa menebak kemana arah cerita Raja. Karena ia tidak tahu alasan kematian orang tua Raja. Ia hanya tahu orang tua Raja meninggal di luar negeri.
Raja mengangguk dan kembali bercerita. "Papi marah besar karena mami hamil."
Rani mengernyitkan dahi. Bukankah kehamilan adalah kabar membahagiakan?
Bukankah dari cerita Raja, papi Raja justru orang yang menerima kehadiran Raja?
Jadi seharusnya papi Raja senang bukan, dengan kehadiran anak kedua dalam keluarga? yang mungkin bisa mempersatukan keluarga itu.
"Mami dan papi tidur di kamar berbeda." ucap Raja. Menjelaskan kebingungan dalam raut wajahnya. "Dulu aku juga tidak mengerti dengan kemarahan papi. Kenapa papi langsung marah. Tapi setelah aku dewasa, aku paham. Mungkin selama pernikahan, papi tidak pernah menyentuh mami. Hingga pertanyaan yang keluar dari mulut papi saat itu adalah siapa ayah dari bayi mami."
Rani kembali membekap mulutnya tak percaya. Tak bisa membayangkan, kehidupan seperti apa yang Raja dan kedua orang tua Raja jalani.
"Mami mengaku memiliki kekasih yang baru dikenalnya beberapa bulan. Papi yang marah meminta mami menggugurkan kandungan itu dan berjanji akan memaafkan mami."
"Mami menolak?" tebak Rani yang Raja jawab dengan anggukan.
"Mami bilang, mami mencintai kekasih dan calon anaknya. Dan mami ingin papi menceraikan mami agar mami bisa menikah dengan kekasihnya."
Rani bisa merasakan rahang Raja yang mengeras. Juga jantung yang berpacu semakin cepat.
"Papi marah bukan untuk dirinya sendiri. Tapi papi marah karena mami menyayangi anak keduanya, tapi mami tidak pernah menganggapku ada."
"Papi bertahan dipernikahannya juga bukan karena papi mencintai mami. Tapi karena papi tidak ingin mengambil hakku untuk memiliki seorang ibu."
*
*
*
Kasihan banget nasib anak papa Rasya yang satu ini 😠Rafa yang dulu menggemaskan.