You're My Antidote

You're My Antidote
Syarat Lain Rere



Setelah Rani dan Rere sama-sama tenang, Rere meminta Rani untuk mendekat.


Rani sudah mempersiapkan hal itu. Rere yang tempramen tidak mungkin hanya memaki. Sejak tadi yang Rere lakukan hanya mengeluarkan kesakitan yang selama ini di pendam. Seakan Rere ingin orang tahu hidupnya tidak baik-baik saja. Seolah Rere hanya ingin meluapkan apa yang selama ini terpendam. Tanpa sedikitpun menyakiti Rani secara fisik.


Toh yang Rere katakan semuanya benar. Tidak ada yang Rere katakan dan membuatnya sakit hati. Justru hal yang membuat Rani sakit adalah kesakitan yang juga dapat ia rasakan dari apa yang Rere katakan. Dari apa yang ia lihat dari mata saudari tirinya itu.


Rere memang butuh melampiaskan semua kesakitannya bukan? agar wanita itu tidak lagi memendam rasa sakit yang bisa saja suatu hari nanti jadi penyakit. Rere memang butuh tempat untuk meluapkan segala beban dan luka di hatinya.


Rani sudah akan mendekat. Siap menerima apa pun yang mungkin akan Rere lakukan padanya. Tapi rengkuhan lengan Raja di bahunya semakin mengerat. Bersikap defensif dan melindunginya dari apa pun yang akan Rere lakukan.


"Tidak apa, mas." ucap Rani menyakinkan suaminya agar melepaskannya.


Di brangkar Rere berdecih. "Segitu takutnya istri lo gue apa-apain, Ja."


Raja tak perduli dan hanya menatap Rere datar. "Mas bisa ikut, kalau mas takut." ucap Rani lagi agar semuanya segera selesai.


Raja beradu pandang dengan Adit dan Musa yang sama-sama mengangguk. Barulah Raja melangkah bersamanya mendekati tempat Rere. Berhenti di jarak satu setengah meter, dimana Rere tidak dapat menjangkaunya.


Rere berdecak semakin keras dan mengurai tangan yang terlipat di dada. "Gue izinin kalian lakuin tes itu. Gue juga akan simpan rahasia ini dari keluarga gue. Tapi ada syarat lain."


Rere menatap Raja dan Adit dengan sebelah alis terangkat.


"Syarat apa lagi sih, Reee.. Elah ribet banget lu!" gerutu Adit yang sudah kembali bersikap santai.


"Nggak ribet kok!" seru Rere menatap Adit dengan delikan matanya yang tajam. "Gue cuma mau jadi orang yang ngenalin Rani langsung ke bokap kalau nanti hasilnya positif kami bersaudara."


Bola mata Rani membulat begitu juga dengan Adit. Tak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Renata hanya ingin di lihat oleh papinya sekali saja." sahut Malvin menjelaskan. "Renata hanya berharap, dengan membawa anak yang selama ini papinya cari, bisa membuat papinya bangga padanya. Rere hanya ingin di anggap ada meski hanya sekali." papar Malvin menjelaskan.


Seketika air mata Rani yang ia kira sudah kering, kembali menetes. Sebegitu menderitanya Rere mencari pengakuan ayahnya.


"Dulu gue emang benci banget sama Shanala dan putrinya." ujar Rere dengan lirih. Tak ada lagi kesinisan atau nada tinggi dalam suaranya. "Tapi itu dulu. Sebelum gue mengalaminya sendiri."


Rani membekap mulutnya menahan isak. Melihat Rere turun dari brangkar. Mendorong Raja hingga menjauh dan memeluk tubuh Rani yang bergetar.


"Sekarang gue malah bersyukur ketemu lo, Raisa." suara Rere ikut terdengar serak. "Seenggaknya gue bisa tahu apa nanti papi tetap mengabaikan gue dan nggak bisa membagi cintanya buat kita berdua. Dan kalau papi memang hanya mencintai lo, gue jadi nggak perlu ngebohongin diri gue sendiri bahwa papi lagi sibuk nyari anaknya yang hilang dan belum punya waktu buat gue. Gue nggak perlu bersusah payah ngambil hati beliau yang memang nggak pernah ada gue di dalamnya."


Rani menggeleng. Tangan yang sebelumnya tergantung kini membalas pelukan Rere. "Aku nggak akan ngambil beliau dari siapa pun. Aku melakukan tes hanya untuk memastikan kebenarannya."


Rere melepas pelukan mereka dan menggeleng. "Gue punya anak yang posisinya sama kayak lo. Dan gue selalu berharap Malvin akan selalu mencintai anak gue selamanya. Karena anak gue nggak salah apa-apa. Yang salah disini gue yang berani main api dengan suami orang. Yang salah hanya nafsu yang nggak bisa gue dan Malvin kendalikan."


Rani tak bisa membantah. Karena apa yang Rere katakan semuanya benar. Anaknya tidak bersalah. Yang salah hanya kedua orang tuanya yang menjalin hubungan tidak normal.


"Jadi izinkan gue yang ngenalin lo langsung sama bokap. Ngenalin lo sebagai adik gue."


Memang ini yang Rani inginkan. Bisa memeluk saudarinya dalam suasana damai. Dan baru Rani sadari, berpelukan dengan orang yang memiliki darah yang sama mengalir dalam tubuh mereka ternyata lebih terasa hangat. Atau karena baru kali ini Rani mendapatkan pelukan keluarga kandung?


"Maafin sikap buruk gue selama ini sama lo."


Rani mengangguk. "Rani juga minta maaf sudah membuat hidup kak Rere buruk. Mengambil semua perhatian ayah kak Rere tanpa Rani sadari."


"Bukan ayah gue... Tapi papi kita."


"Maaf juga sudah mengambil kak Ra-" mulut Rani di bekap tangan Rere yang langsung berbisik pelan di telinganya.


"Jangan bahas itu! Malvin nggak tau tentang Raja. Dan dia bisa ngamuk nanti." hanya mereka berdua yang tahu apa yang Rere katakan. Tapi Rani menangkap nada bergurau tentang Malvin ngamuk. Mungkin hanya ngambek-ngambeknya orang cemburu.


"Karena hasilnya belum tentu positif, jadi gue belum bisa ngucapin selamat datang buat lo. Tapi gue akan jadi orang pertama yang nyambut lo pakai bunga nanti.." ucap Rere kembali melantangkan suara dan mengurai pelukan mereka.


Rani terkekeh mendengarnya. Ia baru tahu sisi lain seorang Renata yang selama ini terkesan angkuh di matanya.


Cukup lama Rani dan Raja di rumah sakit. Menemani Rere yang tengah menunggu prosedur kepulangan. Mereka juga sempat mengunjungi putri kecil Rere yang sudah terlihat lebih sehat dan tubuh yang lebih berisi.


Dokter mengatakan putri Rere mungkin bisa pulang dalam dua atau tingga minggu lagi jika perkembangannya terus meningkat seperti saat ini.


ASI yang Rere hasilkan juga bagus dan melimpah. Membuat perkembangan putrinya semakin baik dari pada dengan bantuan susu formula.


Raja juga langsung meminta Musa mengurus segala prosedur untuk melakulan tes DNA. Termasuk meminta dokter untuk mengambil sampel darah Rani.


"Tesnya tidak jadi di luar negeri. Tesnya akan di lakukan di rumah sakit milik salah satu keluarga Shandika. Jadi kita bisa menjamin tidak akan ada kebocoran. Dan Musa juga akan berhati-hati agar tidak akan ada yang mencurigainya saat membawa sampel darah kalian."


Rani mengangguk saja. Menyerahkan semuanya pada sang suami yang pasti sudah lebih tahu apa yang harus di lakukan.


Ia hanya akan menyiapkan mental untuk bertemu ayah kandungnya jika memang benar ia adalah Raisa yang selama ini di cari keluarga Adit.


*


*


*


Dari awal emang udah rencana di bikin begini ya gaes.. Dimana Rere menemukan kebahagiaannya dengan pria lain.


Momen Raisa ini juga cara othor buat Rani dan Rere berdamai. Kayaknya nggak seru kan ya mereka tiba-tiba damai meskipun Rere udah bahagia sama Malvin?


Jadi beginilah hasilnya. wkwkwkwk


Semoga kalian suka ya gaes.. Salam sayang ❤❤❤