
Raja memang sudah tidak pernah lagi datang ke club malam atau tempat teman-temannya berkumpul yang sudah pasti disana juga tersedia minuman keras.
Tapi Raja belum bisa sepenuhnya lepas dari minuman haram itu. Pun dengan benda bernikotin yang tengah ia hirup dibalkon. Ditemani gelas yang berisi minuman keras dari merek kesukaannya yang memang tersedia dirumah.
Untuk kondisi-kondisi tertentu seperti saat ini lah, Raja akan kembali menyentuh minuman memabukan dan asupan nikotin untuk tubuhnya.
Emosi dan perasaannya sedang tidak baik-baik saja setelah kembali membuka luka masa lalu yang belum juga kering.
Istrinya sudah terlelap setelah makan malam dan minum obat.
Jam sudah mendekati tengah malam, tapi Raja belum juga bisa tertidur. Perasaannya kacau dan tak menentu. Sakit itu terasa amat menyesakan.
Perasaan takut, sakit dan tak berdaya menggerogotinya. Keinginan untuk menyakiti diri sendiri agar sakit itu tak lagi terasa kembali muncul. Dan ia hanya bisa melarikan diri pada minuman beralkohol untuk sejenak ia melupakan perasaan sakit itu. Karena ia harus tetap hidup untuk menjaga dan membahagiakan dua wanita paling berharga dalam hidupnya.
Ponsel yang ia letakan diatas meja berdering. Suaranya nyaring ditengah malam yang sunyi.
Tak ingin suara itu membangunkan sang istri dikamar, Raja buru-buru menggeser icon angkat pada layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari Adit.
"Hallo." ucapnya dingin seperti biasanya. Terlebih ia sedang tidak ingin berbasa-basi.
"Beberapa bulan nggak ada kabar ternyata lo masih tetap dingin kayak balok es ya?" ejek Adit diseberang sana dengan dengusan. Raja tebak. Suasana hati Adit juga sedang tidak bagus. "Dulu, aja, sok-sokan nggak mau kawin. Giliran kawin, nggak ingat temen, lo!"
Suara Adit masih terdengar kesal. Padahal sahabatnya itu juga tidak pernah menghubunginya jika tidak penting setelah ia dan Rani menikah. Tapi sekarang Adit seperti orang kebakaran jenggot dan menuduhnya lupa teman.
"Gue tunggu di clubhouse biasa. Nggak pakai alasan!" setelah mengatakan itu, Adit langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawabannya.
Raja hanya bisa menghela napas. Sahabatnya yang satu itu kadang bisa paling pengertian. Tapi tak jarang bisa berubah menjadi yang paling menyebalkan.
Dengan langkah kaki yang masih mantap-karena ia juga baru meminum satu gelas minuman keras-Raja kembali kekamar dan menuju ruang ganti untuk mengganti piamanya dengan celana jeans dan kaos polos berwarna abu-abu yang ia balut dengan jaket kulit kesayangan.
Tak ingin pergi tanpa pamit, Raja mendekati tempat tidur dan membangunkan sang istri. "Rani... Sayang..." usapan lembutnya dipipi sang istri membuat wanita itu mengerjap dan membuka matanya.
"Kenapa kak? udah pagi? kak Raja mau pergi?" tanya Rani berentetan seperti biasa.
"Masih tengah malam. Aku cuma mau pamit ketemu Adit sebentar, ya?"
"Kemana?"
"Clubhouse."
Rani diam mendengar tujuannya. Kemudian mengangguk meski terlihat enggan. "Ada Kak Rere?"
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya tidak." karena biasanya jika Adit tengah dalam suasana hati yang buruk, sahabatnya itu hanya akan menghabiskan waktu berdua dengannya sebagai teman curhat. Atau lebih tepat tempat pelampiasan makian dari Adit yang entah ditujukan untuk siapa saja yang membuat hari sahabatnya itu buruk. "Janji tidak sampai subuh." imbuhnya.
"Ya sudah. Kak Raja hati-hati. Jangan minum banyak-banyak. Nanti bukannya pulang malah nyangkut dihotel sama perempuan." cibir Rani membuat ia tertawa. Memiringkan kepala, Raja mencium bibir istrinya dalam untuk waktu yang lama. Baru beberapa hari setelah pulang bulan madu, tapi ia sudah merindukan untuk menyentuh istrinya. Sayang sekali Rani masih belum sembuh sempurna.
"Aku berangkat ya? Adit sepertinya sedang dalam suasana hati yang buruk. Dia bisa lebih cerewet dari perempuan kalau sampai membuat dia menunggu terlalu lama."
"Iya kak."
"Kamu tidur lagi saja. Nanti aku bawa kunci, jadi kamu tidak perlu turun untuk mengunci pintu. Aku minta pak satpam untuk jaga lebih ketat juga."
Setelah istrinya mengangguk, Raja mencium dahi Rani lama dan mengambil kunci mobilnya untuk pergi.
***
Langkah kakinya menuju lantai dua. Dimana Adit sudah menunggu diruang private yang biasa mereka pesan. Dan seperti dugaannya, sahabatnya itu hanya duduk seorang diri ditemani botol-botol minuman keras dari dua merek kesukaannya dan Adit.
"Kenapa?" tanyanya menepuk punggung Adit yang belum menyadari kehadirannya.
"Yeee si tayi baru datang."
Raja menggeleng melihat Adit yang sudah terlihat sedikit mabuk.
"Ada masalah apa?" tanya Raja sekali lagi. Tangannya menuang minuman kedalam gelas untuk menemani Adit yang sudah lebih dulu menenggak isi dalam gelas sahabatnya itu dalam satu kali tenggak.
"Gue dijodohin." suara Adit sudah mulai terdengar tidak jelas. Entah sudah berapa lama sahabatnya itu berada disana. Bahkan sudah ada dua botol kosong. Dan Adit tengah menghabiskan botol ketiganya.
"Bukannya sudah biasa?" tanyanya tak mengerti. Adit sudah sering dijodohkan. Sudah sering pergi kencan buta dengan gadis-gadis pilihan orang tuanya dan tak satupun yang berhasil.
"Ini dijodohin, maaan! bukan disuruh pergi kencan doang, elaah.."
Raja menahan tawa melihat Adit yang terlihat gemas dengan tanggapannya.
"Jadi, kamu tidak diberi pilihan untuk menolak?"
Adit yang kembali menenggak isi gelasnya mengangguk dan memicingkan mata menatapnya.
"Gue dijodohin. DIJODOHIN! dipaksa kawin!" Adit menegaskan maksudnya.
"Dengan siapa?"
Adit menggeleng dramatis. "Lo pasti nggak bakal nyangka sama siapa gue dipaksa kawin."
Raja menghirup rokok yang beberapa saat lalu ia nyalakan. Menunggu Adit melanjutkan ceritanya. Mengangkat gelas dan menyesap isinya.
"Siboncel."
Raja langsung terbatuk mendengar jawaban Adit. Ia tahu siapa si boncel yang Adit maksud. Gadis anak tetangga Adit yang selalu ikut bergabung saat ia berkunjung kerumah Adit ketika SMA dulu. Gadis yang tak kalah berisik dari Rani. Gadis tidak tahu malu yang menempel pada Adit seperti perangko.
"Kamu serius?"
"Lo pikir gue becanda!" Adit melempat putung rokok yang masih menyala. Beruntung ia sempat menghindar dan menginjak putung rokok yang jatuh dibawah kakinya setelah menabrak lengan sofa disebelahnya.
"Bukannya dia di Amrik?"
"Dia pulang sebulan yang lalu. Dan entah dapat ide gila dari mana, bokap gue langsung lamarin tuh boncel buat gue."
Kali ini Raja tak bisa menahan tawanya. Kasihan sekali nasib Adit. Harus berumah tangga dengan perempuan yang mati-matian Adit jauhi. Padahal sebelumnya Adit sudah bersorak bahagia saat gadis itu melanjutkan kuliah di Amerika.
Raja memang menikahi perempuan yang mati-matian ia hindari juga. Tapi setidaknya, Raja mencintai Rani dan hanya menjauh karena merasa tak bisa memberi kebaikan pada wanitanya itu.
Berbeda dengan Adit yang menghindari perempuan itu memang karena Adit tidak suka dan lebih pada ilfil.
*
*
*