You're My Antidote

You're My Antidote
Membebaskan Diri



Suhu tubuh istrinya belum kembali normal, meski tak lagi panas. Dan Rani sudah merengek ingin mandi dengan alasan tubuh yang terasa lengket dan tak bisa untuk tidur.


Terpaksa, Raja memberi izin. Tapi dengan syarat, mandi dengan air hangat meski hari belum terlalu sore dan matahari masih terik. Dan syarat kedua, ia membantu memandikan sang istri.


Meski awalnya Rani menolak, pada akhirnya wanitanya itu pasrah saja begitu ia gendong kedalam kamar mandi dan ia mandikan dengan hati-hati.


Benar-benar hanya memandikan.


Ia tak setega itu untuk menekan istrinya dalam kondisi sakit seperti itu. Meski ia harus menahan keras hasratnya ketika melihat tubuh polos sang istri.


"Kenapa?" Raja yang tengah membantu mengringkan rambut Rani bertanya saat istrinya itu tak bisa duduk diam dan terlihat gelisah.


"Emmm.. Rani boleh tanya?" ragu-ragu, akhirnya Rani memberanikan diri. Raja sangat paham, jiwa istrinya sangat sulit untuk diajak penasaran.


"Apa saja, sayang. Selama aku bisa menjawab." sahut Raja memberi izin.


"Emm.. Orang tua kak Raja dimakamkan dimana?"


"Dimakamkan di makam khusus keluarga Shandika. Disebuah kawasan di Bogor."


"Kak Raja sering datang?"


Raja menggeleng tanpa penjelasan.


"Kapan terakhir kali kak Raja ke sana?"


"Beberapa hari setelah mereka di makamkan mungkin." ia mengedik tak yakin.


"Kak Raja... Masih belum bisa ikhlas?" Rani bertanya dengan hati-hati. Ia membalasnya dengan tawa getir.


Banyak orang yang menasehatinya untuk ikhlas. Tapi diantara semua orang-orang itu, tidak ada yang pernah berada di posisinya. Jadi mereka bisa begitu mudah berkata ikhlas. Karena mereka tidak merasakan betapa sakit dan hancurnya perasaan Raja harus kehilangan kedua orang tuanya dengan cara yang seperti itu. Bahkan didepan mata kepalanya sendiri.


"Memang ada, anak yang ikhlas orang tuanya pergi dengan cara tak wajar seperti itu?" Raja tak bisa mengontrol suaranya untuk tak terdengar sinis. Tapi tangannya tak berhenti mengeringkan rambut sang istri yang sudah mulai memanjang lagi, meski belum sepanjang yang ia suka dulu.


"Ma-af kak. Tapi bagaimana kak Raja bisa sembuh dari trauma, kalau kak Raja belum bisa ikhlas?"


Raja menghela napas. Menaruh hairdryer diatas meja rias dan mengambil sisir. menyisir rambut sang istri dengan hati-hati agar tak menyakiti istrinya.


Ia berusaha keras untuk tak emosi. Ia mengingatkan diri sendiri jika yang tengah berbicara dengannya saat ini adalah istrinya sendiri. Orang yang amat ia cintai. Dan Rani berkata seperti itu karena menginginkan yang terbaik untuknya.


"Rani tidak memaksa kak Raja untuk ikhlas saat ini juga." Rani memutar kursinya ketika ia tak menjawab. Wanitanya itu mengambil sisir ditangannya dan menaruhnya di dekat hairdryer. Menggenggam tangannya dan menariknya mendekat. "Tapi kak Raja bisa memulainya dari sekarang. Perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit. Sampai rasa duka itu tak lagi terasa menyakitkan."


"Aku tidak yakin apa aku bisa." jawab Raja pada akhirnya.


"Kak Raja tidak tahu. Karena kak Raja tidak pernah mencobanya." Rani berusaha membuatnya yakin dengan apa yang istrinya itu katakan. "Selama ini kak Raja yang mengikat rasa sakit itu. Kak Raja yang tidak berusaha untuk melepaskan. Tidak berusaha untuk mengikhlaskan."


Raja kembali diam. Ia tahu apa yang Rani katakan itu benar. Tapi terlalu berat untuknya melakukan seperti yang Rani maksud.


Raja bisa melihat kilatan kemarahan di mata istrinya. Kemarahan yang mungkin selama ini Rani pendam seorang diri selama bertahun-tahu.


"Mereka ingin merasa tak begitu jahat dengan memberi Rani kesempatan untuk hidup. Padahal mereka hanya menyusahkan hidup Rani. Karena Rani harus hidup tanpa orang tua dan diejek dan dicap sebagai anak haram dimana pun tempat Rani berdiri."


Raja bukannya tidak tahu seperti apa penderitaan Rani selama ini. Selama ini pula, ia yang selalu memberi peringatan dibelakang Rani pada orang-orang yang mengganggu wanitanya itu. Sejak mereka masih kecil, hingga kemarin ketika mereka bertunangan dan menikah.


"Rani sering bertanya pada diri Rani sendiri. Apa salah Rani sampai mereka tega membuang Rani? apa Rani hanya aib untuk mereka? apa Rani terlalu memalukan untuk mereka besarkan?"


Mata yang bahkan masih sembab mendengar cerita perjalanan hidupnya itu, kini kembali meneteskan airnya.


Raja menurunkan tubuh dan berlutut. Menangkup kedua tangan sang istri dan menciumnya dalam. "Kamu bukan aib. Kamu wanita hebat dalam hidupku. Kamu wanita hebat dan kebanggaan ibu dan anak-anak panti. Wanita hebat calon ibu dari anak-anak kita."


Rani menghapus air matanya cepat dan kembali melanjutkan. "Mungkin sakit yang Rani alami tidak semengerikan kak Raja. Tapi itu semua juga tidak mudah untuk Rani jalani, kak."


Raja mengangguk percaya. Karena ia menyaksikan sendiri.


"Setelah Rani dewasa, Rani mulai berpikir... Memangnya kalau Rani marah dan dendam pada mereka, keadaan akan berubah? mereka akan kembali menjemput Rani? tidak, kak!... Semua akan tetap sama. Mereka akan tetap ninggalin Rani dipanti dan tidak akan datang untuk menjemput. Jadi Rani hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka. Semoga mereka bahagia dimana pun mereka berada. Agar usaha mereka membuang Rani tidak sia-sia."


"Kalau mereka membuangmu. Biar aku yang memungut dan menjaganya. Aku berjanji akan membahagiakan berlian yang tak mereka lihat ini."


Istrinya itu tertawa kecil dan mendekap kepalanya.


"Rani sudah ikhlas. Rani sudah bahagia menjadi istri kak Raja." ucap Rani. "Mungkin memang sudah jalannya Rani ada dipanti. Karena mungkin kalau ayah dan ibu tidak meninggalkan Rani disana, kita tidak akan bertemu dan Rani tidak bisa memeluk kak Raja seperti sekarang."


"Aah benar." desahnya. "Berarti aku harus berterimakasih karena mereka sudah membuangmu." canda Raja yang semakin membuat sang istri tergelak dan memukul bahunya.


"Jahat iih!!" setelah gelak tawanya reda. "Makanya, kak Raja juga harus mulai belajar membebaskan diri kak Raja dari rasa sakit. Cuma kak Raja yang memiliki kunci untuk membebaskan diri. Siapa pun tidak bisa membantu kalau kak Raja sendiri tidak berniat untuk ikhlas dan membebaskan diri."


"Akan aku usahakan."


"Mau dimulai dari mengunjungi makam?" tanya Rani padanya yang mendongak menatap wajah cantik istrinya dari bawah.


Raja masih ragu. Ia tak yakin akan kuat untuk datang kesana.


"Jangan takut. Ada Rani. Kita mulai pelan-pelan. Kita bisa pulang saat kak Raja merasa tidak kuat. Meskipun itu baru sampai gerbang pemakaman." Rani mencoba meyakinkannya. "Setidaknya kak Raja berani mencoba."


Beberapa saat Raja diam untuk menimbang dan akhirnya mengangguk. Membuat Rani tersenyum lebar dan kembali memeluk kepalanya.


*


*


*