You're My Antidote

You're My Antidote
Mengungkap



Raja tahu papa dan tante Selina tidak akan tahan untuk tidak menanyakan keadaannya. Bahkan Raja yakin, mama yang ada didalam sana pun pasti mengkhawatirkanya.


Betapa bodohnya ia bisa sampai tertidur dalam satu ruangan yang sama dengan keluarganya. Seakan tidurnya tanpa mimpi saja. Seolah mimpi buruk itu tidak menghantuinya saja.


Dan sekarang ketika ia izin keluar untuk menenangkan diri dengan dalih membeli minuman dingin-yang jelas-jelas diruang rawat mama pun ada-papa menyusulnya ke taman belakang bersama tante Selina.


"Kamu masih sering bermimpi buruk Raja?" tanya papa tanpa basa-basi. Duduk disebelahny dan menatapnya penuh.


"Melihat reaksi Rani yang tidak terlihat khawatir, sepertinya itu masih sering terjadi." timpal tante Selina yang duduk disisi yang lain dari papa. Duduk mengapitnya.


Raja masih ingin menyangkal. Ingin menutupinya dari keluarga. Tapi setelah ia pikir lagi, mau sampai kapan?


Setelah ia menikahi Rani. Setelah ia mengharapkan hadirnya buah hati dalam rumah tangganya, bukankah seharusnya ia berusaha menyembuhkan diri?


Bagaimana mungkin ia menjadi suami yang baik, ayah yang baik, jika ia sakit. Jika kondisi psikolognya tidak baik-baik saja.


Mungkin jika saat kecil, papa dan mama tak langsung membawanya keseorang psikolog, bisa saja ia berakhir gila. Bukan hanya menolak untuk berbicara selama beberapa bulan. Tapi berakhir menjadi penghuni tetap rumah sakit jiwa.


Mimpi yang selalu ia alami terlalu mengerikan untuk menghantui anak berusia 10 tahun setiap malam. Dan ia kembali bersyukur dengan hadirnya Rani saat itu. Meski menyebalkan dan terasa mengganggu, tapi Rani kecil cukup menarik perhatiannya dari rasa takut yang menjeratnya.


Seolah kehadiran Rani memang sudah menjadi penawar untuknya sejak awal. Penawar yang pernah ia coba singkirkan.


Tapi sekarang tidak lagi. Ia akan mempertahankan Rani disisinya. Untuk menyembuhkan traumanya. Yang lebih penting lagi, ia tidak bisa untuk tidak melihat wanitanya itu meski hanya satu hari saja.


Sejak Rani menawarkan diri untuk menjadi penawar saat itu, Raja sudah mempertimbangkan melanjutkan pengobatan yang sempat terhenti karena ia merasa tak mendapatkan hasil.


Pada akhirnya, Raja mengaku dan menceritakan semua pada papa dan tante Selina.


Tante Selina-yang hatinya selembut mama-menangis dan memeluknya.


"Kamu pasti takut sendirian.. Dan kita semua mengira kamu sudah sembuh dan baik-baik saja."


Raja hanya bisa menepuk punggung sang tante dengan lembut. Mencoba menenangkan meski tante Selina tetap saja menangis hingga sesenggukan.


"Rahasiakan ini dari mama. Aku tidak mau mama kepikiran dan sakit lagi." pintanya memohon. Yang diangguki papa yang menatapnya dengan rasa bersalah dan kasihan. Tatapan yang selalu ia benci.


Sama seperti Rani, ia paling tidak suka dikasihani.


Memangnya kenapa jika ia hanya bisa tidur 2-3 jam setiap hari dalam 20 tahun ini?


Memangnya kenapa jika ia masih bermimpi buruk?


Toh ia masih bisa hidup dengan keadaan seperti itu. Karena hidupnya juga tidak semenyedihkan itu.


Ia cukup puas menghabiskan waktunya untuk membuat onar dan bersenang-senang. Dan sekarang ia bisa menghabiskan waktunya dengan lebih menyenangkan setelah menikah, alih-alih menghabiskan malam dengan tidur 8 jam.


Meski tak jarang juga mimpi itu membuatnya ingin mengakhiri hidup.


Berpikir bahwa jika orang tua kandungnya tak mengizinkannya untuk hidup dengan tenang tanpa dihantui mimpi buruk itu, maka ia akan menyusul mereka agar mereka puas menyiksanya dialam sana.


Tapi pemikiran seperti itu datang sebelum ia menikah dengan Rani.


Entah berapa kali ia mencoba bunuh diri dengan meminum obat tidur dalam dosis tinggi tapi berakhir dengan ia mencoba memuntahkannya lagi hanya karena tak ingin membuat mama sedih. Dan kejadian seperti itu terjadi berkali-kali dalam 10 tahun terakhir. Karena bahkan meski dibawah pengaruh alkohol, mimpi itu masih terus menghantuinya.


"Kamu masih sering datang ke psikolog?"


"Ayo kita cari spikolog yang lebih hebat. Kalau perlu kita bisa keluar negeri."


Raja menggeleng. Bukan karena ia tidak ingin, ia hanya perlu membicarakan masalah ini dengan istrinya dulu. Karena pasti Rani juga memiliki rasa penasaran dan khawatir yang sama besarnya dengan papa dan tante Selina.


"Kamu harus sembuh Raja! kamu tidak bisa terus hidup dengan bantuan suplemen untuk mengganti tidurmu setiap malam!"


"Aku tahu, pah. Aku juga sudah memikirkannya. Tapi aku butuh keberanian untuk mengatakannya pada Rani."


Papa dan tante Selina menatapnya dan kemudian mengangguk. Mungkin mereka sadar, betapa beratnya masalah ini untuk ia buka kembali. Terlebih untuk orang yang tidak tahu cerita dibaliknya seperti Rani.


"Ya sudah. Tapi papa mau dapat laporan perkembangan kondisi kamu."


Rasanya Raja ingin memutar bola matanya malas. Seperti yang biasa Rani lakukan padanya. Sayangnya yang berada didepannya ini, papa.


"Ajak Rani makan siang." ucap tante Selina sebelum pergi. "Tadi tante suruh dia makan tapi katanya nunggu kamu."


Raja melihat jam dipergelangan tangannya. Jam sudah menunjukan pukul 3 sore dan istrinya belum makan?


Dengan tergesa, Raja kembali ke ruang rawat mama. Mendapati Rani yang tengah menyuapi mama dengan buah.


"Kamu belum makan?" tanya Raja, mendekati kantung berisi makanan yang tante Selina beli.


"Setelah ini. Kak Raja tunggu ya?"


Rani hanya menoleh padanya dan mengira ia sudah lapar. Sedangkan wanitanya itu kembali menyuapi mama dengan telaten.


"Sudah. Kamu makan dulu sana. Mama bisa sendiri." mama sudah akan mengambil piring berisi apel yang sudah di kupas dan di potong kecil-kecil. Tapi Rani menjauhkannya.


"Apa gunanya Rani sebagai menantu? apa gunanya Rani menjaga mama disini kalau mama justru makan sendiri." geruu Rani yang sudah bisa Raja tebak.


Lagi pula Raja bertanya bukan karena ia berharap Rani akan menghampirinya dan langsung makan saat ia menyuruh. Ia tahu betul seperti apa watak Rani.


Jadi ia membawa satu porsi berisi nasi rempah, chiken katsu, dan capcai. Dari label pada kotak makan, itu berasal dari restoran milik Bintang. Anak tante Selina.


"Kalau begitu buka mulutmu!" titahnya tak ingin dibantah. Duduk di tepi brangkar tepat dihadapan Rani. Menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk pauk kedekat mulut sang istri yang pipinya berubah memerah.


"Apa sih, kak. Malu iih sama mama." Rani berusaha mengindar. Mama yang duduk bersandar terkekeh melihat interaksi mereka.


"Sudah Rani, terima saja. Kapan lagi Raja berbaik hati mau menyuapi seperti ini." dukung mama yang semakin menambah rona merah diwajah Rani.


Karena istrinya itu tak kunjung menyambut niat baiknya, ia mendekat kearah sang istri dan berbisik pelan ditelinga. Memastikan hanya mereka berdua yang bisa mendengar. "Makan. Atau aku suapi pakai mulut!" ancamnya dengan seringai licik. "Kamu tahu aku bisa melakukan apa pun yang aku mau." menjauhkan tubuh dan menatap Rani jahil.


Mendengar ancaman keduanya, Rani secepan kilat menyambar sendok yang masih menggantung diudara. Membuat ia tergelak dan membuat mama terperangah menatapnya lekat.


*


*


*


Huhu.. Udah views nggak seberapa, masih kena pangkas juga 😭 mengsedih kan... Bikin males, tapi kalau ingat kalian berusaha semangat nulis lagi ❤