
Rani menghela napas seraya tangannya mengganti handuk basah di dahi Raja yang terbaring dengan suhu tinggi di kamar mereka.
Setelah beberapa saat Raja hanya bersimpuh di kaki makam dengan tatapan kosong. Rani dibuat terkejut dengan tangisan Raja yang terdengar amat pilu. Tangis yang Rani tidak dapat membayangkan sebesar apa rasa sakitnya.
Setahu Rani, Raja bahkan tidak menangis setelah tragedi mengerikan itu terjadi. Dan mungkin tangis di makam adalah bentuk rasa sakit yang Raja pendam selama belasan tahun. Rasa sakit yang masih membawa trauma.
Cukup lama Raja menangis dengan suara sedu sedannya. Rani bahkan tak bisa untuk tidak ikut menangis dan memeluk erat tubuh gagah tapi terlihat lemah itu. Hingga Raja lelah dan jatuh pingsan dalam peluknya.
Awalnya Rani langsung melarikan Raja ke rumah sakit. Tapi begitu mereka dalam perjalanan, Raja siuman. Pria itu menolak dan meminta untuk pulang ke rumah mereka saja.
Rani yang tidak ingin ada perdebatan, langsung menuruti permintaan Raja tanpa tapi. Meminta mbak Eni menyiapkan bathub dengan air hangat untuk Raja membersihkan diri.
Dan kini tubuh Raja justru demam. Meski Rani yakin demam yang Raja derita bukan karena mandi. Melainkan karena rasa traumanya.
Sesekali Raja masih mengigau dan berteriak seperti saat mimpi buruk itu terjadi setiap malam. Bedanya, biasanya Raja akan langsung terbangun setelah teriakan atau rancauan dari mulutnya. Kini Raja justru terjebak dalam mimpi buruknya dan tidak kunjung membuka mata.
Dokter keluarga Raja mengatakan jika itu wajar bagi orang yang tengah demam untuk merancau. Tapi jika itu berkaitan dengan trauma yang Raja alamai, alangkah baiknya untuk segera menghubungi psikolog begitu Raja siuman.
Yang perlu Rani lakukan saat ini adalah menjaga Raja dan mengusahakan suhu tubuh suaminya untuk lekas turun agar Raja lekas siuman. Dua botol infus sudah habis. Tapi belum juga ada tanda-tanda demam Raja akan turun.
"Raja tidak akan bangun kalau dia sendiri belum siap menerima kenyataan. Dia sedang berperang dengan rasa takutnya sendiri." ujar dokter Vindra-yang juga masih saudara dengan Raja-ketika datang pagi tadi untuk mengecek kondisi Raja juga mengganti tabung infus yang sudah akan habis. "Tapi itu hanya praduga saya. Lebih baik tanyakan pada ahlinya langsung."
"Apa tidak bisa sekarang, dok? sudah hampir dua belas jam dan kak Raja masih larut dalam mimpi buruknya. Demamnya belum juga turun." Rani yang sudah tak peduli lagi bagaimana penampilannya. Mata sembab, hidung mampet kebanyakan menangis, wajah pucat belum makan. Rani sangat mencemaskan kondisi suaminya yang tidak bisa disebut koma ataupun pingsan. Karena tanda fital Raja semuanya masih bagus. Terlebih suaminya itu masih mengigau.
"Kita berdoa saja. Kecuali demam, Raja dalam kondisi yang sangat sehat." saran menenangkan yang dokter Vindra berikan padanya tak cukup untuk Rani mengurangi rasa khawatir dalam dirinya. "Pancing saja dengan diajak berbicara. Beri dia semangat untuk bangun dan siap menerima kenyataan." pesan terkahir dokter Vindra sebelum undur diri dan berjanji akan mampir lagi setelah jadwal praktik dirumah sakit selesai. Tapi Rani bisa menghubungi dokter Vindra kapan pun jika ada keadaan darurat. Juga akan ada suster yang datang untuk mengganti tabung infus.
"Mbak. Tolong siapin handuk kecil bersih sama air hangatnya ya?" pinta Raja menghubungi asisten rumah tangga mereka dengan telefon extentio yang ada diatas nakas. "Saya mau mengganti baju kak Raja."
Entah sudah berapa kali Raja berganti pakaian. Raja demam. Tubuhnya berkeringat dingin yang seakan tiada habisnya. Entah sudah sesering apa Rani mengelapnya baik dengan handuk kering maupun handuk basah saat akan mengganti pakaian Raja dengan yang kering agar tubuh suaminya tidak semakin sakit dan lengket.
"Kak Raja lagi mimpi apa sih?" lirih Rani dengan menggenggam erat telapak tangan Raja yang tidak terpasang jarum infus. "Apa mimpinya semenarik itu sampai kak Raja tidak juga bangun?"
Sekeras Rani menahan isak tangisnya, sekeras itu juga isaknya keluar. Matanya juga sudah seperti mata air yang tak ada habisnya mengeluarkan air mata sejak sore kemarin.
"Apa kak Raja tidak kasihan mendengar Rani menangis?"
Lelah. Rani lelah menangis. Tapi dia juga tidak bisa untuk tidak menangis. Hatinya sakit melihat Raja terbaring seperti itu. Matanya pun tanpa diminta mengeluarkan airnya sendiri. Bahkan semalaman ia tidak bisa tidur mengkhawatirkan kondisi Raja. Mengabaikan tubuhnya yang juga belum sembuh sempurna sejak sakit kemarin.
Tadi pagi ia memang hanya mampu menelan dua gigit sandwich dan segelas susu. Setelah semalam melewatkan makan malam.
"Biar saya saja, mbak." tolak Rani dengan mengambil alih wadah berisi air hangat dan handuk kecil.
"Ibu juga butuh istirahat." sela mbak Eni. "Tuan pasti akan lebih sedih kalau nanti bangun dan melihat kondisi ibu yang tidak sehat."
"Saya baik-baik saja, mbak." Rani sudah cukup lelah dengan keadaan. Dia tidak sedang butuh orang lain menasehatinya untuk istirahat disaat kondisi suaminya masih belum jelas.
"Tapi bu-"
"MBAK!" sentak Rani untuk pertama kalinya menggunakan nada tinggi. Tatapannya beralih pada Mbak Eni yang terlihat terkejut kemudian menunduk takut. "Pliisss mbak. Saya hanya ingin menemani suami saja." ucapnya lirih. Menyesal sudah membentak orang yang lebih tua darinya itu.
"Ma-maaf bu, saya sudah lancang. Kalau begitu saya keluar dulu. Kalau ibu butuh sesuatu lagi atau ingin makan siang, ibu bisa hubungi saya dibawah."
"Terimakasih, mbak. Maaf sudah berkata kasar "
"Tidak bu, saya mengerti."
Setelah mbak Eni keluar dari kamar, Rani melangkah menuju ruang ganti untuk mengambil baju piyama Raja. Baju yang memudahkan Rani untuk memakaikannya melewati tabung dan selang infus.
Setelah beberapa saat membersihkan tubuh sang suami dan mengganti dengan yang kering, Rani ikut berbaring disamping Raja dan memeluknya.
"Rani lebih baik diketusin kak Raja, dari pada harus melihat kak Raja seperti ini." gumamnya dengan menatap wajah suaminya yang terlihat pucat. "Jangan lama-lama sakitnya kak, kalau kak Raja tidak ingin mama curiga dan tahu kak Raja sakit."
Sesuai kesepakatan dengan dokter Vindra, mereka merahasiakan kondisi Raja dari keluarganya. Mereka hanya takut ibu Lintang yang baru pulang dari rumah sakit bisa kembali sakit karena memikirkan keadaan Raja.
Karena satu yang harus selalu di jaga di usia senja seperti ibu Lintang. Jangan terlalu banyak pikiran yang berakibat buruk bagi kesehatan. Dan Rani tahu pasti bahwa Raja salah satu alasan terbesar ibu Lintang untuk bahagia. Tapi salah satu alasan terbesar ibu Lintang untuk sakit juga.
"Aku akan tetap panggil kak, sampai kak Raja sadar. Untuk itu, kak Raja harus bangun kalau kak Raja ingin dengar Rani panggil dengan panggilan lain."
*
*
*