You're My Antidote

You're My Antidote
Pulang



"Jadi.. Bolehkah malam ini?" bisiknya ditelinga Rani yang terpaku beberapa saat sebelum kemudian tubuhnya didorong dari pelukan.


Apa ia terlalu berterus terang?


Apa ia terlalu tergesa ingin meniduri Rani dan membuat gadis itu tidak nyaman?


Kemudian, rona dipipi Rani yang berangsur memerah membuat Raja mengerti, jika gadis yang tengah menunduk itu tengah malu. "Apa sih kak Raja. Kenapa tanya seperti itu?"


Raja bawa telapak tangan Rani yang saling meremas untuk ia genggam. Membuat gadis didepannya itu mendongak dan menatapnya.


"Aku takut kamu jijik dan tidak mau kusentuh. Untuk itu aku meminta izin."


Raja gemas melihat Rani yang terlihat gugup dan menggigit bibir bawahnya. "Kak Raja suami Rani. Bahkan sekalipun dihari pertama kak Raja menyentuh Rani, Rani tidak akan menolak. Karena semua orang memiliki jalan dan masa lalunya sendiri."


"Kamu bukan mau ku sentuh hanya sebatas menjalankan kewajiban, kan?"


"Tidak!" Rani menyangkal dengan gelengan keras. Mungkin takut Raja salah paham dan tersinggung. "Tentu saja tidak."


"Lalu?"


"Karena Rani menerima kak Raja sepenuh hati. Lahir dan batin. Rani menerima kak Raja dengan segala konsekuensi yang ada. Termasuk kebiasaan buruk kak Raja."


Raja tersenyum senang mendengarnya. Ia kembali membawa gadis itu kedalam pelukan dan berbisik. "Jadi.. Boleh?"


Rani dalam pelukan mengangguk malu-malu. Semakin membuat Raja kegirangan.


"Kalau begitu nanti sore kita pulang kerumah kita."


"Kenapa?" tanya Rani yang membenahi rambutnya yang berantakan setelah melepas pelukan.


"Biar kamu lebih nyaman, tanpa ada mama dan papa."


Raja tidak bisa menjamin dirinya tidak akan buas dan tak membuat Rani berteriak semalaman. Apa lagi membiarkan gadis itu masih bisa meninggalkan kamar mereka keesokan harinya.


Dan karena ini pertama kalinya untuk Rani, gadis itu pasti akan malu ketika bertemu orang tuanya. Untuk itu, rumah mereka adalah pilihan yang tepat.


"Tidak nyaman kenapa?"


Raja meringis dalam hati. Tak pernah menghadapi gadis sepolos Rani untuk ia tiduri membuat ia wawas sendiri.


"Besok kamu akan tahu sendiri alasannya."


***


Mendapat izin untuk meninggalkan kediaman Shandika ternyata tak semudah yang Rani bayangkan. Ibu Lintang masih tak membiarkan mereka untuk pergi dari rumah itu setelah makan siang.


"Kenapa? bukankah kamu bilang akan tinggal disini selama satu bulan? ini bahkan belum genap dua minggu, Raja!"


"Mah. Raja dan Rani hanya ingin mandiri. Mama tenang saja ya? Raja sekarang sudah ada yang merawat. Wanita pilihan mama."


Rani yang tak tahu harus apa, hanya menatap ibu dan anak yang tengah saling membujuk itu. Satu membujuk untuk tinggal. Yang satu membujuk untuk meninggalkan rumah.


"Apa mama tidak memperlakukanmu dengan baik, Nak? sampai kamu tidak nyaman dirumah ini?" tatapan ibu Lintang beralih pada Rani.


"Eh? tidak, mah." ia bingung bagaimana harus menjelaskan. Sebenarnya ia juga tak masalah jika mereka harus tinggal dirumah ini lebih lama. Tapi Raja yang bersikeras untuk kembali kerumah mereka saja.


"Biarkan saja, sayang." pak Rasya angkat bicara. "Mereka sudah berumah tangga. Mereka pasti ingin memiliki privasi."


"Aku hanya takut Raja tidak memperlakukan Rani dengan baik, Bee."


"Mah." sahut Raja. "Apa mama pernah melihat Raja memperlakukan Rani dengan buruk?"


"Benar, Rani? Raja memperlakukanmu dengan baik?" tak menjawab apa yang Raja tanyakan. Ibu Lintang justru bertanya padanya. Seakan takut Raja memperlakukannya dengan baik hanya di kediaman Shandika.


"Benar, mah. Kak Raja baik kok sama Rani."


Rani mengangguk dan memeluk wanita yang menyayanginya sejak kecil itu sebelum mereka benar-benar pamit pulang kerumah mereka sendiri. Tanpa membawa apa pun karena tak ada yang mereka butuhkan untuk di bawa.


Rumah yang Raja bangun tak jauh dari kediaman Shandika. Hanya membutuhkan waktu setengah jam dan mereka sudah sampai di rumah. Tapi ditengah perjalanan, Rani meminta Raja untuk mampir ke supermarket. Karena di akhir pekan para asisten rumah tangga mereka libur, ia berniat belanja untuk memasak makan malam mereka sendiri.


"Kita pesan makan malam online saja." tapi Raja menolak saat mereka berhenti disebuah lampu lalu lintas.


"Kak Raja tidak suka masakan Rani?" tanyanya dengan cebikan yang cukup nyaring.


"Kenapa kamu selalu meragukan dirimu sendiri?" tangan Raja mendarat dipuncak kepalanya yang terbalut hijab. "Aku hanya tidak ingin kamu lelah. Cukup pakai tenagamu untuk nanti malam."


Pipi Rani memanas. Kenapa Raja selalu mengingatkan rencana mereka nanti malam? dan kenapa hal seperti itu harus direncanakan? membuatnya malu saja.


"Baiklah baiklah.. Ayo kita pulang." ucapnya menutupi rasa malu dan menurunkan tangan Raja begitu lampu lalu lintas berubah warna hijau.


Sampai dirumah mereka mengisi waktu siang mereka dengan menonton film di bioskop mini rumah mereka. Rani yang menyarankan. Karena rasa canggung menunggu malam tiba membuat ia menjadi gugup berkali-kali lipat.


"Kaaak!" rengek Rani ketika Raja tak berhenti menciumnya. Bagaimana Ia bisa melihat apa yang tengah berputar dilayar besar didepan mereka, jika Raja tak melepaskan bibirnya.


"Bibirmu manis. Membuatku tak bisa berhenti."


Sungguh. Jantung Rani sudah cukup bertalu-talu saat memasuki rumah. Raja tidak perlu mengatakan hal seperti itu yang hanya akan semakin membuat jantungnya seperti pesakitan.


"Tapi Rani mau nonton! bisa tidak, ciumnya nanti malam saja."


"Tidak." Raja menggeleng dengan menyebalkan. "Tapi aku akan berusaha." imbuhnya dengan senyum manis.


Rani bisa lebih tenang menonton. Setidaknya ia sedikit tahu isi film yang ia tonton. Sebelum tangan Raja tidak bisa diam bermain dirambut miliknya yang sudah tak berhijab. Belum lagi tangan pria itu sesekali mengusap perut dibalik kaosnya.


"Kak Raja!" serunya kesal dengan lirikan tajam.


Raja terkekeh dengan mengangkat kedua tangan seperti tahanan. "Baiklah, aku akan diam. Kamu bisa melanjutkan menonton." pria itu mengambil ipad yang biasa digunakan untuk mengecek pekerjaan.


"Ran?" Raja kembali memanggilnya setelah beberapa saat.


Rani yang tengah mengunyah popcorn hanya bergumam menanggapi tanpa mengalihkan tatapannya dari film didepannya.


"Kamu ingat baju tidur yang Maira siapkan dikamar hotel saat kita baru menikah?"


"Kenapa?" sahut Rani lagi masih dengan fokus yang sama.


"Nanti malam kamu pakai yang seperti itu ya? ada banyak kan, dilemarimu?"


Rani menelan popcornnya bulat-bulat dan terbatuk. Raja dengan sigap memberinya jus jeruk yang mereka bawa.


"Pa-pakai apa kak?" tanyanya gagap setelah minum dan sedikit melegakan lehernya.


"Pakai baju yang seperti Maira siapkan." sahut Raja tanpa beban. Karena yang merasakan beban justru Rani.


"Li-lingerie?"


Raja tersenyum dan mengangguk. Mendekatkan bibirnya pada telinga Rani dan berbisik. "Tanpa dalam-an."


Rani kembali terbatuk meski tak ada apa pun didalam mulutnya. Sedangkan tersangka utamanya tertawa dan pergi meninggalkannya dengan layar yang hanya menanyangkan tulisan credit title.


*


*


*


Ehehehehe belum bisa cepat updatenya. Tapi nanti malam diusahakan up lagi. Saranghae ❤❤