
Entah karena sudah terlalu lama berleha-leha atau bawaan hamil, Rani merasa lelah. Padahal baru masuk jam makan siang.
Sepertinya tubuhnya terlalu dimanjakan ketika bulan madu kemarin. Jemari yang ia gunakan untuk mengetik beberapa saat saja sudah terasa pegal.
"Mau ikut makan siang bareng yang lain atau mau menunggu pak bos, bu?" suara Dini menarik perhatiannya yang tengah meregangkan otot-oto yang terasa kaku duduk berjam-jam menatap komputer.
"Bareng kalian saja, deh. Kayaknya Pak Raja sekalian makan diluar." Rani menatap jam di pergelangan tangan kirinya. Jam makan siang sudah berlalu lima menit dan Raja belum juga kembali ke kantor dari meetingnya yang di dampingi Musa. Di hari pertama, Raja memang cukup sibuk dengan jadwal meeting yang harus di hadiri. "Kalian makan dimana?"
Rani memasukan ponsel kedalam tas setelah mengirim pesan pada Raja. Mengingatkan suaminya untuk tidak melewatkan makan siang, sekaligus memberi kabar jika ia akan makan dengan staf yang lain.
"Di kafetaria aja, ya? kerjaan gue masih banyak soalnya." Bukan Dini. Melainkan Lura yang menjawab. Rani menyukai sikap seniornya itu yang tak berbeda dalam bersikap antara sebelum dan sesudah ia menikah dengan Raja.
"Yuk, sebelum kita nggak kebagian tempat duduk." Malika ikut menyahut dan mengamit lengan Lura dan mereka berempat berjalan menuju lift.
"Yang lain kemana?" Rani menoleh ke belakang. Mencari keberadaan Mega dan Adnan. Dua staf lain yang tidak terlihat.
"Mereka lagi PDKT. Nggak usah di cariin."
"Iya, kak. Mas Adnan lagi gencar-gencarnya ngajakin mbak Mega makan di luar." Dini ikut menimpali Lura dan terkikik.
"Wah.. Nggak sampai satu bulan aku nggak masuk, udah ada bibit-bibit cinta aja."
"Iya dong, kak. Kan nggak mau kalah sama si bos yang langsung sat set lamar langsung nikah." Malika yang jarang bicara membuat Rani tertawa dengan apa yang dikatakan.
"Nanti combaling aku sama pak Musa ya, kak. Biar makin banyak bunga-bunga cinta di kantor kita." bisikan dari Dini tepat ketika mereka memasuki lift membuat Rani kembali tertawa.
"Yang ada nanti lo pacaran terus!" Lura menjitak kepala Dini dri belakang. Karena posisi Lura dibelakang Dini dan juga mendengar apa yang di katakan juniornya.
"Ih. Mbak Lura sirik aja." Dini cemberut menatap Lura. "Mbak Lura iri kan, karena masnya ada di divisi lain." goda Dini yang tidak ada takutnya pada seniornya itu.
Lura sudah akan mendebat ketika lift berhenti di kafetaria. Mereka melupakan sejenak perdebatan tidak berfaedah itu.
Rani dan Lura bertugas mencari meja kosong, sedangkan Malika dan Dini yang membeli pesanan mereka.
Tak begitu sulit untuk Rani mendapatkan meja. Karena ada karyawan yang dengan suka rela pindah dan bergabung dengan yang lain demi memberi Rani dan teman-temannya bangku.
Mereka yang dulu menggunjingkannya kini menunduk patuh dan memilih menjauh dari masalah. Karena mereka melihat sendiri bagaimana nasib karyawan yang berani mengusik Rani saat itu. Karena peringatan Raja tidak pernah main-main.
Dalam beberapa bulan terakhir, Rani selalu menghabiskan waktu makan siang dengan Raja. Entah memilih jasa delivery dan memakannya di kantor Raja. Atau mereka makan di luar. Karena dimanapun Raja berada, di situ ada Rani yang-kini digantikan Musa. Jadi Rani baru tahu sikap karyawan lain padanya kini.
"Aku ngerasa nggak nyaman deh, mbak. Takut dikira arogan nggak sih? mereka kasih meja ke kita gitu aja." bisik Rani.
"Udah, cuekin aja. Udah bagus mereka begitu." sahut Lura dengan tenangnya. Seolah apa yang Rani khawatirkan bukanlah masalah besar.
Dini dan Malika masing-masing membawa nampan ditangan mereka. Sesuai dengan menu yang Rani dan Lura pesan juga pesanan mereka sendiri.
Tapi ketiga teman Rani itu di buat melongo ketika Rani memilih memesan makanan lain setelah hanya mencoba sekali suap. Hal seperti itu berlanjut hingga meja mereka penuh dengan makanan yang seolah tidak ada yang cocok di lidah Rani.
"Lo kesurupan atau gimana sih, Ran? ini nggak ada yang lo makan lho, mubazir."
"Rasanya nggak ada yang cocok sama apa yang aku pengen mbak." aku Rani merasa bersalah dengan ketiga temannya. Rani membayangkan sebuah rasa, tapi Rani tak tahu apa yang sebenarnya ingin ia makan. Jadilah ia mencicipi semua yang ada di kafetari.
"Lo lagi ngidam apa gimana, sih?" ucap Lura asal tebak dengan sesekali memakan apa yang ada di hadapannya.
"Iya. Tapi aku nggak tahu pengen apa?" rengek Rani dengan mata berkaca-kaca.
"HEH?" ketiga temannya keget dengan kabar yang baru mereka ketahui. Lebih kaget lagi melihat Rani bersedih.
"Aduh. Jangan nangis dong kak." Hibur Dini dengan panik. "Nanti kita yang kena marah sama si bos."
Lura dan Malika kompak mengangguk dan ikut menghibur Rani yang meski tidak meraung-raung tapi air matanya menetes begitu saja.
"Lo mau apa lagi. Biar gue pesenin." ujar Lura seperti membujuk anak kecil.
Rani menggeleng dan malah mengeluarkan ponselnya. Mencari nomor Raja dan mendialnya.
Hanya butuh tiga detik sampai suara suaminya terdengar. "Maaaass.." rengek Rani.
"Kenapa? ada yang macam-macam dengan kamu? ada yang menyakitimu?" suara Raja di seberang telepon terdengar tak kalah panik dengan Lura cs.
"Aku lapar." adu Rani menyusut air matanya.
"Kamu belum makan? Bukannya tadi kamu pamit makan siang dengan yang lain?"
"Tapi Rani ingin makan yang lain. Bukan makanan di kafetaria."
Entahlah. Rani sendiri tidak menyadari sikap berlebihannya. Tapi rasanya ia hanya ingin mengadu pada Raja tentang kesedihannya yang tak tahu apa yang ingin ia makan.
"Mampus deh gue di marahin si bos, ngajakin bininya makan di tempat rakyat jelata." desis Lura antara kesal dan ingin menertawakan tingkah Rani.
Lura belum pernah hamil. Jadi tidak tahu wanita hamil bisa berubah-rubah moodnya seperti Rani.
"Kamu ingin makan apa? nanti mas bawakan." Rani tidak peduli dengan gerutuan Lura dan lebih memilih fokus pada Raja.
"Rani juga tidak tahu." Rani bingung menjelaskannya. "Rani bisa bayangin rasanya. Tapi Rani juga bingung rasa itu ada di makanan apa."
Rani yakin di seberang sana. Dimanapun Raja berada. Suaminya itu tengah kebingungan sama seperti teman-temannya kini.
"Mas masih meeting di restoran jepang. Nanti mas bawakan makanan dari sini ya?" bujuk Raja dengan lembut. "Kalau rasanya masih tidak cocok. Nanti kita cari sampai dapat."
*
*
*
Si Bapack mulai dibuat pusing sama utun 🤣🤣