You're My Antidote

You're My Antidote
Dibalik Sebuah Kejutan



Dua hari sebelum ulang tahun, Raja benar-benar stres. Tumpukan pekerjaan yang tidak bisa ia abaikan membuatnya tak mampu berpikir bagaimana merayakan ulang tahun istrinya dengan berkesan.


Tidak banyak waktu yang tersisa untuknya menyiapkan sesuatu yang tidak praktis. Yang bahkan idenya pun belum ada.


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanya Raja merenung.


"Ya, Pak?" Musa yang sebelumnya tengah menekuri berkas diseberang mejanya, mendongak dan menatapnya bingung.


"Hari jumat nanti." imbuh Raja yang tak memberikan kejelasan apa pun untuk Musa yang tidak tahu menahu ada apa dengan hari Jumat. "Istriku ulang tahu. Jadi apa yang harus aku lakukan." terang Raja dengan gereget.


"Oh." desah Musa yang selanjutnya terlihat berpikir. "Makan malam romantis mungkin, Pak."


"Terlalu biasa. Aku bahkan setiap malam melakukan makan malam romantis dengannya." dengus Raja. Baginya makan malam berdua dengan berbagi keluh kesah dan saling memberi dukungan sudah cukup romantis. Apa lagi setiap makan malam, ia selalu menyajikannya sendiri. Mulai dari membeli bahan, memasak hingga menghidangkannya dengan cantik.


Ya.. Meskipun tidak dilengkapi lilin dan bunga-bunga.


"Kenapa ekspresimu seperti itu!" tegur Raja pada wajah datar Musa yang kali ini dilengkapi senyum tipis. "Kau mengejekku!"


"Tidak Pak. Mana mungkin saya berani." Musa menunduk dalam.


Raja berdecak melihat sikap asistennya itu. Sebelumnya mereka jarang bekerja dengan bertatap muka seperti saat ini. Dan Raja baru merasakan ternyata Musa cukup menyebalkan. "Pikirkan apa yang harus aku lakukan! jangan pulang sebelum kau mendapatkan ide. Dan hubungi sopir untuk mengantar istriku pulang."


"Baik, pak."


Musa pergi meninggalkan ruangannya. Raja juga bangkit untuk mengantar istrinya hingga mobil. Karena lagi-lagi hari ini ia tidak bisa pulang tepat waktu. Ia masih memiliki satu meeting dengan brand luar negeri yang akan memasang iklan di perusahaannya pada jam makan malam nanti.


"Ayo sayang." ajak Raja begitu di dekat meja sang istri. Rani juga sudah membereskan barang-barangnya termasuk bekal untuk makan malam yang Raja masak satu jam lalu.


"Mas hanya meeting, kan? tidak lanjut bekerja di kantor?"


"Tidak." sahut Raja. "Selesai meeting nanti aku langsung pulang. Biar aku bawa pekerjaan ke rumah seperti biasa."


"Jangan lupa minum vitaminnya! jangan sampai proses naik jabatan ini justru bikin mas sakit." pesan dari sang istri yang selalu sama dalam beberapa bulan ini.


"Iya sayaaaang." ucapnya menarik pinggang istrinya gemas. Melabuhkan kecupan di puncak kepala. Lupa jika mereka masih di kantor dan ditonton Dini yang senyum-senyum tersipu sendiri.


"Manis banget deh Pak Raja." ucap Dini ketika Raja berdeham saat sadar posisi dan mengembalikan wibawanya. "Tapi tolong hargai saya yang jomlo dong, Pak. Kan bikin iri."


Raja tak menanggapi dan hanya melirik dan menanyakan hal lain. "Kenapa kamu belum pulang?" nadanya kembali datar. Tapi entah kenapa asisten istrinya itu kembali senyum-senyum sendiri.


"Duh bapak. Saya jadi tidak enak sama Ibu kalau bapak perhatian gitu."


Raja tercengang dengan Dini yang mulai berani menggodanya. Karena ia tahu, Dini tidaklah serius dengan apa yang dikatakan padanya.


Sedangkan Rani sudah tergelak kencang melihat suaminya di goda bawahan. Untung sayang.


***


"Bagimana? kamu sudah dapat ide?" tanya Raja ketika dalam perjalanan pulang setelah meeting. Musa bertugas mengantarnya pulang karena sopir miliknya stay di rumah untuk siap siaga jika istrinya akan pergi.


"Bukankah bunga juga terlalu biasa?" tanya Raja terlihat tak setuju. Banyak orang menggunakan banyak metode seperti itu.


"Tapi bapak bisa membuat hal biasa itu menjadi luar biasa berkesan." sangkal Musa masih fokus dengan kemudinya.


"Lanjutkan!" pinta Raja yang mulai terlihat tertarik.


Kemudian Musa menyarankan membagikan orang-orang di kantor satu tangkai bunga mawar yang kemudian diserahkan pada Rani satu demi satu ketika Rani datang ke kantor.


"Kebetulan bapak ada jadwal breakfast dengan Pak Menteri. Jadi bapak dan Ibu bisa berangkat terpisah."


Akhirnya beban dipundaknya terasa terangkat. Setidaknya satu masalah selesai. Tapi mungkin ia akan merevisi ide Musa hingga bisa lebih berkesan lagi.


Hingga di hari berikutnya ditemani Musa, Raja harus pulang hampir jam dua pagi untuk mempersiapkan segala kejutan. Menghubungi florist untuk memesan bunga mawar merah paling segar. Menekankan beberapa hal agar mereka tidak salah membungkus bunga menjadi buket yang indah. Lebih tepatnya Musa yang sibuk mempersiapkan segalanya dan Raja hanya duduk dan memastikan segalanya beres. Tidak akan ada kesalahan yang membuat rencananya menjadi gagal.


Undangan breakfast pun Raja urung hadir dan hanya Om Rafi yang datang. Raja lebih menyiapkan diri. Karena kejutan yang ia siapkan adalah kali pertama ia melakukannya seumur hidup. Membuat jantungnya berdegub tak karuan meskipun ia mencoba mengalihkan dengan meminta haknya sebagai suami pada istrinya hingga hampir subuh tadi. Nyatanya perasaan itu kembali hadir ketika ia menginjakan kaki di loby kantor.


"Semua sudah siap kan, Sa?"


"Sudah, pak."


"Acara makan siangnya?"


"Beres pak. Mobil khusus yang bapak pesan sudah ada di basemant."


"Thank's, Sa." Raja menepuk bahu Musa dengan tulus. Berterimakasih atas usaha Musa membantunya dengan segala sesuatunya.


Menit demi menit Raja lalui dengan gugup. Berkali-kali ia melihat jarum jam pada jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Menantikan waktu istrinya sampai di kantor.


Rasa gugupnya melebihi ketika ia datang melamar Rani. Tapi tidak lebih gugup dari saat ia mengucapkan ijab kabul yang menyatukan ia dan sang istri dalam ikatan suci pernikahan. Sah secara hukum agama dan negara.


"Ibu sudah sampai di loby pak. Saya ke lift sekarang." lapor Musa yang ia balas dengan anggukan. Musa juga menjadi bagian dari orang yang akan menyerahkan bunga yang sudah ia persiapkan untuk sang istri.


"Bu Rani pasti suka, pak. Jadi bapak tidak perlu khawatir." Dini menyemangatinya dengan tulus. Tidak ada lagi ekspresi menggoda seperti beberapa hari lalu. Mungkin karena tahu jika ia tengah gugup setengah mati.


Setiap jarum jam yang bergerak membawa debar lebih kuat pada jantungnya. Setiap detik yang terasa begitu lama ia rasakan.


Didepannya, layar monitor tempat biasa Rani kerja , kini menayangkan rekaman CCTV yang satu jam lalu Musa setting disana. Membantu Raja memantau sampai dimana istrinya kini. Bagaimana ekspresi wanitanya tiap menerima bunga dan membaca pesan yang ia selipkan di antara bunga-bunga cantik itu.


Haru, bahagia. Itu yang Raja lihat dari gambar yang tak begitu jelas karena sudut pengambilan dari atas.


Ketika Rani keluar dari lift dan menerima bunga dari Lura, Raja semakin terasa gugup. Begitu juga dengan bunga-bunga berikutnya hingga bunga terakhir dari Dini yang membuat Raja berdiri dari persembunyiannya dan menyambut sang istri dengan senyum lebarnya. Lengkap dengan buket paling besar ditangannya yang langsung ia letakan diatas meja begitu Rani berlari kearahnya yang langsung Raja tangkap dan peluk erat.


*


*


*