You're My Antidote

You're My Antidote
Tongseng



Raja terpaksa harus membatalkan bulan madu mereka ketika tengah malam, ia dihubungi oleh asisten papa yang memberinya kabar tentang berita pernikahannya yang disiarkan malam tadi.


Berita yang menghebohkan masyarakat dan menjadi perbincangan hangat dijagat maya.


Bahkan banyak portal berita online yang juga memberitakan hal yang sama.


Pihak pertama yang menyebar berita adalah stasiun televisi pesaing yang mengulas sebuah kiriman sosial media milik seorang wanita yang membagikan foto pernikahannya yang diambil ketika acara siang tadi.


Caption dibawah foto itulah yang menggemparkan masyarakat banyak. Dengan judul "Anak panti panjat sosial."


Untuk identitas Rani, Raja dan keluarga memang sudah mendiskusikannya. Sementara waktu selama tidak ada yang bertanya atau membahas, mereka tidak akan mengumumkan.


Bukan karena mereka malu dengan status Rani yang berasal dari panti asuhan atau takut akan berdampak pada perusahaan. Mereka lebih mempertimbangkan perasaan Rani kedepannya.


Hal itu terbukti saat ini. Banyak orang yang pro dan kontra mengenai hal tersebut. Kebanyakan dari mereka yang kontra adalah dari kalangan wanita yang menganggap Rani hanya mengincar hartanya. Hanya orang-orang berhati baik saja yang masih waras untuk berfikir positif.


Rani masih terlelap ketika ia bergegas berganti pakaian dan menuju kantor ketika jam masih menunjukan pukul empat dini hari.


Raja hanya meninggalkan sebuah pesan diatas bantal yang ia gunakan tidur.


"Maaf saya pergi mendadak. Ada masalah di kantor yang perlu saya selesaikan.


Kita batalkan dulu bulan madunya. Nanti kita atur waktu lagi untuk pergi.


Sekarang kamu nikmati saja masa cutimu untuk melakukan hal yang kamu suka.


Kabari jika membutuhkan sesuatu.


Saya tidak tahu apa bisa pulang hari ini. Kamu bisa menginap di rumah mama atau panti jika tidak berani dirumah sendirian.


Biar nanti saya minta sopir mengantar kamu."


Bukan Raja tak mau membangunkan Rani, tapi gadis itu cukup lama terjaga ketika Raja terbangun karena mimpi buruk. Rani sepertinya kesulitan untuk kembali tidur. Asisten papa menghubunginya sesaat setelah Rani kembali terlelap.


Ada beberapa masalah yang harus ia selesaikan termasuk orang yang mengunggah fotonya dan Rani dimedia sosial tanpa seizin darinya. Begitu juga wanita itu yang mengabaikan peringatannya tentang Rani. Karena wanita itu adalah karyawati perusahaannya yang sempat ia tegur tempo hari.


Beberapa direksi juga ingin mengadakan rapat untuk menindak lanjuti hal tersebut. Meski tidak menimbulkan masalah yang begitu berdampak pada perusahaan. Hanya penurunan beberapa persen saham perusahaan yang masih bisa mereka atasi setelah konferensi pers nanti.


Tapi untuk karyawati itu, mereka akan bertindak tegas seperti biasa, ketika ada karyawan yang membangkang. Sudah kebijakan sejak papa masih duduk dibangku pimpinan.


Jika mereka tidak seperti itu, perusahaan tidak akan berkembang seperti saat ini.


***


Ketika Rani bangun, ia tak mendapati Raja disampingnya. Secarik kertas ia temukan sebagai informasi kemana pria itu pergi.


Ada sedikit rasa kecewa ketika rencana mereka berbulan madu dibatalkan. Bukan terpaku pada tema acaranya, tapi Rani lebih antusias pada acara berliburnya.


Menjadi sekretaris Raja cukup membuatnya sibuk dan tak memiliki kesempatan untuk berlibur. Meski ia tak mengharapkan pernikahan ini terjadi dan tak menaruh harapan besar didalamnya, setidaknya ia akan menikmati kesempatan yang Tuhan berikan.


Setelah melaksanakan kewajibannya pada sang pencipta, Rani membuat secangkir teh chamomile dan membawanya kebalkon.


Udara masih terasa sejuk dipagi hari. Ditemani secangkir teh hangat turut membawa kehangatan juga di hatinya.


Sepertinya ia harus menyusun rencana kegiatan apa yang bisa dilakukan selama sepuluh hari masa cutinya. Jangan sampai waktu itu terbuang sia-sia. Jarang-jarang ia bisa mengambil cuti karena jadwal Raja yang selalu penuh.


Mengambil ponsel di kamar berniat mencari rekomendasi mengisi waktu cuti selain berlibur keluar kota. Tapi ponselnya tidak dapat digunakan untuk mengakses internet. Padahal ia menggunakan layanan pascabayar jadi tidak mungkin ia kekurangan pulsa.


Hal yang sama ketika ia mengakses wifi rumah yang ternyata juga mati. Begitu juga tak ada satu pun televisi yang menyala ketika ia mencobanya.


"Maaf pak, internet rumah kenapa mati ya? televisi juga?"


"Ooh itu... Tuan bilang sedang ada perbaikan, nyonya."


"Panggil nama saja, pak. Atau tidak, ibu, jangan nyonya." tolak Rani dengan panggilan yang diberikan padanya. Ia merasa tidak nyaman dengan panggilan seperti itu.


"Baik bu."


"Perbaikannya lama tidak ya, pak? soalnya saya butuh."


Security itu menggeleng. "Saya kurang paham, bu. Tuan hanya menitip pesan seperti itu."


Rani mengangguk dan tersenyum "Yasudah, terimakasih pak."


Dipagi hari Rani masih cukup bersemangat. Berkenalan dengan para pekerja yang rata-rata dari mereka berusia diantara 40 hingga 50 tahun. Rani juga melanjutkan berkeliling rumah ketempat yang belum ia lihat semalam. Seperti taman dan ruang olahraga yang begitu lengkap didekat kolam renang yang juga bersebelahan dengan ruang sauna.


Semakin siang, semangatnya mulai menurun.


Rani tidak pernah merasakan sekurang kerjaan ini. Biasanya ia selalu sibuk di kantor. Jika libur, ia akan sibuk membantu pengurus panti dan menemani adik-adiknya bermain.


Tapi saat ini ia bahkan tidak memiliki teman mengobrol karena semua asisten rumah tangga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Rani juga tidak bisa memaksa mereka untuk menemaninya. Ia tidak ingin mengganggu pekerjaan mereka.


"Masak apa, mba?" tanyanya begitu mencium aroma harum dari dapur. Tepat saat perutnya mulai kelaparan. Tadi pagi hanya sempat ia isi teh dan lupa untuk sarapan.


"Tadi pagi tuan telefon minta saya mampir belanja sayur dan daging-dagingan sebelum berangkat. Tuan juga meminta saya memasakan ibu makan siang. Tuan bilang ibu suka tongseng daging sapi?"


Rani mengangguk dengan senyum yang merekah. Umumnya tongseng terbuat dari daging kambing. Tapi karena ia tidak suka daging dengan aroma khas itu, jadi ibu panti selalu membuat tongseng dengan daging sapi jika mereka memiliki uang lebih dari donatur.


"Saya bantu ya, mbak?"


"Jangan, bu! biar saya saja. Sebentar lagi matang. Ibu tunggu saja."


Karena tak bisa memaksa, akhirnya Rani hanya bisa melihat asisten rumah tangga yang bernama Eni itu bergelut didapur.


Rani juga menayakan banyak hal tentang rumah yang ia tempati. Apa saja yang dibutuhkan agar ia bisa membelinya.


"Kalau kemarin untuk produk kebersihan, kebetulan tuan meminta saya untuk membelinya. Tapi kalau untuk perlengkapan mandi, tuan sendiri yang membawa."


"Kak Raja beli sendiri, mbak?"


Mbak Eni menggeleng. Mungkin tak tahu dari mana Raja mendapatkannya. Bisa saja Raja membawanya dari kediaman Shandika.


Masakan Mbak Eni benar-benar cocok di lidahnya. Raja memang pemilih karyawan terbaik.


Perutnya terasa sangat penuh setelah ia menambah nasi karena tak bisa berhenti mengunyah.


Mengingat Raja yang sudah meminta Mbak Eni memasak untuknya, ia tak lupa menghubungi pria itu untuk mengucapkan terimakasih. Namun Raja sulit dihubungi. Beberapa kali ia melakukan panggilan dan tidak diangkat. Akhirnya ia menyerah dan hanya mengirim sebuah pesan.


"Terimakasih untuk tongseng dagingnya. Sebagai balasannya, nanti malam Rani masak yang spesial untuk kak Raja. Kabari kalau kakak bisa pulang. Biar Rani bisa memasak sebelum kak Raja sampai dirumah."


*


*


*