
Tulisan besar bertuliskan penginapan mawar hitam menjadi penyambut kehadiran Yue Liang Zhi, tangannya terulur untuk membersihkan kepingan salju yang masih menempel di pakaiannya. Dia melangkah masuk dengan langkah ringan, sosoknya seperti mengambang di tengah hiruk pikuk keramaian. Jari telunjuk tangan kanan mengetuk meja, “permisi nona, apa nona melihat rombongan kultivator dari sekte Qinglong memasuki penginapan ini?”
Pelayan wanita menunduk mengamati kecantikan kecil berbaju merah, matanya berputar ke kiri berusaha mengingat, “ah, aku ingat. Mereka sudah ada di dalam kamar, mari... Pelayan ini akan mengantar nona muda.”
Yue Liang Zhi menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis, “terimakasih.”
Dua garis bayangan berniat berjalan berbarengan, yang lebih tua akan memimpin jalan menuju kamar.
“Pelayan! Aku membutuhkan semangkuk nasi tambahan!” Teriak seorang perempuan yang menghadap punggung Yue Liang Zhi, terlihat tiga laki-laki berada di kursi lain menampilkan wajah angkuh dan penuh kebangaan.
Langkah pelayanan wanita terhenti, tubuhnya berbalik menghadap si pemanggil, “maaf nona, itu bukan tugasku.” Ucapannya memang benar, dia hanya bertugas menyambut tamu dan menghitung keuangan.
Xiu Jieru mengebrak meja hingga beberapa piring terlompat terbang, piring tak bersalah mendarat tengkurap di lantai, “lancang! Berani sekali pelayan sepertimu mengabaikan perintahku, aku ini seorang apoteker dari klan Xiu!”
Apoteker?
Sang pelayan berlari mendekat seperti kesurupan, dia menganggap bahwa dirinya telah menyinggung orang penting. Kenyataannya, identitas seorang apoteker memang tidak boleh dianggap remeh.
Klan Xiu? Ck, ck. Darah yang mengalir diseluruh anggota klan Xiu terlalu buruk! Dimanapun dan kapanpun, mereka hanya tahu menindas dan menindas.
Senyum miring mencibir menjatuhkan harga diri seperti sebuah kebiasaan di bibir Xiu Jieru, dia menaikkan dagu menantang langit dengan dada yang dibusungkan penuh kecongakan. Matanya menyiratkan aura kearoganan yang penuh kebanggan.
Tangan kiri Yue Liang Zhi mencekal telapak tangan pelayan di depannya, “aku juga seorang apoteker.”
Tiga laki-laki menunjukkan senyum kaku.
Wajah Xiu Jieru menjadi buruk, dia baru menyadari kehadiran kecantikan surgawi berbalut pakaian merah. Kecantikan itu membuatnya iri, namun pandangannya berubah menjadi cibiran, “kau seorang apoteker? Hei, kau pikir gelar apoteker sangat mudah diambil seperti seseorang yang mencuri buah di kebun tetangga. Semua orang di balai apoteker pasti tidak akan pernah membiarkanmu membohongi orang lain dengan gelar itu, bualanmu membuatku ingin meludah.”
Tidak ada gelombang seperti riak air terjadi di wajah Yue Liang Zhi, “aku memang seorang apoteker pil kelas dua.”
Xiu Jieru tertawa, dia tidak percaya akan ucapan sosok merah. Dirinya sendiri telah belajar bertahun-tahun dan diangkat menjadi murid seorang apoteker di balai Kerajaan Lan, memurnikan pil tingkat satu sebanyak dua pil. Pernah mengikuti ujian menjadi apoteker, namun gagal ditahap terakhir. Tentu, hal ini hanya diketahui oleh para pengawas dan penguji. Dia berpikir dirinya tidak salah jika mengaku sebagai apoteker, toh dimasa depan dia memang akan menjadi apoteker. “Jika kau benar seorang apoteker, sekarang tunjukanlah sertifikat apoteker milikmu.”
“Tidak punya,” Yue Liang Zhi menggeleng dan sukses menjadi bahan tertawaan keempat orang. Pada kenyataannya, dia memang belum mendaftar sebagai apoteker di balai.
Laki-laki kedua: “Dia pikir bisa melampaui Dewi Jieru, hah! Mati saja sana.”
Laki-laki kesatu: “Sayang sekali, kecantikannya sangat sia-sia.”
Hati Xiu Jieru merasa telah terbang meninggalkan raganya, hinaan mereka terdengar seperti pujian bagi dirinya. Sudut bibir kiri bagian atas sedikit terangkat untuk mncibir, “kalau kau memang benar seorang apoteker, aku bisa mengantarmu menemui anggota balai apoteker. Tapi dengan taruhan saat kau gagal dalam pengujian, detik itu juga kau harus merangkak di bawah kakiku sambil meminta maaf.”
Laki-laki ketiga: “Anak itu hanya membual, Dewi tidak perlu terlalu berbaik hati.” Pria itu menatap tubuh Yue Liang Zhi dari bawah ke atas, “biarkan dia menyalak seperti anji*g mencari tuannya.”
Kedua tangan Yue Liang Zhi berada di depan dada, mulutnya terkatup dengan lidah yang bergerak-gerak mengabsen setiap giginya, “sepakat... Kita akan bertemu besok pagi di depan penginapan ini,” dia merasa tertantang untuk mempermalukan anggota lain dari klan Xiu.
“Baik.”
Yue Liang Zhi membuang muka ke arah lain, dia mengisyaratkan agar pelayan wanita segera memimpin jalan.
Dua garis bayangan berjalan menjauhi empat orang anggota klan Xiu, keduanya terus berjalan menelusuri lorong hingga sampai di depan pintu kamar. Pelayan membungkuk dan segera mengucapkan salam perpisahan, pelayan itu juga mengucapkan terimakasih karena Yue Liang Zhi mau membela dirinya saat ditekan oleh generasi muda klan Xiu.
Begitu pintu terbuka, Yue Liang Zhi telah disambut oleh murid lain dari sekte Qinglong. Orang yang paling semangat adalah Wei Shuwan, anak itu bahkan sampai memberikan pelukan erat seperti ular cobra melilit mangsanya. Semua orang bercakap dengan topik ringan, suasana hangat tanpa gangguan sangat menenangkan hari terakhir musim dingin. Mereka semua berpisah saat hari menjelang malam, paginya mereka berencana menikmati hari tertama musim semi dan akan kembali ke sekte pada sore hari.
Pagi hari telah tiba, matahari terbit dari ufuk timur dengan perlahan menyinari benua Ziang. Dua kelompok berjalan menuruni tangga, kakak adik Wei seperti biasa selalu meributkan hal sepele, Bai Yun dan Lei Hu akan menjahili Wei Shuwan hingga puas. Menurut mereka, menjahili adik Wei Jun hingga menangis merupakan hal paling aman daripada menjahili anak kecil yang dari permukaan terlihat seperti es beku selama jutaan tahun.
Kelompok Xiu Jieru terkejut melihat kehadiran Yue Liang Zhi yang berjalan di samping Tao Jianying, diam-diam terbesit rasa yang tak dapat dijelaskan lantaran telah menyinggung murid sekte Qinglong. Mereka tidak buta dengan kenyataan bahwa Patriark klan Xiu selalu mengunggulkan dua anaknya, untuk mengungguli popularitas Xiu Juan dan Xiu Zhuting, Xiu Jieru harus belajar gila-gilaan dalam memurnikan pil.
Kepala Yue Liang Zhi sedikit miring ke kiri, dia kemudian menerbitkan smirk licik. Bukan salahnya menerima taruhan, mereka sendiri yang dari awal telah memprovokasi dirinya. “Aya, sepertinya aku memiliki urusan mendadak,” ucapnya membuat wajah penuh penyesalan. Itu sukses menimbulkan rasa bingung karena secara tiba-tiba dia menampilkan mimik lain selain kedataran tanpa ujung, “aku berjanji akan menyusul kalian setelah urusan kecilku selesai,” dia menaikkan tangan kanan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang menunjuk ke langit seakan tengah bersumpah.
Semua keheranan mereka diubah menjadi satu kata, “baiklah.”
Langkah Yue Liang Zhi mendekati kelompok Xiu Jieru, kedua tangannya terkepang indah di belakang punggung, “tunggu apa lagi? Kau akan memimpin jalan, kan.”
“Ah, ikuti kami.” Xiu Jireu mengerjapkan kedua matanya, dia lantas merutuki kebingungannya beberapa saat yang lalu.
Tiga anggota kelompok Yue Liang Zhi dan kelompok Tao Jianying merasa heran akan sikap Yue Liang Zhi, mereka bingung bagaimana bisa merah kecil menemukan kawan lain tanpa sepengetahuan mereka. Sepertinya akan ada kehebohan lain setelah ini.