The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter LIX]



Yue Liang Zhi menyerap energi langit dan bumi, qi mengalir memasuki ketiga dantiannya. Kaki kiri bergerak ke depan lalu memutar ke belakang, tangan kanan memegang pedang dengan ayunan ringan, dia melakukan gerakan berputar seperti gangsing, itu terlihat seperti tarian. Tubuhnya melompat ringan seperti tertiup angin, “seratus ribu yuan: tarian pedang angin.”


Hanmo, Yu Pei dan Fen Li belum sempat bersiap-siap menghalau serangan. Ketiganya terlalu sibuk mengamati gerakan indah seperti peri kecil yang tengah menari. Angin besar menyapu dengan cepat dan akurat, Yun Pei, Fen Li dan sekitar ratusan prajurit Kekaisaran Huo terpental mundur. Hanmo memandang linglung kedua rekannya, mendekat untuk melihat kondisi Yun Pei dan Fen Li.


Oh, mereka sedang berada di persimpangan antara surga dan neraka.


Hanya satu jurus bisa membuat ratusan orang kehilangan nyawa? Itu adalah... Bayi yang langka!


Seratus ribu yuan: tarian pedang angin sangat menguras qi pengguna, terlebih untuk tingkat kultivasi Yue Liang Zhi saat ini. Jika memiliki tingkat golden core itu tidak masalah, bahkan menggunakan jurus ini berkali-kali tidak akan mengakibatkan efek samping. Rasa asin sekaligus manis mengelora di tenggorokannya, tubuh kecil perlahan terkulai lemas dan berakhir berlutut dengan pedang Long Huo sebagai penopang, dantiannya kini terasa kering. Dadanya terasa sesak, darah menyembur keluar membasahi zhaosan hitam, punggung yang biasanya tegak kini sedikit membungkuk. Sekalipun berada di ambang kekalahan, dia tetap berusaha untuk tidak menampakkan kelemahannya yang bisa mendorong keputusasaan orang-orang Kekaisaran Yin.


Pandangan Yue Liang Zhi mengitari daerah peperanagan, pertahanan prajurit Kekaisaran Yin mulai runtuh karena prajurit Kekaisaran Huo mendorong tameng dengan batang kayu. Pangeran Yun Fengyin mengalami luka ringan, Bai Yun dan Lei Hu memiliki luka eksternal yang lumayan parah.


Qiao Qiao melompat histeris, [Liang Zhi, gawat! Terdeteksi beberapa kultivator tingkat golden core, tubuhmu akan rusak jika terlalu dipaksakan.]


Yue Liang Zhi masih mampu bila harus menghadapi Hanmo, tapi sekarang kondisi sedikit berbeda. Penglihatannya mulai sedikit mengabur, 'roh naga apanya! Saat terdesak seperti ini masih berdiam diri,' dia merasa krisis.


“hahahaha... Kekaisaran Yin akan musnah,” Hanmo sudah memilki ukuran tubuh yang besar, kini bahkan bertambah besar setelah memakan sesuatu, “kau harus mati!!”


Mata cantik di celah topeng mulai terpejam, gengaman tangan pada pedang Long Huo semakin mengerat. Yue Liang Zhi benci menjadi lemah, dia ingin melindungi semua orang yang ada di sekitarnya, melindungi apa yang menurutnya benar. Dia tidak akan munafik, benar atau salah memang akan tergantung dari sudut mana dia akan melihat, tapi selama orang itu memiliki hati nurani, bertarung dan membela sampai matipun dia tidak akan menyesal.


Gejolak penekanan menyeruak dari arah Yue Liang Zhi, anak itu tidak sadar bahwa dirinya sedang melepas segel secara paksa, netra hitam sedalam samudra memiliki kilasan kuning.


Sebelum kesadaran Yue Liang Zhi hilang, dari arah istana Kekaisaran Yin terdengar raungan menggelegar. Tanah bergetar seakan takut dengan sosok tersebut, udara terasa kian menipis tersedot bagaikan pusaran. Roh naga telah terbangun!


Sosok besar bangkit meraung ke langit, api biru berkobar membakar tubuh sang naga, cakar panjang bagaikan mata pedang. Aura penindasan menekan mental setiap orang, prajurit Kesaisaran Huo mulai mundur dengan tubuh yang bergetar. Naga biru memberikan tatapan galak, dia mendengus dingin melihat mahluk rendah dari Kekaisaran Huo.


Pandangan mata tajam sang naga jatuh pada tubuh Yue Liang Zhi, dia memiliki keterkejutan saat melihat pedang Long Huo, 'apakah itu tuan baruku?' Pikiran naga biru berkelana saat mengingat anak di depannya, pantas saja saat pertama kali bertemu, dia merasakan energi yang familiar dari tubuh anak itu.


Tubuh Yue Liang Zhi kembali tenang, matanya sedikit terangkat ringan ketika menerima transmisi suara, 'siapa?' Dia melirik heran pemilik mata kuning yang tengah berkedip dan memandang intens, dia bertanya-tanya apakah kepalanya telah terbentur saat pertarungan tadi?


Naga biru terbang mendekati Yue Liang Zhi, 'tuan, aku adalah roh pedangmu...'


“...” Yue Liang Zhi diam membisu.


'Rohku telah lama berpisah dari pedang, aku tidak tahu bahwa pedang naga telah memilih pemilik baru,' suara sang naga menggema di pikiran Yue Liang Zhi.


'Sejak kapan aku memiliki roh pedang?'


'Oh tuan, hati roh ini sakit jika tidak diakui...,' tubuh naga biru kian menjadi transparan.


Antara sadar dan tidak, Yue Liang Zhi merasakan bahwa dirinya telah menerobos. Aura pedang kini telah bertambah kuat, pedang Long Huo menjadi seberkas cahaya biru dan menembus dada Yue Liang Zhi. Tubuh rapuh anak itu terhuyung ke depan, telinganya mendengar suara trompet dan derap langkah kaki pasukan Kekaisaran yang kian menjauh, “kami menang...,” lirihnya sambil melirik cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur, sepasang mata cantik akhirnya terpejam sempurna.


...****************...


“Dewa perang, kau dimana?” Di Qianfan berdiri tegak dengan tangan kiri yang berada di belakang punggung.


Batu yang seharusnya menyala biru kini masih redup, Di Qianfan menatap linglung seakan-akan ada seseorang yang tengah berdiri didepannya. Kilasan-kilasan kian berputar di memorinya, helaan napas keluar saat dia membalikan badan, “terus pantau batu kehidupan Dewa perang, jika ada tanda-tanda kehidupan, kau harus segera melacaknya tanpa aku perintahkan!”


“Baik...,” jawab Dewa penjaga batu kehidupan Dewa perang.


Di Qianfan menghentikan langkah kakinya, dia berbalik menatap batu kehidupan untuk yang kesekian kali, “dikehidupan ini, kau harus kembali menjadi Dewa perangku.”


...****************...


“Queen... Kami telah mendapat informasi dari mata-mata, mafia rose black sore nanti akan menyelundupkan senjata,” ucap seorang perempuan penuh rasa hormat.


Sang pemimpin tengah duduk di singgasana, kaki kanan disilangkan dengan kepala tertunduk, wajahnya perlahan terangkat menunjukkan wajah dingin dan sorot mata bengis. “Rupanya mereka ingin mengacau di daerah kekuasaanku,” senyum miring dari bibir sexy dapat menghipnotis siapapun, dia menjentikan ibu jari dengan jari tengah. “Hua Mian, kau pergilah pimpin beberapa anak buah untuk menggagalkan transaksi.”


Hua Mian membungkuk hormat, “baik bos.”


Arista mengangguk ringan, dia menyandarkan kepala dengan malas tanpa mau diganggu.


Pemandangan markas yang sunyi kini beralih pada hamparan luas, bunyi senapan bersahut-sahutan, kedua lawan saling membombardir dengan peluru panas.


“Kopral Ling, tembak arah jam empat!” Titah Arista lewat walkie talkie.


“Siap laksanakan,” seorang Kopral bersembunyi di balik celah reruntuhan segera mengangkat senjata, wajah putih bersih tertempel dengan beberapa noda hitam, “kami akan segera memasuki zona merah, apakah Jenderal memiliki titik tempat sandera disembunyikan?”


Kegiatan-kegiatan terus berganti seperti film singkat, itu semua seperti telah terekam jelas pada memori seseorang, pergantian tempat secara mendadak memberikan efek kepala terasa seperti diputar-putar.


Tubuh Yue Liang Zhi terbangun dengan keringat bercucuran, netra hitam menelusuri ruangan disertai napas yang tersenggal, kelopak mata cantik sedikit terpejam untuk mengurangi rasa pusing. Kaki ramping menuruni ranjang, tangan kiri sedikit memijat pelipis, tubuhnya terhuyung-huyung saat dia membuka pintu kamar mandi.


Hanfu hitam perlahan jatuh ke bawah, kulit putih dan kenyal Yue Liang Zhi memantulkan cahaya. Kakinya melangkah ke depan cermin perunggu, tubuhnya berbalik dengan punggung menghadap cermin, kini rajah kepala naga terlihat semakin jelas. Yue Liang Zhi mengadahkan kepala tanpa ekspresi, beberapa menit kemudian, sorot matanya menjadi lebih tegas dari sebelumnya.


Sosok kecil memasuki bak mandi, punggung bersender dengan tangan direntangkan. Uap hangat mengepul sedikit membuyarkan siluet kecantikan langka, bau kelopak bunga mawar tercium harum merelaksasi pikiran yang tegang.