
The Queen Of The Dark: Rebirith Of The God Of War
(Ratu Kegelapan BOOK I: Kelahiran Kembali Dewa Perang)
...(Arista Efret/ Yue Liang Zhi)...
.
.
Matahari menyinari ruangan dengan bumbu hembusan angin yang menerbangkan tirai, seorang gadis terbangun dari tidurnya, Arista Efret itulah namanya. Gadis bermata besar, bulu mata yang lentik, bibir tipis berwarna cherry, kulit bersih dan putih seperti giok. Kecantikan surgawi tanpa polesan membuat siapapun tak akan mengelak akan paras rupawannya, “eeemmm...,” lenguhnya sambil meregangkan tubuh.
Matanya melirik jam yang menunjukkan pukul 07:30, menghela napas pelan dan matanya kian membulat tatangkala sebuah suara bergema di pikirannya.
Ding...
[Misi penting, selamatkan tuan muda kedua keluarga Baili dari niat buruk nona kedua,] suara sistem kecil yang berwujud roh dan terbuat dari asap. Sosok itu bersuara khas anak kecil, nada tingginya melengking bagaikan suara radio yang tengah kehilangan sinyal.
“Apa yang akan dilakukan Elisa...,” grutu Arista sambil membuka rekahan jarinya untuk mengapit dan menjambak surai hitam panjangnya, “ah... Wanita iblis itu!” Timpalnya dengan emosi.
Cat kamar berwarna putih dengan perpaduan warna emas menambah kesan indah dan elegant. Sedetik kemudian, suara lengkingan kembali terdengar, [Rista aku rasa adik tirimu sedang patah hati, kau tahu? Kemarin lusa, Elisa baru saja ditolak oleh tuan muda kedua dari keluarga Baili,] roh sistem terkekeh geli.
Elisa Efret adalah adik tiri Arista, Elisa dan ibunya yang bernama Imelda dibawa oleh ayahnya ketika ibu kandungnya baru saja meniggal saat dia berusia delapan tahun.
Sepasang ibu dan anak itu akan selalu menampilkan wajah lemah lembut tanpa daya, berperilaku sopan sembari menebarkan kata-kata manis. Namun, mereka akan dengan mudah membalik wajah dengan keburukan dan keburukan.
Ayahnya baru saja meninggal pada dua bulan yang lalu dan sekarang, Elisa ingin membuat keributan dengan mencelakai Baili Jingxian! Apakah otak adik busuknya telah kemasukan air?
Atau adik busuknya itu memiliki syaraf putus dibeberapa titik?
Semua harta warisan keluarga Efret dikelola oleh mama Imelda, yang nanti diusia Arista yang kedua puluh tahun baru akan dikembalikan hak kepemilikannya. Mereka selalu menekan fisik dan psikisnya, tidak menyekolahkannya sekaligus tidak memberikan kecukupan finansial. Semua orang menganggapnya miskin, namun dibalik itu dia sebenarnya memiliki kekayaan yang melimpah.
Bagaimana tidak kaya? Dia adalah Queen mafia yang ditakuti dengan julukan Queen of the dark. Tapi, semua kekayaannya tak membuatnya merasa puas dan bangga lantaran rasa bersalah telah memenuhi relung hatinya, dia bersalah akan kelupuhan yang menimpa adiknya.
Lux Efret itulah namanya, dia menjadi cacat karena menolong Arista dari niat jahat adik dan mamah tirinya. Jika bukan karena Lux, mungkin sudah lama gadis itu mengabisi kedua wanita ular yang berwujud manusia.
Arista melempar selimut kesembarang arah, mengambil kunci bergegas menuju tempat tuan muda Baili Jingxian dengan menggunakan motor besarnya.
“Baili Jingxian...,” panggilnya pada pria tampan yang ada di hadapannya. Tubuh tinggi, tegap dan dada bidang menambah kesan maco, sorot mata yang tajam, alis tegas dibumbui dengan bibir sexy membuat pria itu selalu dieluheluhkan oleh para wanita, terkecuali gadis yang tengah berada di hadapannya.
Jingxian hanya menatapnya sekilas, lanjut berjalan tanpa menghiraukan panggilan dari gadis asing.
“Jingxian!” Teriak Arista sambil menarik tangan lelaki yang ada di depannya, dia melirik mobil putih yang terparkir di depan dengan plat nomor yang sangat dia kenali.
Adik gila, busuk dan tak tahu malu sangat berniat membunuh seseorang. Sebagai seorang kakak tiri, sudah sewajarnya dia menyelamatkan orang yang akan menjadi korban tabrak lari ini.
Ketampanan angkuh berhenti dan kemudian berbalik badan, “nona... Apakah aku mengenalmu?” Ketus Jingxian sambil melepaskan cekalan di pergelangan tangannya.
Ekspresi gusar memenuhi fitur halus Arista, “kau jelas mengenalku, lihat bayiku saja mengenalmu,” dia kemudian menunjuk perutnya yang rata. Gadis itu terlihat cantik nan imut, dengan tinggi minimalis, tubuh kurus dan beberapa daging yang menempel di tempat yang seharusnya.
[Astaga Rista... Pikiranmu kenapa bisa absurd sekali?] Roh sistem segera menepuk jidat merasa tak percaya, berada dalam pesimpangan akan menangis atau tertawa.
Jingxian tidak bisa membantu menghadapi kegilaan ini, tampak sangat jelas sudut mulutnya berkedut ringan. Ini adalah pertemuan yang pertama, tapi gadis itu berani mengaku tengah mengandung benih darinya. Sepasang alis hitam mulai bergelombang, ia berani bersumpah dengan jaminan ketampanannya bahwa dia tidak pernah menembak di dalam. Ck, sepertinya gadis itu perlu melakukan pemeriksaan.
Ekor mata Jingxian melirik sekitar, dia hanya mampu bernegosiasi pada gadis gila sekalipun hal itu tidaklah benar. “Baiklah, kau ikut denganku...,” dia menarik tangan Arista sambil membawanya ke ruangan VIP yang tampak luas serta memiliki perabotan berkisaran ratusan juta.
“Duduk dan siapa namamu?” Lirik Jingxian.
Gadis kecil perlahan duduk membelakangi jendela besar, sinar matahari menambah keanggunan pada sosok rampingnya, “Xing'er...,” jawabnya asal.
Nada suara itu terdengar ringan, mata Jingxian terkontaminasi siluet dan ekspresinya yang acuh.
“Baik Xing'er, aku tak pernah mengenalmu apalagi tidur denganmu. Atau kau sedang mengada-ada agar mendapat pengakuan dariku?” Jingxian mengeluarkan gaya sombongnya sembari menyilangkan kedua kakinya, suara berat dan mata tegasnya melirik Arista dengan penuh selidik.
“Aku tahu aku tampan, tapi bisakah kau tidak menggunakan cara kotor untuk mendapatkanku?”
“Ayolah, jujur saja. Tidak perlu malu.”
Telinga Arista sedikit memanas mendengar nada kicauan yang membuatnya merasa berada di tempat penangkaran hewan, “tidak! Ini benar-benar anakmu,” timpalnya sambil berdiri dari tempatnya.
Jingxian diam dan menjawab dengan menaikkan alis kirinya.
“Ini tentu anakmu, Kenapa kau tidak percaya?” Arista semakin sedih hingga manik-manik air mata mulai berjatuhan mengores wajah cantiknya, “aduh, sakit... Perutku sangat sakit...”
Melihat gadis kecil di hadapannya kesakitan, runtuh sudah wajah dingin yang sedari tadi Baili Jingxian tampilkan, “kau... Kau kenapa?” Panik Jingxian, kedua tangannya terlentang untuk bersiap bila tubuh kecil itu limbung ke samping.
“Apa matamu buta? Jelas-jelas perutku sakit! Cepat ambilkan air minum,” ucap Arista sambil berteriak kesakitan.
Nada Arista terlalu galak hingga membuat Jingxian tersentak, dia dengan cepat beralih ke sudut ruangan untuk mencari air minum. Wajahnya panik sembari memutari ruangan karena tidak menemukan air, pikirannya kacau akan rintihan kesakitan yang menggema di ruangan.
“Aaagghhhh... Cepatlah!!!”
Entah pikiran konyol darimana, Jingxian berlari menuju toilet, mengambil gayung dan mengisi hingga penuh. Air memercik asal membasahi ujung pakaiannya, hanya ada kepanikan dan mata polos sedikit berair menahan berbagai emosi yang tengah bergejolak.
Oh, air mentah adalah jalan satu-satunya. Semua kata air mentah menggema berulang kali di otak Jingxian. Begitu membalikkan tubuh, dia mendapati pintu telah tertutup. Tangannya terulur hendak memutar knop pintu, detik berikutnya dia segera merasakan sesuatu yang janggal, “kenapa dengan pintu ini?”
Dia menggedor pintu dengan panik, “Xing'er!!! Kau tengah mengerjaiku? Ayolah, buka pintu ini...”
Sementara itu, di luar ruangan. Arista menepukkan tangan setelah mengunci pintu toilet dari luar, dia dengan santai membuang kunci ke tempat sampah dan mematahkan kartu VIP. Kemungkinan terburuk Jingxian adalah terkunci hingga beberapa hari, adapun hasil lainnya pasti akan menjadi lelucon karena seorang tuan muda kesulitan keluar dari ruangan akibat kartu VIPnya telah hilang. Arista keluar melalui pintu depan disertai decakan kagum yang terdengar jelas di mana-mana, gadis cantik itu berjalan dengan malasnya tanpa menghiraukan sekitar.
[Oh... Jadi kau sengaja meminta air...,] Roh sistem bersimpati, dia memiliki dorongan yang mengebu-gebu untuk menyalakan lilin dan mengenang kebodohan Baili Jingxian.
“Hahahahahaha... Aku tidak tau jika mengerjai tuan muda ke dua Baili akan seseru ini,” jawab Arista sambil menyeringai kejam, saat ini, sudah tidak terlihat mobil putih yang tadi mengawasi Jingxian dari kejauhan.
Dengan santai, roh sistem meretas camera CCTV yang ada disekitar tempat kejadian kekonyolan itu berlangsung. Di tengah gang sempit, Arista menghilang dari pandangan seorang pria berjas hitam yang kontras dengan warna kulitnya yang putih.
Beberapa jam kemudian.
Di Baili manor, terlihat pria tampan yang mengerutu sambil menghentak hentakan kakinya, di belakangnya, terlihat seorang pria yang tadi mengawasi Arista dari kejauhan.
Brakk...
Bunyi pintu yang dibuka dengan keras oleh Jingxian, dengan tampang tak berdosa dan terlihat kesal, dia mendaratkan bokongnya di depan seorang pria yang tengah membolak-balik dokumen. “Kenapa?” Tanya pria berwajah datar, namun ketampanannya mampu melebihi Baili Jingxian.
“Kak Jiangxuan... Kau tau? Aku baru saja dikunci di toilet dan kesusahan keluar dari ruang VIP, ini semua karena seorang gadis kecil yang telah membohongiku!!” Adu Jingxian tanpa henti.
Jiangxuan hanya ber oh ria sembari menangapi dengan melirik asistennya untuk meminta penjelasan, Xiao Chen menceritakan apa yang terjadi dengan tuan muda kedua Baili secara rinci, tegas dan detail, tanpa ada kata yang dikurangi dan dilebihkan.
“Kau bodoh...,” ejek Jiangxuan.
Seketika Jingxian memiliki keluhan panjang di dalam hati, dia merasa kakaknya bukanlah kakak kandungnya.
“Tuan, saya juga melihat mobil putih milik nona kedua Efret, mobil itu tengah mengawasi tuan muda Jingxian dari kejauhan. Sebenarnya, mobil miliknya sempat melaju menuju tuan muda, namun saat kedatangan gadis kecil, tiba-tiba mobil itu berhenti dan pergi setelah tuan muda Jingxian masuk ke ruang VIP...,” jelas Xiao Cen, ketika Xiao Cen membicarakan nona kedua Efret, siapa saja dapat melihat kilasan jijik Jingxian yang tercetak jelas di wajah tampannya.
“Jadi Xing'er berusaha menolong ku? Ah... Lain kali, saat aku bertemu dengannya, aku harus marah atau berterimakasih?” Tanyanya namun tak ada yang menangapi, dengan pasrah sekaligus merasa terbuang oleh ekspresi acuh kakaknya, Jingxian akhirnya memilih keluar dari ruangan.
“Apa lagi yang ingin kau laporkan?” Jiangxuan melirik asistennya, Xiao Cen yang ditanya, segera menjawab dengan tampang serius.
“Dia menghilang dari udara kosong... Dan camera CCTV tidak merekam kejadian tuan muda dan nona itu, padahal banyak camera yang menghadap kearah tempat kejadian.”
'Siapa Xing'er itu...,' pikiran Jiangxuan mengambang dengan tangan yang tengah mengusap dagu.
.
.
Catatan penulis:
Hai, selamat datang dinovel pertama saya. Jangan lupa like, vote, komen dan berikan rating bintang 5 untuk mendukung penulis.
Chapter 1-9 berisi Arista yang berada di zaman moderen, itu sengaja dibuat panjang untuk mempermudah alur di BOOK III.