
Dengan jeda singkat sebelum guntur tiba, Arista tersenyum miring dengan tangan yang bersandar pada setir mobil.
“Mahkotanya dirusak pertama kali oleh LUO FENG,” dia berucap dengan menekan nama Luo Feng.
“Bangsat!!!!” Umpat Leon sambil memukul pintu mobil, kaca mobil bahkan sedikit bergetar ringan.
“Kenapa marah? Dendam? Aku heran, bisa saja dalang di balik semua ini adalah Luo Feng. Dan... Kau hanya sebuah pion untuk mempermainkan para boneka, apa yang sebenarnya diinginkan pria bajingan itu dariku? Bukankah kau tau Luo Feng memiliki tato tengkorak?”
“Ya... Dia punya tato, tepat di pergelangan tangan kanan.”
Leon menormalkan napasnya, kulit kepalanya mati rasa lantaran baru menerima informasi singkat namun berbotot.
“Dia memasukkan Imelda dan Elisa dalam keluarga Efret, menyuruh Imelda agar memerintah seseorang untuk menukar anakmu, merebut mahkota Elisa, mengancammu dengan menyanandra Leona dan menyuruhmu membunuhku.” Arista mengusap dagu sambil mendongakkan kepala, “semua yang dia lakukan hanya untuk menghancurkanku...”
Setelah mendengarkan pemikiran Arista, seketika jiwa Leon seperti tengah meninggalkan raganya, 'kau harus mati Luo Fennnggg!!!'
“Berkerja sama denganku...,” tegas Arista, “dan turuti semua perintahku tanpa membantah!” Titah Arista semakin tegas.
Mata Leon terbakar akan dendam, “Jendral aku siap menerima tugas darimu,” dia memandang Arista dengan serius.
...****************...
Beberapa bulan kemudian...
Sebuah rumah kosong di tengah hutan, terdapat beberapa anak buah yang tengah berkumpul, mereka adalah anak buah Leon. Hari ini, Arista dan Leon akan menjalankan rencana pertama mereka dengan melibatkan beberapa anak buah Leon, bahkan orang-orang yang akan terlibat, sepertinya belum mengetahui bahwa bos mereka sudah bekerja sama dengan Arista.
Leon yang tengah memerintah anak buahnya seketika terdiam tatangkala sebuah mobil merah berhenti tepat di depannya, beberapa saat kemudian, keluarlah sosok gadis ramping. Dia memakai celana hitam panjang, jaket hitam, sepatu hitam dan rambut yang dikuncir kuda, “bosss di—”
“Dia bos besar baru kalian...,” jelas Leon sambil menundukkan kepala, para bawahan yang melihat hal itu ingin segera protes.
Apa-apaan ini? Musuh menjadi teman, apa dunia sudah terbalik?
Namun, mereka segera terdiam saat Leon mengungkapkan kalimat yang membuat mereka tercengang, beberapa orang bahkan tidak bergerak segikitpun dari tempatnya. Itu seakan nyawa ditarik sara paksa dan dibakar dengan api yang abadi, sangat membingungkan hingga mendorong teriakan dan keluhan tanda tidak terima.
Suasana tegang itu mencair saat Arista membuka suara, “aku adalah bos besar kalian yang baru! Jika kalian tidak setuju, ungkapkan sekarang, maka malaikat maut akan segera menjemputmu!” Tegasnya sambil membuka pisau lipat.
“...” terlihat hanya gelengan kepala yang serempak dari para anak buah Leon, “kk.. Kami setuju...,” sambung pria berbaju putih.
Tidak setuju? Itu cari mati!
Sepak terjang gadis itu sangat mendominasi, membuat orang ngeri. Setiap kali namanya menggema, mereka akan menunduk ketakutan. Dia momok megerikan yang akan menindas semua orang, hanya orang gila yang berani menyinggung garis batas gadis itu.
Ya, tepatnya Leon dan seluruh anak buahnya sangatlah gila. Mereka berani memusuhi dan menyinggung gadis itu karena desakan Luo Feng.
Ruangan kosong yang penuh dengan debu, lampu remang-remang menambah kesan misterius, Arista berdiri di tengah ruangan dengan segerombolan pria berbadan besar, mereka kini tengah mengroyoknya.
Pukulan berat dan tendangan kuat memberikan rasa krisis singkat.
“Bangsat!!! Kalian hanya berani kroyokan!!!” Umpat Arista, dia segera menendang perut pria berbaju biru, sedangkan tangan kirinya menyikut pria berbaju kuning. Dengan kasar, pria berbaju hitam dan hijau menendang perut Arista, gadis itu seketika terpental ke belakang.
Tidak lama setalahnya, Arista akhirnya berpura-pura pingsan ditempat, segera pria berbadan besar dengan baju hitam mengikat kedua tangannya dengan tambang, tamparan keras mengenai wajah cantik Arista.
Ekspresi semua orang berubah pias, pasalnya dalam kesepakatan seharusnya tidak ada adegan penamparan.
“STOP!!!!” Teriak Arista mulai emosi dengan pria berbaju hitam, sementara yang mendapat triakan nyaring hanya merespon dengan tawa merendahkan, dia memasang tampang tak bersalah dan melangkahkan kakinya untuk mundur.
“Diam ditempat!” Perintah Arista, dengan cepat melepas ikatan tambang yang melilit tubuhnya, adegan ini sukses membat semua yang ada di dalam ruangan itu tercengang.
Pria berbaju hitam mulai merasa takut dan merutuki tenaga kuatnya dalam membuat simpul tali, apalagi dia barusan telah mendaratkan tamparan. Dia mencari kata-kata meyakinkan dan segera berucap, “bos... Ini akan menambah keseriusan bila ada tamparan kecil.”
“Keseriusan? Jika aku membunuhmu akan menjadikan adegan culik menculik ini menjadi lebih serius. Bahkan sangat serius,” suara Arista tenang namun penuh tekanan.
“Ada apa Jendral?” Leon yang sedari tadi bersembunyi di sudut ruangan mulai mendekat ke arah Arista, dia mematikan rekaman dari handphone.
“Ada penghianat dalam anak buahmu...,” ucap Arista sambil menghapus noda darah di sudut bibir sebelah kanan, rona merah membentuk lima jari tertera jelas mengotori kecantikannya.
[Arista, aku baru saja meretas handphone miliknya, pria itu akan segera melapor pada Luo Feng,] teriak roh sistem di dalam dunia lotus.
Secara reflek, gadis itu segera melempar pisau ke arah tangan pria yang berusaha menekan napas keberadaannya.
Tangan pria itu tengah berada di saku celana sembari mengetik tombol panggilan. “Aaaggghhhhhhhhhhhhh...,” dia melolong sedih dan kesakitan merasa tangan, handphone dan pahanya telah terhubung di bawah tancapan pisau.
Dengan tanpa perasaan Arista menarik pisau dan langsung menyobek saku celana, tangan putih dan ramping itu bergerak cepat menangkap hp yang akan segera jatuh ke lantai, jari lentiknya bergerak cekatan meretas.
Tanpa membuang waktu, dia langsung mendapatkan bukti-bukti yang kuat. Dengan kasar, dilempar bemda pipih itu ke arah Leon. Seringai kejam muncul di bibirnya, tangan kanan yang tengah mengenggam pisau lipat ditambah paras cantiknya dapat membuat siapapun terhipnotis.
“Maaa... Maafkan aku... Akk... Aku tidak bermaksud... Akhhhhhhhh...,” perkataan pria itu terpotong saat Arista merobek kulit lengannya menggunakan pisau.
Semua penonton menahan napas: “...”
Dengan sigap Arista menendang lututnya dari belakang.
Pria itu berlutut di lantai, tampak mengenaskan dan tertindas. Seperti seorang anak yang bermain-main tanpa kenal waktu dan pantatnya dipukul paksa oleh ibu galak, diajak pulang dan sesampainya di rumah masih mendapat sindiran tajam serta omelan pedas.
Arista menarik paksa rambut pria itu hingga kepalanya mendongak.
Tidak sampai di situ, Arista langsung saja menempelkan pisau dengan jarak dua cm dari leher pria berbaju hitam, “siapa namamu?” Dia semakin mendekatkan pisau ke leher pria itu hingga mengeluarkan sedikit darah.
Merasa benda dingin menggores kulit lehernya, dia hanya mampu berkata jujur, “Rey.”
“Rey... Ingat, catat dan hafalkan namaku. Aku Arista Efret tidak suka dengan penghianat, aku pastikan nasib penghianat siapapun berujung dengan mati menderita...,” Arista melepaskan Rey tatangkala suara roh sistem bergema di pikirannya.
[Dia sudah membunuh pasangan ibu dan anak, merusak masa depan anak yang berusia sembilan tahun, membunuh satu keluarga di kota C dan masih banyak lagi. Bisa disimpulkan... Dia telah banyak mebunuh orang yang tidak bersalah.]
Mendengar analisis data dari roh sistem, Arista tanpa pikir panjang langsung merobek perut Rey. Terlihat organ dalam yang masih utuh dan terdengar teriakan Rey yang meminta tolong.
Namun, mereka yang ada di dalam ruangan itu hanya memandang ngeri adegan tanpa minat untuk membantu.
Arista menarik usus keluar dari tubuh Rey dan langsung dipotong, darah bercucuran keluar dengan deras, lantai yang semula berwarna putih, kini berubah menjadi warna merah.
Darah tidak hanya mengotori lantai, tapi seluruh tubuh si pelaku penyiksaan juga sudah ternoda darah.
“Aaagggg... Tolong... Tolong hentikan, aku mohon... TOLONGGG!!!”
“Ingin aku untuk berhenti ha? Kau melakukan mutilasi dan pembunuhan di luar sana sebelumnya... Apa kau mendengarkan permohonan para korbanmu? Apa kau berbelas kasihan? Tidak! Kau tetap membunuh mereka!” Teriak Arista geram, suara tinggi nan jernihnya memasuki telinga semua orang.
“...” Rey hanya mengelengkan kepala dan memberikan tatapan memohon.
“Saat kau merusak masa depan seorang anak di bawah umur dan mendengar dia memohon ampun, apakah kau membiarkan dia lolos? Tidak! Kau bahkan menikmati tubuhnya hingga ajal menjemputnya, bahkan anak itu mati dengan mata yang melotot,” Arista berkata sambil mengeleng, dia kian mendekat ke arah Rey. Dia mengangkat pisau hingga akhirnya pisau itu mendarat tepat di alat kelamin pria itu. “Dan saat kau menjual organ manusia, apa kau merasa kasihan?” Arista menarik pisau itu lalu menancapkannya kembali pada ke dua bola mata rey.
Hati semua orang merasa dingin.
Terdengar teriakan-teriakan minta tolong dan permintaan maaf dari mulut Rey.
Kesunyian, itulah keadaan setelah Rey menghembuskan nafasnya untuk terakhir kali.
Arista mendengus dan membuang pisau kesembarang arah, “apa yang kau tanam itulah yang kau tuai.”
Leon dan anak buahnya menelan saliva kasar, mereka hanya mampu menebak-nebak cara berpikir Arista. Kejam tapi berperasaan, berdarah dingin tapi penuh kasih dan tampa ampun tapi masih bisa mengampuni. Pada akhirnya, mereka menemui pikiran buntu.
“Pelajaran ini berlaku untuk kalian semua, jika ada salah satu dari kalian menghianatiku, bersiaplah untuk penyiksaan dunia dan perhitungan atas dosa-dosa yang telah kalian lakukan!!!” Terdengar helaan napas dari mulut Arista, “kenapa seseorang hanya menyesal saat kesalahan sudah terjadi? Apa mereka sebelumnya tidak berpikir akibat dari perbuatannya, apa mereka tidak menimbang-nimbang sembelum melakukan suatu?” Arista memandang Leon yang tengah tertunduk.
“Maaf...,” ucap Leon memandang Arista.
“...” Arista hanya tersenyum, walau darah menempel di tubuhnya, dia tetap terlihat cantik. Mata jernihnya dapat memantulkan cahaya yang redup di ruangan itu, “terkadang pelajaran terbaik adalah ketika seseorang merasakan hal yang dirasakan oleh orang lain secara langsung...”
Arista tersenyum dengan sangat manis, seketika semua orang berpikir serempak bahwa, 'aku tidak menyesal memiliki bos baru sepertinya.'
“Tunggu apa lagi? Kirimkan video tadi ke Luo Feng...,” perintah Arista dan setelah itu tiba-tiba menghilang dari udara kosong.