
Pletakk...
Terdengar poci yang terkena lemparan batu kecil, seketika poci itupun memiliki lubang kecil dan retakan yang berbentuk petir halus, detik berikutnya poci tersebut pecah. Teh panas mengalir keluar hingga aroma harum teh bertambah menyebar, tetesan air memercik ke lantai.
Merasa tak cukup, cangkir teh mendadak terpental mengenai pakaian Raja Yun Yong.
“Apa-apaan ini?” Dia tersentak kaget, “berani sekali bermain-main denganku!!” Teriaknya mengelegar.
“Ssttttt~” rintih Pangeran Yelu Yun yang merasa bagian punggungnya ditimpuk benda kecil, perlahan dia menengokkan kepala dan mencari benda yang telah menimpuknya.
Pusat perhatiannya tertuju pada lonceng perak yang tergeletak di lantai, matanya berkilat panas setelah memprediksi si pelaku utama. Dia tersenyum penuh arti, lalu menendang lonceng itu keluar dari gazebo.
Di tempat lain sebelum kejadian itu terjadi...
Halaman kerajaan Yun timur kian bertambah ramai. Tangan rapuh anak kecil memegang sapu yang memiliki tinggi seperti orang dewasa. Bisa diperkirakan bukan? Yue Liang Zhi yang memegang sapu dengan tinggi sapu yang lebih tinggi dari tubuhnya, itu terlihat sangat lucu!
Yue Liang Zhi mengerucutkan bibir sambil mengembungkan pipi lemak susunya, dari luar memang dia terlihat tenang dan lucu. Namun, dari dalam dia sebernarnya sedang mengumpat keras.
Bagaimana tidak mengumpat!
Jiejie dan temannya sekarang sedang memasuki penangkaran buaya. Pelayan dari Istana Yun timur bahkan dapat dihamili oleh Raja Yun Yong sampai melahirkan anak haram, lalu bagaimana dengan nasib Bai Yun dan Lei Hu yang bersetatus pelayan Kerajaan tetangga?
Sialnya lagi, sedari tadi ada seorang perempuan yang selalu mengawasinya dari jauh.
Yue Liang Zhi menyumpahi Yenny dengan kutukan, lalu kembali memikirkan nasib Bai Yun dan Lei Hu. Hingga kepalanya terasa seperti berputar dengan isi: 'kenapa dia di tempatkan di sini?', 'kenapa Bai Yun dan Lei Hu belum tampak batang hidungnya?', 'semua pria penjahat kelamin,' dan hingga merasa dia akan segera mati penasaran.
Seorang pelayan dari Kerajaan Yun barat perlahan berjalan mendekat ke arah Yue Liang Zhi, pelayan itu memiliki tusuk rambut yang terbuat dari lonceng perak. “Adik, kenapa kau tidak menyapu halaman di sebelah sana?” Tanyanya sambil menunjuk sudut halaman yang lebih kotor dari tempat lainnya, “di sana sangat kotor, tanganku tidak mampu untuk membersihkan semuanya.”
Tidak hanya memerintah, pelayan lonceng perak itu bahkan berani menampilkan ekspresi lemah dan ekspresi tertekan.
Bah!! Jangan harap hati Yue Liang Zhi dapat melunak.
Mulut Yue Liang Zhi sedikit membuka, dia tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar pengakuan mendadak dari pihak lain. Deretan gigi putihnya membentuk senyum cerah, “bukankah kita sama-sama pelayan? Lalu kenapa kau penyuruhku? Tinggal kau sapu bagian itu dan aku sapu bagian ini, selesai bukan?” Dia berbalik tanya sambil meletakkan sapu yang dipegang ke tanah hingga beberapa daun sedikit terbang menghambur.
Pelayan di depan Yue Liang Zhi mengangkat tangan dan menunjuk tusuk rambut yang ada di kepalannya, “aku adalah pelayan dengan lonceng perak, tentu aku bisa menyuruhmu, karena setatusku lebih tinggi darimu.”
“Setatus? Setatusmu lebih tinggi dariku?” Yue Liang Zhi menunjuk dirinya sendiri sambil tertawa kecil, “memangnya kenapa? Kita sama-sama pelayan, kau juga bukan kepala pelayan, kau hanya pelayan dengan lonceng perak! Lihat tidak kepalaku? Aku belum memiliki tusuk tanghulu sepertimu, jadi kau belum berhak memerintahku dan jangan terlalu sombong, bisa saja nanti aku yang menjadi pelayan dengan lonceng perak!”
Tidak tahan, pelayan lonceng perak mengayunkan tangan menampar pipi Yue Liang Zhi.
Yue Liang Zhi dengan sigap menarik tangan perempuan, dia lantas memeringkan tubuhnya kesamping tatangkala perempuan yang dia tarik akan jatuh menimpa tubuhnya. Tangan Yue Liang Zhi menarik tusuk perak dan segera menyembunyikan di balik hanfu. Sadar akan mereka berdua telah menjadi pusat perhatian, Yue Liang Zhi berpura-pura memegangi pipinya, “kakak, apa salahku hingga kau menampar pipiku?” Dia berbalik menghadap kerumunan, matanya mengembun penuh rasa luka.
Keluhan dan kepolosannya menarik rasa simpati.
Palayan yang ada di belakangnya segera bangkit, memandang Yue Liang Zhi tajam dan mengeram marah. Tanggannya terulur untuk merobek hanfu biru yang di kenakan Yue Liang Zhi.
Robek sudah hanfu Yue Liang Zhi dibagian punggung, dia tidak tinggal diam saat melihat tangan perempuan itu mulai terulur kembali. Dia segera mengangkat kakinya untuk menendang, tangan kirinya menangkis perut lawan dan tangan kanannya menampar pipi dengan keras. Setelah perempuan di depannya mundur ke belakang, dia tetap maju dan memelintir tangan kirinya.
Pelayan itu terkejut merasakan dirinya tengah dipermainkan oleh seorang anak, terlebih tenaga anak kecil tersebut tidak sesuai dengan porsi tubuhnya yang kecil.
Surga tahu betapa senangnya dia saat ini.
“Ada apa ini!!” Teriak kepala pelayan sambil menghampiri kerumunan, “Jiao An? Ada apa dengan pakaianmu?” Dia mengernyit heran menatap penuh tanya.
“Kepala pelayan, lihat, anak perempuan ini merobek pakaianku dan menampar pipiku...,” pelayan lonceng perak mengadu sambil menunjuk Yue Liang Zhi. Sepasang matanya mengkerut tajam, dia mengharapkan pembelaan.
Semua pelayan Kerajaan Yun timur merasa simpati, wanita dan perempuan berumur ingin menggertak anak di bawah umur.
Yue Liang Zhi menununjukan ekspresi wajah yang lugu dan merasa tertuduh tanpa bukti.
“Kau berani merobek pakaian pelayan lain? Sangat berani!” Kepala pelayan Yenny hendak mengangkat cambuk.
Tangan Yue Liang Zhi mencegah cepat, “kau itu kepala pelayan dari kediaman anggrek putih di Kekaisaran, kau tidak berhak sewenang-wenang menghukum kami jika salah satu di antara kami beralah, karena kami adalah pelayan dari Kerajaan Yun barat! Pelayan Yun barat tidak termasuk domisili kediaman anggerk putih!!! Yang harusnya menghukumku adalah Raja Kangjian Yun dan Pangeran Yun Fengyin, bukan kamu!!” Yue Liang Zhi bersuara tegas, namun perlahan smirk terbit dari bibir mungilnya, “kau sangat ingin menghukumku bukan? Atau jangan-jangan, pelayan lonceng perak ini adalah salah satu pelayan kediaman anggrek yang kamu selundupkan?”
Ucapan anak itu sukses membuat kerumunan memandang aneh pada tubuh Yenny. Mereka sadar, bagaimana bisa pelayan bertindak melebihi Raja.
Kerumunan pelayan Yun barat berbisik pelan, namun kepala pelayan masih dapat mendengar suara tak enak didengar.
Kepala pelayan sudah pucat pasi, berusaha menyembunyikan kegugupannya, “aku, aku— ”
Jiao An reflek memotong sambil memasang ekspresi bersalah, dia menampilkan logat tubuh seseorang yang telah melakukan kesalahan. “Maafkan aku, ini semua hanya salah paham. Tadi aku tersandung dan hendak mencari pegangan, namun yang ada di sekitarku hanya saudara pelayan. Jadi aku meraih tubuhnya dan tidak sengaja menampar wajahnya.”
“Jatuh ya? Lalu bagaimana dengan hanfu milikku, mereka semua melihat kau merobeknya!!” Yue Liang Zhi mencibir, tidak ingin mempermudah Yenny dan Jiao An.
Hening hingga lima detik, “itu~”
“Sudah, tidak perlu membahasnya lagi. Kalian semua bubar! Kerjakan kembali tugas kalian masing-masing!!” Kepala pelayan mengalihkan perhatian.
Semakin mengelak, maka akan semakin mencurigakan.
Melihat kerumunan tidak bubar, Yenny segera menarik diri meninggakkan Yue Liang Zhi. Mau tidak mau, para pelayan segera mencibir dalam hati.
Yue Liang Zhi menggeleng lalu tersenyum, sepertinya dia telah menyodok titik sensitif dua ular beracun. Senyumnya kemudian menghilang, dia lantas memandangi sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang mengawasinya.
Setelah dirasa aman, Yue Liang Zhi segera menuju taman belakan Kerajaan Yun bagian timur. Saat baru saja sampai, dia mendapat suguhan pemandangan tangan Pangeran Yelu Yun yang tengah mengusap pipi Lei Hu, lalu terlihat tangan Lei Hu yang perlahan bergetar beserta poci teh. “Pangeran terkutuk! Jauhkan tanganmu dari Lei jiejie!” Geramnya sambil bersembunyi di semak-semak.
Tangan kanan Yue Liang Zhi perlahan melepas kucir pada rambutnya, sementara tangan kirinya mengambil ranting yang dia rasa cukup keras. Kedua tangan kecilnya dengan gesit membuat ketapel kecil, matanya semakin menajam saat Pangeran Yelu Yun hendak mencium pipi Lei Hu.
Pletakk...
Yue Liang Zhi melesatkan dua batu kecil, lalu melesatkan lonceng perak milik pelayan yang telah bersinggungan dengannya. Dia bergumam pelan penuh kepuasan.
Pangeran Yelu Yun tampak langsung membeku di tempat dan menolehkan kepala mecari-cari benda yang telah menimpuk punggungnya.
Dari balik semak-semak, Yue Liang Zhi mengikat kembali surai hitamnya. Tanpa menunggu lama, dia langsung meninggalkan lokasi, dia tidak ingin tertangkap basah karena sudah menganggu pasangan ayah dan anak itu.