
Pagi hari di musim dingin, rasa dingin menusuk tulang membuat siapapun malas beranjak dari tempat tidur. Langit masih tampak suram, kepingan salju perlahan turun bagaikan berlomba dengan kemalasan para murid, mungkin ini adalah salju terakhir yang turun di musim dingin.
Ruang makan tampak hening, semua orang terlihat seperti robot kehabisan batrai, bahkan beberapa dari mereka mencapit lauk dengan kondisi mata yang terkatup rapat. Murid dalam hari ini akan memasuki kelas seperti biasanya, sedangkan murid luar akan berlatih meningkatkan skil dan tingkat kuktivasi agar lolos ujian menjadi murid dalam.
Kemalasan sedikit berubah menjadi antusias tantangkala mereka melihat kelompok Yue Liang Zhi, siapapun tidak tuli akan berita panas yang terjadi baru-baru ini. Sangat sesuai rumor, kelompok tersebut memiliki momentum yang berbeda dari murid kebanyakan, itu seakan sekeras apapun berusaha merendah tapi akhirnya akan tetap menarik perhatian. Terlebih, aura tak terbantahkan milik sosok merah kecil dapat mengunci tubuh dan pandangan siapapun.
Di pintu masuk, tepatnya di belakang kelompok Yue Liang Zhi sudah ada senior Shu Ming dan senior Shan Shan yang datang bersama kelompok Tao Jianying.
“Saudara Yue,” Wei Shuwan menyapa dengan nada ceria seperti di hari biasa.
Langkah kaki Yue Liang Zhi berhenti, dia memiliki senyum kecil dan kemudian menjawab dengan satu kata, “ya?”
Semua murid terhipnotis, ini pertama kalinya mereka melihat ekspresi lain selain wajah datar dari sosok kecantikan merah. Dua kelompok elit telah bertemu, mata mereka berkelip bagai mata kelinci melihat sesuatu yang menarik.
Wei Jun melirik seluruh murid, “aya... Belum masuk kelas tapi sudah menjadi idola, saudara Yue memang benar-benar hebat,” ucapnya sambil mengacungkan jempol dari kedua tangan.
“Betul, saudara memang yang terbaik.”
Wei Jun sebagai kakak kandung merasa diduakan, “meimei pilih kasih! Tidak sampai seperempat jam yang lalu, meimei telah berkata kami adalah yang terbaik. Kami bahkan belum sampai minum atau bahkan buang angin, tapi sekarang berkata saudara Yue menjadi yang terbaik.”
Senior Shan Shan memasang wajah memelas, “junior Shuwan telah berpindah kelain hati.”
“Adikku diambil secara paksa,” imbuh Bai Yun melolong sedih. Dia dan Lei Hu tertawa, mengerjai anak kecil polos seperti Wei Shuwan ternyata lebih menyenankan.
Hati kecil Wei Shuwan terpojok, dia dengan cepat mengelak tuduhan yang jelas-jelas merupakan fakta, “itu salah! Kalian memang yang terbaik, tapi saudara Yue merupakan terbaik dari yang terbaik.” Dia mengelengkan kepala dan tangan dengan selaras, tubuhnya berpindah ke samping Wei Jun seperti anak bebek mencari induk, “gege bisa tenang, aku tidak akan menghilangkan gege dari hatiku. Aku sangat menyukai Yue Liang Zhi sebagai saudara, ingatanku masih bagus mengingat bahwa saudara kandungku itu bermaga Wei, gege bisa yakin tentang itu!”
“Pft...,” Wei Jun menutup mulut dengan tangan kanan, dia dan yang lain tidak mampu menahan tawa.
Setelah membuat Wei Shuwan panik, kedua kelompok duduk disatu meja. Yue Liang Zhi mengambil bakpao, tangan putihnya seakan menyatu dengan warna bakpao. Mulutnya disumpal sampai penuh, dia tampak seperti hamster dengan kantong pipinya yang menonjol.
Suara Wei Shuwan mengisi keheningan, dia terus mengoceh seperti burung gereja yang berisik.
Senior Shan Shan mengambil kubis, “aku mengucapkan selamat pada kalian, terutama pada Yun Fengyin dan Lei Hu.”
“Terimakasih...,” Pangeran Yun Fengyin berbicara singkat.
Wei Jun menjejalkan sayap ayam ke mulut adiknya, “kalian tahu? Junior Yun Fengyin dan junior Lei Hu akan menjadik adik seperguruan Liu Changhai, si nomor satu sekte Qinglong.”
Alih-alih merasa bangga, Lei Hu balik bertanya karena penasaran dengan kakak seperguruannya, “siapa?”
Kelompok Tao Jianying tersedak, dua senior melongo. Mereka lupa akan setatus murd baru dari kelompok Yue Liang Zhi, itu wajar jika tidak tahu siapa Liu Changhai.
Tao Jianying meletakkan sumpit yang dia pakai ke pinggir mangkuk nasi, “untuk identitas aslinya, kami tidak tahu, hanya para penatua dan Patriark saja yang tahu. Yang jelas, Liu Changhai menjadi salah satu alasan terjadinya tragedi perang sepuluh tahun yang lalu.”
Sepuluh tahun lalu, Kaisar Huo Linzi menginginkan seluruh sekte di bawah naungan wilayah Kekaisaran Huo untuk patuh dan berada dipihaknya. Tapi, hanya sekte Jianlong yang mau berpihak, sementara sekte Qinglong menentang Kaisar.
Begitu peperangan dari kedua kubu pecah, keadaan sekte Qinglong terpukul hingga sangat terjepit.
Saat detik-detik kekalahan, sekte Qinglong mendapat pertolongan seorang pria muda berusia sekitar 25 tahun. Patriark Wen Hua memanggil pria muda itu dengan sebutan guru, kekuatannya dapat memutar keadaan hingga pihak Kaisar mengalami kekalahan. Semua orang meyakini bahwa pria itu berasal dari dunia atas.
Untuk menekan kehancuran yang lebih merugikan, kedua belah pihak melakukan perjanjian.
Perjanjian pertama berisi agar pihak Kaisar Huo membiarkan Liu Changhai menjadi murid pribadi penatua Tuoli, sementara pihak sekte Qinglong mengijinkan klan Xiu dan klan Chen diperbolehkan menjadi murid skete tersebut.
Perjanjian kedua berisi agar pihak Kaisar Huo membiarkan sekte Qinglong tetap berdiri tanpa mendapat campur tangan Kekaisaran, sementara untuk pihak sekte Qinglong diharuskan melakukan ujian masuk sekte dan memperbolehkan Kaisar Huo merekrut kultivator dari rangking 20 hingga 50.
Dua perjanjian tersebut masih berlaku hingga sekarang.
Tangan kanan Yue Liang Zhi memutar cangkir, “sepertinya identitas Liu Changhai tidak bisa disepelekan,” mata cantiknya kian menajam, 'dan Patriark Wen terlalu banyak menyimpan rahasia.'
Senior Shu Ming mengangguk, “terkadang, sesuatu yang dianggap sepele sebenarnya menyimpan hal yang luar biasa.”
Makanan di meja telah habis, Wei Shuwan bersendawa sembari mengelus perutnya yang membuncit. Tidak ada keanggunan seorang wanita dalam dirinya, dia termasuk golongan seseorang yang suka mengekspresikan apa yang dirasakan tanpa keraguan.
Tawa kelompok Tao Jianying pecah melihat kelakuan absud Wei Shuwan, Bai Yun dan Lei Hu mengeleng tak berdaya, dua orang sedingin es memiliki senyum tipis.
Seperti biasa, Tao Jianying dan dua senior akan memimpin jalan, mereka berjalan menuju kelas Dan jian. Begitu memasuki kelas, kelompok tersebut kembali menjadi bahan gunjingan. Sepertinya, hari tenang untuk kelompok Yue Liang Zhi merupakan sesuatu yang mustahil!
Delapan menit kemudian, suara bisikan mereda seiring kedatangan penatua Tuoli. Dia berdiri di depan dengan ekspresi normal, “seperti yang telah kalian ketahui, kelas Dan jian telah mendapat beberapa murid tambahan. Murid baru bisa mulai melakukan perkenalan diri, aku harap kalian sebagai senior kedepannya bisa menjaga junior dengan baik.”
Tiga murid baru telah memperkenalkan diri, kini tiba giliran Bai Yun, “Bai Yun... Junior berharap mendapat bimbingan dari senior.”
Murid senior tersenyum ramah.
“Lei Hu, mohon kedepannya mendapat bimbingan dari para senior,” Lei Hu sedikit membungkukkan tubuh.
Murid senior masih tersenyum ramah.
Pangeran Yun Fengyin bersikap biasa saja, “Yun Fengyin,” sudah pasti tampilan biasa darinya akan dianggap luar biasa oleh orang lain.
Senyum di sudut bibir para murid senior mulai menurun: “...”
“Yue Liang Zhi.”
Semua orang merasa kaku lantaran bingung harus menanggapi seperti apa: “.......”
Perkenalan diri dari Yue Liang Zhi begitu kaku! Singkat, padat, jelas dan... Sedikit menusuk?