
Yue Liang Zhi yang sedang mengajari Bai Yun cara membaca seketika terhenti, lalu mendesah pasrah saat mendengar kata Kekaisaran. Dia berusaha acuh dan kembali menarik kakaknya agar lebih giat belajar membaca.
Berbeda dengan Lei Hu, mata almondnya menelisik tubuh Pangeran Yun Fengyin, wajahnya sedikit bengkok menahan marah. Jika tatapannya disamakan sebagai pisau, maka tubuh Pangeran Yun barat akan segera terpotong mengenaskan.
Pangeran Yun Fengyin menyenderkan tubuhnya ke kursi sambil merentangkan tangan kirinya, dia kemudian menaikkan kedua alisnya, “apa kau mau marah?” Suara laki-laki yang menjelang dewasa kian melembut, “Lei Hu?”
Lei Hu membisu.
Ketika seseorang memanggil namanya dengan nada demikian, dia hanya akan merasa santai dan biasa saja. Tapi entah bagaimana dan kenapa, ketika nada itu digunakan oleh Pangeran Yun Fengyin, sepasang telinganya merasa nyaman dan hatinya menghangat hingga menimbulkan getaran yang tak dapat dijelaskan.
Itu terlalu enak untuk didengar!
Dan terlalu mudah untuk menyesatkan pikiran hingga memudahkan untuk terjerumus pada ambiguitas[1].
[1] Ambiguitas ialah suatu kata yang dapat bermakna lebih dari satu sehingga menimbulkan ketidakjelasan dalam memahami suatu hal.
Pangeran Yun Fengyin menyalah artikan alasan diamnya pihak lain, dia kemudian menopang kepalanya dan menatap dalam pada mantan Putri Kerajaan Lei. Dia berusaha memberikan pengertian, “pil pembersih hanya ada di rumah lelang bangau emas. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita tetap harus ke sana. Kau pikir, hanya kau saja yang marah dengan Kaisar Huo Linzi? Aku juga marah!”
Pikiran Lei Hu kembali sadar, dia lantas memberikan tatapan penuh ambisi. “Orang jahat yang aku temui pasti selalu berumur panjang, Kaisar Huo harus segera dibunuh secepatnya!”
“Lei jiejie, ini adalah pertama kalinya kita memasuki ibukota Kekaisaran Huo. Namun, aku jamin saat terakhir kali kita memasuki kekaisaran, nyawa Kaisar Huo Linzi akan berada di bawah kaki kita!” Cletuk Yue Liang Zhi membuat Lei Hu menghangat.
Bai Yun yang mendengar perkataan adiknya segera menutup buku, dia lantas melemparkan buku tersebut ke bawah hingga terdengar bunyi gubrakan pada kereta.
Kusir yang mendengar suara keras dari dalam kereta langsung saja menghentikan laju kuda, “???”
“Tidak ada masalah di sini, lanjutkan saja dan jangan pernah berhenti kecuali kereta telah sampai wilayah ibukota Kekaisaran,” teriak Pangeran Yun Fengyin dari dalan kereta.
Perlahan kereta mulai melaju kembali. Pangeran Yun Fengyin, Yue Liang Zhi dan Lei Hu segera memandang Bai Yun dengan heran.
“Di bawah kaki kita bukan? Kaisar Huo akan memohon ampun, menangis tersendu-sendu dan mati dalam keadaan yang mengenaskan!” Bai Yun membuat gerakan seperti seseorang tengah menangis, mencekik lehernya sendiri dan dibumbui dengan lidah yang terjulur keluar.
Semua orang setuju melihat gaya masa depan Kaisar Huo Linzi, itu tampak mirip seperti anak itik yang tengah menetas namun kepalanya tercekik oleh cangkang telur.
“Ya! Kaisar serakah itu harus mati mengenaskan, karena telah berani sekali membantai seluruh keluargaku dan bahkan menyengsarakan rakyatku!” imbuh Lei Hu sambil menghentakkan kaki kirinya.
Pangeran Yun Fengyin mengangguk mantap.
Pangeran Yun Fengyin merinding membayangkan hukuman pemotongan ke*lamin, dia diam-diam mulai merapatkan kedua pahanya saat Yue Liang Zhi menatap ke arahnya. Hatinya berulang kali melantunkan doa memohon bantuan pada surga bila mana tanpa sengaja telah menyentuh garis batas iblis kecil.
Bai Yun melongo membayangkan penyiksaan yang akan Yue Liang Zhi lakukan dan Lei Hu sangat terkagum-kagum sambil menunjukkan dua ibu jarinya ke arah Yue Liang Zhi.
Oh, Pangeran Yun Fengyin merasa tiga perempuan terlalu berhati panas.
Semua berlalu begitu lambat. Kini sudah lima hari Pangeran Yun Fengyin, Yue Liang Zhi, Bai Yun dan Lei Hu berada di dalam kereta. Memang mereka akui sudah puluhan kali kereta kuda berhenti untuk beristirahat, namun tetap saja tubuh mereka terasa seperti mati rasa.
Berulang kali terlihat Pangeran Yun Fengyin yang duduk bersila untuk menyerap energi langit dan bumi, namun saat meluruskan tubuhnya, akan selalu ada suara tulang yang berbunyi nyaring.
Hal itu membuat Yue Liang Zhi tertawa terbahak-bahak dan naasnya setelah tertawa, dia juga menjadi bahan tertawaan karena kakinya yang selalu kram dan kesemutan.
Lei Hu terlihat seperti cacing yang telah tersiram air garam, mengeliat dan bergerak rusuh. Bisa dilihat dari kebiasaannya sehari-hari bukan? Dia yang selalu tidak bisa diam, secara tiba-tiba diharuskan berdiam diri dengan posisi duduk selama beberapa hari. Ah, dia tidak merobohkan kereta saja sudah termasuk dalam keajaiban.
Jangan tanya Bai Yun! Dia sudah pasti menjadi yang paling tenang karena selalu tidur di sepanjang jalan, berulang kali terkantup dinding kereta tapi tetap menjelajah ke alam mimpi.
Kereta kuda perlahan berhenti dan terdengarlah suara keramaian dari luar. Dengan sigap, Lei Hu menjulurkan kepala dari jendela, terlihat antrian panjang beberapa kereta kuda dan para warga. Pintu gerbang menjulang tinggi dengan berlapis emas. Sangat megah! Itulah yang terpikir dalam benak setiap orang saat melihat pintu Kekaisaran Huo. Tentu saja Lei Hu sempat berpikir demikian, namun saat mengingat Kekaisaran Shan, dia langsung saja mencibir kemegahan yang kini terpampang jelas di depannya.
Bai Yun terbangun dari tidurnnya, tangan kirinya menutup bibir saat dia menguap lebar, pandangan matanya kian tertuju pada Lei Hu. Penasaran dengan apa yang tengah Lei Hu lihat, Bai Yun dengan santai menempatkan tubuhnya kesisi lain jendela, dia seketika memperlihatkan binar kekaguman dari kedua bola matannya.
Yue Liang Zhi yang melihat kelakuan Bai Yun dan Lei Hu, perlahan melirik ke arah Pangeran Yun Fengyin untuk melihat bagaimana ekspresinya sekarang. Dia lantas memutar bola matanya malas saat melihat Pangeran Yun Fengyin yang terlihat seperti orang berkebun, penuh dengan bunga!
Dia berpikir haruskah segera membabat habis bunga yang tumbuh dalam hati Pangeran Yun Fengyin?
Tanpa menunggu Pangeran itu sadar dari pesona Lei Hu, Yue Liang Zhi segera menarik tangan Bai Yun dan Lei Hu. Mereka yang ditarik, lantas memandang Yue Liang Zhi dengan penuh tanda tanya.
“Kau bertanya kenapa?” Yue Liang Zhi menunjuk keduanya dengan ekspresi lucu dan sedikit rasa geram. “Harusnya aku yang bertanya kenapa! Kenapa kalian menjulurkan kepala kalian keluar? Apa kalian ingin mereka tahu dan menangkap kita? Kenapa tidak sekalian saja seperti ini... 'Hai kami pelayan yang satu kereta dengan Pangeran, mari tangkap kami!' Atau, 'hai kami pelayan yang dulunya adalah tawanan, ayo tangkap kami dan jadadikan kami sebagai anggota kediaman anggrek putih,' begitu?” Dia melambaikan tangan seperti orang yang tengah berkenalan.
Bai Yun dan Lei Hu segera menggaruk kepala, mereka berdua sadar akan kesalahan yang barusan mereka lakukan.
Semetara itu, Pangeran Yun Fengyin kini terkekeh kecil karena lupa dengan situasi dan kondisi di dalam kereta. Untuk mengurangi suasana yang aneh, dia kemudian mengalihkan percakapan, “nanti aku yang keluar untuk berbicara dengan para prajurit, kalian sebisa mungkin untuk bersembunyi. Tenang saja! Aku memiliki orang dalam.” Pangeran Yun Fengyin mengedipkan mata kirinya.
Antrian terus berkurang, tibalah giliran kereta kuda milik Pangeran Yun Fengyin. Dia menuruni kereta, setelah kakinya menapaki tanah, sepasang tangan menjelang dewasa segera membenarkan hanfu yang terlihat agak kusut. Senyum secerah matahari terbit saat Pangeran Yun Fengyin melihat salah satu prajurit yang dia kenal, segera dia mengeluarkan token pengenal dan menunjukkannya pada para prajurit penjaga gebang.
Terlihat salah satu prajurit mendekat ke arah kereta kuda, Bai Yun dan Lei Hu menampilkan ekspresi wajah pucat pasi. Yue Liang Zhi dan kusir biasa-biasa saja seperti tidak akan terjadi apa-apa, Yue Liang Zhi bahkan bersiul santai dan sukses mendapat pukulan di kepala dari Bai Yun.