The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter LIV]



“Ge~” Wei Shuwan melangkah mundur, wajahnya penuh dengan tanda ketidak relaan. Baru mendapat teman baru, tapi harus berpisah dengan cepat, dia merasa mendapat ketidak adilan. Ingin menangis sambil memegangi kaki dermawan Yue.


Yue Liang Zhi memandang lekat Lian Peiyu, seperti tanda perpisahan dalam diam. Hatinya bergetar seperti dapat merasakan luka batin Lian Peiyu, terluka karena cinta munggkin memang luka yang sulit diobati. Dia berpikir, mungkinkah dimasa depan dirinya bisa merasakan luka seperti itu?


Lian Peiyu mengangguk dan tersenyum penuh ketegaran, sangat berharap bahwa Yue Liang Zhi suatu saat dapat membangkitkan Dewa Penjelajah waktu. Senyum tulus terbit dari rombongan murid sekte Qinglong, Lian Peiyu bahkan melambaikan tangan penuh antusias, mereka seakan memberi salam perpisahan pada rombongan Yue Liang Zhi.


Langit kini benar-benar mengelap, beruntung ada beberapa rumah warga di sekitar hutan, membuat mereka bisa membeli beberapa lentera untuk penerangan. Yue Liang Zhi membonceng Pangeran Yun Fengyin, dia berada di depan dengan tangan kiri memegang lentera. Bai Yun membonceng di belakang Lei Hu sambil memegang lentera, sungguh pasangan kakak beradik yang kompak!


Dinginnya malam tidak mengurangi kecepatan kuda, tubuh para kultivator memang lebih kebal terhadap perubahan suhu, menjadikan rombongan kecil itu tidak perlu terlalu banyak beristirahat. Menit demi menit, jam demi jam telah berganti seiring bertambahnya kecepatan laju kuda. Tidak terasa, kini sudah dua hari setelah perpisahan mereka dengan rombongan murid sekte Qinglong. Mereka hanya beberapa kali berhenti untuk mengistirahatkan kuda. Sebenarnya Yue Liang Zhi bisa saja mengeluarkan pedang terbang untuk menempuh perjalanan, tapi itu akan terlalu mencolok, terlebih kelangkaan pedang terbang di dunia bawah, ditambah tiga orang lain tidak mengetahui tentang keberadaan Dunia lotus.


Tangan kanan Yue Liang Zhi terangkat sebagai tanda berhenti setelah merasakan ratusan aura yang berbeda di depan sana, saat mendongakkan kepala, ternyata Pangeran Yun Fengyin juga merasakan hal sama. Bai Yun dan Lei Hu membisu, keduanya merasa dejavu dangan kode Yue Liang Zhi.


“Rupanya, prajurit Kekaisaran Huo telah menguasai perbatasan,” ucap Yue Liang Zhi seakan menegaskan. Suara lembut dengan bumbu ketegasan, seperti sebuah maghnet yang menarik apapun untuk menuju ke arahnya, “lebih baik tidak menarik perhatian, tinggalkan kuda ini, kita lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.”


Pangeran Yun Fengyin, Bai Yun dan Lei Hu sangat setuju dengan ide tersebut. Mereka memilih jalan sedikit memutar, cari amam adalah hal terbaik untuk saat-saat seperti ini.


Terlihat puluhan mayat warga berserakan, daerah perbatasan benar-benar sudah dipora-pirandakan, pemandangan ini sangat membuat hati merasa miris berkelanjutan, Kaisar Huo sangat tamak dengan kekuasaan!


Darah kering menempel bak kerak membandel yang sulit dihilangkan, bau busuk menyengat mendorong cairan asam di lambung untuk naik. Kulit kaku dengan jeroan berceceran, membusuk dengan belatung seukuran setengah jari kelingking yang mengeliat dan bahkan belatung dapat melengkung hingga melompat dan menghinggapi mayat lainnya. Lalat hijau berterbangan berbunyi nyaring saling berlomba menutupi mayat. Gagak hitam mematuk mata salah satu mayat, paruh gagak menusuk bola mata hingga pecah dan menangkap kasar belatung putih yang bersarang di bola mata busuk.


Bai Yun dan Lei Hu benar-benar muntah, wajah keduanya berubah hijau dengan bibir pucat. Yue Liang Zhi hanya memunculkan sedikit warna, tidak terlalu terpengaruh.


Melihat itu, Pangeran Yun Fengyin menggentikan langkah dan memejamkan mata sambil memajukan telapak tangan kanan, lalu memundurkan sekaligus melakukan gerakan memutar telapak tangan dan terakhir menghadapkan telapak tangannya ke tanah. “Aku akan memanggil bantuan dari Kaisar...,” cahaya hijau bersinar menembus tanah, beberapa sulur berduri mulai merambat menuju suatu tempat.


...****************...


Suasana aula Istana Kekaisaran Yin sangat tegang, penyerangan Kaisar Huo Linzi sudah berlangsung selama beberapa bulan, terbesit pikiran, mampukah mereka bertahan dari serangan tersebut sedangkan daerah perbataan sudah dikuasai lawan. Para Menteri saling berdebat tanpa menghiraukan tatapan Kaisar Yin Kong.


“Diam!!!” Gretak Kaisar Yin kong sembari membanting kuasnya, “kita sedang diserang, aku meminta kalian untuk mengeluarkan pendapat, bukan untuk ribut!! Musuh akan tertawa keras saat melihat kita saling adu mulut. Kenapa tidak sekalian saja buka gerbag Istana Kisar ini dan persilahkan mereka mengambil alih wilayah tanpa peperangan.”


Hening, perdebatan segera berhenti setelah kaisar Yin mengeluarkan otoritasnya sebagai Kaisar.


Menteri keuangan membuka suara, “ampun Kaisar, kami tidak berani.”


“Kami telah bersalah, mohon mendapat hukuman yang layak...,” ucap serempak para Menteri.


Kaisar Yin Kong mengabaikan mereka, dia tertunduk kambil memijat pelan pelipisnya. Kaisar sangat berharap memiliki pencerahan, otaknya sudah buntu ditambah melihat kelakuan para Menteri. Tengah menggali kebuntuan, tiba-tiba sulur berduri merambat di tengah aula, bagian pucuk telah tumbuh bunga mawar merah. Bagai mendapat api kecil dikegelapan, Kaisar tua tersenyum penuh kebanggan, cucu kesayangannya datang untuk membantu!


Lirikan mata Kaisar Yin Kong melirik penjaga gelap, “ikuti sulur berduri ini, cari dimana asalnya dan jemput cucuku. Pangeran kecilku pasti memiliki solusi, membuatku merasa sedikit lega...”


Penjaga gelap segera memunculkan sosoknya, “baik,” segera melesat meninggalkan aula dengan kecepatan penuh.


Pangeran Yun Fengyin tersenyum sambil meneamkan mata, dia menarik tangannya saat seorang penjaga bayangan mendekat.


Yue Liang Zhi mendongakkan kepala, netra hitam sedalam samudra mengamati orang yang ada di depannya. Dia tidak bisa melihat tingkat kultivasi orang ini, sesaat dia sadar bahwa langkahnya masih panjang.


Wen Chui merasakan tatapan Yue Liang Zhi, dia otomatis menunduk melihat sosok anak perempuan. Jejak keterkejutan terpampang memenuhi seluruh wajahnya, kelopak matanya sedikit terkatup menyipit menyadari tingkat kultivasi Yue Liang Zhi.


“Hamba menghadap,” Wen Chui membukkan sedikit tubuhnya, dia baru menyadari bahwasanya Pangeran telah membawa beberapa teman. “Mari... Kaisar telah menunggu,” ajaknya sambil menuntun jalan.


Semula hanya empat anggota yang berada dirombongan, kini telah bertambah menjadi lima anggota. Mereka melewati jalan sempit, menghindari beberapa rumah warga yang tertutup rapat, bisa dijamin, semua warga sedang bersiap-siap jika tiba-tiba prajurit Kekaisaran Huo menyerang. Wilayah kekeuasaan Kaisar Yin tidak besar, sehingga hanya ada beberapa Kerajaan kecil yang berada di bawah naungan Kaisar.


Tidak perlu menempuh perjalanan terlalu jauh, hanya butuh tiga setengah jam hingga ronbongan tersebut tiba di pintu aula istana Kaisar Yin Kong. Pintu berderit ringan, suara kasim mengelegar menandakan rombongan tersebut telah memasuki ruangan. Terdengar suara tawa pria paruh baya, Bai Yun dan Lei Hu merasa sedikit tertekan, senyum canggung mereka lontarkan saat melihat puluhan tatap mata sedang mengawasi. Lupakan Yue Liang Zhi, dia bahkan berjalan acuh tanpa memperdulikan tekanan yang ada di ruangan tersebut.


Kaisar Yin Kong menuruni singahsananya, dia memeluk Pangeran Yun Fengyin, “ah... Cucu berbakti, sudah menempuh perjalanan jauh untuk menemui yang tua ini,” dia menepuk pelan punggung Pangeran Yun Fengyi tanpa melepas pelukan.


Yin Sheng menarik Pangeran Yun Fengyin dari pelukan Kaisar, “ponakan kecil, kau telah tumbuh dengan cepat,” dia memberikan pelukan hangat.


Pangeran Yun Fengyin hanya terkekeh ringan, “paman... Kakek akan marah jika kau terus memelukku.”


Benar, setelah ucapan Yun Fengyin selesai, terdengar suara pukulan. “Anak tidak berbakti! Berani menculik cucukku dari pelukanku!” Yin Kong kembali menarik Pangeran Yun Fengyin, membenamkan kepala cucunya pada pelukan tua.


“...”


“.........”


Terlalu antusias terkadang... Tidak terlalu baik bagi orang luar seperti Bai Yun dan Lei Hu yang selalu beranggapan bahwa seorang Kaisar akan selalu serius dalam bertindak.


Aula istana kian senyap, suara jangkrik dari luar bahkan terdengar hingga ke telinga Yue Liang Zhi, dia sedikit memutar pandangan mengitari beberapa Menteri. Oh, mingkin mereka telah terbiasa dengan perdebatan ayah dan anak.


Pangeran Yun Fengyin berusaha terbebas, “kakek, paman... Ayolah, hentikan.” Dia meronta-ronta seperti anak kecil yang merajuk.


( *´∇`* ) Kemana hilangnya temperamen dingin Pangeran Yun barat??!


Perdebatan Kaisar Yin Kong dan Yin Sheng segera mereda, pandangan keduaya menelusuri teman Yun Fengyin, serempak terfokus pada sosok kecil halus dan menyenangkan mata.


“Xiao Feng, kau pulang membawa calon cucu menantu?”


“Aya... Calon istri Xiao Feng...”


“Perkenalkanlah lebih dulu pada kakek.”


Suara pasangan ayah dan anak berdengung di kepala Pangeran Yun Fengyin, dia bersumpah dalam hati bahwa Yue Liang Zhi bukan calon istrinya, mungkin kelak dia akan mencari sosok pendamping yang seumuran, “Kakek, dia bukan—”


“Oh, tidak perlu malu-malu...”


Yue Liang Zhi sedikit terhibur, “Kaisar, kami hanya pelayan Pangeran Yun Fengyin.”


Menempuh puluhan ribu kilo meter hanya dengan tiga pelayan kecil yang masih polos dan lugu seperti bayi domba kecil?  Menarik tiga pelayan dan memperkenalkan secara langsung kepada Kaisar?  Wow, Dewa berpandangan rabun mana yang memberkati ketiganya?


Semua orang: (  ̄. ̄ )


Suara jangkik kini bertambah jelas, “hamba pelayan Yue, ini pelayan Bai dan pelayan Lei,” dia menunjuk keduanya dengan kepala yang ditolehkan. Baik, dia merasa perlu diluruskan setelah melalui hari penuh identitas kepalsuan.