
Di tempat lain...
Penjual jajanan ringan, mainan, aksesoris dan berbagai barang berteriak lantang memanggil pembeli. Orang awam berjalan berkeliaran mengabaikan dua makhluk canggung. Satu sosok tinggi berbaju putih mengenggam erat sarung pedang yang berwarna senada, jari panjang mengerat kala sosok lain bernetra biru mencuri pandang ke arahnya. Di hari biasa, wajah halus itu akan menampilkan keacuhan tak tersentuh tanpa gelombang emosi lain, tapi di hari ini menampilkan kegugupan dan kegugupan yang berlebih.
Cuping telinga Lei Hu memerah, dia sudah berusaha mengalihkan pikiran ambigu dan berusaha untuk tidak melirik Pangeran Yun Fengyin. Namun, mata polosnya tetap tak tahan akan godaan wajah yang tampak sangat sedap dipandang, berulang kali ekor matanya brutal tanpa malu menelusuri ketampanan pihak lain. Hanya pasrah setelah berperang antara pikiran dan mata yang bertolak, pasrah setelah telinganya memanas, dan pasrah setelah mendapati lima kawan setan telah pergi berpencar entah kemana.
Pedagang 1: “Tanghulu... Tanghulu!!”
Pedagang 2: “Kue-kue, kue kering! Beli dua gratis satu, cicipi gratis setelah itu harus bayar!!”
Penjual 3: “Ikan segar, ikan segar! Ikan segar dari laut...”
Dua orang berpandangan dan meringis kaku, “......”
Kue gratis apanya jika berakhir harus bayar? Ikan segar apanya yang masih segar setelah melalui perjalanan jauh dari pantai ke Kerajaan Lei, apakah ikan itu jatuh dari langit dan mendarat di lapak pedagang penuh bualan?
Penjual 4: “Tuan muda... Cobalah beli beberapa aksesoris disini, lihat! Kekasihmu akan lumutan jika kau biarkan menganggur tanpa dibelikan sesuatu,” rayu pedagang sambil menunjuk Lei Hu.
Sudut bibir Pangeran Yun Fengyin semakin kaku setelah mendapat rayuan, menatap Lei Hu yang tengah membuka mulut hingga membentuk lingkaran. Mau tak mau dia dipaksa tertawa kecil untuk menghilangkan kecanggungan yang telah berada di level akhir, “Lei Hu... Mau coba membeli barang?” Tanyanya menggunakan nada lembut.
Jiwa Lei Hu akan terbang mendengar kehalusan nada itu, telinganya seakan hamil, hidungnya seakan segera melahirkan darah mimisan yang mampu menodai sungai Zhang'ai [1]. Dia akhirnya mengangguk bodoh.
^^^[1] Sungai Zhang'ai: sungai kecil yang ada di Benua Ziang yang berfungsi sebagai pembatas antara dua Kekaisaran (Huo dan Yin) dengan Kekaisaran Shan.^^^
Pandangan Pangeran Yun Fengyin menlusuri beberapa gantungan giok berwarna cantik dan berukiran indah. Dia terpaku pada giok biru laut dengan gradasi biru mencolok seperti warna petir yang berderak gusar di atas laut, “kamu suka ini?” Gantungan bergoyang ringan tertiup angin kala dia menarik tinggi tali gantungan.
“Terlalu feminim, tidak cocok,” Lei Hu kembali memilih giok lain.
“Patuhlah! Ini cocok untukmu.”
Mata almond Lei Hu menatap lekat gantungan batu giok di tangan Pangeran Yun barat. Setelah diamati, giok biru memang indah dan sesuai dengan kriterianya dari pada giok lain yang berwarna menyilaukan, “baik apapun pilihanmu.”
Satu orang patuh dan orang yang lain tersenyum puas.
“Oke, bungkus benda ini,” Pangeran Yun Fengyin memerintah pedagang dan merogoh puluhan koin emas di tas qiankun.
Pedagang menyodorkan bingkisan pada Lei Hu yang tersenyum cerah, Pangeran Yun Fengyin menanam bunga pada pikirannya setelah mendapati senyuman imut kucing kecil. Dia dan Lei Hu menjadi patung bodoh yang mengabaikan keberadaan dua laki-laki bujangan tanpa pasangan, memberikan anjing tunggal makanan masam hingga mengikis lambung.
Tao Jianying dan Wei Jun menangis tanpa air mata, tertindas akan suasana berbunga yang mampu mencekik jiwa jomblo. Mereka hanya pergi membeli senjata di toko kecil dan bergegas kembali tanpa pikir panjang, kurang dari dua jam dan diberi pemandangan ini. Oh, betapa malang. Turun!
Lei Hu menjadi yang pertama sadar akan kehadiran dua orang, “kalian akhirnya kembali.”
Wei Jun terhenyak dan tertawa konyol, “hahaha... Aku, hahaha... Aku sangat baik dan sehat, hahaha...”
Ungkapan baik dan sehat diucapkan dengan mimik wajah konyol, orang normalpun akan menyimpulkan kejangalan tentang apa yang Wei Jun telah lihat.
“Dia sangat sehat hingga selalu merasa bahagia,” ungkap sosok merah kecil berjalan mendekat, mengigit kulit kuaci dan memakan isinya. Dia menoleh menatap bingkisan di tangan Lei Hu, memunculkan pemahaman dalam diam akan hubungan dua orang yang lebih maju dari sebelumnya.
Pangeran Yun Fengyin dan Lei Hu menyambut penuh semangat, “Yue'er.”
“Betul! Aku selalu bahagia dan Jianying menjadi saksi kebahagiaanku, kan?” Wei Jun meletakkan tangan kanannya pada pundak Tao Jianying.
Merasa risih, Tao Jianying membuang tangan penganggu di pundaknya dan berkata, “enyah!”
Yue Liang Zhi tertawa kecil, melempar kuaci ke langit dan menangkap dengan mulut, mengunyah perlahan penuh keanggunan. Kecantikan genit dan penyendiri seperti mawar liar tunggal yang tumbuh di bagian terdalam hutan, duri pelindung yang akan melukai siapapun yang akan menyentuhnya, akar merambat kokoh dan batang menopang tubuh tanpa bengkok sedikitpun. Kecantikan itu terlalu mengontaminasi perasaan orang-orang agar merasa rendah diri. Yang dipandang dengan kekakugan masa bodoh dengan sekitar, hanya menawari kuaci pada kelompok kecil yang masih berdiri menutupi lapak penjulan gantungan giok.
Orang yang paling peka di antara manusia berhati kaku adalah Lei Hu dan Wei Jun, keduanya menggiring kelompok kecil pergi ke wilayah kosong dan bertemu dua orang perempuan berperut tanpa dasar yang menjelajahi kuliner.
Bai Yun dan Wei Shuwan telah mencicipi banyak makanan, noda minyak menempel di mulut keduanya dengan kaki ayam di tangan kanan masing-masing. Mengunyah dan mengunyah menunjukkan tekstur lunak kaki ayam, menyengir setelah menunjukkan buntalan kain berisi jajanan yang entah dikumpulkan dari pedagang mana saja.
Wei Shuwan bersendawa, “aku kenyang dengan makanan dan kepuasan tentang kesialan seseorang,” dia mengangguk bersamaan dengan Bai Yun.
“Kesialan siapa?” Wei Jun ikut semangat dengan kesesatan, walaupun bahagia di atas penderitaan orang lain adalah sebuah dosa, tapi dia yakin akan kebahagian dari adiknya adalah kesialan tentang musuh dari Klan lain.
“Xiu Jieru.”
Tao Jianying, “Xiu Jeru? Alchemist Klan Xiu?”
Senyum Wei Shuwan semakin mengembang, “benar. Dia telah menyinggung seorang apoteker baru yang mempunyai identitas guru yang sulit ditebak, hampir diusir dari balai apoteker, dan hampir dipecat dari setatus murd Jin Quon.”
“Aku juga mendengar apoteker muda itu berpenampilan indah dan berpakaian serba merah, serius dalam bertindak dan jahil saat memancing Xiu Jieru muntah darah,” Bai Yun menambahkan.
Semua orang serentak menatap Yue Liang Zhi, sosok merah yang disebutkan mempunyai ciri-ciri yang sama dengannya. Dari segi wajah yang halus dan sifat yang aneh merupakan karakteristik dari merah kecil. Tapi, dengan tingkat kultivasi tinggi sudah menjadikan anak itu terfokus pada kultivasi, tidak mungkin menjadi seorang apoteker muda yang jenius dan mampu mempermalukan orang Klan Xiu.
Yue Liang Zhi menuang seluruh kuaci ke telapak tangan lalu membuang bungkusnya, “ayo pulang... Jangan mengurusi bisnis orang lain,” dia menarik pedang terbang dan menungang di atas pedang.
Semua orang membuang pikiran konyol, menarik pedang untuk segera menyusul.
...****************...