
Saat Pangeran Yun Fengyin memalingkan pandangannya yang kesekian kalinya, dia melihat Yue Liang Zhi yang tengah berkedip lucu. Entah mengapa, Pangeran Yun Fengyin ingin sekali mencekik leher Yue Liang Zhi, tapi dilain waktu dia sangat menyayanginya dan sangat enggan.
Dia hanya bisa menatap datar saat muka anak perempuan itu perlahan memerah karena menahan tawa, hancur sudah semua bunga-bunga yang tengah bermekaran di hatinya. “Baik! Ketiga pelayan ini adalah pelayan pribadiku, jika salah satu di antara kalian berani mengusik hidupnya, maka kalian sama saja menentang perintahku!” Titahnya tegas tanpa ingin di bantah, jika mendengar dengan teliti, akan terdengar nada emosi, gugup dan gembira pada saat yang bersamaan.
Para pelayan, hanya bisa patuh dan menunduk hormat atas perintah Pangeran Yun Fengyin. Tentu sudah jelas, Yenny dan Jiao An tetap akan menerapkan cara licik untuk menggulingkan dan memusnahkan tiga payan lonceng perak yang baru.
Sore hari, Yun Fengyin, Yue Liang Zhi, Bai Yun dan Lei Hu berada di kediaman Pangeran Yun Fengyin...
Dari luar, mereka terlihat tengah melayani majikannya, namun siapa sangka! Sebenarnya mereka tengah menyiapkan strategi perlawanan pada Kekaisaran Huo, “gege ini. Menjadikan kami pelayan pribadi, bukankah itu akan memancing mata-mata?” Yue Liang Zhi mendengus dingin.
Bai Yun yang tengah menuangkan teh berhenti tiba-tiba, dia memandang ekspresi Pangeran Yun Fengyin begitu juga dengan Lei Hu, kedua wanita itu sangat penasaran dengan rencana Pangeran Yun Fengyin. Mungkin, keduanya hanya paham jika setiap rencana dari Yun Fengyin ataupun Yue Liang Zhi dijabarkan secara rinci dan mendetail.
Pangeran Yun Fengyin menyeruput teh dengan perlahan, dia tersenyum penuh kelicikan, “aku sengaja melakukannya, agar mereka memandang ke arah kita, lalu menujukkan kebusukan secara langsung.” Dia meletakkan cangkir kecil ke meja, “seseorang tidak akan melepas topeng jika kita tidak memancingnya bukan?”
“Tapi, anak panah yang tidak melesat dan meninggalkan busur tidak akan mengenai sasaran,” Yue Liang Zhi mendekat ke arah rak buku, mendengar ucapannya, Pangeran Yun Fengyin mengerutkan kening begitupun dengan Bai Yun dan Lei Hu. “Jika kita tetap diam di tempat, kita tidak akan pernah mengenai jantung musuh kita! Jika kita hanya mengambil ancang-ancang dan ancang-ancang, lalu kapan akan menembak? Gege bagaikan orang yang akan memanah, aku adalah busur panah, dan kedua kakak cantikku adalah anak panah... Anak panah harus meninggalkan busur jika ingin mengenai sasaran, tapi untuk mengenai inti, sang pemanah juga harus menyiapkan strategi yang matang dan skil.”
“Apa maksudmu Yue'er?” Pangeran memandang Yue Liang Zhi dengan serius.
Pola pikir dan tindakan Yue Liang Zhi sulit untuk ditebak, seakan jika dia melangkah, dunia akan tampak berada di bawah kendalinya. Menganggap orang luar sebagai wayang dan orang dalam sebagai bidak catur.
Setiap langkah selalu diperhitungkan, setiap kejadian terjadi sesuai perkiraan dan setiap tempat merupakan titik yang direncanakan.
Mengatur pola pikir setiap bidak merupakan hal yang paling penting, menempatkan bidak pada titik tertentu merupakan hal yang kedua. Setiap bidak baru hanya diperlukan sebagai pendukung plot agar rencana berkembang lebih sempurna.
“Gege tidak perlu terlihat menonjol dalam rencana ini, buat para mata-mata itu terkecoh, buat mereka memandang gege tidak terlibat dengan rencana menggulingkan Kaisar Huo Linzi, biar kami saja anggota serigala putih yang turun tangan... Kejutkan Kaisar! Buat dia berpikir jika gege tidak tahu apa-apa, tapi di akhir dia akan terkejut karena dalang di balik semua ini adalah orang yang dia anggap tidak berbahaya...,” Yue Liang Zhi tersenyum miring, “memang semua rencana ini tergantung gege, tapi! Karena aku adalah busur panah, kau akan membutuhkanku untuk membidik sasarannya, buat mereka memandangku, buat mereka membenciku dan buat mereka menyukaiku di saat bersaman.”
Mengecoh lawan agar berpikiran sempit dan membuat kesimpulan bahwa lawan adalah hal kecil merupakan penentu dari keseluruhan rencana. Agar, semua pergerakan besar dianggap sepele tanpa tau akhir yang akan menjerat hingga menghancurkan struktur Kekaisaran Huo saat ini.
“Kau ingin mereka menganggapmu dalang di balik semua ini?” Lei Hu menunjuk Yue Liang Zhi.
Yue Liang Zhi memiliki hantu licik yang berkeliatan di kepalanya, “aku kan masih anak kecil. Jika aku membuat mereka mencurigaiku, mereka tentu akan langsung menargetkanku. Tentunya mereka tidak akan memiliki kewaspadaan terhadapku. Biarkan Bai jiejie dan Lei jiejie bergerak seperti anak panah cadangan yang melesat tapi pasti.” Yue Liang Zhi mengedipkan mata kirinnya, “gege tenang saja dan siapkan siasat yang matang untuk membidik Kekaisaran...”
Pangeran Yun Fengyin diam-diam mengagumi cara berpikir Yue Liang Zhi, bertubuh kecil namun mampu berpikir lebih dari orang dewasa, bahkan Raja Kangjian Yun tidak memiliki pola pikir yang menurutnya terbilang ekstrim, “lalu, apa langkah awalnya?”
Bagai di siram air hujan, segar! Itulah yang sedang Pangeran Yun Fengyin rasakan.
Kedua orang yang tampak tidak akur dan sering bertengkar mulut, sebenarnya menjadi seseorang yang membelai dalam bayangan. Saling perhatian dalam alam bawah sadar, ingin melindungi tanpa diketahui oleh pihak lain.
“Lalu, rencana lainnya?” cletuk Bai Yun membubarkan suasana.
[Ah, benar-benar perusak!] Qiao Qiao mengerutu, dia memandang simpati dua mahluk yang tengah jatuh cinta namun malu mengungkapkan perasaan.
Yue Liang Zhi terkekeh kecil akan kelakuan kakaknya, apalagi roh sistem yang tengah mengerutu karena kesenangan yang baru dia dapat terganggu, “yang paling utama memang meningkatkan kemampuan kita, lalu membuat pangeran Yelu Yun tertarik pada salah satu di antara aku, kak Bai'er dan kak Lei.”
“Eits tunggu, tunggu, tunggu... Kenapa harus membuatnya tertarik?” Lei Hu memajukan kedua tangannya ke depan, dengan posisi telapak tangan yang menghadap Yue Liang Zhi.
Bila membuat bingung lawan, mereka masih oke dengan rencana tersebut. Tapi bila membuat Pangeran Yelu Yun tertarik, bukankan itu sama saja dengan menawarkan daging empuk domba pada kawanan serigala?
“Turunkan ke egoisan kalian!! Pikirkan saja, dia adalah Pangeran Kerajaan Yun bagian timur, Kerajaan yang memperlakukan wanita seenaknya dan pasti dia mudah tertarik pada wanita bukan? Gunakan saja kesempatan itu untuk mengorek informasi darinya, mmmm... Kalau di pikir-pikir, kita bahkan bisa mempengaruhi dia tentang kedudukannya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Yue Liang Zhi menjentikkan jarinya, “lagi pula, kita harus mengumpulkan bukti-bukti kejahatan yang mereka lakukan...”
“Kalau begitu, kenapa tidak menyuruh anggota serigla putih selain kalian?” Pangeran Yun Fengyin perahan berdiri, dia mendekat ke arah Yue Liang Zhi, saat memegang pundak anak kecil itu, dia terkejut saat mendapatkan serangan dadakan dari Yue Liang Zhi.
Tangan kiri Yue Liang Zhi mengepal dan mulai memukul, Pangeran Yun Fengyin menyilangkan tangan mbentuk huruf X, saat pukulan Yue Liang Zhi mendarat, Pangeran Yun Fengyin mundur lima langah. Kejadian itu sangat cepat, bahkan Bai Yun dan Lei Hu tidak sempat mencegahnya.
Pangeran Yun Fengyin tersenyum, “ingin mencoba bertarung?”
“Ya, kita lihat yang paling penting, antara kultivasi dan jurus atau siasat dan kecepatan,” Yue Liang Zhi mengambil kuda-kuda, hal itu membuat Pangeran Yun Fengyin memuat kode untuk mendekat dan lawanlah.
Tanpa pikir panjang Yue Liang Zhi maju untuk mendahului serangan, puluhan pukulan dan tendangan sudah dua orang itu lakukan. Tempat yang semula rapih kini berubah menjadi acak-acakan, gerakan Yue Liang Zhi semakin mencepat, sama halnya dengan Pangeran Yun Fengyin. Yue Liang Zhi salto ke depan, dia mengapai lengan kanan lawannya dan mengunci pergerakan. Tak ingin kalah, Pangeran Yun Fengyin mulai berontak melepaskan diri.
Tenaga dan kecepatan itu terlalu kuat bagi seorang kultivator yang baru pertama kali mencapai ranah kultivasi.
Beberapa menit kemudian, Pangeran Yun Fengyin tumbang dengan napas yang tersengal, di atas punggungnya terdapat kaki kecil Yue Liang Zhi. Benar-benar tidak seperti Pangeran yang terhormat! Bagaimana bisa, orang yang berkultivasi terlebih dahulu bisa di kalahkan oleh orang yang baru berkultivasi, apalagi orang tersebut masih bau kencur.