The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter XLVI]



Yue Liang Zhi berdiri sambil berkacak pinggang, mata cantiknya menyapu beberapa penginapan. Kini pandangannya tertuju pada penginapan yang tidak terlalu jauh dari penginapan mawar hitam. Dari kepribadian Chen Bai Mo yang sangat arrogant, pasti akan memesan kamar terbaik dari penginapan terkenal. Hanya ada dua penginapan terkenal yaitu penginapan mawar hitan dan penginapan embun beku, jarak kedua penginapan ini tidak terlalu jauh. Terlebih tuan muda Klan Chen memiliki konflik dengan Tao Jianying, walaupun di permukaan terlihat melepaskan begitu saja, tapi dia meyakini Chen Bai Mo yang sewaktu-waktu akan membalas akun.


Dia tersenyum miring, menemukan keberadaan semut yang tengah berperan bagai spirit beast adalah hal mudah baginya.


Sosok kecilnya perlahan menghilang seperti ditelan kegelapan, dia tidak menyisakan jejak keberadaan bahkan di udara sekalipun. Melompat dari atap satu ke atap lain, menghindari cahaya lentera yang tergantung di sudut tembok bangunan. Dia berhenti setelah sampai di atap penginapan embun beku.


Sejurus kemudian, pemandangan kota berubah menjadi pemandangan lorong yang tidak terlalu panjang, beberapa obor tergantung di dinding kayu menyala menambah penerangan, kakinya melangkah dengan suara kecil, menyisakan bayangan gelap.


Jika ada seseorang yang tidak sengaja melihatnya, mereka pasti akan mengira itu adalah hantu penasaran!


Beberapa penjaga berdiri di depan dua pintu. Melihat itu, Yue Liang Zhi segera menerbitkan smirk licik. Tangan kirinya memunculkan beberapa jarum kecil, tanpa menunggu para penjaga teralihkan oleh gerakan kecil darinya, dia segera melempar jarum tersebut.


Sangat cepat dan akurat, ketebalan jarum yang relatif tipis memudahkan dalam melesat, mengecoh kejelian karena saat menancap di kulit tidak menimbulkan rasa sakit. Beberapa menit kemudian, para penjaga segera menguap dan memosisikan tubuh bersender di dinding. Yue Liang Zhi mengangguk sedikit puas dengan kinerja jarum ciptaannya.


“Ck...,” dia berdecih mengamati perbedaan di kedua pintu, “yang memiliki penjaga lebih banyak pasti kamar Chen Bai Mo,” kaki kirinya sedikit menendang pelan tubuh penjaga yang menghalangi jalan.


“...” Qiao Qiao hanya diam mengamati dari dunia lotus, dia tidak ingin ikut campur urusan Yue Liang Zhi. Lagi pula, tuan kecilnya belum membutuhkan bantuan yang mendesak.


Yue Liang Zhi melangkah santai, memutar knop pintu hingga pintu berderit ringan. Pertama kali memasuki kamar, dia hanya menarik pandangannya pada kandang singa kecil, “hei...”


Merasakan kehadiran sosik asing, spirit beast segera memundurkan tubuh dan memperlihatkan cakar kecilnya. Ekornya yang berdiri sedikit bergetar menandakan ketakutan, gigi taring kecil berniat mengertak disaat dia membuka mulut.


Melihat gejala singa kecil akan menimbulkan keributan, Yue Liang Zhi segera berbisik ringan, “bersuara sedikit saja, aku janji akan membuatmu menusul orang tuamu!” Dia menarik kursi dan duduk dengan kaki disilangkan, “aku akan menyelamatkanmu, aku sangat yakin, laki-laki busuk klan Chen tidak memberikan makanan yang pantas.”


Daging segar segera muncul di depan spirit beast, jika dia memiliki wujud manusia, sudah pasti akan terlihat air liur yang menetes membasahi bibir. Gerakannya terhenti, sepasang mata kecil mengawasi Yue Liang Zhi dengan seksama.


“Makan atau tidak sama sekali?”


Mendapat tawaran sedikit memaksa, spirit beast tidak mampu menolak tawaran menguntungkan. Tergoda dan segera menyantap daging dengan hikmat. Cakar kecil menancap pada dahing, berusaha menstabilkan posisi daging agar tidak bergerak liar saat digigit.


Yue Liang Zhi memiliki ekspresi berbinar setelah berhasil menyogok singa lapar dengan daging, membuka mulut seakan berbicara pada diri sendiri, “ah... Aku memiliki banyak daging segar, tempat dengan air yang berlimpah.”


Singa kecil berhenti mengunyah, kemudian menatap Yue Liang Zhi dengan seksama.


“Udara segar, oh ya! Qi murni yang baik untuk berkuktivasi,” lanjutnya dengan disertai tawa pelan.


Singa spirit beast, “???”


“Tapi sayang, sepertinya aku tidak berhasil menarik hewan terlantar untuk mendapat kesenangan. Kamu sepertinya sanagt senang terkurung di kandang,” dia menyentil kandang besi.


Qiao Qiao seperti menelan apel busuk, sangat tidak enak! Dia bahkan merinding membayangkan harus merawat hewan lain di dunia lotus, diam-diam hanya bisa berharap spirit beast tidak tergoda dengan rayuan tuan kecilnya.


“Baiklah, aku pergi dulu.” Yue Liang Zhi segera bangkit berdiri, baru beberapa langkah berjalan dia mendengar kandang kecil sedikit bergetar, “berubah pikiran kah?”


Spirit beast menampilkan ekspresi muka memelas, menampilkan mata anak kucing. Hanya satu detik, singa kecil telah terlempar ke dunia lotus.


[Tuaannn...,] saat ini Qiao Qiao ingin segera menangis darah, menyuarakan ketidakterimaan.


Yue Liang Zhi tertawa gembira karena mendapat peliharaan baru dan berhasil membuat Qiao Qiao memiliki pekerjaan lain selain berkebun, 'patuh lah!!!'


Di kasur, Chen Bai Mo berganti posisi tidur menjadi miring, tidak menyadari ketenangan sebelum badai.


Mata Yue Liang Zhi berkilat penuh kelicikan. “Chen Bai Mo...,” dia mengambil beberapa dupa lalu membakarnya, “aku harap, kau bermimpi indah sampai kesulitan untuk memiliki kewarasan saat bangun nati.”


Matahari menyinari seluruh benua Ziang, penginapan mawar hitam mulai ramai dengan puluhan pelayan yang tengah menyiapkan beberbagai hidangan. Rombongan Yue Liang Zhi melangkah menuruni tangga, berceloteh ria bak kicauan burung.


“Yue'er darimana semalam?” tanya Bai Yun berbisik.


Pangeran Yun Fengyin menyimak sambil membenarkan posisi sarung pedang, “......”


“Ya, Yue'er pergi saat tengah malam, apa memiliki keperluan mendadak?” Timpal Lei Hu yang tengah berjalan di samping Pangeran Yun Fengyin.


Yue Liang Zhi menatap sekilas Bai Yun dan Lei Hu, “tidak... Aku hanya menikmati pemandangan bulan, sangat bosan jika harus berdiam diri di kamar.”


“Bulan?” Beo laki-laki berpakaian hitam, “bulan mana yang menampakkan diri saat langit tertutup awan tebal?”


“Ada, bahkan sinarnya sangat terang.”


Bulan aneh mana yang berposisi di bawah awan? Mungkinkah bulan bisa berpindah posisi untuk menonjolkan eksistensinya yang meredup kemarin malam?


Menghadapi tatapan tanya, dia hanya melirik singkat. “Bulan yang bersinar di hati seseorang saat membayangkan senyum cerah sang pujaan hati,” sambungnya dan segera mendapatkan plototan ketidak percayaan dari ketiganya, “bagaimana? Sinar bulan tadi malam sangat terang?”


Pangeran Yun Fengyin tersedak air liur, telinga Lei Hu memerah panas, dan Bai Yun menjadi orang yang paling tidak tahu apa-apa.


Mengabaikan suasana canggung dua orang, kebingungan satu orang, dan kejahilan satu orang. Kelompok Tao Jianying diluar penginapan tampak lebih santai, Tao Jianying dan Wei Jun asyik mengelus kuda baru. Dua kelompok kontras, yang satu kelompok penipu yang lainnya kelompok domba lugu berniat kembali melanjutkan perjalanan bersama.


“Dermawan Yue...,” panggil Wei Jun penuh antusias sambil melambai semangat.


Empat orang di kelompok Yue Liang Zhi menoleh serempak, orang yang dipanggil hanya mengangguk kemudian berjalan mendekat ke arah Tao Jianying. Pilihan terbaik bagi kultivator yang tidak mempunyai pedang terbang memang menggunakan kuda, agar tidak terlalu mengandalkan qi dalam perjalanan. Gunakan tenaga untuk kepentingan mendesak, itu adalah cara yang paling efisien.


Hanya persiapan singkat, empat kuda melaju membelah panasnya matahari. Lei Hu memacu kuda di belakang Pangeran Yun Fengyin, Tao Jianying dan Wei Juan berada paling belakang rombongan. Kulit putih bersih Yue Liang Zhi seakan memantulkan cahaya dan senyum cerah seperti mengalahkan sinar matahari mengiasi bibir tipisnya, dia terlihat sangat santai tanpa beban hidup, saking santainya hingga sempat memakan beberapa manisan dan permen coklat.


Wei Jun menyalip kuda milik Lei Hu, dia memiliki ekspresi aneh saat melihat tingkat kesantaian yang mengalahkan rekor Tao Jianying, “dermawan Yue, apa kondisi saat ini tidak menganggu suasana hatimu?”


Yue Liang Zhi mengangkat manisan sambil membuka mulut, “sekarang hatiku dalam kondisi sangat baik, mau hujan, mau panas dan badai sekalipun. Jika lapar ya tetap makan, apa mungkin aku harus memakan angin hingga perut kecilku kenyang?”


Wei Jun memasang wajah lugu, merasa kalimat pertanyaan yang diajukan sedikit kurang tepat untuk karakter Yue Liang Zhi yang acuh. Sedangkan Pangeran Yun Fengyin, Bai Yun dan Lei Hu merasa wajar dengan jawaban anak itu.


Tiga murid sekte Qinglong merasa aneh tentang asal usul keempatnya, dikarenakan tidak ada Klan bermarga "Yue" di Kerajaan Yun. Apalagi generasi muda dari Klan Yue mampu menghasilkan bibit unggul yang bahkan tidak mampu dibandingkan dengan generasi muda ditiga Klan besar.


Keheningan kembali terjadi, hanya derap langkah kaki kuda yang menghiasi setiap perjalan. Awan sedikit menebal mengurangi panasnya pagi hari, angin segar menerpa tubuh membawa kesan damai, burung-burung bernyanyi menambah kesan asri.


Wei Shuwan berdehem ringan, dia teringat akan sesuatu yang sedikit berbeda, “aku berharap Chen Bai Mo tidak menjadi perusuh handal kali ini.”


“Dia akan diam untuk beberapa hari,” cletuk Yue Liang Zhi sambil mengelus pelan kepala kuda, “menjadi baik mungkian akan merugikan baginya, tapi akan sangat menguntukan bagi pendekar Tao dan pendekar Wei.”


Wei Jun mengangguk seperti burung pelatuk, “tunggu!” Dia menarik tali kekang, “Dermawan—”


“Jangan tambah embel-embel dermawan!”


“Oh, baik,” Wei Jun menelan kembali kata-kata yang tersangkut di tenggorokan, “saudara Yue?”


Yue Liang Zhi diam tak merespon, dia lumayan nyaman dengan panggilan barusan.


“Bagaimana saudara Yue tahu?” Wei Jun memiliki jejak pertanyaan, “berita pagi tadi hanya beberapa orang saja yang tahu, bahkan orang-orang tuan muda Chen diharuskan tutup mulut.” Melihat tatapan penuh tanya dari Wei Shuwan, dia segera menjelaskan lebih rinci, “Chen Bai Mo bangun seperti orang kerasukan, dia berteriak bagaikan orang gila. Bawahannya saja sampai kewalahan menghadapinya, apalagi Xiu Juan yang bangun tidur telah disambut oleh ciuman lantai.”