
Sementara itu, di Dunia lotus tampak pahatan surgawi duduk manis sembari melukis wajah yang sangat dia rindukan. Tahapan demi tahapan, kuas bergoyang membentuk wajah wanita cantik dengan sorot mata yang teduh penuh kehangatan.
Hatachi...
“Arista, kau kenapa?” Tanya roh di Dunia lotus.
“Sepertinya, ada yang sedang membicarakanku...,” tebak Arista sambil memegang dagu lancipnya, bola matanya bergerak ke atas mencoba menebak si pelaku. Berniat menambahkan nama pelaku ke dalam buku kecil, akan membereskan dikala senggang.
Orang bodoh mana yang sedang membicarakan wanita galak itu?
“Oh... Sekarang hampir pukul 08:30, apa kau tidak akan berangkat ke masrkas?” Tanya sistem kecil.
“Aku lupa!” Sosok Arista segera menghilang dari dunia lotus.
Hembusan angin menerpa wajah Roh sistem “...Aiya, kenapa pergi tanpa pamit? Ah lupakan,” tangannya melambai ringan. Melihat alat lukis tergeletak di tanah seperti seonggok barang tak berguna, dia segera melolong sedih, “setidaknya bersihkan dulu barang milikmu! Apakah kali ini aku harus beralih menjadi tukang bersih-bersih?”
Arista datang dari udara kosong dengan mengabaikan keluhan yang berdengung di kepalanya. Sikap gadis itu sangat santai saat menemui anak buahnya, aura pemimpin sangat kental menyertai setiap langkah, rambut hitam legam dikucir kuda menambah kesan manis. Wajahnya acuh dan dingin, itu seperti danau yang membeku selama jutaan ribu tahun, dimana di atasnya tak ada riak air yang dapat terbentuk.
“Bos, sekarang penculikan organ sedang merajalela. Dan aku dengar, Bos mereka telah menjalin kerjasama dengan bandar narkoba Leon,” ucap Hua Mian sambil menunjukkan rekaman video CCTV bandar narkoba yang tengah menjalin kerjasama. Tampak dua pria duduk berhadapan dalam satu meja.
“Heehhh... Mereka ingin menjatuhkanku rupanya!” Desah Arista sambil tersenyum devil, “kita jebak Leon terlebih dahulu...”
Hua Mian yang mendengar jawaban santai dari Arista segera menenggokkan kepala dan memandangnya dengan raut wajah kebingungan, “bos, kenapa tidak langsung dua-duanya?” Tanya Hua Mian penasaran, pasalnya dia sangat paham akan tempramen bosnya yang lebih suka membereskan dua burung dalam satu tepukan.
“Leon menjadi lebih berani melawan kita, karena ada bos perdagangan organ itu. Kemungkinan besar, Leon juga sangat tunduk padanya, lihat saja video ini...,” jelas Arista sambil menunjuk layar di depannya, “matanya tidak berani terangkat untuk menatap seseorang yang ada didepannya, ada kerutan di dahinya yang mungkin saja, Leon tidak terlalu diuntungkan oleh kerjasama itu. Hembusan napas yang terlihat lebih lambat, menandakan dia sangat tunduk dan takut pada bos perdagangan organ itu, bisa di tebak... Dia adalah Luo feng, sang buronan internasional. Aku yakin, Luo Feng juga menyimpan rahasia terbesar Leon,” sambung Arista.
Hua Mian memiliki tatapan mendamba, penjelasan dari bosnya membuat dirinya menjadi tercerahkan. “Bos... Leon sangat menginginkan anda, berarti kita bisa menjebaknya dengan—” ucapannya terhenti sambil melirik Arista, kedua wanita itu langsung saja memancarkan aura kematian.
Cara kerja penjebakan ini sangat mudah, seperti ikan yang dipancing mengunakan umpan kesukaan pasti akan langsung terjebak. Begitupun dengan Luo Feng, hanya Arista sendiri umpan terbaik untuk menarik penjahat agar keluar dari sarangnya.
Perlahan, mereka berdua berjalan keluar, “ya, aku yang akan memancing Leon keluar. Tunggu saja satu minggu dari sekarang, akan aku bawa begundal itu menjadi tontonan kita nanti... Satu lagi, sudah kukatakan pangil saja Rista jika kita hanya sedang berdua,” ucap Arista sambil tersenyum, kawannya ini sangat kaku!
“Rista... Ini prosedur antara bos dan bawahan, jadi mau bagaimana lagi?” Hua Mian mengedikkan kedua bahunya, “oh... Resa juga tadi mencarimu, kusarankan jangan terlalu dekat dengannya.”
“Hmmm... Hua'er kenapa kau melarangku dekat dengan Resa?” Tanya Arista sambil menunggu sistem pada motornya merespon.
“Feligku, dia memiliki niat tersembunyi kepadamu, kau tau bukan? Gadis ambisius yang ditutupi muka polos sepertinya, sewaktu-waktu bisa saja dia menusuk kita dari belakang.”
Arista merespon dengan anggukan, merasa wajar akan penilaian Hua Mian. Terkadang, ia sendiri merasa sedikit curiga akan tempramen Resa.
Setelah beberapa menit, datanglah motor hitam tanpa pengendara. Motor itu telah dimodifikasi oleh roh sistem, motor secara otomatis akan langsung datang menurut lokasi Arista berada, 'sistem, retas semua kegiatan Leon dan awasi semua tempat yang akan dia tuju selama satu minggu ini!'
[Beri aku lima menit...,] jawab roh sistem, selang lima menit muncul layar transparan yang hanya dapat dilihat oleh keduannya.
“Akan ada kumpulan para pengusaha? Bagus, saatnya beraksi,” gumam Arista sambil tersenyum devil.
Berbeda dengan keadaan di Efret manor, Elisa tengah melaporkan apa yang terjadi hari ini, dari mulai keinginannya untuk menabrak tuan muda kedua keluarga Baili, sampai kemunculan Arista yang mengagalkan keinginannya. “Bukannya bos sudah bilang, kita jangan sampai menganggu orang-orang penting seperti mereka, apa kau bodoh? Kakaknya Jingxian sangat kuat, Bos saja sangat takut dan tidak berani menyinggung Jiangxan!!!” Teriak Imelda memaki putrinya.
Nada sura Imelda bak macan mengaum di tengah hutan, kecepatan kalimatnya seperti seperti seseorang yang tengah mengucapkan sumpah serapah.
“Kau kira hanya karna si cacat Lux, Arista mau melakukannya ha!”
Elisa dan Imelda saling beradu pendapat, tanpa sadar bahwa sedari tadi ada seorang laki-kaki yang berada di atas kursi roda tengah mengawasi sepasang ibu dan anak itu.
Lux mengetik keyboard dalam handphone: [Mereka memiliki bos yang mengendalikannya, hati-hati kak.]
Arista: [Sudah kuduga, kedua wanita ular itu hanya boneka wayang. Awasi terus gerak-gerik mereka dan ingat jangan sampai ketahuan!]
Lux: [Baik kak, akan kulakukan.]
Arista: [Terimakasih adikku yang manis ^_^ ]
Lux: [Terbang ke awan.jpg]
...****************...
Di ruang makan yang mewah dan berdekorasi elegant, Arista sedang menghabiskan sarapan pagi. Hari-hari yang dia lalui begitu sepi, berbanding terbalik saat dia masih kecil. Kini, suasana hening seakan sudah menjadi teman dekatnya. Sendok berdenting, matanya melirik jarum jam di pergelangan tanggannya yang menunjuk pukul 10:00.
Mengakhiri kegiatan, Arista lantas berjalan ringan menuju garasi dan melaju dengan mobil sport hitamnya, dia berniat pergi ke rumah makan VIP yang terkenal di kota A.
Rumah makan kini tengah ramai dengan hiruk-pikuk perkumpulan para pengusaha, dari muda hingga tua. Dengan gesit gadis kecil itu menyelinap tanpa hambatan menuju dapur dan berganti pakaian pelayan, dapur begitu luas dengan dominan warna coklat, dia segera menyajikan minuman merah kental untuk meja nomor 13, “ini minuman yang tuan pesan,” ucap Arista sambil menyerahkan gelas berisi minuman berwarna merah kental.
Pria itu segera mengambil gelas dan meminumnya, bahkan tanpa melihat terlebih dahulu ke arah wajah pelayan penyaji minuman.
Suara semburan air menginfeksi telinga beberapa orang, pria itu lantas menatap ke arah gelas yang ada di tangannya. Dengan persekian detik wajahnya berubah pucat seperti tidak ada darah yang mengalir di tubuhnya, “ini... Ini darah, dasar pelayan sialan ber—”
“Hallo tuan Leon Alfarez, lama tidak berjumpa, kulihat keadaan bisnismu makin membaik. Bagaimana kerja samamu dengan penjahat Luo? Ah... Terlihat dari wajahmu, pasti kerja sama berjalan dangan lancar,” potong Arista sambil tersenyum dengan wajah tak berdosa, nadanya santai seperti orang yang tengah menawarkan 'tuan... apakah kau mau makan roti?'
“kk... Kau... Kau...,” Leon tergagap dengan tangan yang tengah menunjuk, dia merasa jiwanya tengah terbang meningalkan raga. Hatinya berharap agar Raja Yama segera mencabut nyawa gadis yang tengah tersenyum di depannya.
Ruangan yang tadinya ramai secara mendadak menjadi hening, terutama di meja keluarga Baili. Sedangkan di meja keluarga Efret, Elisa dengan santai menghampiri meja nomor tiga belas. Elisa memiliki wajah yang cantik, tubuh langsing, berambut coklat. Siapapun yang melihat ke arahnya akan tertarik, ditambah dengan pakaian sexy yang selalu dikenakan olehnya.
“Kak, akhirnya aku menemukanmu. Ayolah pulang bersamaku, lihat dirimu. Bekerja sebagai pelayan rendahan, tinggal luntang lantung...,” ucap Elisa sambil memegang tangan kiri Arista.
Baili Jingxian terkejut lantaran tertampar kenyataan, wajah imut Xing'er yang selalu terbayang di benak Jingxian, tidak mungkin pria itu akan lupa begitu saja.
Merasa jiwa yang dimiliki Leon telah sedikit kembali, dia terhuyung-huyung melangkah keluar dari ruangan. Pria itu merasa bahwa lem mungkin tidak berguna untuk menyatukan jiwanya yang tengah memberontak karena terkejut, bahkan dia tak menyadari jely berwarna bening yang menempel pada jas hitam miliknya.
Dengan dingin Arista menoleh, wajah cantik dan kulit sehalus giok memantulkan sinar lampu. Sangat cantik! Itulah pikiran para pria yang ada di sana, walaupun mengenakan pakaian pelayan, namun pesonanya dapat mengalahkan setiap wanita yang ada diruangan ini, “siapa?” Arista menghempaskan tangan Elisa dengan pelan.
Dengan lemah gemulai Ratu drama menjalankan aksinya, Elisa menabrakan dirinya kemeja yang ada di depannya. Dari sudut pandang siapapun akan berpikir bahwa Elisa didorong, tapi dari pandangan seseorang yang ber-IQ tinggi pasti akan mencibir drama murahan yang tengah berlangsung, “ah... Maaf nona Jungsi, aku tidak sengaja menyenggol minumanmu,” Elisa panik sambil meraih segulung tisu di meja dan mengelap gaun Jungsi.
“Tak apa, ini bukanlah salahmu...,” dengan seketika Jungsi berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Arista, “hei! Wanita udik, tidak lihat baju yang aku kenakan menjadi kotor?”
Satul lagi Ratu drama telah muncul!