
Enam hari kemudian.
Cahaya kemerah-merahan menghiasi langit sebelah timur karena matahari tengah menampakkan diri dengan malu-malu, kicauan burung disertai kokokan ayam mengiringi setiap detik yang telah berlalu. Embun terlihat enggan meninggalkan tumbuhan, berapa dari mereka telah tersapu oleh langkah kaki kiri dan kanan yang saling bersahutan.
Yue Liang Zhi membawa beban berat di kedua tangannya, ember bergetar menumpahkan isinya, air menyirami tanah dan tumbuhan secara tidak sengaja. Dia sengaja bangun pagi untuk membawa air dari sumur ke dapur Kerajaan Yin barat, kegiatan tersebut dapat memperkuat otot tubuhnya.
Peluh bercucuran membasahi hanfu hitamnya, langkah kakinya perlahan melambat agar air tidak tumpah semua. Benar saja, saat putaran pertama dia hanya berhasil menyisakan separuh ember air, kini dia berhasil membawa dua ember penuh tanpa menumpahkan terlalu banyak air.
Bai Yun menguap lebar, mata cantik seindah kejora sedikit berkaca-kaca, tubuhnya menjadi kaku dengan kedua tangan yang terangkat, “kenapa Yue'er membawa banyak air?” Dia bergerak secepat kilat mendekati adiknya, “ayo beristirahatlah.”
Lei Hu mengambil ember di tangan kiri Yue Liang Zhi, “jangan bekerja telalu keras,” dia menuangkan air tersebut ke dalam bak besar.
Yue Liang Zhi ikut melakukan apa yang Lei Hu lakukan, “aku sedang melatih kekuatan otot,” singkatnya sambil meraih kedua ember dan membalikkan badan memungunggi keduanya, “jadi kalian berusahalah diam di tempat, mengerti?”
“......” Bai Yun dan Lei Hu saling menatap tidak menyangka, pandangan keduanya mengabur melihat sosok anak kecil berbalut hanfu yang kontras dengan kulit seputih susu kian melangkah menjauh.
Matahari kini telah menampakkan seluruh cahayanya, seperti biasa, ketiga perempuan itu akan pergi megunjungi kediaman Raja Kangjian Yun untuk melakukan pengobatan. Setelah beberapa hari melakukan akupuntur pada kaki Raja Kerajaan Yun barat, pria itu kini dapat kembali merasakan kakinya, bahkan bisa berdiri dalam waktu beberapa detik.
Suara dua orang sedikit terdengar dari luar, Yue Liang Zhi mendorong pelan pintu dengan gerakan menawan, kakinya melangkah sekaligus menjadi pemimpin ketiga rombongan perempuan itu. Sepasang ayah dan anak segera berhenti berbicara, terlihat seuntai senyum dari Pangeran Yun Fengyin.
“Raja...,” Yue Liang Zhi lantas sedikit membungkukkan tubuh ke depan, “haya perlu melakukan pengobatan sekali lagi, maka kaki Raja Kangjian akan benar-benar sembuh.”
Bai Yun dan Lei Hu juga sedikit membungkuk, sudah sering bertemu sehingga menumbuhkan rasa kekeluargaan dan yang terpenting tidak pertu terlalu formal!
Kesenangan memenuhi rongga dada Raja Kangjian Yun, dia mengangguk ringan mempersilahkan. Jarum-jarum akupuntur kembali menusuk kulit, tidak ada jejak keterkejutan dan hal lain semacamnya, lebih tepatnya dia sudah terbiasa dengan teknik pengobatan dari Yue Liang Zhi.
“Yue'er, terimakasih...,”lirih Pangeran Yun Fengyin, air mata sudah berada di sudut matanya.
Jarum masih bergetar, Yue Liang Zhi dapat mendengar suara lirih Yun Fengyin tapi memilih untuk mengabaikannya. Getaran jarum berhenti, “cobalah untuk berjalan pelan-pelan, tidak perlu terlalu memaksa karena segala sesuatu pasti membutuhkan waktu,” dia mencabut jarum dengan elegant, lengan bajunya dia gunakan untuk mengelap sudut keningnya.
“Baik,” telapak kaki Raja Kangjian Yun perlahan menapaki karpet, dia berdiri sambil terhuyung ringan seperti pohon singkong tertiup angin. Kedua tangannya terbentang seakan-akan bersiap jika tubuhnya akan terjatuh, kakinya melangkah pelahan lalu berjalan dan berputar, matanya berair seperti bendungan yang akan jebol, “aku... Aku bisa kembali berjalan, pelayan Yue—! Maksudku Yue'er, terimakasih telah menyembuhkan kaki lumpuh orang tua ini,” dia membenturkan lutut berusaha berlutut.
“Raja...,” Bai Yun dan Lei Hu panik dengan menarik lengan Raja Kangjian Yun.
“Raja!” Cegah Yue Liang Zhi mendekat, “tidak perlu terlalu sungkan.”
Raja Kangjian Yun menyadari sesuatu, “Yue'er juga jangan sungkan, panggil aku paman... Ya, Bai Yun dan Lei Hu panggil aku paman!”
Yue Liang Zhi membetulkan pakaiannya yang sedikit kusut, “kaki paman Yun telah sembuh total, aku sangat yakin. Jika salah satu orang Kekaisaran tahu, mereka pasti tidak akan tinggal diam.”
Ini diibaratkan seperti seorang pemotong ayam, jika mengoreskan pisau ke leher ayam namun ayam masih tetap hidup, pasti si pemotong akan lebih mengesekkan pisau hingga ayam benar-benar mati.
“Maka ayah harus berpura-pura lumpuh,” Pangeran Yun Fengyin memberikan tatapan menerawang, senyum mengejek muncul didetik berikutnya, “nanti malam adalah pesta ulang tahun Yelu Yun,” ucapnya memberikan sekedar informasi kecil.
Lei Hu menangkap bahwa akan ada konspirasi setelah ini, dia mengibaskan surai hitamnya sedikit menggoda ke arah Pangeran Yun Fengyin, “maka, mari kacaukan pesta itu.”
Pucuk dicinta ulanpun tiba, Yue Liang Zhi tidak akan membiarkan domba kecil lolos begitu saja. Itu merupakan hal bagus, karena kepala pelayan Yenny tengah menghitung dosa-dosanya di neraka, beberapa rencanya telah sedikit berbelok dari jalan yang semestinya. “Aku rasa Jiao An bisa mempertangung jawabkan perbuatan kita nanti malam,” dia merasakan tatapan kebingungan dari mereka semua, “pil wèizhuāng akan menjadi jebakan untuk mereka.”
...****************...
Pangeran Yun Fengyin menaiki kuda putih, pakaian yang dia kenakan sangat selaras dengan kudanya. Tangan yang terlihat kekar perlahan menarik tali kekang, di belakangnya sudah ada Yue Liang Zhi, Bai Yun, Lei Hu, Jao An sebagai tambahan dan penjaga bayangan yang menyamar menjadi prajurit. Status mereka sebagai pelayan dan prajurit menjadikan mereka harus berjalan kaki, bukan masalah besar karena jarak Kerajaan Yun barat dan Yun timur tidak jauh.
Lampion-lampion menghiasi sudut Kerajaan Yun timur, hiruk pikuk aktifitas sekaligus suara alat musik menambah kesan ramai acara tersebut. Awan tipis membuat siapapun dapat menikmati bulan sekaligus bintang-bintang. Pangeran Yun Fengyin melompat turun, dia memberikan kudanya pada salah satu prajurit, lalu pandangan matanya terarah kepada Yue Liang Zhi.
Yue Liang Zhi memahami dalam diam, saat Pangeran Yun Fengyin dan kedua kakaknya melangkah masuk, dia sengaja mencegat seseorang di sampingnya, “Pangeran meminta kita memeriksa hadiah.”
Jiao An tersenyum mengejek, “kita? Kau tidak pantas untuk melakukannya, biar aku saja yang memeriksa,” ucapnya sinis, dia menyibak kain biru penutup hadiah. Tengah mendalami keseriusannya, tiba-tiba rasa perih menyerang pilingan, “awww...,” dia berdesis.
Merasa Jiao An akan naik pitam, Yue Kiang Zhi hanya menerbitkan senyum konyol sembari menunjukkan daun kering di jari telunjuk, “ada daun menempel.”
“Kau!” Jiao An menunjuk tepat di depan mata Yue Liang Zhi.
“Kenapa denganku?” Anak itu juga ikut menunjuk dirinya sendiri, tersenyum tanpa rasa bersalah. Merasa tempat yang mereka singgahi sudah tidak seramai sebelumnya, Yue Liang Zhi segera melesatkan jarum kecil.
[Balasan untuk kesombongannya terlihat sepadan,] Qiao Qiao bertepuk ringan lalu mengelus bulu lembut Xiao Bai.
Bruk...
Jiao An terjatuh dengan kesadaran yang hilang entah kemana, Yue Liang Zhi menerbitkan tersenyum licik, hantu di kepalanya bergentayangan ke sana ke mari. Dia meneteskan darah di permukaan pil wèizhuāng, “bawa dia, sembunykan dengan benar dan kau...,” dia menunjuk salah satu prejurit lalu memberikan pil wèizhuāng yang sebelumnya telah ditetesi darah miliknya, “menyamarlah menjadi diriku, usahakan jangan membuka suara sedikitpun.”
“Baik.”
Yue Liang Zhi menghilang dari udara kosong, tiga menit kemudian, dia muncul kembali dengan penampilan yang telah berubah, 'permainan dimulai,' alis kirinya terangkat tinggi.