The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter CXXV]



“Ka— kamu tidak bisa membunuh kami, dilarang melakukan pembunuhan!” Laki-laki yang semula menginginkan Bai Yun dan Lei Hu kini tergagap mundur sambil menunjuk horor.


Murid Klan Wei merasa dingin di leher, merasakan pedang dingin akan segera memutus saraf hingga menjadikan mereka menemui ajal menyakitkan. Punggung berkeringat dingin dan meremang bila dihadapkan dengan tirani seperti ini.


Orang lain dari Klan Wei, “tuan muda Wei, tolong kondisikan temanmu ini!”


Wei Jun tertawa mengejek, “kamu baru menganggap kehadiranku setelah puas berbicara dan memprovokasi apa yang sebenarnya tidak boleh disentuh, dari tadi kamu hanya menganggap aku sebagai hiasan pohon, kan. Setelah terjepit malah ingin menarikku ke kubangan lumpur, putra selir pemimpin Klan Wei yang kalian sering caci ini tidak punya suara lain untuk membantu.”


Skakmat! Semua anggota Klan Wei merasa jarak ketidak kenalan dari tuan muda dan kematian tiba-tiba menjadi semakin dekat.


Ruan Xulei meringis menakuti, hanya dengan kondisi fisikya itu berhasil menambah poin ketakutan bagi orang-orang Klan Wei.


Semua anggota kelompok Yue Liang Zhi bisa menarik bayangan tentang perlakuan Klan Wei pada dua bersaudara anak selir, memiliki alasan lain yang mendorong niat membunuh semakin menguat. Terlebih binar kebahagiaan telah muncul setelah memahami maksud tersembunyi, merampok peserta lain akan menjadi jalan pintas kedepannya bagi kelompok itu. Tidak menemukan buruan, maka rebut saja dari peserta lain!


Alis kiri Yue Liang Zhi terangkat, “tidak bisa membunuhmu? Kamu pikir, kamu siapa sehingga aku segan?”


Siapa mereka? Mereka hanya murid Klan biasa yang angkuh dan suka menikmati kesenangan duniawi, jangankan murid biasa, melawan Kaisarpun Yue Liang Zhi berani. Pangeran Yun Fengyin, Bai Yun dan Lei Hu menarik pedang maju menggantikan posisinya, Ruan Xulei melepaskan lilitan rantai bersiap menyerang. Sedangkan dia sendiri mundur menemui Tao Jianying dan dua saudara Wei, berdiri menatapi pembunuhan Klan Wei dihadapan tuan muda dan nona mudanya.


Pedang Bingwen putih milik Yun Fengyin menebas memotong tangan laki-laki yang berani menginginkan Lei Hu, acuh dengan kedinginan menatap lanawan yang menangisi pergelangan tangan yang telah terpotong mengenaskan.


Rantai menyapu tanah dan menimbulkan retakan kasar, Ruan Xulei mengayunkan kedua rantai melilit pinggang dua orang.


Wei Shuwan menutup kedua matanya dengan telapak tangan, “peraturan melarang mereka membunuh peserta lain.”


Kultivator lugu yang masih ketakutan bila melenyapkan nyawa orang lain, sehebat apapun cepat atau lambat akan mengalami kejatuhan. Wei Shuwan ini... perlu dirubah cara pandangnya dalam menghadapi dunia.


“Bukan mereka yang akan membunuh,” kepala Yue Liang Zhi miring ke kanan dan napasnya pasrah, “jie... Siksa mereka tapi jangan membunuh mereka.”


Bai Yun menghentikan pedang ganda Changing menggores leher lawan, bergumam dan kembali melakukan penyerangan, membalik pedang di tangan kiri ke belakang menusuk perut seseorang. Tempramen dia dan Yue Liang Zhi memang berbeda, tapi ketika melakukan penyerangan keduanya tampak mempunyai beberapa poin kemiripan dari segi kebringasan. Sesekali melirik orang Klan Wei yang terkapar di bawah pohon menatap pertarungan seakan detik berikutnya mata itu akan digali.


Murid Klan Wei meminta tolong lewat tatapan mata pada Wei Jun dan Wei Shuwan, namun mereka ditutup oleh tatapan dingin Yue Liang Zhi hingga merasa dikuliti. Sepertinya, jika ketidak hadiran dua bersaudara Wei dipertarungan, mereka semua akan dibantai habis seperti ayam potong saat ini juga.


Tiga orang mundur setelah puas menghajar orang, Ruan Xulei bertugas melucuti semua harta benda dan plakat pengenal sekaligus dua tas qiankun. Dia tersenyum konyol yang tidak pas dengan tubuh besarnya, seakan dia adalah perampok berjiwa hello kitty manis. “Nona... Kita mendapat banyak barang di sini, bahkan banyak bayi baik di dalamnya.”


“Mmn, kalian telah bekerja keras,” Yue Liang Zhi memuji empat orang sambil membagi hasil jarahan. Dia menatap Tao Jianying dan dua orang lain, “kita bagi sama rata.”


Tao Jainying menggeleng, “aku tidak berhak menikmati kerja keras orang lain.”


Wei Jun sedikit canggung mendengar pernyataan Yue Liang Zhi, “aku merasa bersalah bila mengambil barang mereka.” Dia segera meralat setelah mendapati wajah pihak lain membengkok tidak wajar akan penolakannya, “tidak! Maksudku... Sebagai tuan muda yang ditinggalkan, sudah cukup bagiku menikmati kesengsaraan mereka dan tidak perlu terlalu keterlaluan dengan mengambil barang milik orang sendiri.”


Dua orang Klan Wei ini memang berhati lembut walaupun telah menjadi anak yang diabaikan oleh orang Klan. Yue Liang Zhi tidak bisa membantu selain mengajukan pertanyaan yang menjerumus pada hal pribadi, “kalian berdua kenapa bisa tidak diakui oleh mereka?” Dia mengambil bubuk dan menaburkan pada tubuh orang Klan Wei.


“Itu adalah aib bagi pemimpin Klan,” Wei Shuwan berjawah mendung dengan alis terkulai, tampak miris menyayat hati.


“Oke, aku bersedia mendengarkan untuk meringankan beban kalian. Tapi sebelum itu, kita harus meninggalkan tempat ini,” Yue Liang Zhi memimpin jalan berjalan menjauh bersama Ruan Xulei.


Sekitar satu meter dari tempat sebelumnya, mereka mendengarkan teriakan yang bersahut dengan suara geraman hewan buas. Yue Liang Zhi mengedikkan bahu acuh, “sudah aku katakan bukan kita yang membunuh mereka.”


“Bubuk...,” Pangeran Yun Fengyin menengok ke kiri.


“Benar. Bubuk itu memang mengudang hewan buas, jadi akan menimbulkan berita bahwa orang Klan Wei mati karena serangan hewan bukan manusia,” Yue Liang Zhi tersenyum miring penuh arti.


Bai Yun melipat peta yang ada di tangannya, “mebunuh dengan cara cantik, ide Yue'er memang yang terbaik.”


Ruan Xulei berseru "ah" memahami permainan licik anak itu. Mereka memang tidak membunuh orang Klan Wei, namun mereka memaksa orang Klan Wei menjadi sampah yang tidak mampu melawan sekalipun itu adalah hewan buas biasa.


Wei Jun dan Wei Suwan tidak mampu berkata-kata, merasa setelah mengingatkan peraturan 'tidak boleh membunuh sesama peserta' merupakan hal percumah, nyatanya keduanya malah mendorong trik membunuh secara perlahan melalui pelaku lain.


Tao Jianying menabrakkan lengannya pada lengan Wei Jun, “Yue Liang Zhi tidak suka menunggu.”


“Oh, oke... Aku akan memberitahu saudara Yue,” Wei Jun segera menceritakan kisah pahitnya sebelum anak itu memaksa anggota Klan Wei yang lain membuka mulut dan berakhir berkurangnya anggota tubuh.


Bermula ketika pemimpin Klan Wei, Wei Guang yang sering mendatangi rumah harum untuk bersenag-senang dengan wanita cantik. Rumah bordil itu menghadirkan perempuan perawan bernama Xionglue yang berwajah baik melebihi istri sahnya, dia tergoda akan suara nyanyian dan kecantikan Xionglue hingga dia sering mencari alasan agar keduanya saling bertemu. Hanya butuh setengah bulan agar Wei Guang dapat memadu kasih dengan perempuan pujaannya, lambat laun hubungan keduanya berkembang seperti suami istri.


Suatu ketika, Xionglue dinyatakan mengandung bayi laki-laki. Pemimpin Klan Wei yang kala itu telah memiliki istri sah hanya bisa mengankatnya menjadi selir dan memasukkannya ke halaman belakang.


Xionglue terkejut mendapati posisi Furen telah terisi, merasa menyesal telah percaya pada rayuan Wei Guang. Setelah lima bulan tinggal di halaman belakang, dia sering dirundung dengan cacian oleh orang-orang Klan Wei dengan julukan perempuan murahan yang ingin terbang seperti burung phoenix. Istri sah Wei Guang juga sering mengurangi uang bulanan dan jatah makanan yang akan masuk ke kediamannya, mengancam agar Wei Guan tidak menemuinya lagi.


Setelah melahirkan Wei Jun, entah bagaimana Wei Guang bisa membujuk istri sahnya agar bisa menemuinya dan anaknya. Dia lalu dipaksa melakukan hubungan suami istri selama enam tahun sampai kembali mengandung dan melahirkan Wei Shuwan, dengan kelahiran yang kedua dia kehilangan banyak darah dan meninggal setelah setengah jam kemudian.


Rundungan terus berlanjut sampai keduanya bertemu Tao Jianying yang berkunjung ke Klan Wei saat menyelesaikan misi sekte. Tao Jianying yang mengetahui kisah menyedihkan kedua saudara Wei segera menawarkan posisi murid sekte pada keduanya.


Sampai saat ini, Wei Jun dan Wei Shuwan tidak pernah kembali lagi ke Klan walaupun sekedar mengunjungi ayah kandung mereka. Terlalu tidak sudi mengulangi hal yang terjadi dimasa lampau!


Dari segi Xionglue dan dua bersaudara Wei, kisah itu terdengar tragis dan memaksa rasa simpati mencuat untuk segera mengulurkan pertolongan.


Dari segi pemimpin Klan Wei, kisah itu memberikan kesan bajingan yang tidak tahu malu.