
Setelah Chen Bai Mo sadar akan apa yang telah terjadi, dia lantas berteriak sambil berlari menyusul Xiu Juan, “aku tidak bermaksud menyakiti hati Juan'er.”
Antek-antek Chen Bai Mo otomatis ikut berlari di belakang, mereka tampak seperti ayam kehilangan induk. Bibir semua orang berkedut, terlebih orang yang telah mengenal kepribadian Yue Liang Zhi. Mereka ingin menyalakan lilin untuk laki-laki yang berani menganggap anak itu sebagai kecantikan lemah lembut.
Kecantikan lemah lembut apanya! Yue Liang Zhi yang sebenarnya adalah kecantikan beracun seperti duri landak.
“Ck, Xiu Juan sangat tidak suka melihat ada perempuan lain yang lebih cantik dari dirinya,” celetuk senior Shan Shan mencibir.
Yue Liang Zhi tersenyum miring, “aku tahu, dia bahkan ingin bermain api di belakangku. Jadi, bukan salahku jika aku sedikit mempermainkan kesenangan mereka.”
“Akhirnya Yue'er mendapatkan kesenangan setelah lama menjadi biksu kaku,” Bai Yun tertawa kecil.
“Jangan lupa untuk mengajak kami,” Pangeran Yun Fengyin berusaha mengingatkan.
Lei Hu mengangguk mendukung perkataan Pangeran Yun Fengyin, “mereka akan mendapat hari yang sial setelah ini.”
Ruan Xulei merinding, “kalian bahkan sangat antusias saat membicarakan rencana penyiksaan, ingatkan aku agar tidak menyinggung salah satu dari kalian.”
Dua senior, Tao Jianying dan dua saudara Wei merasa bahwa ada yang salah dengan saraf otak keempat orang calon murid. Bagaimana bisa pelayan dengan tuannya sekaligus memiliki satu kebiasaan mempermainkan lawan secara perlahan, mereka terlihat seperti memiliki satu sifat namun di lain sisi sebenarnya memiliki kepribadian yang saling bertolak belakang.
Shu Ming menujuk beberapa kamar, “kalian semua bisa memilih kamar kalian, jangan berebut karena jumlah kamar di sini lebih dari cukup untuk menampung sekitar dua ratus murid.”
“Saudara Yue harus beristirahat dan memulihkan tenaga, sekitar tiga hari dari sekarang akan ada ujian pembagian murid,” timpal Wei Shuwan.
Bai Yun merasa telah tersambar petir setelah mendengar informasi singkat dari Wei Shuwan, “ayolah... Kami akan mengikuti ujian lagi?”
“Mn,” Wei Shuwan mengangguk berulang kali.
“Ini akan menarik,” timpal Ruan Xulei bertentangan dengan antusias lemah dari Bai Yun.
Shan Shan bisa merasakan rasa tertekan dari beberapa calon murid selain dua orang dingin dan Ruan Xulei , “murid luar dan calon murid akan bertanding secara acak, pertandingan akan diadakan di aula sekte Qinglong. Jika sang pemenang bisa menarik perhatian salah satu penatua, maka mereka bisa menjadi murid dalam.”
“Itu terdengar seperti seleksi menjadi murid dalam sekaligus semacam ritual penerimaan murid baru,” Yue Liang Zhi mengambil kesimpulan dari percakapan singkat itu.
“Tepat sekali,” Wei Jun menjentikan jari manis dengan ibu jari.
Calon murid baru mengangguk paham, mereka segera menyebar memilih kamar. Kelompok Yue Liang Zhi mendapat satu barisan kamar yang saling berdempetan, ini sangat memudahkan komunikasi kelimanya.
Begitu menutup pintu kamar, Yue Liang Zhi segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia sedikit mengaduh merasakan kerasnya kasur, tangannya menyapu angin. Seketika semua barang keras berganti menjadi kasur empuk, bantal lembut dan selimut hangat. Mantel merahnya terlepas dan terlempar ke sudut ruangan, sosok hanfu merah melompat dan mendarat di atas kasur. Tubuh kecil bergerak ringan menikmati kenyamanan, urat tegang Yue Liang Zhi mulai mengendur bersamaan dengan matanya yang kian menutup.
Lima jam kemudian...
Bunyi ketukan mengugah terangkatnya bulu mata Yue Liang Zhi, tubuhya berganti menjadi posisi duduk dengan netra hitam menelusuri ruangan asing. Dia menyadari sinar matahari telah menghilang sepenuhnya, “beri aku waktu beberapa menit.” Tidak menunggu waktu lama, dia segera bangkit untuk membukakan pintu, “ada apa?” Ekspresinya acuh seperti biasanya.
Kaki Yue Liang Zhi sepenuhnya melangkah keluar dari kamar, tubuhnya menghadap Bai Yun dengan tangan yang berada di belakang tubuh, “jie, dimana Fengyin gege dan Lei Lei jie jie?” Dia menutup pintu tanpa membalikkan badan.
“Mereka sudah menunggu di lorong depan.”
Sepasang kakak beradik sepertinya telah melupakan satu orang, ya! Keduanya lupa mengajak Ruan Xulei.
Dua garis bayangan bejalan menelusuri lorong, keduanya mendapat sambutan sepasang pria dan wanita yang tengah bersenda gurau. Dari dua menjadi empat bayangan, mereka berjalan dengan mengeluarkan momentum berbeda. Yue Liang Zhi memancarkan aura misterius, keangkuhan, pesona yang memikat dan keagungan. Pangeran Yun Fengyin memancarkan kedinginan yang membuat semua orang seakan ingin menjauh beberapa meter.
Berbeda dari dua orang yang tidak manusiawi, masih ada dua orang normal yang memancarkan aura persahabatan. Bai Yun terus berceloteh sepanjang jalan, Lei Hu hanya menjawab dengan normal tanpa berlebihan.
Mereka terlihat seperti minyak dan air, tidak bisa bersatu namun masih berdampingan.
Ruang makan murid luar dan murid dalam berada di satu tempat yang sama, mereka bisa bercampur dan bebas bercengkrama. Makanan akan disediakan sesuai keinginan murid, asalkan memiliki uang, para koki akan siap meyajikan makanan apapun sesuai pesanan. Terdengar seperti kedai makanan bukan?
Wei Shuwan melambai dari kejauhan, seyumannya cerah seperti bunga yang baru mekar, “saudara Yue, kemarilah. Makan bersama kami, kami masih memiliki kursi kosong.”
Kelompok Yue Liang Zhi mendekat, meja kelompok Tao Jianying kian bertambah ramai. Mereka semua menjadi pusat perhatian, Tao Jianying dan dua saudara Wei dari dulu sudah menjadi idola murid sekte. Kini, idola telah bertambah empat. Seluruh murid hanya bisa berteriak histeris menatap tujuh orang yang mendominasi.
Yue Liang Zhi dududuk dengan ekspresi bosan, dia tengah menunggu Pangeran Yun Fengyin selesai memesan makanan. Jari jemarinya mengetuk meja, bunyi gemletik mengiringi suara langkah kaki Yun Fengyin yang kian mendekat ke arah meja.
“Makanan sebentar lagi akan siap,” Pangeran Yun Fengyin menuangkan air dari teko, dia membuka telapak tangan kiri untuk menutupi mulutnya saat dia tengah minum. Terlihat sangat elegant, anggun dan berkelas.
Makanan telah sampai di meja, kelompok Yue Liang Zhi dan Tao Jianying segera makan dengan hikmat tanpa memperdulikan puluhan pasang mata yang mengamati, terlihat kalem dan tenang seperti memiliki dunia sendiri.
Ketenangan kelompok itu terganggu oleh suara gongongan anjing, “Yue Liang Zhi! Kau pelayan yang tidak memiliki malu, berani makan di meja yang sama dengan tuannya. Kau sangat rendahan!” Xiu Juan mengeretak sekaligus mempermalukan setatus pelayan di depannya.
Semua orang terkejut, pelayan? Kecantikan peri kecil ternyata seorang pelayan.
“Pelayan rendahan sepertimu sangat merusak pandangan, selera makanku menjadi hilang. Menjijikan, najis dan membuatku ingin muntah.”
“Jianying, jika aku menjadi dirimu. Aku akan membuang jauh pelayan sepertinya, tidak mendekatinya dengan radius puluhan meter.”
Puluhan meter? Apa Xiu Juan sekarang tidak berkaca melihat jarak antara dirinya dan Yue Liang Zhi?
Alis Wei Shuwan berkerut, dia bisa merasakan cengkraman tangan Wei Jun di bawah meja. Tao Jianying bersiap mengambil pedang yang tengah bersender cantik di meja, mereka seakan bersiap berperang.
“...” Yue Liang Zhi acuh, dia bahkan menyumpit daging dan menjejalkannya ke mulut.
Keacuhan Yue Liang Zhi memicu kemarahan, kebencian dan rasa iri Xiu Juan tumbuh seperti rumput liar yang menjerat setiap inci tubuhnya, “sampah! Kau juga ingin merebut tunanganku. Mimpimu terlalu tinggi, dasar j*lang!”