
Buuukkk...
“Sssssttttt...,” Yue Liang Zhi secepat kilat mengangkat jari telunjuknya, matanya terpejam dengan kepala yang sedikit miring ke kiri. Senyum merkah tatangkala dia membuka kedua mata indahnya, itu seperti mendapatkan cahaya digelapnya malam. Kaki kanannya perlahan dihentakkan ringan, berpindah beberapa langkah ke belakang lalu menghentakan kakinya lagi, “ada sesuatu dibawah situ...,” tunjuknya sambil kembali ketempat semula.
Tanah itu berbunyi gedebuk yang teredam kala diinjak, hanya satu kemungkinan besar yang dapat diambil yaitu tanah di bawah mereka merupakan lorong bawah tanah. Lorong tersebut bisa saja dibangun oleh rubah ekor sembilan sebagai tempat persembunyian, ini semakin diyakinkan dengan sosok tersebut yang tidak memunculkan diri ataupun menggila setelah terkena bubuk tanaman Dú yālì. Pangeran Yun Fengyin dan Tao Jianying langsung paham dengan kalimat yang Yue Liang Zhi lontarkan, insting keduanya segera bekerja tanpa pancingan lebih lanjut.
Tao Jianying menyibak rerumputan, “woaahh... Dewa sepertinya tengah memberkati pendekar ini,” ocehnya antusias.
Terlihat batu berbentuk baskom besar, di bagian tengah berbentuk tiang yang berukuran sedang terdapat gelas kecil yang berada di puncaknya. Yue Liang Zhi mulai berjongkok, mengamati gelas batu dengan seksama. Kedua tangan seputih dan sekenyal pangsit menyangga kepala, mata besarnya beberapa kali mengerjap menampilkan mata berair yang mampu memantulkan benda apapun yang berada di depan mata.
Melihat kelakuan Yue Liang Zhi, Pangeran Yun Fengyin sedikit merasa gatal di tangan. Laki-laki itu sudah tidak tahan, tangannya perlahan terulur untuk menyentuh gelas, “benda ringan di atas batu, memiliki daya tekan tertentu.” Jari telunjuknya mengusap ringan batu dan gelas, “batu ini memiliki debu yang lumayan banyak. Tapi, kenapa hanya sedikit debu yang menempel di gelas,” dia mengesek-gesekkan jari telunjuknya dengan ibu jari.
“Air...,” cletuk Yue Liang Zhi membuyarkan ketegangan, “gelas yang tidak terlalu banyak memikiki debu artinya gelas ini belum lama digunakan, air tentu dapat membersihkan debu.” Dia mengambil gelas dan perlahan melangkah mendekati air terjun, “selama perjalanan, kita belum pernah kehujanan karena sudah memasuki musip panas,” sosoknya mendekat ke arah Pangeran Yun Fenyin.
Tangan kekar menjelang dewasa Pangeran Yun Fengyin mengambil alih gelas yang telah terisi air, lalu meletakkan gelas tersebut seperti semula. Hanya persekian detik, terdengar bunyi gemuruh dari dalam tanah. Tampaklah lubang bawah tanah yang telah terbuka. Yue Liang Zhi berpikir terlalu melebih-lebihkan kelicikan rubah ekor sembilan, mengkategorikan kelicikan rubah ke dalam standar normal, lalu melompat turun tanpa keraguan. Tao Jianying ikut melompat, terakhir adalah Pangeran Yun Fengyin. Sebelum melompat, laki-laki bertopeng itu membuang air dari gelas terlebih dahulu.
Ternyata, tempat tinggal rubah ekor sembilan hanya lorong bawah tanah yang panjang, obor-obor menambah penerangan di tempat minim cahaya. Yue Liang Zhi memimpin jalan, setiap langkahnya membawa ketegasan dan keanggunan di saat yang bersamaan.
Langkah kaki mereka terhenti kala terdengar tawa cekikikan dari seorang perempuan, “kalian rupanya berhasil menemukan rumahku, aku ucapkan selamat!”
Yue Liang Zhi tersenyum miring, “pantas rubah betina tidak terlihat, ternyata sangat betah tinggal di sarang,” tangannya sedikit terlentang, “menjadi jago kandang sangat menyenangkan bukan?”
Tersiat makna tersembunyi dari pertanyaan Yue Liang Zhi, seperti sindiran bagi rubah ekor sembilan karena tidak berani keluar dari sarangnya. Bersembunyi dengan nyaman sambil menggulung ekor dengan hangat, hanya bangun untuk buang angin dan kembali tidur seperti babi mati.
“Hihihihi...,” rubah ekor sembilan terkikik sambil menutup mulut dengan lengan, baju merah mudanya bergerak ringan tampak centil dan mengundang. “Bukan jago kandang, tapi aku malas keluar. Di luar banyak lalat yang mengincar, kalian sudah pasti bertemu dengan lalat-lalat itu. Ah, sangat tercium bau busuk dari tubuh kalian karena telah terkontaminasi kebusukan dan kebusukan.”
“Yah, sayangnya lalat itu menjadi makananmu, bagaimana rasanya bangkai busuk?”
“Aku suka lidah tajammu,” rubah ekor sembilan maju beberapa langkah, “tapi, tidak baik menyingung yang tua ini. Berani maju kalian akan mati di tanganku, mundur mati di tangan sekte busuk.”
Pangeran Yun Fengyin dan Tao Jianying sibuk mengamati tanpa ikut angkat bicara, keduanya berusaha menjadi orang asing yang berdiri di pojokan. Hanya gerakan mata keduanya selaras menatap dua orang perempuan, itu menjadi tanda pergerakan lain selain kekakuan.
“Maaf, aku tidak tertarik dengan sesama perempuan. Namun mendengar aku akan mati di tanganmu, terdengar lumayan menantang.” Yue Liang Zhi ikut melangkah ke depan, “aku beri tahu sesuatu, sekte hitam sedang sengalami kesialan glombang kedua,” nada suaranya sedikit berbisik.
Yue Liang Zhi tidak berbohog, keadaan sekte hitam saat ini telah kembali menggila. Setelah gelombang pertama hanya menyisakan empag puluh lima kultivator, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil meminum arak. Namun hal gila kembali menimpa mereka, beberapa kultivator kembali saling membunuh dan akan berlangsung hingga matahari terbenam. Entah akan menyisakan beberapa orang saja dari sekte hitam, yang jelas jumlah mereka telah berkurang dengan kerugian besar.
Wajah rubah ekor sembilan beruah warna sepersekian detik dan menatap waspada, terpukul keras oleh lidah tajam yang menembus jantung tuanya, menimbulkan tangisan kering tanpa air mata.
Melihat ada yang tidak beres, Pangeran Yun Fengyin segera memasang array. Tepat! Setelah aray terbentuk, rubah ekor sembilan menggunakan trik licik untuk menyerang mereka. Jarum bertabrakan dengan array menimbulkan ledakan kecil.
Tao Jianying mulai mengangkat pedangnya dan mencibir, “rubah licik!!!”
“Laki-laki tampan...,” rubah sedikit bergerak antusias, “mari malakukan pertukaran dan ikut pulang bersamaku, aku akan melepaskan adik kecil kalian.”
“Cih, terlalu berani.” Yue Liang Zhi merentangkan tangan kanannya, “Long Huo!!” Cahaya biru merambat menuju tangan kanan, aura penindasan menyeruak membebani jiwa dan raga.
Rubah ekor sembilan tersentak kaget merasakan aura tersebut, tubuhnya mulai bergetar dan sedikit merasa menyesal telah menganggu anak kecil di depannya, “siapa kau sebenarnya?”
Terlambat, Yue Liang Zhi sudah merasa kalap!
Pangeran Yun Fengyin memuntahkan darah segar, jiwanya mengalami guncangan akibat aura yang anak itu keluarkan. Tao Jianying sudah terkapar tak berdaya, momentum ini bahkan lebih mengerikan dari sebelumnya. Netra hitam Yue Liang Zhi berkilat emas, tidak mengindahkan panggilan Pangeran Yun Fengyin. Angin bagaikan tersedot ke dalam pusaran cincin yang berusat pada mata pedang Long Huo, atsmofir di sekitar tubuh Yue Liang Zhi semakin memanas melebihi panasnya ruangan bawah tanah. Keringat rubah ekor sembilan mengalir deras, aura ras naga memang luar biasa tidak terelakkan. Bola biru telah terbentuk sempurna, merasa sudah cukup, Yue Liang Zhi kemudian mengibaskan pedang Long Huo ke depan.
Rubah ekor sembilan bergeser ke kiri, tapi tetap saja lengannya terkena api biru milik Yue Liang Zhi. Salah satu tangan rubah terangkat ke depan, “hentikan! Ras naga seharusnya tidak memojokan siluman rubah sepertiku.”
Gerakan Yue Liang Zhi terhenti, tangannya mengantung seakan mendapat cekalan kuat di pergelangan tangan. Kilatan emas mulai kembali menjadi netra hitam penuh ketenangan, “kau dari dunia atas?” Tanyanya dingin penuh pesona keagungan, dia menghela napas saat melihat keadaan Pangeran Yun Fengyin dan Tao Jianying.
“Dunia atas?” Rubah ekor sembilan meringis memegangi lengannya, “bukan hanya dari dunia atas! Aku memegang sesuatu yang para iblis Ashura inginkan, mereka sangat tidak berubah setelah kematian bintang penghancur.”
Yue Liang Zhi merubah pedang Long Huo menjadi cahaya, tubuhnya sedikit meremang mendengar kejujuran dari rubah licik di depannya. “Kau terlalu licik untuk berbicara jujur,” dia berpikir mana mungkin rubah ekor sembilan mau berbicara jujur tanpa alasan yang jelas.
Rasa salut memenuhi isi kepala rubah, hatinya merasa bahwa anak kecil di depannya tidak sesederhana yang dia lihat, apalagi terdapat kemiripan-kemiripan perilaku dengan seseorang yang dia kenal. Matanya sedikit mengembun tatangkala merasakan fukultasi dari seseorang yang sangat dia rindukan, “tubuhmu memiliki sedikit aura Dewa penjelajah waktu, katakan! Dimana dia berada?” Paksanya setelah memastikan dengan seksama.
“Tidak perlu mengalihkan topik pembicaraan, menjadi musang berbulu ayam[1] setelah mengabisi puluhan kultivator yang datang ke tempatmu.”
^^^[1] Musang berbulu ayam artinya orang jahat yang berpura-pura baik.^^^
Rubah ekor sembilan merasa tertuduh dan segela mengelak dengan pancaran mata penuh kesedihan, “aku Lian Peiyu berumpah tidak pernah membunuh mereka!”
Apakah ini lelucon? Yue Liang Zhi yakin bila telinganya masih berfungsi dengan baik tanpa kecacatan, tapi setelah mendengar sanggahan rubah ekor sembilan, ralat namanya Lian Peiyu! Mendengar Lian Peiyu, dia merasa telinganya berdengung dan mendadak menjadi tuli seketika. Kedua tangannya terangkat untuk menepuk telinganya pelan, “bisa-bisanya mendadak jadi tuli, aku yakin tidak pernah merusak gendang telingaku,” lirihnya sambil mengulangi gerakan absud tersebut.
Reaksi Yue Liang Zhi membuat sudut bibir Lian Peiyu berkedut, “telingamu benar, aku memang tidak pernah membunuh kultivator yang mengincar nawaku... Lihat! Aku bahkan harus bersembunyi karena tidak ingin mengambil nyawa anggota sekte hitam, rubah 11.000 tahun sepertiku mana mungin memiliki tingkat kultivasi rendah.”
“Lalu, apa sebenarnya motifmu?” Tanya Yue Liang Zhi memastikan.