
Salah satu anggota memberanikan diri menjawab, “untuk melatih ketahanan tubuh.”
Belum ada tampilan kepuasan yang tertera di wajah dingin akan jawaban itu. Geraman Xiao Bai terdengar kala ekor kecil dipegang oleh tangan lembut Yue Liang Zhi, kumis tipis bergerak-gerak dan gigi kecil berniat mengigit tangan pemilik.
Yue Liang Zhi memberikan tatapan "kamu berani?" pada anak singa, kemudian memunculkan apresiasi rendah pada jawaban yang kurang sesuai dengan niatnya. “Kurang tepat,” ucapnya sambil menatap seluruh anggota dengan ekspresi meminta jawaban.
Dari kerumunan, Yan Hongli merenung memantapkan pikiran dan maju menjawab, “selain menempa tubuh... Latihan ini berfungsi agar kami mempunyai keselarasan dalam pikiran, perasaan dan pergerakan.”
Yue Liang Zhi mengangguk membenarkan. Dari ribuan anggota, kemungkinan menyisakan Yan Hongli saja yang mempunyai pemikiran sama dengannya tanpa perlu melalui pendekatan pemahaman dalam diam. Benar, dengan adanya metode pelatihan fisik yang sama rata, semua anggota akan merasakan suka dan duka bersama. Memunculkan pemikiran yang selaras, menyatukan perasaan semua anggota, dan melatih kesamaan pergerakan dan kecepatan diwaktu pelatihan.
Jika ada satu anggota yang terluka, maka semua anggota akan ikut merasakan luka itu. Jika satu orang bergerak cepat disaat melakukan pertahanan maupun penyerangan di medan perang, maka semua anggota juga akan mampu melakukan hal serupa.
“Tepat, aku ingin menciptakan rasa kekeluargaan dan perasaan yang sama diantara kita semua.” Yue Liang Zhi menurunkan buntalan putih ke tanah, singa spirit beast kemudian berlari riang menuju Qiao Qiao.
Semua orang merasakan perasaan hangat setelah mengetahui niat asli sang pemimpin pasukan Hei Long, mereka telah kehilangan anggota keluarga asli dalam waktu kurang dari setahun. Sekarang, mereka akan menjadi anggota keluarga baru dengan jumlah ribuan orang. Ini bukan hanya pasal pembalasan, tapi ini adalah suatu perasaan yang sulit untuk dijelaskan.
Sememua orang menepuk dada kiri dengan kepalan tangan kanan, dilanjutkan menepuk dada kanan dengan kepalan tangan kiri. Mulai berlutut sambil menepuk tangan satu kali dan menepuk punggung tangan satu kali, bersujut dengan kedua tekapak tangan sebagai alas membenturkan jidat. Mereka bergumam dengan suara terredam, “bawahan telah berjanji akan setia selamanya kepada nona Yue.”
Mata Yue Liang Zhi menyipit melirik Qiao Qiao, dia seakan tidak perlu bertanya akan siapakah yang telah mengajari mereka cara bersujut seperti ini. Menampilkan ekspresi tidak perduli dan menghilang dari Dunia lotus. Pemandangan sekitar telah menjadi pemandangan sebuah kamar luas, merah kecil lalu berbaring malas sambil memejamkam mata tertidur.
Esok hari di ruangan kesehatan sekte Qinglong.
Sosok merah berdiri diam di samping senior Shan Shan. Senior Shan Shan kerap kali merawat luka ringan para murid, tentu saja, karena dia merupakan Alchemist yang berada di puncak kelas satu.
Walaupun sekte Qinglong tidak mempunyai kelas pengajar bagi para Alchemist, namun masih ada Patriark Wen Hua yang notabenya sebagai apoteker dermawan mengajar beberapa murid berbakat untuk meracik obat. Dari ribuan murid, puluhan Alchemist berkembang mempelajari teknik-teknik bela diri sekaligus obat-obatan.
Shan Shan membetsihkan peralatan setelah memperban luka seorang murid, “usahakan jangan terkena air,” dia lantas menyodorkan botol pil.
Menerima botol pil dengan gemetar saat merasakan aura dingin Yue Liang Zhi. “Baik, terimakasih senior,” bergegas berdiri dan kabur.
Menatap kepergian murid yang terluka, Shan Shan beralih pada sosok merah yang berdiri malas sambil melipat kedua tangan. Menggeleng tak berdaya akan tempramen unik anak itu, “mari pergi... Aku akan mengajakmu melihat ladang herbal.”
Dua garis bayangan berjalan menuju tempat hijau, berbagai herbal berusia bulanan sampai puluhan tahun menyebar mengeluarkan bau khas. Netra Yue Liang Zhi berbinar, ladang di depannya hampir berukuran sama dengan ladang di Dunia lotus. Sebagai seorang apoteker, ladang herbal adalah surga dunia fana yang membahagiakan. Dia berjalan mendekati herbal berusia puluhan tahun, berjongkok dan menghirup dalam seakan bau tanaman herbal merupakan pengganti dari bau buga. Bisa diibaratkan seribu hektar ladang bunga biasa tidak akan mampu menandingi satu tangkai tanaman herbal.
Dari kejauhan, Shan Shan terperangah dan terjungkal menyaksikan keajaiban tersebut. Ayolah! Sangat jarang melihat ekspresi antusias terpancar dari wajah anak perempuan berpakaian merah. Tidak ingin terbuai terlalu dalam, dia mengerjap agar kembali fokus memetik herbal, melirik ke arah lain dan berjalan menjauh memetik herbal lain.
Yue Liang Zhi yang ditinggalkan sendiri mulai merasa bebas, tersenyum sambil membelai daun herbal hingga ujung tangkai.
“Bocah kecil!!”
Tik...
Bunyi tangai patah menyahut panggilan, mata Yue Liang Zhi melebar saat tangannya mendekat dengan tumbuhan patah yang tertunduk lemas.
Wen Hua menunjuk tergagap, “kau... Kau... Ah, tanamanku” dia melolong sedih ikut berjongkok, wajahnya bengkok jelek.
Menyaksikan pak tua menangis tanpa air mata, Yue Liang Zhi tidak tahu harus tertawa atau menangis. Dia pada akhirnya tertawa kaku, “Patriark, aku tidak sengaja.”
“Aku melihatmu berniat mencuri, sekarang bukan hanya mencuri. Itu merusak,” Wen Hua menatap kosong, tanaman langka ditanam dengan sepenuh hati dan dirawat seperti anak sendiri telah terkulau lemas. Tidak tahu berapa lama akan tumbuh seperti semula, “pria tua ini terlalu malang.”
“Aku tidak,” Yue Liang Zhi melongo, dia tidak berniat mencuri! Dia hanya... Melihat dan berniat mencangkok tanpa ijin, jadi intinya bukan mencuri. Dia tidak bisa membatu menghadapi lolongan patah hati Wen Hua, sedetik kemudian memunculkan tanaman herbal jenis lain berusia puluhan tahun. “Nah, aku akan ganti rugi dengan tanaman lain. Jika tidak mau—”
Wen Hua menyambar tanaman di tangan Yue Liang Zhi, “aku mau.” Jenggot putih melambai seiring antusiasnya, “tanaman lěngmò de xīn (hati beku)? Hebat, kau punya bayi yang bagus.”
Sudut bibir Yue Liang Zhi berkedut, berpikir apakah pria tua ini sudah terlalu lama hidup? Kenapa bisa berubah dengan sogokan kecil, sedetik akan menangis seperti bayi, sedetik kemudian gembira seperti hantu yang terkikik.
Otaknya blank dan mendadak mengingat sesuatu, “Patriark... Tentang teka-teki "dia mengeluarkan aura agung yang menekan, senyumnya selembut cahaya matahari yang tengah terbit dan terbenam, menjadi penghubung dunia atas dan dunia bawah." Junior mempunyai gambaran, tapi tidak terlalu yakin.”
“Apanya yang kurang yakin?” Wen Hua mengganti tanaman yang rusak dengan tanaman baru.
Sepasang alis Yue Liang Zhi menyatu membentuk gelombang, “mengeluarkan aura agung yang menekan, berarti orang itu sangat kuat hingga orang dari dua dunia bukankah lawannya. Senyuman yang selembut matahari terbit dan terbenam, berarti orang itu berwajah baik dan menjadikannya tampak sangat hangat. Tapi, menjadi penghubung dua dunia, memangnya ada orang mampu bepergian tanpa bantuan alat pendukung seperti alat teleportasi?”
Tangan Wen Hua bertepuk mencoba menghilangkan tanah yang menempel, “ada... Merobek ruang.”
Jantung Yue Liang Zhi berpacu setelah kemungkinan lain tiba-tiba mencuat dipikirannya, “aku tidak pernah mengetahui ranah kultivasi bisa menjadikan kultivator merobek ruang, kecuali. Kecuali orang ini adalah eksistensi yang tidak bisa dibayangkan seperti dewa, mungkin?”
Tangan kanan Patriark Wen Hua mencoel pipi lemak susu Yue Liang Zhi hingga menempelkan noda coklat tanah, “bagus! Kau telah mengetahui identitas guruku, jadi semangtlah dalam mencari tahu namanya.”
Mana ada menyemangati sambil menjatuhkan mental lawan bicara?!
Lelucon! Kenapa tidak langsung cekik saja, ha?
Mata tua Patriark Wen Hua menyipit menyadari langkah kaki Shan Shan yang mendekat kemari, “yang tua ini akan pergi.”
Sosok di depan Yue Liang Zhi memudar, menyisakan udara hangat yang menjadi bekas jejak keberadaan Patriark sekte Qinglong. Itu terlalu cepat, dan menjadikannya merasa menjadi orang lemah. Satu obsesi, dia harus menjadi kuat.
Senior Shan Shan menelusuri kelinglungan Yue Liang Zhi, “aku selesai memetik beberapa herbal.”
“Oh, selesai?” Yue Liang Zhi mendongakkan wajah dan kembali normal, lalu berdiri sembari menepuk noda di pakaiannya, “mari kembali.”
“Emn...,” Shan Shan mengangguk.